Ready to Rock Your Mind!
Dienstag, September 12, 2006
Kalimat di atas saya tuliskan ketika mengirimkan e-mail ke milis yang saya ikuti, semuanya adalah milis yang beranggotakan teman-teman saya sendiri untuk menjaga tali silaturahmi. Awal September ini, ketika sedang menikmati cuti tak terduga, saya menerima kiriman sampel sepuluh eksemplar novel pertama saya. Ibu saya tampak begitu bahagia, dan saya senang bisa membahagiakannya. Tapi terus terang, bagi saya semua ini biasa saja. Setelah berusaha menerjemahkan isi kepala saya selama delapan tahun dan menunggu proses penerbitan selama dua tahun, segalanya bagi saya telah menjadi semacam anti-klimaks. Bahkan saya sudah tak begitu mengingat apa isi novel yang saya tulis, mungkin saya memang telah mengidap sejenis penyakit lupa ingatan.
Adalah Ibu yang "menyadarkan" saya bahwa kemampuan saya sebenarnya itu mengolah kata, bukan mengolah nada. Sebagai penulis pun, sebenarnya saya tidak sebegitu produktifnya. Saya cuma punya beberapa cerpen dan satu novel itu saja. That's all I have. Tapi saya serius ingin menulis sastra, meski itu "bau". Jadi, tanpa panjang lebar, saya sekalian promosi: kalau sempat dan ingin, belilah novel pertama saya itu, bacalah, lalu tinggalkan komentar Anda di sini --terserah mau pedas, jahat, atau memuji. Semua saya terima dengan senang hati! ***
Gambar:
Fantasia Impromptu
by [rei]
Grasindo, 2006
Rp.45.000,00
Fantasia Impromptu, judul. : Terinspirasi dari komposisi Fantasie-Impromptu in C Sharp Minor oleh Frederic Chopin, salah satu komposisi favorit saya. Impromptu adalah jenis komposisi yang mengutamakan spontanitas, sementara kata Fantasia sendiri mengacu pada hal-hal imajiner, yang akan menjadi titik tolak utama saya dalam novel ini.
[rei], pengarang: Nama saya yang sesungguhnya begitu panjang dan boros. Maklum, orangtua saya cuma punya anak dua, jadi mereka kreatif menciptakan nama. Pun, saya punya beberapa nama panggilan, dari yang berhubungan dengan nama hingga nama gaul yang tercipta begitu saja dari mulut teman-teman saya. Nama [rei] bukan nama panggilan saya, tapi saya entah kenapa suka dengan nama itu. Selain berkaitan dengan salah satu pepatah kuno yang saya sukai, phanta rei (kai uden menei - heraclitos), kata "rei" dalam bahasa Jepang berarti nol. Saya lebih suka Anda mengingat novel saya ketimbang mengagung-agungkan nama saya seperti nama-nama penulis lainnya. Karena yang lebih penting bagi saya Anda menikmati karya saya tanpa perlu tahu siapa orang di belakangnya. Tapi, kalau ingin berkenalan, boleh sajalah...
[rei] selalu ditulis dengan kurung siku, karena kurung siku ini adalah salah satu ciri penanda dalam novel saya. Kurung siku adalah pembatas antara dunia nyata dan imajiner.
