<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Arti Sebuah Nama

Mittwoch, März 30, 2005
Apalah arti sebuah nama, kata seorang pujangga. Dalam konteks tertentu, ungkapan ini memang benar. Tapi buat saya, sebuah nama amat penting artinya. Terserah kalau orang lain tak keberatan namanya ditulis semena-mena.

Berbagai kejadian yang berkaitan dengan nama sudah sering saya alami. Nama belakang saya yang sudah susah payah diberikan oleh orang tua, sering kali ditulis salah. Entah kurang satu huruf atau salah letak. Terus terang, saya geram. Karena arti nama saya yang asal muasalnya berarti "anak perempuan", tiba-tiba tidak bermakna apa-apa karena dikorupsi seenaknya. Padahal ketika menulis nama saya, pihak-pihak yang bertugas tak perlu susah payah. Cukup menyalin dari akte kelahiran, atau KTP saya. Tapi entah kenapa orang-orang di negara ini lebih membenarkan kehendak benaknya ketimbang melihat baik-baik tulisan yang tertera di depannya. Dan orang-orang di negara ini juga paling malas bertanya "Bisakah Anda mengeja nama Anda?". Mungkin tak pernah. Di negara lain, orang-orang pastinya akan bertanya demikian. Sebagai bukti, nama saya tak pernah salah tertulis di negara lain. Padahal nama saya bukan nama yang lazim dalam kebudayaan mereka.

Satu hal juga yang bikin saya geram berhubungan dengan penulisan nama anak saya. Ketika membaptis anak, saya memberikan nama baptis yang sama dengan yang berada di nama kedua anak saya. Tapi begitu surat baptis jadi, saya kesal melihat nama kedua itu tiba-tiba sudah ada di urutan pertama. "Nama baptis biasanya ada di tempat pertama," kata ibu saya. Aturan dari siapa? Banyak teman saya yang nama baptisnya berada di tempat kedua. Bahkan nama baptis saya sendiri tak tercantum di akte kelahiran. Saya sedang mencari waktu luang untuk cuti dan menceramahi para petugas gereja. Apakah mereka yang bernama Daniel Yohanes, misalnya, mau diganti jadi Yohanes Daniel? Kalau tidak mau, jangan seenaknya mengganti nama orang lain. Saya orang tua anak saya. Saya punya rancangan sendiri saat memberi nama anak saya. Juga dengan memperhitungkan irama pengucapannya secara lengkap. Menjengkelkan sekali kalau ada orang lain tiba-tiba sok tahu dan mengganti nama orang seenak perutnya!

Sudah ah, marahnya. Sekarang saya harus bekerja lagi. Dan yang dikerjakan juga hal yang menjengkelkan. Menulis ulang sebuah artikel karena tulisan sebelumnya tak jelas juntrungannya (alias ngawur). Menyebalkannya, seharusnya saya mengedit artikel itu, bukan menulisnya. Dunia ini memang penuh dengan hal-hal yang menyebalkan. Setidaknya begitulah perasaan saya hari ini. ***

Polling: a Dependable Person or Just a Bumper?

Dienstag, März 29, 2005
Berbagai komentar yang sering saya terima di blog ini semalam memberikan inspirasi tersendiri buat saya. Sudah lama saya ingin mendapatkan opini dari teman-teman tentang berbagai masalah. Mungkin arena yang satu ini cocok. Hari ini saya mau menggelar poling. Jika Anda tergerak untuk memberi pendapat atau sekadar berkomentar, jangan ragu untuk segera mengisinya di bagian Comments di bawah, atau klik saja di sini.

Pertanyaan saya:

Ada seseorang, sebut saja namanya Ami. Selama ini Ami selalu mendapatkan komentar dari atasannya sebagai "orang yang bisa diandalkan di saat-saat mendesak". Ini mengacu pada tindakan Ami yang selalu mau diminta bantuan oleh atasan di saat ada beberapa tugas yang harus diselesaikan dalam waktu sangat singkat, sementara orang-orang lainnya dianggap bos tak akan bisa mengerjakannya atau tak mau mengerjakannya. Tugas-tugas yang kadang diberikan oleh bos pun terkadang bukanlah tugas yang menantang. Hanya sekadar untuk menutup pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang lain, yang kebetulan tak ada. Singkat kata, tak memberi sebuah pengalaman yang bermanfaat.

Menurut Anda, apakah Ami pantas disebut seseorang yang dapat diandalkan (alias dependable), atau selama ini dia hanya bak sebuah bemper mobil saja?

Menurut saya sendiri:
Seseorang yang dapat diandalkan tak hanya dilihat dari apakah dia bisa dimintai mengerjakan tugas di saat terjepit dan di saat orang-orang lain tak ingin atau tak sempat mengerjakannya. Seseorang yang bisa diandalkan adalah seseorang yang bertanggung jawab akan tugasnya, kapan pun tugas itu diberikan dan dalam jangka waktu berapa lama tugas itu harus diselesaikan. Jika kategori dependable selalu berkaitan dengan waktu terjepit, saya pikir Ami lebih tepat disebut bemper.

Bagaimana menurut Anda? ***

Wie alleen loopt, raakt de weg kwijt

Montag, März 28, 2005
Wie alleen loopt, raakt de weg kwijt,
alleen uit de gemeenschapkomt de wijsheid.
Een hand alleen kan geen touw
om een bundel knopen.
Wie alleen loopt, raakt de weg kwijt.
Wie dan valt,
heeft niemand om haar op te helpen.
Wie dan schreeuwt,
heeft niemand die haar hoort.
Wie alleen loopt,gaat zwaar gebukt onder haar last
niemand deelt haar vreugde of verdriet.
Wie alleen loopt, raakt de weg kwijt.
Haar kola eet ze alleen.
Ze heeft twee voeten, ze heeft maar twee armen,
ze heeft maar twee ogen.
In de gemeenschaap
heeft ieder duizenden handen
heeft ieder duizenden voeten
loopt niemand ooit alleen.

Chansons populaires Bamilike
Uit: Wie alleen loopt raakt de weg kwijt, BIJEEN-publikatie 1987.

Terjemahan:

Siapa Berjalan Sendirian, Ia Akan Tersesat

Siapa berjalan sendirian, ia akan tersesat
hanya lewat kebersamaan, kebijaksanaan akan datang,
Satu tangan takkan bisa berdaya,
membuka tali yang bersimpul.
Siapa berjalan sendirian, ia akan tersesat,
Saat ia terjatuh,
tak ada seorang pun membantunya berdiri.
Saat ia menjerit,
tak ada seorang pun mendengarkan.
Siapa berjalan sendirian, ia membawa beban berat di pundaknya,
tak ada seorang pun jadi tempat berbagi kebahagiaan dan kesedihan
Siapa berjalan sendirian, ia akan tersesat.
Selezat apa pun makanannya, ia menyantapnya sendiri.
Ia punya dua kaki, ia hanya punya dua tangan.
Ia hanya punya dua mata
Dalam kebersamaan,
Setiap orang punya ratusan tangan
Setiap orang punya ratusan kaki,
Dan tak seorang pun akan berjalan sendirian.

I Lied

Mittwoch, März 23, 2005
Kemarin adalah hari keberuntungan saya, sepertinya. Hari itu, saya berhasil selangkah lebih maju dalam beberapa hal:

Pertama, menyelesaikan project kecil dan menghasilkan uang. Lumayan, buat tabungan masa depan anak.

Kedua, surat yang harus saya kirim berhasil terkirim lewat kurir yang kebetulan saja mampir ke kantor. Berkat bantuan teman yang sangat baik pada saya, say tak usah repot-repot ke kantor kurir.

Ketiga, saya berhasil selangkah lebih maju dalam hal pekerjaan. Tak perlu dijelaskan lebih lanjut, saya merasa secara intutitif bahwa saya punya peluang untuk memperbaiki hubungan. Dan untuk ke depan saya hanya mau tetap menjalani yang sekarang, karena sepertinya saya belum punya cukup nyali untuk hal yang lebih tinggi lagi.

Keempat, saya berhasil selangkah lebih dekat menuju impian saya. Namun, entah kenapa saya malah jadi makin tak tenteram. Saya takut menghadapi penolakan. Saya khawatir apa yang selama ini saya impikan hanyalah sebuah obsesi yang ketinggian. Saya cemas apa yang selama ini saya kerjakan tak lebih dari sekadar omong kosong, sesuatu yang lebih baik dibuang jauh-jauh saja ke tong sampah. Kala bicara dengan orang yang bisa dibilang telah membuka jalan bagi saya, saya berkata, jika seandainya ditolak, saya tetap berbesar hati. Tapi sebenarnya saya bohong. Saya akan sangat down jika itu terjadi. Saya akan nangis bombay tujuh hari tujuh malam. Betul, tidak bohong. Dan jika hal itu sungguh terjadi, tolong jangan bilang saya cengeng. Please. ***

Menyoal Uang Receh

Dienstag, März 22, 2005
Buat saya, menerima kembalian berupa uang logam pecahan Rp.50,- atau bahkan Rp.25,- begitu menyebalkan. Pernah suatu kali saya menerima uang kembali dari kasir sebuah supermarket sejumlah Rp.300,- dalam pecahan Rp.50,-. Saya lalu bertanya padanya, "Mbak, tidak punya uang seratusan saja?". Mbak Kasir menjawab, "Tidak ada." Lalu saya kembalikan uang-uang logam itu sambil menimpali, "Kalau begitu ini buat Mbak saja!".

Sebelum Anda menuduh saya sombong dan sok kaya, dengar dulu penjelasan saya. Atau mungkin lebih tepatnya sayalah yang mengajak Anda berpikir bersama. Selama ini apakah Anda bisa merasakan manfaat uang receh pecahan Rp.50- itu di luaran sana? Dua keping Rp.50- memang bernilai seratus rupiah. Tapi apa yang terjadi jika dua keping lima puluhan itu diberikan pada seorang pengamen di perempatan lampu merah? Bisa-bisa Anda dimaki-makinya, dianggap menghinanya. Atau uang itu akan dilemparnya begitu saja ke pinggir jalan (hal itu pernah terjadi pada saya). Karena uang pecahan itu tak ada nilainya lagi di masyarakat. Di khalayak ramai, pecahan uang terkecil saat ini adalah Rp.100-. Meski terkadang kita tak tega hanya memberi Rp.100,- pada pengemis dan menambahkan sekeping lagi. Uang pecahan limapuluhan rupiah sudah tak ada harganya, apa lagi pecahan duapuluhlimaan.

Sempat pada suatu kesempatan saya bilang pada suami. "Seandainya suatu hari saya membayar ke kasir supermarket dengan pecahan uang limapuluhan atau duapuluhlimaan, apakah akan diterima?". Suami saya menjawab, "Belum dicoba, belum tahu." Tapi hari ini saya mendapat jawabnya. Tadi siang saya mengantri di kasih supermarket yang sering memberikan uang kembali recehan tak bernilai itu. Di depan saya ada seorang Mbak (mungkin dia seorang pembantu rumah tangga) dengan belanjaannya yang tak begitu banyak. Di akhir penghitungan transaksi, kasir menyatakan bahwa si Mbak harus membayar sebesar Rp. 27.500 rupiah. Mbak ini pun menyodorkan uang duapuluh dan beberapa lembar uang seribuan, lalu merogoh-rogoh kantong roknya. Dia kemudian mengeluarkan beberapa bungkus plastik berisi uang logam. Bungkus pertama ditandai dengan label (berupa sobekan kertas rapi yang ditulisi) Rp. 1000,-, berisi 10 keping uang Rp. 100,-. Bungkusan kedua dan ketiga berlabel Rp.1000,-, isinya pecahan uang Rp.50,-. Begitu juga bungkusan keempat. Kasir itu hanya diam saja menerimanya dan menghitungnya tanpa memperlihatkan ekspresi apa-apa. Dia malah sempat bilang pada si Mbak kalau pembayarannya kurang Rp.500,-, yang kemudian ditambahkan si Mbak dengan satu keping uang logam Rp.500,-. Transaksi berakhir, si Mbak pulang dengan belanjaannya. Saya tersenyum dalam hati. Biar tahu rasa, kata saya dalam hati. Biasanya situ yang rajin kasih kembalian gocapan, sekarang gantian. Sekali dapat banyak pula!

Untuk menjaga keamanan (agar tak diberikan kembalian uang berupa pecahan limapuluhan), saya membayar dengan kartu kredit. Memang, mungkin saja saya tak akan diberi "keistimewaan" untuk mendapat uang pecahan limapuluhan tersebut. Tapi lebih baik saya menjaga supaya tak mendapatnya sama sekali. Maaf saja, ya! ***

Tentang Mengambil Sudut Pandang

Dienstag, März 15, 2005
Senja kala aku dan kekasih duduk berdua
Memandang ke langit, menunjuk ke atas
"Betapa indah merahnya senja," kataku padanya
"Bukan merah, tapi kuning," katanya padaku tegas

"Merah!"
"Kuning!"
"Merah!"
"Kuning!"

Kami pun bertengkar hingga matahari tenggelam
Dan malam pun datang, kami kedinginan
Satu keindahan alam sudah kami lewatkan begitu saja
Hanya demi nafsu meraih kemenangan atas dua perspektif yang berbeda

***

Hari Ini, 14 Maret, Setahun Yang Lalu...

Montag, März 14, 2005
Barusan saya membaca e-mail seorang teman nun jauh di Jerman sana.

Hari ini, tanggal 11 Maret, tepat 3 taun gue di Jerman. Gila ya...!

Saya lalu teringat. Hari ini, setahun yang lalu, adalah hari pertama saya mendarat di negara itu. Untuk pertama kali. Dan sampai sekarang saya pikir, mungkin untuk terakhir kali. Saya masih ingat betapa takjubnya saya melihat bandar udara Frankfurt kala pertama kali menginjakkan kaki. Persis seperti orang desa masuk ke kota! Di negara itu saya bertualang selama seminggu. Dan sampai sekarang, sering saya mengenang setiap langkah kaki yang saya layangkan. Jalan-jalan berbatu di sana. Kereta api super cepat. Saat harus pergi ke Hannover tanpa panduan, hanya bersama seorang teman yang juga tak pernah ke Jerman. Kami pun sempat nyasar sana-sini. Thanks God, saya bisa bahasa Jerman. Jadi, tak tolol-tolol amat. Hampir nyasar ke Zurich, dua kali. Pertama kereta api, kedua pesawat terbang. Bertemu dengan teman saya yang menulis e-mail di atas di kota Göttingen. Kelabakan saat berbincang dengan supir taksi yang amat ramah dan bangga akan kotanya. Minum Mimosa yang tak lain adalah campuran orange juice dengan champagne. Nge-bir di Hoffbräuhaus sampai kembung dan pusing. Ribet mencari air putih alias stilles Wasser, karena lebih sering diberi sparkling water yang hambar. Setiap pagi minum cappucino dan makan roti (sampai kangen berat makan nasi dan bakmi!).

Kalau mengingat semua ini, saya terkadang jadi melankolis. Mungkin bisa pergi ke Jerman, gratis pula, adalah keberuntungan tiada tara yang pernah saya cicipi. Jujur saja, saya tak mampu membiayai kepergian saya sendiri ke sana. Apalagi pergi bersama keluarga. Dan saya jadi tambah terharu jika mengingat lebih detail. Angin musim semi di sana. Fakta bahwa hari dengan matahari mengintip di balik awan mendung ternyata lebih dingin ketimbang hari berawan mendung saja. Eh, saya jadi mau nangis. Karena merasa saya tak akan pernah ke sana lagi, mungkin. Atau karena saya belum puas menjelajahi negara itu. Atau karena sebenarnya saya masih ingin kembali, tapi sadar kalau saya tak akan mampu.

Ah, sudahlah. ***

Sebuah Ajakan

Akhir-akhir ini, banyak ajakan dilontarkan pada masyarakat. Ada ajakan untuk menolak kenaikan harga BBM dengan menandatangani petisi (bahkan ada yang secara online!). Ada juga slogan "Ganyang Malaysia". Tadi pagi saat saya sedang berkendara menuju kantor, sebuah ajakan muncul di benak saya. Tak lain dan tak bukan adalah untuk membasmi satu oknum yang sedari dulu terkenal oleh umum paling tak bisa memberi suri tauladan bagi masyarakat: Polisi.

Bagi para polisi yang membaca tulisan ini, harap jangan marah dulu. Lebih baik Anda introspeksi saja. Dan dengarkan dua pengalaman saya sendiri, yang terekam di ingatan bersamaan dengan berbagai pengalaman buruk yang berkaitan dengan polisi lainnya. Pertama, tahun 1997 (kira-kira). Ketika itu saya hampir menabrak seorang polisi yang mengendarai motor di dalam sebuah kompleks yang sepi. Kesalahan polisi: Sejak kapan kendaraan boleh menyalip dari kiri? Semua orang yang pernah ikut ujian mengambil SIM pastinya ingat kalau menyalip dari kiri haram hukumnya. Apalagi belok kanan dari jalur kiri, tanpa peduli di sebelah kanannya ada mobil lewat, tanpa tanda sen ataupun lambaian tangan. Saat saya mengerem mendadak, polisi itu melototi saya. Saya balas melototi lagi. Kalau dia berani menyetop saya, sudah pasti akan saya labrak habis-habisan. Untungnya polisi itu jalan lagi, sehingga pahala saya hari itu tidak habis karena marah-marah pada orang tolol tak tahu diri.

Peristiwa kedua, tahun 2000. Karena mesin mobil saya panas saat mengantri di kemacetan, mobil saya mogok total. Tak bisa distarter lagi. Saya dan dua orang teman wanita terpaksa harus mendorong mobil tersebut, menanjak di jembatan di dekat RS Mintohardjo ke arah Taman Ria Senayan. Lalu menuruni jalan, minta-minta belas kasihan, lalu minggir di pinggir jalan dan menunggu bantuan. Mohon catat: Saya tidak berhenti di tengah jalan. Benar-benar di tepi, di sebelah trotoar. Dan kala itu jalanan memang sudah macet parah. Kami jelas tak bisa apa-apa lagi karena mobil tak bisa distarter. Karenanya kami hanya bisa bercakap-cakap, sambil menunggu datangnya bantuan. Sedang saya menunggu, datang seorang polisi tergesa-gesa, mengetuk kaca jendela saya dengan kasar, lalu bilang begini, "Capek saya! Capek!"

Capek kenapa?, pikir saya. Kenapa mengeluhnya ke saya? Saya bukan pengaduan! Ternyata polisi ini menganggap saya penyebab kemacetan. Kurang ajar. Apa tidak bisa lihat kalau ujung kemacetan bukan terletak di daerah dekat saya. Sampai ke Hotel Mulia pun jalanan masih macet! Lalu polisi ini dengan sombong bilang kalau saya ditilang. Saya dan teman-teman yang sudah kepanasan dan lelah mendorong mobil jelas geram. Saya teriak padanya, "Bapak capek? Saya juga capek! Mobil saya mogok. Saya mau pulang tidak bisa. Sekarang Bapak mau apa?" Lalu Polisi itu bilang pada saya, "Saya tak peduli. Anda saya tilang. Mobil Anda saya tahan. Ayo, pindahkan ke sana!" Dia menunjuk ke arah depan. Saya benar-benar habis sabar. "Saya tidak salah. Mobil saya mogok. Tidak percaya? Mau bawa mobil saya? Ayo, bawa. Silakan! Kalau Bapak bisa starter mobil saya, silakan bawa saja!" Teman-teman saya ikut mengeroyok. Pak Polisi habis akal, dia tak tahu alasan apa lagi yang bisa dipakai untuk mengerjai saya. Apalagi dia lihat sendiri saya mencoba menstarter mobil saya tanpa hasil. Akhirnya? Dia melenggang pergi tanpa ba-bi-bu lagi. Kalau saya tak hormat padamu, Bapak-bapak, karena katanya kurang ajar pada orang yang lebih tua itu tidak baik, sudah saya hantam kepalamu dengan stik hockey yang ada di bagasi.

Hari ini, saya lewat Jl. Sutan Syahrir, Menteng, pinggir kali. Dan seperti sudah beratus-ratus kali saya lihat, sebuah mobil polisi lewat. Tulisan besar-besar "Patroli". Semua orang juga tahu itu mobil polisi. Tapi, hei, lihat ke dalam, lewat kaca mobilnya yang tembus pandang. Dua polisi duduk di sana, kiri dan kanan. Tapi siapa di antara mereka yang pakai sabuk pengaman? Tidak ada satu pun, kawan! Sementara bagi pengguna jalan yang lain, ada ancaman untuk menggunakan sabuk pengaman atau didenda berjuta-juta rupiah besarnya. Dan jika Anda semua mau mengingat lagi, pernahkah Anda melihat seorang polisi menyelonong seenaknya menerobos lampu merah? Jangan tanya saya, karena saya telah menyaksikannya berkali-kali sampai lupa sudah berapa kali. Dan apa yang akan dilakukan polisi jika Anda melewati zebra cross di saat lampu berganti dari hijau ke kuning? Tilang, pastinya!

Ajakan saya: Mari kita mulai merekam setiap pelanggaran yang dibuat oknum polisi. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Sayangnya, aturan itu ternyata dilanggar oleh pembuatnya sendiri. Saya bertekad akan menulis selengkapnya kejadian yang saya temui. Mobil Polisi merek xxxx, nomor plat xxxx, nomor di mobil xxxx, melintas di Jalan xxxx, jam xx.xx. Pengemudinya tak pakai sabuk pengaman. Dan seandainya saya bisa masuk ke acara Halo Polisi, saya akan dengan senang hati membaca daftar yang dibuat. Tak usahlah kita membicarakan masalah-masalah muluk di acara Halo Polisi. Coba kita bicarakan tentang kedisiplinan polisi itu sendiri dalam kesehariannya. Dan dengan daftar yang saya punya, polisi yang diwawancara tak lagi bisa berdalih "Kalau seandainya aparat kami terbukti melakukan kesalahan, mohon informasikan ke kami siapa orangnya, apa mobilnya, dan lain-lain. Akan segera kami tindak!". HHmmm... bisa tidak ya polisi pelanggar aturan itu difoto sekalian? Atau buat saja acara TV yang berjudul "Ulah Aparat". Seru deh! ***

Tentang Kejengkelan Pada Ibu Saya

Dienstag, März 08, 2005

lanjutan dari Give Me a Chance to be a REAL Parent!


Apakah orang tua selalu benar? Bagi saya tidak. Mereka memang lebih tua dan berpengalaman daripada kita, tapi bukan berarti mereka selalu benar. Apakah seorang bapak yang pencuri selalu benar bagi anaknya? Tentunya tidak!

Hari ini saya jengkel pada ibu saya. Dan kejengkelannya itu berakibat saya jadi ingin mendefinisikan karakter ibu saya secara lebih analitis. Yang selama ini selalu saya pahami sebatas hati, tak sampai ke wilayah nalar.

Ibu saya, menurut kacamata saya, adalah orang yang kontradiktif. Dia bisa jadi seorang teladan, sekaligus contoh buruk bagi anak-anaknya. Atau setidaknya saya. Di satu pihak, dia taat beribadah. Tapi saya pernah mengritiknya dalam diary semasa kuliah dulu. "Apalah artinya semua doa-doamu itu, Mama, jika kau sendiri tidak menjadikannya sebagai motivasi untuk berusaha mencapai apa yang kau inginkan. Bagiku, semua doamu hanyalah wujud pelarian dari seorang eskapis," tulis saya kala itu. Pernah juga saya menulis, "Engkau bilang engkau memaafkan. Engkau bilang engkau melupakan. Tapi di matamu masih kulihat api berkobar. Kata-katamu tentangnya bagaikan ular berbisa yang siap menyerang musuhnya. Engkau belum memaafkan. Engkau belum melupakan."

(Mungkin semua orang bisa saja seperti itu. Berkarakter seperti ibu saya. Dan saya tegaskan lagi, bahwa ini adalah definisi saya terhadap karakter ibu. Bukan orang-orang lain.)

Saat saya masih sekolah, saya sering bertengkar dengannya. Darah muda, kata orang-orang. Karena saya menolak didominasi, menolak dikuasai. Karena bagi saya tak ada orang yang selalu benar. Begitu sudah lebih dewasa, saya memilih tidak cari masalah dengannya. Lebih memakai pendekatan strategis, seperti mempengaruhi pikirannya. Tapi terus terang, saya lelah begini terus. Karena di dalam diri saya sendiri tersimpan jiwa yang meletup-letup dan gampang terbakar amarah. Saya capek terus harus menahan diri. Tapi sisi lain di dalam diri saya melarang diri saya untuk melawan ibu saya (terutama hari ini) karena meski bagaimana dia tetap orang tua saya. Tak boleh melawan orang tua, durhaka. Bertengkar dengan orang tua memang buat saya sudah tidak in lagi, karena saya pun tak mau seperti itu dengan anak saya kelak. Tapi haruskah saya terus bersabar menghadapi ibu saya yang terkadang ingin bersikap seenaknya (seperti menyuruh saya tiba-tiba cuti karena dia ingin keluar kota-ini terjadi bulan lalu). Sikap tak konsistennya ini membuat saya kelimpungan dan serba salah. Di satu pihak saya kesal karena tak mau cuti mendadak. Di lain pihak saya merasa tak berhak marah pada ibu saya karena bagaimana pun dia hanya mengasuh anak saya dan saya orang tua sebenarnya (Nah, di saat seperti ini barulah dia menyudutkan saya dengan mengingatkan kalau saya orang tua anak saya!). Di ujung kekesalan, saya terkadang ingin bertanya padanya, "Masih bersediakah Mama mengasuh anak saya? Kalau tidak, bilang saja. Saya akan cari pengasuh atau pindah ke rumah saya, menitipkan anak saya pada ibu mertua yang pastinya lebih konsisten dalam menjaga anak saya." Tapi kalau saya bertanya seperti itu, kesannya saya kurang ajar, jahat, dan ingin menjauhkan anak saya dari neneknya sendiri. Hah! Serba salah!

Hidup bersama ibu saya membuat saya jadi tak berdaya. Ini bukan karena saya dipengaruhi santet atau apa pun juga, yang bikin saya benci pada ibu sendiri. Tapi kalimat ini sesungguhnya adalah ungkapan yang paling pas untuk menjelaskan kondisi saya saat ini. Maaf.

Sepertinya memang sudah saatnya saya keluar dari rumah, mengurus keluarga saya sendiri... ***

Give Me a Chance to be a REAL Parent!

Barusan saya menelepon ke rumah, bicara dengan ibu saya. Kata-katanya begitu ketus, menusuk hati. Tadi pagi juga begitu. Saya pikir, asal muasal kejudesannya ini adalah kejadian semalam. Semalam, anak saya sudah masuk kamar, hendak tidur bersama saya dan suami. Namun karena dia masih gelisah akibat perutnya yang tidak enak, dia tak mau tidur dan memilih berkeliaran di dalam kamar. Saat berbalik badan, dia terjatuh hingga kepalanya terbentur. Jelas, ia menangis keras. Saya langsung menggendongnya, menenangkan. Suami saya membujuk-bujuknya. Lalu, terbukalah pintu kamar. Ibu saya bertanya, "Ada apa?". Dan gaya bertanyanya itu terdengar begitu menuduh. Seolah-olah menyalahkan kami, saya dan suami, yang tak becus menjaga anak sendiri. Lalu, karena gaya bicara itu sudah sering kali mengganjal di hati saya, saya bilang padanya, "Sudah tak ada apa-apa. Dia jatuh." Tapi ibu saya tak lantas keluar. Sepertinya saya tadi bicara dalam bahasa negara mana, karena dia bertanya lagi. Di tengah kesibukan saya menenangkan anak yang menangis, saya menjelaskan lagi. Juga berkata padanya untuk segera menutup pintu, karena banyak nyamuk pastinya akan berhamburan masuk. Soalnya, pintu terbentang begitu lebar. Kalau dia mau bertanya lagi, masuklah dan tutup pintu. Tapi ibu saya malah jadi emosi. Dia menutup pintu, pergi.

Saya bertanya-tanya tadi, setelah puas memakan keketusannya akibat letupan sakit hati dan dendamnya pada saya. Apa salah saya berkata seperti itu? Bukankah itu masih lebih halus ketimbang saya berteriak padanya, "Hei! Sudahlah! Saya bisa mengurus anak saya sendiri! Segeralah pergi!" Karena saya saat itu memang berpikir seperti itu. Karena selama ini saya merasa peran saya sebagai orang tua ditiadakan karena sikap orang tua saya sendiri yang terlalu mengurusi anak saya, sampai tidak mempedulikan perasaan orang tuanya yang sesungguhnya.

Dulu, suami saya pernah bilang pada saya. Mau diapakan anak kita, itu terserah kita. Karena dia anak kita, dia bukan anak ibu saya maupun ayah saya. Saya dulu tak begitu pusing. Tapi malam kemarin saya merasa harga diri saya ditindas. Jadi selama ini saya cuma jadi penyantun dana saja? Membelikan susu, baju, makanan, dan tetek bengek lainnya? Tidak bolehkah saya menenangkan anak saya yang menangis? Dan terkadang saya sering berpikir, ketika kami semua sedang berkumpul dan bermain dengan anak saya. Sepertinya saya hanya seorang kakak bagi anak saya. Karena semua diurus oleh orang tua saya. Saya merasa tak bisa memiliki anak saya sendiri. Dan sesungguhnya, saya sebenarnya sakit hati ketika ibu saya bilang pada anak saya (kala itu berusia 5 bulan), "Lihat, Tante pulang!". Biarpun itu bercanda atau menyindir saya karena pulang kerja malam. Saya memang harus bekerja, karena saya harus memberinya makan, menyiapkan pendidikannya kelak. Sempat terlintas dalam benak saya untuk "menampar" ibu saya dengan berkata, "Dulu Ibu juga tak pernah memperhatikan kami (saya dan kakak). Jadi, kita sebenarnya sama saja!"

Beberapa tahun lalu, seorang rohaniwan pernah bilang begini, "Biarpun Anda sudah dewasa, berkeluarga, dan punya anak, selama Anda masih tinggal di rumah orang tua, Anda tetaplah seorang anak." Hari ini, kata-kata itu saya rasakan benar maknanya. Selama saya belum tinggal di rumah sendiri, saya tak bisa jadi orang tua bagi anak saya. Sempat terpikir tadi untuk pindah ke rumah saya sendiri yang sebenarnya sudah ada namun belum ditempati. Tapi sama saja, karena di sana ada mertua saya.

Saya marah. Saya jengkel. Salahkah saya marah pada ibu saya, orang tua saya sendiri? Salahkah saya kalau ingin menjadi orang tua sejati buat anak saya? Apakah karena ibu saya kesal, saya harus pasrah menerima perlakuan buruknya di telepon maupun di rumah tadi pagi? *** (to be continued)

uit "raad eens hoeveel ik van je hou", Sam McBratney

'grote haas, kom eens hier met je oren. ik moet je iets heel belangrijks vertellen. raad eens hoeveel ik van je hou?'

'oei, dat is moeilijk,' zegt grote haas. 'dat kan ik niet raden. hoeveel dan wel?'

'ik hou van jou... ik hou van jou... zo ver als he pad daar beneden! helemaal tot aan de rivier!'

'ik hou van jou over de rivier, nee, wacht eens, nog veel veel verder, helemaal tot achter de heuvels!'

tjonge, denkt hazeltje, helemaal tot achter de heuvels - kun je iets verders verzinnen?

het is al nacht. hoog aan de hemel staat de maan, maar wacht eens, wat kan er verder weg zijn dan de wolken en de maan?

'ik hou van jou helemaal tot aan de maan,' zegt hazeltje en hij doet zijn ogen dicht. 'dat is ver,' zegt grote haas. 'dat is heel, heel erg ver.'

Sepatah Kata Berbunyi "Peduli"

Donnerstag, März 03, 2005
Ada beberapa hal yang bisa bikin sisi kemanusiaan saya tersentuh. Melihat orang lanjut usia bekerja di jalan, misalnya. Di lampu merah Kayu Putih arah menuju gerbang Kelapa Gading Permai, ada seorang bapak tua yang selalu muncul di malam hari dan bekerja sebagai pembersih kaca. Melihat bapak ini, saya selalu ingin menangis. Jangan sampai orang tua saya seperti itu. Di usia senja masih mengais rezeki dengan susah payah.

Saya juga terharu kala melihat grup pengamen yang menyanyikan lagu berbahasa Jawa, lengkap dengan pakaian Jawa, seperti kebaya dan jarik. Dan kala menyanyi, ibu-ibu separuh baya yang jadi "vokalis" akan bersimpuh. Bagi saya, kesesakan di dada bersumber dari dua hal. Pertama, karena saya melihat mereka amat bersungguh dalam membawakan lagu untuk mendapat sedikit uang, sementara banyak pengamen zaman sekarang yang suaranya ke mana-mana saat menyanyi (yang penting dapat uang). Kedua, karena mereka adalah saksi semakin terpinggirnya kesenian tradisional. Kalau saja mereka masih dapat banyak job manggung di berbagai panggung kesenian daerah, tentunya mereka tak akan mengamen.

Saat masih kuliah dulu, saya belajar tentang pengertian kaum marginal (atau waktu masih sekolah, ya? Saya lupa). Yang masih tersisa di ingatan saya, kaum marginal adalah kaum yang terpinggirkan. Akibat modernisasi, akibat hilangnya kesempatan untuk mendapat penghidupan yang lebih baik, akibat penyakit yang diderita, akibat ketidakmampuan secara ekonomi, akibat tingkat pendidikan yang tak mencukupi, dan berbagai hal lainnya. Singkat kata, kaum marginal adalah kaum yang tersingkirkan oleh mereka yang menganggap dirinya lebih layak jadi warga dunia ini. Bisa karena punya banyak kesempatan untuk meraih penghidupan yang baik, sehat, berekonomi mapan, berpendidikan tinggi, dan berbagai hal mumpuni lainnya.

Ada satu harian di negara ini yang saya nilai selalu memperjuangkan hak kaum marginal. Dulu, sewaktu masih kuliah, saya pernah bermimpi untuk bekerja di sana (meski akhirnya tak jadi karena saya tak sanggup kerja di harian). Secara intensif, harian ini selalu memaparkan nasib yang dialami para kaum marginal. Isu yang sedang hangat kali ini dibicarakan adalah tentang kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang resmi terjadi sejak 1 Maret 2005 lalu. Hari ini, ada dua judul artikel di harian itu yang diletakkan secara berdampingan sehingga begitu menyolok bagi mereka yang membaca. Judul artikel pertama adalah "Tarif Angkutan Umum Akan Dinaikkan 50- 100 Persen". Sedangkan judul artikel kedua adalah "DPR Inginkan Kenaikan Gaji Sebesar Rp.10Juta Per Bulan". Buat saya ini sangat mengenaskan dan tragis. Karena jika kedua berita ini akan benar terjadi, bisa dipastikan akan semakin banyak kaum marginal yang tercipta. Kalau kata orang, yang tidak punya semakin jadi orang tak punya. Kata seorang teman, entah akan jadi seperti apa negara kita ini. Seandainya saja kita bisa lebih peduli pada kaum marginal dan mau melupakan kepentingan diri sendiri dan materi... ***

Rückblick (Alias: Looking Back)

Dienstag, März 01, 2005
Dua hal di hari ini mengingatkan saya pada seorang teman yang sudah amat lama tak terdengar kabarnya. Namanya sama dengan nama kakak saya. Saya sebenarnya agak lupa awal perkenalan kami. Tapi yang jelas, kami berkenalan lewat koneksi organisasi keagamaan di kampus saya dan dia (kami beda kampus). Tak genah dari mana asal muasalnya, pria yang satu ini nge-fans (kalau boleh mengganti kata tergila-gila, which is mengesankan saya wanita secantik Jennifer Lopez atau Nicole Kidman) pada saya. Padahal jelas-jelas sejak awal saya sudah menolaknya. Sebab, dia lebih muda daripada saya. Pun kelakuannya masih seperti anak-anak. Pokoknya tidak dewasalah! (Entah kalau sekarang, ya.)

Hal pertama yang mengingatkan saya padanya adalah lagu-lagu dari Neri Per Caso. Pasalnya, pria inilah yang memperkenalkan saya pada grup musik yang selalu bernyanyi secara acapella. Setelah kaset yang saya rekam dari kasetnya telah busuk, suatu hari saya membeli albumnya yang bertitel Uno Indonesia (karena di dalamnya ada kolaborasi dengan Bunglon). Dan setelah CD tersebut lama tak saya putar, hari ini saya mendengarkannya di kantor. Cukup seru untuk membuat saya segar sambil menulis. Selintas datang bayangan saat pria penggemar saya ini menyanyikan lirik-lirik bahasa Italia dari lagu-lagu Neri Per Caso dengan sedemikan fasihnya. Sambil terkadang memandang saya dengan pandangan yang,... ehm.. lebih tepat dibilang memohon daripada mengagumi atau mencinta. Soalnya hari itu adalah hari kesekian saya menolaknya untuk jadi pacar saya. Yaiks! Benar-benar pria tak kenal menyerah!

Hal kedua yang bikin saya ingat padanya adalah bunga. Mulanya, saya dan seorang teman sedang membereskan bunga kering yang sudah lama ditaruh di vas di meja printer. Sambil membuang, saya bilang, "Ini dia kenapa gue enggak suka bunga. Enggak lama juga kering dan jelek begini. Mending juga gue dapet buku daripada bunga." Saya memang sering mengandaikan menerima karangan bunga yang terbuat dari buku yang dilinting. Itu jauh romantis daripada bunga sesungguhnya. Karena pria atau wanita yang memberi berarti tahu kalau saya cinta mati pada buku. Atau kalau mau matre sedikit, saya pun bersedia terima uang yang dilinting menjadi kuntum bunga. He-he-he.

Masalah menerima bunga ini pun akhirnya menghubungkan saya pada kejadian masa lalu. Kala itu, saya "terpaksa" mengajak pria pengagum saya ini ke pesta pernikahan kakak teman baik saya (yang sebenarnya saya juga tak begitu kenal!), yang dilangsungkan di hari Valentine. Karena saat itu saya masih sendiri, saya mengajaknya untuk menemani. Hitung-hitung makan gratislah, kata saya padanya. Pria itu jelas mau. Kami lalu pergi ke pesta pernikahan itu dan seusainya pulang. Saat mau berpisah, dia memberi saya sekuntum bunga mawar merah. Dan dasar saya selalu blak-blakan, saya pun berterima kasih dan berkata padanya bahwa saya tak suka bunga. Oke, sebenarnya saya sendiri lupa apakah saya berterima kasih padanya. Tapi intinya, saya berkata padanya kalau saya lebih suka diberi buku ketimbang bunga. Juga bahwa hari Valentine tak bermakna apa-apa dalam hidup saya (Oh, teganya saya waktu itu!). Pria itu terdiam. Lalu dia bilang, terima atau tidak, suka atau tidak, dia akan memberikan bunga itu karena dia membelikannya khusus untuk saya. Dia sendiri tak pernah memberi bunga pada orang lain, baru pada saya seorang. Pesan terakhir: Kalau saya tak suka dan mau membuangnya, terserah saja.

Saya lalu hanya bisa bilang, oke. Kalau begitu, terima kasih (Oh, di sini rupanya saya berterima kasih padanya, He-he-he!). Saya menghargai pemberian kamu. Sesampai di rumah, saya mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air, lalu meletakkan bunga itu di dalamnya. Gelas itu sendiri saya letakkan di balkon loteng. Agar kalau hujan, bisa terciprat air sedikit dan usianya lebih awet. Dan menariknya, bunga itu konon baru layu setelah beberapa minggu!

Apakah hubungan saya dan pria itu berakhir setelah hari Valentine mengenaskan itu? Tidak. Kami masih berteman terus. Sekali lagi saya ulangi, berteman. Bahkan setelah saya punya beberapa pacar. Saya malah sempat khusus mengantarkan undangan pernikahan saya ke rumahnya. Dan saya agak lupa apakah dia datang ke pernikahan saya. Sepertinya tidak. Anyway, saya masih ingin mendengar kabarnya lagi. Semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu dengannya lagi.

Le ragazze si lanciano ad occhi chiusi nelle avventure,
qualche volta confondono la bugia e la verita

- Le Ragazze, Neri Per Caso
***