<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


10 Alasan Kenapa Anda (=Iisye) Harus Nge-Blog (Lagi)

Freitag, Januar 28, 2005
Seorang teman di kantor, yang namanya tercantum di Link saya, Iisye, sejak Juli tahun lalu mogok nge-blog. Saya termasuk orang yang sedih dan rindu pada tulisannya dia yang seru buat dibaca. Setelah di hari ini saya dan tetangga sebelah meja banyak bertukar cerita soal blog mem-blog, saya memutuskan untuk menulis blog yang berjudul seperti di atas ini.

Sepuluh alasan Iisye harus kembali nge-blog:

  1. Karena saya suka dengan gaya tulisannya.

  2. Karena dengan membaca tulisan Iisye, saya jadi bisa tahu sedikit tentang kepribadiannya.

  3. Karena judul-judul blog Iisye seru, memberi inspirasi buat saya yang saat masih jadi copywriter dulu paling menyerah kalau sudah ke tahap pembuatan judul. Mati akal!

  4. Karena daftar Friends saya di weblog masih sedikit. Kalau Iisye tidak aktif dan akhirnya weblognya invalid, semakin sedikitlah daftar teman saya... hiks!

  5. Karena saya suka memotivasi orang. Semoga dengan himbauan saya ini, Iisye kembali tergugah untuk menyalurkan bakat menulisnya lewat blog. (Amin....)

  6. Waduh, masih ada 5 alasan lagi, ya? Apa lagi ya... Ini saja: Karena kalau Iisye nge-blog lagi, IP (tetangga sebelah saya) pun tertarik untuk ikut nge-blog. (he-he)

  7. Karena kalau Iisye nge-blog lagi, komunitas blogger semakin bertambah! (Apaan sih?)

  8. Karena kalau Iisye rajin nge-blog, siapa tahu Mitong juga kepengin nge-blog. Apa sudah, ya?

  9. Dua alasan lagi. Eng...Karena...kalau Iisye nge-blog, saya jadi punya teman nge-blog! (Mulai maksa)

  10. Alasan terakhir: Karena kalau Iisye tetap nge-blog, Iisye jadi punya blog. (Yang terakhir ini maksa banget. Tapi saya kehabisan akal. Maaf ya...)



Jadi, saudara-saudara, mari bantu saya menyemangati Iisye supaya kembali nge-blog. Mari kita memasyarakatkan nge-blog dan menge-blog-kan masyarakat (Ih, anjuran pemerintah Orba banget sih?) Ga-pa-pa. Asal jangan jadi ada peribahasa, "Belajar pangkal pandai, nge-blog pangkal goblok" he-he-he.... Hidup nge-blog.... Yippie!!***

Khayalan Sinting Semasa Kecil

Satu julukan diberikan oleh Ibu saya kala saya masih kecil: "Tukang Dalang". Panggilan ini diberikan berkat keobsesifan saya dengan boneka kertas berwarna-warni yang selalu saya mainkan. Saat Ibu saya habis kesabaran karena permainan yang satu ini bikin saya jadi kurang bersosialisasi dengan teman sebaya, dia pasti merampas semua "teman" saya dan membuangnya ke tong sampah. Selesai cerita? Enggak, tuh! Karena esokannya saya membeli boneka-boneka kertas lagi (ada untungnya juga jadi anak yang pintar menabung he-he!). Selanjutnya, bisa ditebak. Saya kembali tenggelam di dunia yang saya ciptakan bagi para boneka itu, dengan saya sebagai dalangnya. Akhirnya Ibu saya sepertinya menyerah dan tak mau mengganggu saya lagi. Tapi cerita tentang dosa semasa kecil ini selalu tak pernah absen ia ungkapkan pada seisi keluarga di saat saya sudah dewasa.

Selain bersosialisasi dengan para boneka kertas, saya kadang menghabiskan waktu dengan berkhayal. Atau bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan yang tak bisa dijawab. Misalnya, kenapa karet gelang diberi nama karet gelang? Kenapa tidak dikasih nama hotdog atau disebut kacamata? Sampai sekarang juga saya tidak tahu jawabannya. Kalau ada yang tahu, e-mail saya, ya! Soalnya saya masih penasaran nih sampai sekarang!

Khayalan super sinting yang pernah saya miliki, dan yang baru-baru ini saya ceritakan pada suami adalah tentang kentut. Terkadang kentut seseorang bisa dideteksi lewat suara "brebet" yang keluar dalam bagai jenis gaya. Dan jenis kentut cablak seperti ini tak akan menimbulkan banyak masalah, karena si pelaku biasanya bisa lekas ditemukan dengan mencari orang yang wajahnya merona merah. Yang paling susah adalah mencari pelaku kentut tak bersuara. Sudah baunya kadang selangit, orangnya bisa bebas tanggung jawab begitu saya. Menyebalkan. Sewaktu kecil saya sering kena korban kentut tak bersuara ini dan pelakunya adalah kakak saya. Karena saya dendam tak bisa mengecilkan volume kentut saya jadi tak bersuara, saya pun berandai-andai. Seandainya, setiap kali orang kentut, ada gelembung-gelembung udara yang keluar dari bokongnya. Blup,.. blup....! Jadi si pelaku tidak bakalan bisa mengelak. Simulasinya akan jadi seperti ini:


+ "Blup... Blup..." (Suara kentut)
- Eh, elo kentut, ya?
+ Enggak kok. Gue enggak kentut!
- Jangan bo'ong lo. Tuh, buktinya! (sambil nunjuk gelembung-gelembung udara yang menari-nari di udara)
+ Eng.. iya deh, gue kentut...


Untung Tuhan baik hati. Kalau enggak, gelembung-gelembung udara akan banyak bertebaran di mana-mana. Di jalan, di bus kota, di ruang kantor, di meeting penting bareng bos besar, di pesta kawinan teman, di acara penerimaan penghargaan dari presiden, di mal-mal, di... lebih baik Anda sebut saja sendiri! Yang jelas, Anda tetap bebas kentut, kok. Selama masih berbentuk gas, bukan gelembung! ***

Sebuah e-Mail Buat Sahabat

Dienstag, Januar 25, 2005
Subject: Re: Pesen deh
From: [rei]
Date: Tuesday, 25th January 2005; 16:29

Ita,

Elo kayaknya kok putus asa amat sih... hehehe...
Sebagai sahabat, gue bisa bilang, mending elo pikir dulu deh... apa elo tergoda untuk konsumsi semua itu karena niat mau kurus atau sekadar gambling aja... terus... kalau elo sampe gagal tuh, jangan nyalahin gue yak.. hiks....

just let me know lah...

anyway gue ada 2 cerita menarik nih.
Pertama. Kemarin gue wawancara orang komnas perempuan buat nulis artikel tentang UU KDRT. Pas gue ketemu orangnya, somehow kok gue merasa kenal sama orang itu ya... dan terbayang2 terus mukanya. Kayaknya begitu familiar. Hari ini gue ketemu lagi sama dia di kantornya, karena mau ambil data dan dia mau kasih bukunya ke gue.Pas di kantor, gue buka deh tuh bukunya. Dan apa yang gue temukan di bukunya...
a. Lahir: 9 Agustus 77. Gila, pas pertama gue sempet manggil dia Ibu dan kemarin Mbak (sampe hari ini). Ternyata mukanya boros banget dan tuaan gue gitu lho!
b. Sekolah: SMU XXXX!!!!! Sialan banget! Itulah sebabnya dia tampak sangat familiar ya... dan langsung aja kebayang mukanya dia pas SMA dulu... kampret 1000 kali! Dia adik kelas kita lho! Dan... ehm... jabatannya: Koordinator Divisi Reformasi Hukum... catet ya, sementara gue: ehm, Senior Editor dan Ibu rumah tangga. Mengenaskan!

Kedua. Gue sempet baca novelnya Novita Estiti, judulnya Subject:Re:. Isinya lucu dan bagus menurut gue. Terus gue sempet nulis di blog gue tentang novel itu. Pas gue lagi surfing di situs2nya si Novita ini, gue ketemu deh tuh kalau dia zodiacnya Sagitarius juga. Gosh! Terus hari ini gue terima message dari Novita itu. So nice ya.... betapa beruntungnya gue hari ini. Ehm, lebih pas kalau dibilang "Beruntung" pakai tanda kutip kali...

Ya sud lah, gue nyelesaiin artikel gue dulu ya!

[rei]
P.S. Kenapa sih dunia ini begitu kecil? Atau gue aja yang terlalu gaul?

What Coincidence!

Montag, Januar 17, 2005
Satu buku menarik sedang beredar di pasaran, judulnya "Subject: Re: " karya Novita Estiti. Saya membacanya dalam satu hari saja. Gaya tuturnya ringan, tapi isinya cukup mendalam. Pada akhirnya, saya pun jadi bertanya pada diri sendiri, apakah saya sama tidak bahagianya seperti para tokoh di buku tersebut. Banyak hal yang dialami tokoh buku itu yang juga saya alami di kehidupan sehari-hari. Kalau boleh saya menilai, buku ini adalah ungkapan jujur tentang isi hati setiap orang. Tanpa tedeng aling-aling. Tanpa malu-malu. Tanpa harus memikirkan, apakah dengan bicara blak-blakan orang lain akan menatap kita dengan sudut pandang yang berbeda (dan lebih negatif tentunya).

Saya lalu tertarik untuk tahu lebih jauh tentang si pengarang, yang sebenarnya pernah bekerja di grup perusahaan saya. Sayangnya, waktu saya masuk, dia sudah keluar. Saat menjelajahi blog-nya, mata saya tertumbuk pada barisan kata:

Zodiac: Sagittarius.

Wah! ***

Semua Padu Jadi Satu

Montag, Januar 10, 2005
Selamat Tahun Baru! Eh, terlambat, ya? Sebenarnya sudah dari tanggal 6 Januari saya bisa online lagi ke dunia maya. Tapi karena banyak hal yang mesti dikejar, akhirnya baru hari inilah saya punya kesempatan untuk menulis lagi. Berbagi pikiran lagi. Dan hopefully, pikiran yang saya bagi di tahun 2005 ini lebih berbobot dan bukan sekadar caci maki atau tumpahan keluhan tiada arti.

Banyak hal yang telah saya alami sepanjang akhir Desember sampai hari ini. Mungkin ada baiknya saya tuturkan dalam bentuk sedikit bernarasi, seperti catatan perjalanan:

24 Desember. Awal Liburan. Dengan nekad, saya hari itu membawa anak saya liong-liong (bahasa Manado untuk jalan-jalan) ke Passer Baroe hanya bersama ibu saya. Acaranya seru, karena saya baru tahu bahwa untuk berjalan 3 meter saja ternyata bisa butuh waktu 30 menit kalau bersama si kecil. Pasalnya, naluri eksplorasi dan kemauan kuat anak saya ini tak terbendungkan. Dengan excited-nya, dia bisa menghabiskan waktu 5 menit hanya untuk mengamati sampah kecil di jalanan (Oh, God!). Belum lagi kalau kami melintas penjual minuman (yang notabene berjejer sepanjang jalan). Anak saya pasti harus menghampiri untuk menggapai botol air mineral yang dijajakan (dan saya harus berusaha keras menariknya kembali - which was really hard to do!).

Malamnya, saya pergi misa malam Natal di gereja. Setelah beberapa bulan tidak mampir ke rumah Tuhan, akhirnya saya bertandang juga. Dan besoknya saya merayakan Natal bersama keluarga besar ayah saya. Ramai, meriah, tumpah ruah! Anak saya kali ini tak hanya bisa tidur. Dia sudah bisa bermain bersama para keponakan saya. Saya sempat terpikir, apakah kira-kira saya akan mengalami kejadian seperti ini di kala saya tua nanti, ya? Seperti apa rasanya menjadi ayah atau ibu saya, melihat cucu-cucunya, ya? Apa rasanya jadi tambah tua? Atau bahagia?

27 Desember. Berangkat ke Kampung Halaman (Suami). Untuk pertama kalinya, saya membawa anak saya pergi jauh, menempuh perjalanan hampir 14 jam ke Klaten, Jawa Tengah. Saat hampir sampai ke kampung halaman, kami dihadang banjir besar. Sama sekali kami belum tahu, bahwa nun jauh di sana, di Nanggroe Aceh Darrussalam (hope the spell is right!), bencana lebih hebat sedang melanda. Baru malam harinya kami tahu tentang itu lewat tayangan televisi. Sampai hari ini, bencana itu masih menyisakan pemikiran tersendiri di benak saya. Terutama saat saya melihat orang-orang yang saya cintai. Terus terang, saya punya ketergantungan emosional pada orang-orang terdekat saya: ayah, ibu, kakak, suami, anak, ipar, keponakan, ibu-bapak mertua. Dan saya tak pernah membayangkan kalau suatu hari akan kehilangan mereka. Sungguh tak dewasa memang, mengharapkan mereka hidup selamanya. Tapi itulah saya. Saya tak juga bisa membayangkan kalau suatu hari, dalam waktu singkat, saya harus berpisah dengan mereka dan jadi sebatang kara. Oke, saya mungkin bisa kalau tanpa orang tua, karena saya sudah cukup mandiri. Tapi tanpa anak saya? Oh, tidak! Semoga jika bencana besar itu terjadi, saya masih bisa meraih anak saya dan mendekapnya erat-erat, sehingga kami bisa selalu bersama. Setelahnya saya akan meraih tangan suami agar kami bertiga bisa selamat atau mati bersama. Agak egois kedengarannya, tapi saya bicara dari hati yang terdalam!

Anyway, sepanjang liburan sampai awal Januari, saya sama sekali belum sempat mereview ulang proyek saya. Sempat saya minta pendapat pada seorang teman. Katanya "Rada ABG!" Wah, saya panik. Namun, hari ini saya dapat tanggapan positif dari seorang teman lain. "Secara general memang ringan, tapi enggak ABG kok!" Ya sudah, saya sedikit lega.

6 Januari 2005. Back to Work Again! New assignments.... new projects! Dengan gilanya saya mengiyakan sebuah tantangan baru. Tentunya saya telah konsultasi pada suami dan teman-teman dekat. Well, masih berkaitan dengan dunia lama saya, dan semoga saja tak penuh omong kosong dan janji palsu seperti masa lalu! Proyeknya pasti akan menyita waktu. Tapi karena yang menawari menjanjikan kalau ini tidak akan mengganggu kesibukan utama saya dan so far detail proyeknya tak begitu padat, saya oke-oke saja. Just wait and see.

Tapi... dengan ketambahan yang satu itu, hidup saya seakan jadi amat hingar bingar. Terlalu banyak hal yang ingin saya capai dan harus kerjakan. Hmmm... ternyata benar apa kata astrologi saya.. saya punya tendensi untuk overwork. Dan semoga stamina saya tetap bagus untuk menjalaninya!

8 Januari 2005 My Best Friend's Wedding. Hari ini Dans , sahabat saya, menikah. AKHIRNYA..... Kenapa saya tulis dengan huruf besar, karena sepertinya si jagoan ini sudah layak dan sepantasnya menikah. Ha ha ha ha... Selamat menempuh hidup baru, ya, Dans... Semoga pernikahan bikin hidup elo jadi lebih hidup!

Hari ini seorang teman saya sejak SMP juga menikah dengan pria yang sudah dipacarinya selama lebih dari 10 tahun. Akhirnya juga. Karena sudah sejak lama saya dan teman-teman menanti akhir kisah cinta mereka. Untungnya, kisah mereka happy ending. Selamat buat Wiwied & Rudy!

Akhir kata, sepertinya blog ini lebih pas kalau dikasih judul "Akhirnya" ya.... ***