<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Mission: Completed!

Mittwoch, Dezember 22, 2004
Akhir tahun sudah menjelang. Natal sebentar lagi datang. Saya menarik napas lega. Pertama, karena load kerja di kantor juga sudah mulai ringan, semua sudah selesai. Kedua, saya dapat cuti untuk refreshing sejenak di kampung halaman suami selama 10 hari. Cuti panjang, dan saya benar-benar tak sabar menjalaninya.

Yang ketiga, dan yang paling menyenangkan: Misi saya telah selesai. Sebenarnya bisa dibilang awal bulan ini misi itu selesai. Tapi baru hari ini saya menganggapnya benar-benar selesai. Meski nantinya setelah kembali lagi ke dunia nyata (setelah kabur ke dunia suka-suka selama 10 hari) misi itu akan saya review lagi, saya tetap lega. Setidaknya, kerja keras saya selama ini telah berbuah hasil. Mulai dari sekelumit konsep yang gentayangan di benak saya sejak tahun 1998 (Hampir 10 tahun!) yang diterjemahkan buru-buru dalam secarik kertas, pertengahan tahun 2002 saya baru punya niat dan kemauan untuk merealisasikannya. Sempat terhambat karena saya hamil di tahun 2003, tapi begitu 'back on board' lagi di awal 2004, saya bertekad untuk menyelesaikan misi ini dan mewujudkan impian saya.

Phiuh... perjalanannya panjang juga, ya.... Dan sungguh tidak mudah buat saya. Seperti kata seorang peramal yang saya temui semalam, "Anda sering kali semangat saat memulai sesuatu, tapi di pertengahan motivasi Anda menurun." Terus terang, saya sempat mau menyerah. Tapi akhirnya saya memecut diri untuk menyelesaikannya. Dibantu Dans sebagai polisi, Ita dan Sila sebagai cheerleader, Ninoy sebagai motivator utama, Mas Haris sebagai si pemantau, dan Ibu saya sebagai pemberi cahaya dalam benak keruh saya, akhirnya.... I finally made it. Masih banyak teman yang ikut membantu saya, and I really appreciate it. Kini tinggal beberapa langkah lagi saya harus tempuh untuk meraih mimpi. Dan semoga saja Mission Impossible yang benar-benar membuat saya harus melawan diri sendiri ini bisa memberikan hasil (meski menurut bisik peramal hasilnya tak seperti yang saya bayangkan). Apa pun hasilnya, saya tetap terima. Yang terburuk pun saya siap!

So... terima kasih untuk tahun 2004 yang fantastis ini! Sebentar lagi sudah tahun baru dan mungkin ini bisa jadi isian blog saya terakhir di tahun ini.

Selamat Natal dan Tahun Baru!
Merry Christmas and Happy New Year!
Prettige Kerstdagen en gelukkig nieuw jaar!
Frohe Weihnachten und glueckliches Neu Jahr! ***

Watch Your Words

Donnerstag, Dezember 09, 2004
Kejadian yang dialami sehari-hari terkadang memang bisa jadi pelajaran untuk berbuat dan bersikap lebih baik. Berikut ini adalah kejadian sangat remeh yang saya alami, tapi cukup memberi saya hikmah.

Hari itu saya jadi usherette untuk acara pergelaran musik dan fashion show yang diselenggarakan oleh majalah yang bernaung dalam grup perusahaan tempat saya bekerja. Tugas saya malam itu adalah untuk menyambut tamu, terutama pers, dan mengantar mereka ke tempat duduknya. Kala acara hampir mulai, ada seorang perempuan yang kebingungan saat memasuki ruangan. Adalah tugas saya untuk membantunya, karenanya saya bertanya. "Bisa dibantu, Mbak?" Si perempuan dengan penuh gaya berkata, "Dari pers." (Tidak jelas kenapa dia harus dengan sok begitu mengatakan identitasnya, padahal saya sebagai pers juga selalu bersikap biasa saja layaknya orang awam). Saya lalu mempersilakan dia duduk di bangku depan, agar bisa melihat fashion show dengan jelas. Lalu, terlintas di benak saya, jangan-jangan orang ini pers VIP. Soalnya, pakaiannya stylish. Si perempuan ini juga kelihatan masih bingung. Karenanya saya tanyakan padanya asal medianya. Dia dengan ketus dan melotot berkata pada saya, "xxx dari majalah xxx" (Seperti datang dari media papan atas saja gayanya). Saya lalu tersenyum dan mempersilakan dia duduk tetap di depan. Tapi apa coba yang ia lakukan "Iya, sabar dong, Mbak!" jeritnya layaknya ibu-ibu pejabat. Hey, pikir saya, I'm just trying to be nice. I give you the best seat, you know?

Si perempuan berbaju pink itu lantas berjalan ke belakang, ber-say hai pada sekerumunan orang di sana, lalu duduk. Dasar bodoh, pikir saya. Dikasih tempat bagus, malah ke belakang yang jelas tak bisa lihat apa-apa.

Sampai di rumah, saya masih berpikir. Apakah saya pernah bersikap seperti cewek itu? Mudah sekali bagi kita untuk berkata pedas pada orang-orang rendahan. Bukan maksud merendahkan diri sendiri, tapi apa sih hebatnya jadi usherette? Sama saja seperti penerima tamu di hotel atau bioskop. Resepsionis di meja depan. Atau penjaga butik dan gerai di departemen store. Bukan bos, bukan orang penting. Di hadapan mereka, kita terkadang merasa lebih tinggi, lebih penting. Kita selalu berpikir bahwa mereka harus menghargai kita. Kalau bisa, menyambut kita dengan kalungan bunga, dan sapaan "Selamat malam, paduka yang mulia... adalah kehormatan bagi kami karena yang mulia bersedia datang... terima kasih banyak dari lubuk hati kami yang terdalam...". Karenanya, kita sering kali berkata kasar pada mereka. Berlagak sok penting. Padahal, kita dan dia sama saja. Sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi. Sama-sama menghirup udara. Kalau mati, kita sama-sama dikubur di dalam tanah. Jadi, jahat juga merendahkan mereka, hanya karena kita sedikit lebih beruntung daripada mereka. Dan itu juga untuk sementara. Tak jarang orang kecil bisa sukses. Seperti pepatah berkata, "kehidupan bagaikan roda yang berputar", suatu saat bisa saja keadaan berbalik. Misalnya, acara tersebut diadakan oleh majalah si cewek itu, dan dia jadi usherettenya. Lalu saya datang, dan menghardik dia dengan saat yang sama. Tapi untungnya, saya tak akan tega. Sebab kata orang tua, tidak baik membalas kejahatan dengan kejahatan.

Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Saya tak pernah tahu siapa orang yang saya perlakukan dengan buruk dan bagaimana nasibnya nanti. Karenanya, saya bertekad untuk memperbaiki diri. Memegang erat prinsip yang satu ini. JIka perempuan berbaju pink yang mengaku wartawan tapi tak bisa mengendalikan mulutnya itu bisa bertingkah seenaknya, jangan sampai saya seperti dia! ***

Don't Complain!

Mittwoch, Dezember 08, 2004
Di suatu hari Minggu, saya kembali terlibat dalam acara diskusi seru dengan suami. Tempatnya seperti biasa: Di mobil, kala perjalanan menuju rumah mertua. Topiknya juga topik yang sering kami bicarakan: kehidupan kerja saya.

Dengan anak kami sebagai pendengar setia (yang menyimak sambil menebarkan senyum-senyum manis sok mengerti), saya mengawali percakapan dengan bercerita tentang kondisi kantor yang makin berantakan saja. Saya sendiri sebenarnya sudah lelah bercerita pada suami perkembangan kekacauan di kantor. Juga menjelaskan bahwa kekacauan ini ironisnya tak disadari oleh seisi kantor, karena mereka menganggap semua baik-baik saja. Kalau di sejarah Indonesia (versi yang direka-reka), bisa disamakan seperti ungkapan "bahaya laten".

Suami mengajukan saran agar semua jelas. Saya menolak sarannya, karena itu saya anggap tak mungkin dilakukan. "Kantor gue enggak seperti kantorlo, semuanya techno-savvy. Di kantor gue, kebanyakan pada gaptek!" kata saya. Pembicaraan kemudian mengalir terus. Pada akhirnya suami bilang begini, "Sebenarnya ini tergantung elo juga. Elo mau membuat perubahan enggak? Ngomong sama bos? Atau bertindak sesuatu?" katanya. Saya jawab, "Ah, gue udah males ngapa-ngapain. Dulu gue punya niat baik, disalahartiin. Dibilang gue menjilat atasan supaya bisa dapet promosi, lah. Dianggap dapet promosi karena temennya atasan, lah. Kayaknya keberadaan gue di kantor dinilai karena gue temennya siapa, bukan karena gue bisanya apa!" Suami saya lantas menyudahi semuanya dengan final statement: "Kalau memang elo enggak mau berbuat apa-apa, enggak mau ngubah keadaan, jangan mengeluh. Jangan komentar apa-apa lagi. Karena itu pilihan elo!"

Saya terhenyak. Berpikir. Benar juga. Saya telah memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Berarti saya memilih untuk ikut arus dan menerima dengan pasrah semua yang terjadi. Berpura-pura tidak ada apa-apa, padahal ada bahaya laten yang menghantui perusahaan.

Ya sudah, kata saya pada diri sendiri. Kalau begitu, mulai hari ini saya tak akan mengeluh. Saya tak akan berkomentar. Karena saya tak punya hak untuk begitu. Karena memilih untuk tidak berbuat apa-apa juga termasuk tidak berkata apa-apa, 'kan? ***