Akhir-akhir ini, banyak ajakan dilontarkan pada masyarakat. Ada ajakan untuk menolak kenaikan harga BBM dengan menandatangani petisi (bahkan ada yang secara online!). Ada juga slogan "Ganyang Malaysia". Tadi pagi saat saya sedang berkendara menuju kantor, sebuah ajakan muncul di benak saya. Tak lain dan tak bukan adalah untuk membasmi satu oknum yang sedari dulu terkenal oleh umum paling tak bisa memberi suri tauladan bagi masyarakat: Polisi.
Bagi para polisi yang membaca tulisan ini, harap jangan marah dulu. Lebih baik Anda introspeksi saja. Dan dengarkan dua pengalaman saya sendiri, yang terekam di ingatan bersamaan dengan berbagai pengalaman buruk yang berkaitan dengan polisi lainnya. Pertama, tahun 1997 (kira-kira). Ketika itu saya hampir menabrak seorang polisi yang mengendarai motor di dalam sebuah kompleks yang sepi. Kesalahan polisi: Sejak kapan kendaraan boleh menyalip dari kiri? Semua orang yang pernah ikut ujian mengambil SIM pastinya ingat kalau menyalip dari kiri haram hukumnya. Apalagi belok kanan dari jalur kiri, tanpa peduli di sebelah kanannya ada mobil lewat, tanpa tanda sen ataupun lambaian tangan. Saat saya mengerem mendadak, polisi itu melototi saya. Saya balas melototi lagi. Kalau dia berani menyetop saya, sudah pasti akan saya labrak habis-habisan. Untungnya polisi itu jalan lagi, sehingga pahala saya hari itu tidak habis karena marah-marah pada orang tolol tak tahu diri.
Peristiwa kedua, tahun 2000. Karena mesin mobil saya panas saat mengantri di kemacetan, mobil saya mogok total. Tak bisa distarter lagi. Saya dan dua orang teman wanita terpaksa harus mendorong mobil tersebut, menanjak di jembatan di dekat RS Mintohardjo ke arah Taman Ria Senayan. Lalu menuruni jalan, minta-minta belas kasihan, lalu minggir di pinggir jalan dan menunggu bantuan. Mohon catat: Saya tidak berhenti di tengah jalan. Benar-benar di tepi, di sebelah trotoar. Dan kala itu jalanan memang sudah macet parah. Kami jelas tak bisa apa-apa lagi karena mobil tak bisa distarter. Karenanya kami hanya bisa bercakap-cakap, sambil menunggu datangnya bantuan. Sedang saya menunggu, datang seorang polisi tergesa-gesa, mengetuk kaca jendela saya dengan kasar, lalu bilang begini, "Capek saya! Capek!"
Capek kenapa?, pikir saya. Kenapa mengeluhnya ke saya? Saya bukan pengaduan! Ternyata polisi ini menganggap saya penyebab kemacetan. Kurang ajar. Apa tidak bisa lihat kalau ujung kemacetan bukan terletak di daerah dekat saya. Sampai ke Hotel Mulia pun jalanan masih macet! Lalu polisi ini dengan sombong bilang kalau saya ditilang. Saya dan teman-teman yang sudah kepanasan dan lelah mendorong mobil jelas geram. Saya teriak padanya, "Bapak capek? Saya juga capek! Mobil saya mogok. Saya mau pulang tidak bisa. Sekarang Bapak mau apa?" Lalu Polisi itu bilang pada saya, "Saya tak peduli. Anda saya tilang. Mobil Anda saya tahan. Ayo, pindahkan ke sana!" Dia menunjuk ke arah depan. Saya benar-benar habis sabar. "Saya tidak salah. Mobil saya mogok. Tidak percaya? Mau bawa mobil saya? Ayo, bawa. Silakan! Kalau Bapak bisa starter mobil saya, silakan bawa saja!" Teman-teman saya ikut mengeroyok. Pak Polisi habis akal, dia tak tahu alasan apa lagi yang bisa dipakai untuk mengerjai saya. Apalagi dia lihat sendiri saya mencoba menstarter mobil saya tanpa hasil. Akhirnya? Dia melenggang pergi tanpa ba-bi-bu lagi. Kalau saya tak hormat padamu, Bapak-bapak, karena katanya kurang ajar pada orang yang lebih tua itu tidak baik, sudah saya hantam kepalamu dengan stik hockey yang ada di bagasi.
Hari ini, saya lewat Jl. Sutan Syahrir, Menteng, pinggir kali. Dan seperti sudah beratus-ratus kali saya lihat, sebuah mobil polisi lewat. Tulisan besar-besar "Patroli". Semua orang juga tahu itu mobil polisi. Tapi, hei, lihat ke dalam, lewat kaca mobilnya yang tembus pandang. Dua polisi duduk di sana, kiri dan kanan. Tapi siapa di antara mereka yang pakai sabuk pengaman? Tidak ada satu pun, kawan! Sementara bagi pengguna jalan yang lain, ada ancaman untuk menggunakan sabuk pengaman atau didenda berjuta-juta rupiah besarnya. Dan jika Anda semua mau mengingat lagi, pernahkah Anda melihat seorang polisi menyelonong seenaknya menerobos lampu merah? Jangan tanya saya, karena saya telah menyaksikannya berkali-kali sampai lupa sudah berapa kali. Dan apa yang akan dilakukan polisi jika Anda melewati zebra cross di saat lampu berganti dari hijau ke kuning? Tilang, pastinya!
Ajakan saya: Mari kita mulai merekam setiap pelanggaran yang dibuat oknum polisi. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Sayangnya, aturan itu ternyata dilanggar oleh pembuatnya sendiri. Saya bertekad akan menulis selengkapnya kejadian yang saya temui. Mobil Polisi merek xxxx, nomor plat xxxx, nomor di mobil xxxx, melintas di Jalan xxxx, jam xx.xx. Pengemudinya tak pakai sabuk pengaman. Dan seandainya saya bisa masuk ke acara Halo Polisi, saya akan dengan senang hati membaca daftar yang dibuat. Tak usahlah kita membicarakan masalah-masalah muluk di acara Halo Polisi. Coba kita bicarakan tentang kedisiplinan polisi itu sendiri dalam kesehariannya. Dan dengan daftar yang saya punya, polisi yang diwawancara tak lagi bisa berdalih "Kalau seandainya aparat kami terbukti melakukan kesalahan, mohon informasikan ke kami siapa orangnya, apa mobilnya, dan lain-lain. Akan segera kami tindak!". HHmmm... bisa tidak ya polisi pelanggar aturan itu difoto sekalian? Atau buat saja acara TV yang berjudul "Ulah Aparat". Seru deh! ***