<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Esensi Seorang Editor

Dienstag, Mai 25, 2004
Seorang teman kesal pada saya. Pasalnya, tulisan yang dia kirimkan ke saya untuk di-edit telah saya rombak habis-habisan. Menurutnya tulisan itu bukanlah lagi seperti tulisannya. Berubah total. Yang bikin jengkel, bukannya langsung protes pada saya, teman yang satu ini memilih untuk bicara pada orang lain, yang juga teman saya sesama editor.

Untungnya, teman yang jadi tempat mengadu ini lalu bicara pada saya. Jadi, saya pun tahu apa yang terjadi di belakang saya. Di suatu kesempatan, saya berbisik pada teman yang tulisannya saya edit itu. "Kalau ada apa-apa, tolong bicara langsung pada saya, ya." Teman saya itu memberi banyak alasan, tapi buat saya itu tak penting lagi. Karena mata saya sudah terbuka lebar mulai saat itu.

Di samping mata, pikir saya juga jadi tambah terbuka. Hati saya jadi resah. Sebenarnya apakah esensi dari jabatan editor itu? "Sebisanya, kita hanya menambahkan koma dan kata 'dengan', 'tapi', atau kata-kata lainnya saat mengedit tulisan," kata teman saya yang jadi kantor pengaduan itu. "Itu bukan editor namanya, tapi korektor bahasa," bantah teman baik saya yang bekerja di media lain, ketika saya "curhat" padanya. Benar juga, pikir saya. Dari hasil diskusi, kami pun sepakat kalau tugas seorang editor adalah: "Menyelaraskan bahasa dan membuat tulisan jadi berterima, sesuai dengan gaya majalah tempat bekerja."

Buat saya dan teman saya, tugas seorang editor tak hanya untuk melihat apakah tanda koma atau titik telah terpasang pada tempatnya, atau bahasa yang dipakai sudah sesuai ejaan yang disempurnakan. Setingkat di atasnya, seorang editor harus melihat tulisan secara keseluruhan, memahami isinya, mafhum akan pesan yang akan disampaikan, serta memastikan alur penceritaan berjalan teratur.

Setingkat lagi di atasnya, seorang editor perlu melakukan penyelarasan jika gaya tulisan belum sesuai dengan pakem yang diikuti oleh media. Sebagai contoh saja, apakah tulisan seperti ini bisa dibiarkan saja masuk di halaman depan harian KOMPAS:

"... Tau ga sih, ternyata rumah presiden kemarin kemalingan terus hilang deh tuh mobil barunya yang keren dan macho itu!"

Dan apakah tulisan seperti ini bisa masuk di majalah Bobo:

"...Jadi, pertimbangkanlah terlebih dulu faktor risiko dan kemungkinan gagal yang akan terjadi, seandainya Anda memutuskan untuk terjun ke dunia saham yang penuh intrik dan strategi..."

Satu tingkat lagi di atasnya, seorang editor perlu lebih "ngeh" akan respons yang akan diberikan oleh pembaca. Apakah, misalnya, kisah sejati yang dituliskan sekiranya akan menggugah hati pembaca, atau hanya akan terkesan seperti laporan saja? Lalu, apakah kaidah isi artikel akan sesuai dengan misi media. Mungkinkah media yang selalu menganjurkan pembacanya untuk jadi dirinya sendiri menulis artikel yang berintikan: "Operasi plastik saja, biar Anda selalu terlihat cantik." ?

Semua ini baru pendapat saya saja. Saya pun masih perlu banyak belajar. Adakah yang bisa memberitahu saya, seperti apakah editor yang baik itu sebenarnya? Anda mungkin? ***


Kala Saya Bikin Gara-Gara...

Beberapa hari yang lalu, saya bikin gara-gara (kalau saja istilah "dapat masalah" tak tepat buat yang saya alami). Seandainya teman kantor akrab saya mendengar cerita ini, berani taruhan dia akan bilang, "It's so you!"

Tindakan bikin masalah ini berawal dari rasa geram yang sudah cukup lama terpendam. Bukan hanya di hati saya, tapi juga suami saya. Tak perlu cerita panjang lebar, yang penting buat diketahui adalah bahwa rasa geram itu akhirnya bikin saya ingin menggugah (istilah halus saya untuk mengganti "menampar", yang juga bukan dalam arti harafiah) orang yang tanpa sadar sudah cari perkara dengan saya dulu itu.

Hari itu saya buka e-mail sebuah milis dan menemukan orang ini dengan gaya yang sok peduli pada kelangsungan sebuah klub (kalau kata suami saya, gayanya selayaknya dia pemilik klub saja). Luka lama saya kembal terkoyak. Apaan sih orang ini, gaya menulisnya dengan seenaknya menunjuk-tunjuk kesalahan orang lain di depan umum tanpa ingat kalau yang ditunjuk itu adalah para senior yang usianya jauh di atas dia.

Saya berpikir, kalau seandainya dia itu masih anak SMA yang masih perlu belajar sopan santun berbahasa dan berbicara, oke lah. Tapi tolong dicatat, orang ini lulusan Magister Psikologi yang notabene bisa dipanggil Ibu Psikolog. Tapi cara bicaranya seperti anak kecil yang ngambek pada para pesuruhnya, lalu merajuk sambil cemberut. Harapannya, semua orang yang dianggapnya bersalah akan minta ampun di hadapan umum "Mohon maaf sedalam-dalamnya Tuan Puteri, hamba memang amat bersalah dan patut dihukum seberat-beratnya..." Benar-benar mempermalukan diri sendiri orang ini, pikir saya.

Saya lalu mengirim e-mail yang cukup tajam dan keras padanya. Menurut saya, orang-orang seperti dia memang perlu diberi "shock therapy" kadang-kadang. Terserah kalau dia tak mau anggap saya teman lagi. Saya pun sejujurnya malas berteman dengan orang yang "banyak gaya". Keesokan harinya, dia langsung membalas e-mail saya. Bukannya mengajak diskusi (kalau memang tidak bisa terima saran dan kritikan saya), Ibu Psikolog ini malah menyuruh saya "belajar lagi". Dengan enteng saya balas begini:

"Maaf sekali alau ternyata Anda tak tersinggung pada saya.
Kalau begitu, mari kita sama-sama belajar lagi..."

Maksud saya, saya memang selalu ingin belajar. Tapi kali ini saya mohon kesudian Ibu Psikolog yang hebat dan katanya sudah berpikir masak-masak sebelum menulis itu buat ikut belajar tata bahasa yang halus dan santun. Karena saya tak bisa membayangkan dia akan bilang begini pada pasiennya:

"Kenapa Anda tidak datang di sesi konsultasi sesuai janji? Mengirim SMS seharga 350 perak tidak bikin Anda bangkrut kan? Uang 750ribu itu tidak sedikit lho!"

Dijamin si pasien langsung angkat kaki dari kantornya, tak mau datang lagi biarpun dikasih potongan harga 70%, seperti yang biasa dilakukan butik-butik yang mau cuci gudang karena tidak laku.

Di akhir cerita, suami saya berkata "Sudah, jangan ikut campur. Toh kita bukan bagian dari mereka lagi." Saya lalu berpikir. Benar juga. Paling tidak saya sudah sekali memberi simpati. Masalah dia masih mau keras kepala dan nantinya juga akan dia lakoni di dunia kerja, terserah. Kalau kata jiran kita, "Sila saja". Yang jelas, saya tak mau cari gara-gara lagi dengannya. ***

Kalau Boleh Sedikit Protes...

Dienstag, Mai 18, 2004
Minggu kemarin, anak saya sempat 3 hari tidak ketemu bapaknya yang selalu pulang menjelang tengah malam. Saya marah besar pada suami saya.

Di tengah kegundahan yang melanda, saya berpikir soal diskriminasi. Seandainya sayalah yang pulang malam, pastinya seisi keluarga akan tak henti-henti menelepon saya. Bisa jadi, suami akan bilang, "Kalau selalu pulang malam, mendingan kamu berhenti kerja saja." Atau mungkin ibu saya yang akan bilang demikian. Tapi kalau suami saya yang pulang malam, sepertinya saya diharuskan untuk memaklumi. "Pekerjaan saya belum selesai," katanya. Lalu saya ingat satu kisah demikian:

Seorang karyawan belum juga pulang kala jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sang bos yang sudah hendak kembali ke rumah melewati karyawan tersebut. Karena heran, bos itu bertanya, "Kenapa Anda belum juga pulang?" Karyawan itu menjawab, "Pekerjaan saya belum selesai." Bos itu lalu berkata lagi, "Kalau pekerjaan Anda sudah selesai, Anda tak perlu datang ke kantor lagi." Si karyawan terkesiap. Lho, mau bekerja benar kok malah seperti akan dipecat? Rupanya si bos mengerti kebingungan sang karyawan. Karenanya ia menambahkan, "Tak ada pekerjaan yang pernah selesai dikerjakan, sekalipun Anda mau lembur tidak pulang-pulang. Jika pekerjaan selesai, esok kantor kita sudah tutup. Karena tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Jangankan Anda, saya pun juga tak perlu masuk kantor lagi."

Jadi, suamiku sayang, sesibuk apapun dirimu, paling tidak pulanglah sebelum si kecil sudah bertandang ke dunia mimpi. Juga di saat dia sudah bisa tidur sendiri tanpa harus menunggumu. Mungkin pekerjaan membelai kepala anak sebelum tertidur hanyalah soal sepele dibanding pekerjaan yang ada di kantor. Tapi seperti saya pernah bilang, masa yang sudah terlalui tak bisa kembali lagi. Kamu pernah menertawakan kalimat ini dan mengulang-ulang kata "tidak" untuk mensugesti diri. Tapi kelak, di saat anakmu lebih suka memeluk kakeknya daripada berhambur ke dekapanmu, kalimat ini pasti tak akan lagi terdengar klise. Dan engkau pun akan sadar kalau kata "tidak.. tidak.. tidak bakalan" yang pernah kau ucap hanyalah sekadar mantra tak berarti. ***

Geregetan

Mittwoch, Mai 12, 2004
Ibu saya penggemar berat acara "Akademi Fantasi Indosiar" alias AFI. Yang jelas mendapatkan manfaat positifnya adalah tukang koran di daerah rumah kami. Dulu, rumah kami cuma membeli koran hari Sabtu dan Minggu. Kadang-kadang ditambah tabloid Nova, yang berisi kumpulan resep makanan lezat (namun sayangnya tak pernah sekalipun dipraktikkan Ibu saya). Dengan "demam AFI" stadium lanjut yang "diderita" Ibu saya ini, rumah kami jadi penuh dengan berbagai tabloid infotainment. Namanya sudah tak bisa disebutkan lagi, karena sudah begitu banyaknya yang dibeli Ibu saya. Pokoknya, asalkan ada tabloid berhalaman muka para "Akademia" (konon itu sebutan bagi para peserta AFI), Ibu saya pasti langsung "kalap" dan membelinya.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya pun suka menikmati tabloid ini. Soalnya, saya pun suka menonton acaranya. Hitung-hitung, saya jadi pengamat perkembangan musik Indonesia. Kehadiran tabloid ini juga jadi penghibur saya saat lelah pulang kantor. Jadi, sambil bermain dengan anak, saya membaca.

Mulai dari sekadar menikmati, saya lalu mulai menilai cara penulisan. Maklum, saya bekerja sebagai penulis di majalah juga. Dari sekadar geleng-geleng, saya akhirnya geregetan dan geram. Hal pertama yang jadi penyebab mungkin telah saya tulis beberapa minggu yang lalu. Kini muncul lagi hal kedua yang tak kalah bikin saya naik pitam. Kalau tidak salah ingat, tulisannya seperti ini:

"... Dia mau berbaik hati mengajarkan saya ornamisasi dan imvromisasi..."

Lalu, di lain kesempatan saya juga sempat melihat tulisan berikut:

"... agar lebih bisa memperhatikan peach kontrol dalam bernyanyi..."

Aduh, apaan sih? Jerit saya dalam hati. Masa seorang wartawan tidak tahu cara menulis ornamentasi dan improvisasi? Juga tak paham ungkapan pitch control? Kalau memang tak mafhum, tolong bertanya pada yang lebih tahu. Atau tak usah ditulis sekalian!

Saya lalu berpikir, apakah sering kali saya seteledor ini dalam menulis? Untungnya saya belum mengalami hal memalukan ini. Buat saya, ini benar-benar memalukan. Zaman dahulu, wartawan sering kali dianggap sebagai corong suara, yang tahu segala. Tapi ternyata wartawan sekarang begitu malas belajar. Asalkan sudah selesai deadline, mereka lantas bernapas lega. Mungkin memang saya lebih tahu kebenaran istilah di atas, karena saya pernah belajar musik selama lebih dari 10 tahun. Tapi saya kira, istilah-istilah di atas bukanlah istilah asing yang susah pengucapannya. Ornamentasi berasal dari ornamen, improvisasi berinduk dari bahasa Inggris, yaitu to improve dan improvisation. Harus diakui, istilah pitch memang agak asing. Tapi 'kan mereka bisa bertanya pada yang berbicara. Bukannya sebagai wartawan mereka punya jaringan yang luas? Pastinya mereka sering mewawancara Trie Utami, orang yang paling sering bercuap-cuap soal istilah ini. Atau mungkin mereka gengsi bertanya, merasa tak punya waktu untuk masalah sepele seperti ejaan?

Kalau saya bos mereka, sepertinya akan saya pecut mereka. "Dasar, malu-maluin!" ***

Tolong, Saya Tidak Tahan!

Menjaga rahasia saja, saya sudah terbiasa. Bahkan, kalau memang amat rahasia, saya betah menjaganya lama-lama.

Berusaha tenang dan sabar dalam menunggu hal besar yang akan datang, seperti halnya mimpi, keinginan terpendam, atau pun janji-janji, saya juga sudah sering mengalami. Dari yang sepele sampai yang spektakuler.

Tapi belakangan ini hati saya benar-benar meronta-ronta. Sebabnya, saya dibebani dua hal ini sekaligus. Menjaga rahasia dan berusaha tenang. Ya Tuhan, saya tak tahan!!

Kendati keluarga sudah tahu, tetap saja saya terkekang rasa tak karuan. Saya berusaha mengalihkan perasaan yang "campur-sari" ini dengan memikirkan hal lain. Tapi tetap saja, ada saatnya semua hal yang ingin saya pendam dalam-dalam, kalau perlu sejenak dilupakan, menyeruak ke permukaan lagi. Dan membuat saya ingin teriak "Tolong... saya tak tahan!"

Dan saya pun berkata pada sang waktu"Sampai kapan engkau mau menyiksaku?" Pada yang di Atas saya berdoa "Tuhan, tolong. Biarkan aku tetap membisu."

Sementara itu, jangan-jangan yang lain, si pemberi rahasia maupun yang meminta saya untuk menjaganya tak bisa menahan mulutnya. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa bilang "Itu bukan salah saya." Dan saya tetap ingin tutup mulut, sesuai yang dipinta. (sambil menyilangkan jari tengah dengan telunjuk saya, kedua tangan kiri dan kanan). ***

"Isi Bensin"

Minggu deadline berat sudah berakhir. Buat saya, kini adalah saatnya untuk "isi bensin". Ibaratnya mobil perlu diisi bahan bakar setelah berjalan jauh, benak saya pun minta diisi lagi setelah bekerja keras memeras pikiran.

Baca artikel, dengar musik. Mengerjakan "hobi" di sela waktu kantor: mengkliping artikel-artikel yang saya temui di dunia maya. Chatting dengan teman, buat buka wawasan. Tapi kegiatan yang satu ini sebenarnya malah bukan buat tambah pengetahuan, tapi

jadi ajang saling cela, curhat, dan bernostalgia. Hanya dengan Dans, teman saya, acara chatting bisa jadi sedikit lebih berisi. Soalnya, kami sering kali membahas kemajuan novel saya yang sampai sekarang ini masih saja belum rampung.

Saya kurang tahu bagaimana cara teman lain "mengisi bensinnya" di kantor. Sempat melirik ke meja tetangga sebelah kanan, saya melihat sebuah buku novel Chicklit tergeletak. Asumsi saya, teman saya juga sedang berelaksasi dengan membaca buku ini. Ada juga yang berkeliling kantor, mampir dari satu meja ke meja lainnya. Syukur-syukur, bisa dapat penganan kecil buat mengisi perut sebelum makan siang.

Kalau semua kegiatan di atas sudah bosan saya lakukan, cara terakhir adalah mengirim e-mail ke sahabat. Berbagi cerita dan bercanda ria. Katanya, dia tertarik juga untuk punya weblog, supaya tidak terlalu bosan di kantor seraya mengeksplorasi kemampuan menulis. Saya jadi menanti-nanti, seperti apa weblognya nanti...

P.S. Oh iya, saya lupa sudah janji mau membaca cerpen teman saya ini! ***

Kematian

Montag, Mai 10, 2004
Sudah 2 minggu anjing saya kembali ke penciptanya, dan dalam rentang waktu itu juga, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan dan keluarga saya.

Ayah saya konon jadi lebih berlembut hati pada seisi rumah. Ibu saya jadi lebih sayang pada kedua anjing yang tersisa. Suami saya jadi terpikir untuk ambil asuransi kesehatan, supaya kalau terjadi dia sakit, keluarga tak perlu cemas.

Saya sendiri punya pemahaman yang berbeda. Saya jadi tergerak untuk berpikir, seperti apa nasib orang (atau binatang) setelah mereka melepas keragaan mereka. Sabtu malam, saya mendengar sekelumit kalimat di radio, yang membahas soal mati suri. Sekejap saja, saya teringat masalah kematian lagi.

"Apa jadinya saat badanmu bukanlah badanmu lagi? Dan engkau hanyalah secercah ruh yang melayang, berusaha mendekati orang-orang yang engkau sayangi, tapi ternyata engkau tak kuasa untuk menjamah mereka?"

Itu secuplik pikiran saya.

Tapi lalu saya berpikir lagi. Apakah saat kita mati kita masih mengada di dunia ini? Apa yang akan terjadi? Apakah benar seperti kata orang yang pernah mati suri, kalau saat jiwa berpisah dari raga, kita seperti menyusuri lorong bercahaya yang lurus tanpa henti? Siapa yang akan pertama kali kita lihat di sana? Siapa yang akan pertama kali kita temui? Betulkah kita akan bertemu orang-orang yang telah duluan pergi?

Lalu saya berpikir lagi. Jika suatu hari kita akan mati, meninggalkan dunia ini, lalu apalah arti semua yang pernah kita miliki di saat ini? Apa gunanya saya mengoleksi buku-buku, apa gunanya saya punya ponsel super canggih, kalau kelak tak bisa kita bawa pergi? Apalah artinya materi, kalau ternyata karma semasa hidup lebih berarti nanti?

Seketika serasa jiwa saya hendak keluar dari badan, ingin melepaskan diri. Tapi kemudian dia kembali lagi. Mungkin karena saya sendiri takut, tak siap untuk segera meninggalkan dunia ini. Lalu sampai kapan? Saya ingin tahu, apakah mereka yang tidak mengada lagi di dunia ini telah pergi dengan keinginan sendiri?

Saya teringat lagi satu ungkapan "Kematian bak pencuri di malam hari..."***

Menulis, Menulis, Menulis.

Freitag, Mai 07, 2004
Pagi ini saya tersentak oleh satu e-mail. Subyeknya: "Hélène Cixous: Menulis adalah Tindakan Revolusioner". Diambil dari satu situs, yang kebetulan juga saya kunjungi kemarin dan menghasilkan sekelumit kalimat di halaman ini (lihat "Gara-Gara Marah-Marah").

Saya lalu terdorong untuk membuka situs yang disarankan (karena tulisannya terlalu panjang untuk dikutip dalam satu e-mail). Saya pun mendapati satu bait berikut:

I shall speak about women’s writing.
Woman must write her self…
Woman must put herself into the text
– as into the world and into history –
by her own movement.
(Hélène Cixous, dalam Robyn r. Warhol: 1991, h. 334)

Bait ini rasanya menusuk hati saya. Memicu semangat buat lebih cepat maju. Lebih cepat mengejar mimpi saya. Saya lalu terkenang, mulai kapan mimpi ini saya miliki. Kalau dirunut kembali, ternyata sudah sejak SD saya menulis. Meski cuma cerita-cerita tak ketahuan juntrungannya dan amat sangat tidak Indonesia. Maklum, saya terinspirasi oleh buku cerita anak-anak yang saya baca dan tertarik untuk mengembangkannya jadi cerita saya sendiri.

Satu bait lagi yang menggugah hati:

Why don’t you write?
Write!
Writing is for you;
your body is yours, take it…
Write yourself. Your body must be heard.

Saya jadi teringat lagi, dulu waktu kecil saya senang sekali main boneka kertas. Sambil menggerak-gerakkan boneka itu, saya mengarang dialog-dialog bagi mereka. Ibu saya yang kesal akan "kesibukan" saya, akhirnya membuang boneka-boneka itu. Tapi saya tak menyerah, keesokan harinya saya beli lagi boneka-boneka kertas yang lain.

Hingga sekarang ini, terkadang boneka-boneka itu masih beraksi. Tapi hanya sebatas ranah benak saya. Dan suatu saat nanti, saya bisa "menghidupkan" mereka lewat tulisan tangan. Karena jika Hélène Cixous berkata, "Your body must be heard", saya pun berdalih "My Imaginations must be heard".***

Gara-Gara Marah-Marah

Mittwoch, Mai 05, 2004
Sore ini saya agak kesal. Alasannya sepele saja, seorang narasumber hendak mendikte saya. Kalau tidak mau, ya sudah. Saya tidak marah-marah. Tapi kalau lantas sok minta-minta temanya diganti segala, saya pun murka. Memang dia siapa, Chief editor saya?

Lalu jengkel edisi kedua. Saat menelepon ke satu rumah sakit, minta tolong narasumber, saya dibilang begini "Telepon saja besok pagi lagi." Entah siapa yang berkata itu. Padahal kalau sampai saya bertemu dengan orang yang saya maksud, responsnya akan super cepat. Memangnya dia siapa, bos rumah sakit itu?

Untuk mengobati rasa geram, saya membaca e-mail di mailing list. Tanpa sengaja, saya "terseret" ke situs sebuah yayasan yang peduli akan nasib perempuan. Lalu membaca tulisan mantan dosen saya dulu. Temanya soal "Kartini dan Modernitas". Saya tak pernah menyangka kalau anggapan yang selama ini saya punya salah besar. Dan saya pun ingin angkat topi buat ulasan mantan dosen saya itu. Entah kapan saya bisa melakukan riset seperti itu.

Sekarang ini saya masih berusaha menyelesaikan satu artikel, yang deadlinenya jatuh hari Jumat ini. Sementara satu artikel lagi masih tak jelas nasibnya. Pusing saya! Sambil menghirup Vanilla Latte dan sesekali melirik foto anak yang terpampang di meja kerja, saya berusaha menghimpun semua imajinasi buat menulis lagi.

Saya tidak suka rasa marah, karena cuma mengganggu konsentrasi saja. Gara-gara marah-marah saya jadi nyasar ke mana-mana. Termasuk nulis di blog ini! Sudah ah, mau kerja lagi!***

Gado-Gado di Awal Minggu

Dienstag, Mai 04, 2004
Banyak hal yang saya alami di sepanjang long weekend kemarin. Apalagi durasi liburannya sudah saya tambah dengan satu hari cuti di hari Jumat.

Saat berjalan-jalan ke mal, saya sempat kesal melihat anak-anak perempuan yang berkeliaran memakai sepatu roda. Bayangkan, di tengah mal yang begitu padat dengan kerumunan manusia, yang tak hanya berjalan-jalan dengan tangan kosong tapi bawa belanjaan yang begitu banyak, anak-anak itu melintas sana-sini dengan badan yang limbung. Siapa yang tak kesal?

Mungkin memang cuma saya. Tapi saya - terus terang- merasa amat terganggu oleh kegiatan mereka. Menurut saya, lebih baik mereka melakukan olahraga yang satu ini di tempat lain. Yang pasti bukan di mal! Yang bikin saya pusing juga adalah orang tua yang membiarkan mereka begitu saja. Zaman saya masih kecil dulu, saya dan kakak saya selalu main sepatu roda di Monas. Lebih bebas, lebih asyik. Kenapa sih para orang tua sekarang tak berpikiran sampai situ?

Di mal, saya membeli kaset Ruben Studdard, pemenang American Idol. Badannya tidak proporsional, tapi suaranya sangat profesinal. Tidak seperti kandidat AFI di Indonesia ini, yang tubuhnya sangat proporsional, tapi suaranya bikin sengsara kuping saya saat menontonnya. Saat mau ke kasir, mata saya tertumbuk pada satu kaset nostalgia: The Best of Daniel Sahuleka. Langsung saya beli!

Keesokan harinya saya tunjukkan kaset itu pada ibu saya. Komentarnya singkat saja: "Ih, RMS! (Republik Maluku Selatan)". Dengan alasan itu pula, ibu saya menolak mendengarkan suara Daniel Sahuleka yang unik. Saya jadi ingat kalau ibu saya sempat mengalami imbas pemberontakan RMS di kampung kelahirannya, Tondano, Manado, Sulawesi Utara. Itu terjadi saat dia masih kecil.

Saya jadi berpikir, apakah preferensi musik harus dipengaruhi oleh pengalaman berlatarbelakang politik? Buat saya, musik amat universal. Di musiknya pun, Daniel Sahuleka tidak menunjukkan keberpihakannya pada politik manapun. Bahkan, di salah satu lagu dia berdendang dalam bahasa Ambon. Saya lalu jadi teringat dengan kerusuhan di Ambon yang meledak lagi. Lalu saya tak bisa bilang apa-apa lagi. Cuma satu yang terlintas di kepala saya, "Right or wrong, it's my country." ***

Menyoal Kawin Telat

Samstag, Mai 01, 2004
Di suatu hari Minggu, saya datang ke pernikahan seorang teman. Pria. Usia 34 tahun - kira-kira. Di pesta ini, hadir juga seorang teman seangkatannya, belum kawin, bersama seorang perempuan. Bisik-bisik, mereka sebentar lagi mau menyusul.

Di sudut lain, ada lagi seorang teman. Pria juga. Usia: 35 tahun. Baru saja pisah dengan pacar sebelumnya. Bisa dibilang halusinasi, saya seperti melihat dia agak "pilu" melihat suasana meriah khas pesta pernikahan.

Pikir punya pikir, mungkin teman saya ini sedang menangisi nasibnya sendiri. Sudah usia segini, masih saja melajang, tak punya pacar. Padahal beberapa temannya yang lebih muda daripadanya, termasuk saya, sudah menikah. Bahkan di hari itu, mereka tak lupa membawa "buntut"-nya serta. Walah-walah...

Gara-gara pikiran itu, saya jadi selalu mengkaitkan tingkah polah teman saya ini dengan kata "pelampiasan" dan kelompok kata bermakna sama. Lalu saya teringat juga pada seorang teman lain yang hari itu tak datang. Dua minggu sebelumnya, dia menggendong anak saya dengan kehangatan seorang bapak. Saya saat itu juga terpikir, mungkin itu juga pelampiasan akan keinginannya punya anak, tapi apa daya, jodoh tak kunjung teraih.

Mungkin saat-saat seperti ini pantas dijadikan alasan untuk berungkap, "Dunia memang tak adil." Tapi kalau dipikirkan lagi, apakah yang adil di dunia ini sebenarnya? Bisa jadi, keadilan hanya ada di dunia Athena, si dewi keadilan...***