Esensi Seorang Editor
Dienstag, Mai 25, 2004Untungnya, teman yang jadi tempat mengadu ini lalu bicara pada saya. Jadi, saya pun tahu apa yang terjadi di belakang saya. Di suatu kesempatan, saya berbisik pada teman yang tulisannya saya edit itu. "Kalau ada apa-apa, tolong bicara langsung pada saya, ya." Teman saya itu memberi banyak alasan, tapi buat saya itu tak penting lagi. Karena mata saya sudah terbuka lebar mulai saat itu.
Di samping mata, pikir saya juga jadi tambah terbuka. Hati saya jadi resah. Sebenarnya apakah esensi dari jabatan editor itu? "Sebisanya, kita hanya menambahkan koma dan kata 'dengan', 'tapi', atau kata-kata lainnya saat mengedit tulisan," kata teman saya yang jadi kantor pengaduan itu. "Itu bukan editor namanya, tapi korektor bahasa," bantah teman baik saya yang bekerja di media lain, ketika saya "curhat" padanya. Benar juga, pikir saya. Dari hasil diskusi, kami pun sepakat kalau tugas seorang editor adalah: "Menyelaraskan bahasa dan membuat tulisan jadi berterima, sesuai dengan gaya majalah tempat bekerja."
Buat saya dan teman saya, tugas seorang editor tak hanya untuk melihat apakah tanda koma atau titik telah terpasang pada tempatnya, atau bahasa yang dipakai sudah sesuai ejaan yang disempurnakan. Setingkat di atasnya, seorang editor harus melihat tulisan secara keseluruhan, memahami isinya, mafhum akan pesan yang akan disampaikan, serta memastikan alur penceritaan berjalan teratur.
Setingkat lagi di atasnya, seorang editor perlu melakukan penyelarasan jika gaya tulisan belum sesuai dengan pakem yang diikuti oleh media. Sebagai contoh saja, apakah tulisan seperti ini bisa dibiarkan saja masuk di halaman depan harian KOMPAS:
"... Tau ga sih, ternyata rumah presiden kemarin kemalingan terus hilang deh tuh mobil barunya yang keren dan macho itu!"
Dan apakah tulisan seperti ini bisa masuk di majalah Bobo:
"...Jadi, pertimbangkanlah terlebih dulu faktor risiko dan kemungkinan gagal yang akan terjadi, seandainya Anda memutuskan untuk terjun ke dunia saham yang penuh intrik dan strategi..."
Satu tingkat lagi di atasnya, seorang editor perlu lebih "ngeh" akan respons yang akan diberikan oleh pembaca. Apakah, misalnya, kisah sejati yang dituliskan sekiranya akan menggugah hati pembaca, atau hanya akan terkesan seperti laporan saja? Lalu, apakah kaidah isi artikel akan sesuai dengan misi media. Mungkinkah media yang selalu menganjurkan pembacanya untuk jadi dirinya sendiri menulis artikel yang berintikan: "Operasi plastik saja, biar Anda selalu terlihat cantik." ?
Semua ini baru pendapat saya saja. Saya pun masih perlu banyak belajar. Adakah yang bisa memberitahu saya, seperti apakah editor yang baik itu sebenarnya? Anda mungkin? ***
