<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Ready to Rock Your Mind!

Dienstag, September 12, 2006


Kalimat di atas saya tuliskan ketika mengirimkan e-mail ke milis yang saya ikuti, semuanya adalah milis yang beranggotakan teman-teman saya sendiri untuk menjaga tali silaturahmi. Awal September ini, ketika sedang menikmati cuti tak terduga, saya menerima kiriman sampel sepuluh eksemplar novel pertama saya. Ibu saya tampak begitu bahagia, dan saya senang bisa membahagiakannya. Tapi terus terang, bagi saya semua ini biasa saja. Setelah berusaha menerjemahkan isi kepala saya selama delapan tahun dan menunggu proses penerbitan selama dua tahun, segalanya bagi saya telah menjadi semacam anti-klimaks. Bahkan saya sudah tak begitu mengingat apa isi novel yang saya tulis, mungkin saya memang telah mengidap sejenis penyakit lupa ingatan.

Adalah Ibu yang "menyadarkan" saya bahwa kemampuan saya sebenarnya itu mengolah kata, bukan mengolah nada. Sebagai penulis pun, sebenarnya saya tidak sebegitu produktifnya. Saya cuma punya beberapa cerpen dan satu novel itu saja. That's all I have. Tapi saya serius ingin menulis sastra, meski itu "bau". Jadi, tanpa panjang lebar, saya sekalian promosi: kalau sempat dan ingin, belilah novel pertama saya itu, bacalah, lalu tinggalkan komentar Anda di sini --terserah mau pedas, jahat, atau memuji. Semua saya terima dengan senang hati! ***

Gambar:
Fantasia Impromptu
by [rei]
Grasindo, 2006
Rp.45.000,00

Fantasia Impromptu, judul. : Terinspirasi dari komposisi Fantasie-Impromptu in C Sharp Minor oleh Frederic Chopin, salah satu komposisi favorit saya. Impromptu adalah jenis komposisi yang mengutamakan spontanitas, sementara kata Fantasia sendiri mengacu pada hal-hal imajiner, yang akan menjadi titik tolak utama saya dalam novel ini.

[rei], pengarang: Nama saya yang sesungguhnya begitu panjang dan boros. Maklum, orangtua saya cuma punya anak dua, jadi mereka kreatif menciptakan nama. Pun, saya punya beberapa nama panggilan, dari yang berhubungan dengan nama hingga nama gaul yang tercipta begitu saja dari mulut teman-teman saya. Nama [rei] bukan nama panggilan saya, tapi saya entah kenapa suka dengan nama itu. Selain berkaitan dengan salah satu pepatah kuno yang saya sukai, phanta rei (kai uden menei - heraclitos), kata "rei" dalam bahasa Jepang berarti nol. Saya lebih suka Anda mengingat novel saya ketimbang mengagung-agungkan nama saya seperti nama-nama penulis lainnya. Karena yang lebih penting bagi saya Anda menikmati karya saya tanpa perlu tahu siapa orang di belakangnya. Tapi, kalau ingin berkenalan, boleh sajalah...

[rei] selalu ditulis dengan kurung siku, karena kurung siku ini adalah salah satu ciri penanda dalam novel saya. Kurung siku adalah pembatas antara dunia nyata dan imajiner.

So This Is Goodbye

Montag, September 11, 2006
"Love your job, but never fall in love with your company, because you never know when your company stops loving you." - Narayana Murthy

Kabar itu datang begitu cepat dan tiba-tiba. Sore itu, sekitar jam empat, saya sedang mengedit satu artikel di meja saya dengan penuh konsentrasi. Memang bukan hal yang mudah memoles tulisan yang tak layak terbit menjadi tulisan yang nikmat saat dilalap oleh para pembaca wanita (maaf, terang-terangan saja saya harus katakan ini karena toh sekarang ini saya sudah angkat kaki dan ini bukan semata-mata karena dendam hati). Dan, pekerjaan ini telah saya lakukan entah berapa ratus kali selama bekerja di majalah keren dan kinclong ini. Tanpa diduga, bos (baru) saya memanggil. Dia minta saya masuk ruangannya. Lalu, setengah adegan interogasi, dia berkata kalau manajemen akhirnya tahu kalau keputusan mengundurkan diri dari perusahaan yang saya ambil di awal bulan Agustus itu ternyata untuk pindah bekerja pada sebuah grup perusahaan kompetitor. Terus terang, saya tak tahu di mana letak kompetisinya, karena tempat saya bekerja nantinya itu punya segmen yang berbeda dengan tempat bekerja sekarang. Seperti dicari-cari, bos bilang kalau salah satu anak perusahaan grup yang akan jadi kantor saya berikutnya adalah kompetitor dari salah satu anak perusahaan grup perusahaan sekarang. Oke, kata saya sambi menelan semua perkataannya bulat-bulat, lantas bagaimana?

Melalui pernyataan yang diplomatis, saya pun akhirnya tahu bahwa yang diinginkan perusahaan adalah saya segera angkat kaki. Alhasil, hari itu adalah hari terakhir saya menghirup udara di kantor itu. Segera saya berberes, mengangkut sisa-sisa barang milik saya yang masih ada di kantor (saya memang sudah menyicilnya sedikit demi sedikit sejak resmi mengajukan surat pengunduran diri). Malam menjelang jam sepuluh, saya melihat suasana kantor untuk terakhir kali, lalu pulang ke rumah. Janjinya, saya akan datang lagi esok harinya untuk berpamitan. Tapi akhirnya hal itu tak saya lakukan. Rasanya (kali ini saya pakai otak kanan), setelah mengalami peristiwa setengah terusir ini, saya tak punya keinginan untuk menginjakkan kaki lagi di sana. Setelah empat tahun saya ikut memperjuangkan majalah itu, pada akhirnya yang saya dapat adalah seperti demikian. Dan dari sini saya belajar, ternyata memang ungkapan "don't fall in love with your company" memang sangat benar. Dan, untungnya saya memang telah berhenti jatuh cinta pada perusahaan itu sejak berapa tahun lalu. Kenyataan yang terjadi dan ketidakadilan yang saya saksikan selama bekerja di sana telah cukup menyadarkan saya bahwa suatu hari pun saya bisa saja ditendang keluar tanpa rasa terima kasih sekalipun. Dan hal itulah yang hampir terjadi pada saya.

C'est la vie, mon ami, kata saya pada diri saya sendiri saat mengendarai mobil pulang ke rumah. Dan hidup harus berjalan terus. Dan, saya bukanlah seorang pecundang yang keluar dari perusahaan karena dipecat. Saya minta berhenti dengan rasa penghargaan diri sendiri yang amat tinggi. Dengan rasa percaya diri, bahwa saya melakukan tindakan ini dengan benar. Hanya saja bila akhirnya pihak lainnya menganggap saya harus segera angkat kaki, itu adalah keputusan yang mereka ambil secara sepihak. Dan, karena saya percaya karma, saya terima itu semua dengan lapang dada. Kalau mau bicara religius, saya hanya bisa bilang apa yang pernah dikatakan mertua saya, "Jadi orang Katolik harus seperti itu", maksudnya menerima perlakuan tidak baik dari orang lain dengan sabar.

Tulisan ini saya tutup dengan secangkir kopi yang sudah mendingin dan alunan komposisi dari salah satu komposer favorit saya: George Gershwin - "Fascinating Rhythm". Hidup ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan meratapi hari kemarin. Karenanya, perenungan ini adalah cara saya mengucapkan selamat tinggal pada media yang --sadar atau tidak-- telah membesarkan nama saya. Kata-kata "Auf wiedersehen" - sampai jumpa- yang saya sampaikan pada teman-teman yang saya tinggalkan (karena saya percaya kami bisa tetap kontak) sepertinya tidak cocok untuk disampaikan pada perusahaan yang saya tinggalkan sejak akhir bulan Agustus. Alih-alih, saya katakan saja "Selamat tinggal". ***