<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Mengalahkan Diri Sendiri

Donnerstag, November 25, 2004
Menjelang akhir tahun (dan juga ulang tahun saya), saya terbiasa membuat resolusi. Apa yang akan saya lakukan di tahun depan, di masa saya berusia 28 tahun. Setelah melakukan perenungan panjang, akhirnya saya sampai pada satu hal besar yang harus saya selalu pegang di masa mendatang (tak cuma tahun depan). Hal itu adalah; "Mengalahkan diri sendiri".

Dulu, semasa saya masih bergabung di Marching Band, tepatnya saat saya masih SMA, ada satu pelatih saya yang selalu bilang begini kala kami mau bertanding, "It is easier to beat somebody else than to be the best you can." Saya kemudian lebih senang mengingatnya sebagai "It is easier to beat somebody else than to beat yourself". Iya, mengalahkan diri sendiri! Saya tahu saya tidak sabaran, karenanya saya akan berusaha mengalahkan diri sendiri dan belajar bersabar. Kalau menyentil sedikit sisi astrologi, zodiak saya menggariskan saya untuk menjadi orang yang amat semangat saat memulai suatu pekerjaan, tapi kemudian cepat bosan dan meninggalkan pekerjaan itu begitu saja. Hal ini yang jadi prioritas saya di tahun depan. Saya harus berusaha melawannya. Saya mulai sering memarahi diri sendiri karena terus mulur dari deadline penyelesaian novel. Dari pertengahan Oktober menjadi awal November. Dari awal November jadi pertengahan November, sehabis lebaran. Sekarang sudah akhir November dan saya masih belum selesai juga. Ayo.. ayo... ayo... kata-kata itu selalu saya ucapkan dalam hati. Do you want to be a loser, because you can't beat yourself? Saya sih selalu menjerit "Tidak... enggak mau..." tapi alhasil sampai sekarang saya masih saja berkutat di bab tiga.

O iya, satu lagi hal yang ingin saya ubah: keskeptisan saya. Saya ingin lebih terbuka dalam arti benar-benar mau menerima dan berusaha memahami dulu segala perubahan dan kesempatan yang ditawarkan pada saya. Contohnya, di tahun ini suami saya mendapat peluang bisnis yang sebenarnya bisa dikerjakan bersama-sama. Tapi ternyata butuh waktu beberapa bulan sampai akhirnya saya baru mau menyingsingkan lengan baju dan bahu membahu dengannya. Saya pikir, semua ini karena saya sudah skeptis duluan. Menganggap kalau saya tak bisa. Menganggap kalau saya tak akan sukses. Menganggap kalau bisnis itu tak mungkin mendatangkan keuntungan. Menganggap kalau saya tak punya jiwa bisnis. Saya sudah menghakimi diri sendiri, dan itu salah. Itu yang ingin saya ubah dalam diri saya. "I think I can, I know I can, I can if I give a try."

Teman-teman yang membaca, tolong bantu saya, ya!***

Liburan Usai...

Montag, November 22, 2004
Hari ini saya baru masuk kantor lagi, setelah menikmati liburan cukup panjang selama seminggu. Dalam waktu seminggu saya menikmati setiap menit bersama anak dan suami. Memperkenalkan anak pada dunia permainan baru, mendekatkan diri dengannya. Singkat kata, liburan kemarin benar-benar menyenangkan!

Cuma ada satu yang bikin liburan saya terusik. Sebenarnya ini tak berhubungan sama sekali dengan kehidupan saya. Tapi entah kenapa hati saya tersentuh. Saya jadi jengkel. Saya jadi marah. Ini berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi di Tol Jagorawi beberapa hari lalu, yang mengakibatkan sekitar 7 nyawa hilang. Penyebabnya sungguh amat menyebalkan untuk didengar: Penghentian mendadak akibat presiden mau lewat. Kekesalan saya memuncak, lantaran teringat suami saya pernah hampir jadi korban kecelakaan yang sama. Waktu itu dia sedang berada di mobil kantor, meluncur di Tol Layang Dalam Kota. Katanya, saat mobil sedang melaju kencang, tiba-tiba seorang polisi turun dari mobil ke tengah jalan tol dan memberhentikan kendaraan yang lewat. Pasalnya, Kapolri mau lewat. Alhasil, mobil kantor yang berisi suami dan supir hampir celaka. Tertabrak beruntun. Untung tidak ada yang mati.

Ternyata hal ini terjadi lagi. Dan saya yakin penyebabnya pasti si polisi tak punya otak yang main memberhentikan mobil sembarangan. Saya semakin kesal saat juru bicara kepresidenan bicara seenaknya. "Kecelakaan ini bukan karena presiden mau lewat. Soalnya, kecelakaan ini terjadi 15 menit sebelum presiden mau melintas." Sungguh tolol. Memangnya polisi akan menyetop pas presiden lewat? Pasti prosedurnya sebelum presiden lewat. Dan cara memberhentikannya yang seenak jidat itu yang bikin nyawa melayang. Kasihan juga si jubir presiden ini. Rupanya jabatan tinggi bikin dia kehilangan akal sehat. Komentar saya saat itu juga, "Memangnya dia enggak pernah jadi warga sipil, ya? Tidak pernah mengalami pas presiden mau lewat?" Rasanya kepengin saya menampar kepala si jubir, biar dia sedikit pakai otak kalau bicara.

Yang bikin kesal lagi: Beberapa hari kemudian saya dengar, 3 orang pengemudi mobil yang terlibat kecelakaan beruntun dan tewas itu ditetapkan polisi sebagai tersangka. TERSANGKA? Yang benar saja! Memangnya mereka berbuat apa? Justru mereka menghadapi malapetaka, karena ada orang penting mau lewat. Sekali lagi saya pikir, sepertinya memang orang kalau sudah punya jabatan jadi tidak punya akal. Cari kambing hitam dia pintar. Karena yang sudah mati tidak bisa membela diri, dituduh saja. Toh mereka juga tidak bisa diadili. Tapi keluarganya menderita sekali. Sudah kehilangan anggota keluarga, harus tercemar nama baiknya. Kalau tahu akan terkena musibah seperti ini, mungkin mereka tak mau lewat tol itu.

Terakhir saya berpikir. Mungkin lebih baik presiden kita pergi ke mana-mana naik helikopter saja. Lebih cepat sampai, nyawa rakyat juga tidak terancam. Pasalnya, selama polisi masih merasa sok pintar dan tak mau disalahkan, serta tak mau mengubah cara kerjanya, kecelakaan seperti ini akan terus terjadi. Jangan-jangan setiap kali presiden lewat, harus ada orang yang mati. Itu presiden atau malaikat penjemput maut? ***

03 November, Setahun Yang Lalu

Montag, November 08, 2004
Hari ini anak saya berulang tahun yang pertama. Syukur kepada Allah, dia bisa melewati tahun pertamanya dengan mulus, meski terkadang saya harus bergegas panik membawanya ke dokter karena sakit.

Kemarin malam, saat masih dalam perjalanan pulang ke rumah, saya memutar ulang ingatan saat-saat akan melahirkan anak saya. Mulai dari pagi di hari Minggu sampai subuh Senin, waktu dia lahir ke dunia. Di akhir nostalgia, saya berkata pada diri sendiri kalau saya tak bisa membayangkan akan melewati proses seperti tahun lalu sekali lagi. Dengan kata lain, saya jadi berpikir-pikir lagi untuk punya anak kedua. Apakah saya masih bisa dengan tegar melewati masa-masa kontraksi dan berjuang melahirkan seorang bayi? Apakah saya masih bisa tabah menahan sakit akibat jahitan yang belum kering selepas persalinan?

Kalau saja saya bisa punya anak satu lagi tanpa harus melewati masa-masa itu, saya mau saja. Dan saya ingin punya anak perempuan, meski tak menolak juga kalau dianugerahi anak laki-laki lagi. Serangkai nama indah sudah saya siapkan di dalam benak untuknya nanti. Pastinya sama kerennya seperti nama kakaknya, maksudnya anak saya yang hari ini ulang tahun.

Anyway... Happy Birthday, Liebling. Sebandel apa pun kamu, Mama tetap sayang kamu! ***

P.S. SMS Ulang tahun dari seorang teman untuk anak saya berbunyi:
"Hepi belsdey! Smoga panjang umur, tambah pinter, semakin melatih kesetanannya biar bisa nyaingin mamimu! - Dari tante yang paling setan kelakuannya :) -