<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=6707292&amp;blogName=Pikir&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fpikir.blogspot.com%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fpikir.blogspot.com%2Fsearch" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Pikir

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Berkunjung ke Timezone

Dienstag, Dezember 05, 2006

Saya adalah salah seorang dari sekian banyak orangtua yang gemar membawa anaknya ke arena permainan di mal. Sampai-sampai, sahabat saya bilang, saya ini pengunjung setia Timezone, salah satu arena permainan itu. Terlepas dari mutu permainan yang ada di beberapa arena permainan yang kebanyakan tidak sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan lebih merupakan area pelepasan stres orang dewasa, saya memang punya tujuan sendiri untuk “melepas” anak saya di sana. Sebab, menurut saya, dan mengingat anak saya sendiri belum bersekolah, di tempat itu anak saya akan belajar bersosialisasi dalam taraf yang mendekati kehidupan nyata. Memang, bergabung dengan playgroup tertentu juga merupakan salah satu cara meningkatkan daya sosialisasi anak. Tapi, dengan adanya figur guru sebagai penjaga ketertiban dan keamanan di daerah itu, bisa dibilang situasi yang akan dihadapi cenderung kurang bergejolak. Anak-anak pun akan lebih sering terlihat bersikap baik supaya tidak dimarahi. Dan, di arena permainan inilah, seorang anak akan terlihat sifat aslinya, plus saya sering bisa menilai pola asuh seperti apa yang ia dapatkan di rumah. Ini sungguh menjadi petualangan pengamatan yang menarik bagi saya.

Bagaimana sifat asli anak (dan orangtuanya) bisa terlihat

It’s so obvious. Seorang anak yang pemalu biasanya akan menghindari kontak saat ia berada di arena permainan, apalagi jika ia sedang berada di tempat permainan bola. Ia cenderung mundur di kala anak lainnya mendesak maju untuk memanjat tangga. Sementara itu, anak yang lebih ekstrover akan segera membaur dengan keramaian, ditambah dengan jeritan riangnya. Begitu juga, anak dengan tingkat sosialisasi yang tinggi akan bisa membaur dengan mudah dalam lingkungan permainan, sementara anak yang kurang bersosialisasi –mungkin karena ia tak punya teman bermain di rumah- akan mundur, tak jarang dalam hitungan sekian menit ia minta pulang. Atau, mengajak pengasuh atau orangtuanya untuk menemani.

Yang menarik untuk diperhatikan juga cara berbahasa anak tersebut. Sebab, gaya bicara ini akan mencerminkan pendidikan yang ia terima. Anak yang bicara terbata-bata (padahal dari fisiknya kita bisa menilai ia berusia sekitar tiga tahunan) dan gerakannya lambat memperlihatkan bahwa ia kurang mendapat stimulasi dari orangtuanya. Anak yang berteriak-teriak “Minggir!” dan bukannya “Permisi” atau diam sama sekali memperlihatkan bahwa ia adalah Raja atau Ratu di rumahnya sendiri. Atau, bisa jadi orangtuanya kurang berpartisipasi dalam mengajarkan santun berbahasa (hei, jangan salahkan babysitter, karena tugas ini adalah tugas orangtua!). Saya pernah bertemu dengan seorang anak yang dengan sopan bertanya pada saya (ketika itu saya sedang mengawasi anak saya di arena permainan bola yang besar), apakah dia boleh memakai tas bola yang sedang saya pegang. “Tasnya boleh saya pakai tidak?” kira-kira begitu katanya. Saya sampai terperangah. Pasalnya, anak itu saya taksir usianya sekitar lima tahunan. Tapi bahasanya sangat sopan. Terus terang, saya salut pada orangtuanya.

Kemarin, ada pengalaman lain yang saya dapatkan. Saat sedang berada di luar rumah bola, lagi-lagi menunggu anak saya yang kini memang sengaja saya lepas untuk bermain sendiri di dalam, saya melihat seorang anak perempuan usia 9 tahunan yang sedang memarahi neneknya (yang sedang memegangi adik bayinya yang tampaknya baru “terjun” dalam arena school of life ini). “Hebatnya”, hal ini dilakukan demi meraih simpati... sang Ibu. Ibunya sendiri memang sedang berada di luar arena dan mengawasinya, dan dia baru saja datang. Dan saya tahu persis kalau sebelum ibunya itu datang si anak perempuan ini kerjanya hanya naik turun tangga dan memanjati alat-alat permainan yang sesungguhnya sudah tidak sesuai dengan usianya. Satu hal pun terlihat jelas: anak itu berusaha keras agar menjadi kesayangan ibunya. Kedua, kebiasaan memarahi sang Nenek bisa jadi ia dapatkan dari orangtuanya sendiri. Oh, oh, oh.

Ketika dunia anak dipenuhi kerumunan babysitter

Ini juga merupakan satu fenomena yang terus terang mengesalkan saya. Sering kali saya bertanya-tanya apabila melihat seorang anak yang memasuki arena permainan hanya ditemani oleh sang pengasuh dan tanpa orangtuanya, “Di mana, sih, orangtuanya?” Satu pikiran jahat saya: anak itu sengaja memang “diusir” ke arena permainan agar orangtuanya bisa bebas berjalan-jalan. Dan itu memang pernah terbukti sendiri oleh saya. Keberadaan pengasuh ini sebenarnya juga cukup mengganggu saya. Coba Anda bayangkan, sebuah arena permainan mandi bola yang hanya berukuran 3x4 meter, yang sebenarnya bisa jadi tempat main menyenangkan bagi sekitar 15 orang anak, menjadi kerumunan tidak jelas karena para babysitter ikut masuk dan duduk-duduk di dalamnya. Buat saya, untuk apa ditunggui? Apalagi kalau anak yang ditunggui itu ternyata sudah berusia 6 tahun. Saya lebih menghargai para babysitter yang berkerumun di depan arena bersama orangtua lainnya.

Saya pernah hampir mengusir seorang babysitter yang memanfaatkan rumah bola berkapasitas terbatas itu sebagai tempat memberi makan anak asuhnya. Dan yang diberikan pun tidak cuma jus, melainkan bubur susu. Saya paham, anak kecil memang sulit dibujuk untuk makan, tapi bukan berarti dia boleh diakali makan di mana saja, termasuk di rumah bola. Tahu sendiri betapa anak-anak sering melakukan aksi mendadak menampik sendok. Betapa “sedapnya” jika sendok itu terjatuh dalam tumpukan bola. Dengan segala kejijikan, saya segera menarik anak saya keluar dari tempat bola tersebut sebelum terlambat.

Di kejadian lainnya, saya sempat memarahi anak plus babysitter-nya karena memukul anak saya yang tidak salah apa-apa. Di kasus lainnya, anak plus babysitter lain saya hardik karena ingin merebut permainan yang sedang dimainkan anak saya. Sebenarnya bukan anak itu yang saya tuju, tapi si pengasuh. Dan pengasuh itu cukup takut dengan muka saya yang galak waktu itu (kata teman saya, kalau sedang marah memang Sagitarius saya terlihat sekali, he-he).

Dari babysitter ke orangtuanya sendiri

Bicara soal pengasuh, memang kita sebenarnya tidak boleh sebegitu menghakiminya terhadap para babysitter, karena biar bagaimanapun, mereka hanyalah orang yang membantu mengasuh anak, bukan pengasuh utama. Mereka juga hanya orang yang ditugaskan untuk mengasuh anak dan memastikan anak itu makan, jadi mereka tidak punya hak sepenuhnya untuk mengatur ini dan itu. Itu sebabnya, saya lebih mengembalikan semuanya pada sang orangtua.

Dimulai dari keputusan untuk memberi makan anak di tempat permainan. Terus-terang, saya sejak dulu tidak pernah mau melakukannya. Karena, kalau kita melihat sisi psikologis anak, mereka yang sudah ingin bermain tidak akan pernah mau makan. Apalagi kalau permainan itu melibatkan energi, seperti berlari. Lain hal bila anak itu didudukkan di mobil-mobilan lalu disuapi. Itu masih masuk akal. Dan, yang suka membuat saya ikut eneg, anak kadang dipaksa untuk menghabiskan makanan, sementara yang bersangkutan sudah terlihat tidak kuat lagi makan dan tak ingin makan. Sejak dulu saya dan ibu saya sepakat untuk tidak pernah memaksa anak makan, karena kalau dipaksa ia akan tumbuh menjadi orang yang malas makan. Karenanya, saya sering mengernyitkan kening jika acara makan sudah berpindah ke Timezone dan tempat sejenis lainnya. Lebih baik cari cara lain yang lebih menyenangkan untuk membujuk anak makan, seperti membawanya ke restoran misalnya?

Dari acara makan, kita sampai ke pemilihan waktu dan kesadaran akan usia anak itu sendiri. Dan ini serius. Belakangan ini saya sering sekali melihat orangtua maupun pengasuh yang menggendong-gendong bayi berusia di bawah delapan bulan di dalam arena permainan yang amat bising (hingga terkadang kita sendiri tak bisa mendengar bunyi ponsel di tas). Tak jarang, sang bayi itu berusia di bawah empat bulan. Saya sungguh heran, apa alasan yang membuat para orangtua ini membawa anaknya ke tempat yang jelas tidak tepat bagi anaknya itu. Pertama, jelas anaknya belum memahami suasana gembira yang ada di sana. Wong, kerjanya baru tidur-bangun saja. Kedua, anaknya pun belum bisa diajak bermain apa-apa. Jangankan main mobil-mobilan. Duduk saja belum bisa! Ketiga, sering kali bayi-bayi kecil itu saya temui di malam hari, atau di hari-hari ramai. Saya jadi bertanya-tanya, apakah ini keinginan orangtuanya sendiri, karena mereka ingin bermain di tempat main itu? Kalau memang masih suka main-main, tolong tinggalkan anak Anda di rumah dan pergilah sendiri. Jika sudah ingin mengenalkan tempat bermain yang penuh keriaan ini, harap tiru saya yang bersabar menunggu hingga anak saya berusia satu tahun dulu. Jadi, anak itu datang di waktu yang tepat dan Anda pun tak akan rugi membawanya ke sana. Sama-sama senang, bukan? ***