Mengalahkan Diri Sendiri
Donnerstag, November 25, 2004
Menjelang akhir tahun (dan juga ulang tahun saya), saya terbiasa membuat resolusi. Apa yang akan saya lakukan di tahun depan, di masa saya berusia 28 tahun. Setelah melakukan perenungan panjang, akhirnya saya sampai pada satu hal besar yang harus saya selalu pegang di masa mendatang (tak cuma tahun depan). Hal itu adalah; "Mengalahkan diri sendiri".
Dulu, semasa saya masih bergabung di Marching Band, tepatnya saat saya masih SMA, ada satu pelatih saya yang selalu bilang begini kala kami mau bertanding, "It is easier to beat somebody else than to be the best you can." Saya kemudian lebih senang mengingatnya sebagai "It is easier to beat somebody else than to beat yourself". Iya, mengalahkan diri sendiri! Saya tahu saya tidak sabaran, karenanya saya akan berusaha mengalahkan diri sendiri dan belajar bersabar. Kalau menyentil sedikit sisi astrologi, zodiak saya menggariskan saya untuk menjadi orang yang amat semangat saat memulai suatu pekerjaan, tapi kemudian cepat bosan dan meninggalkan pekerjaan itu begitu saja. Hal ini yang jadi prioritas saya di tahun depan. Saya harus berusaha melawannya. Saya mulai sering memarahi diri sendiri karena terus mulur dari deadline penyelesaian novel. Dari pertengahan Oktober menjadi awal November. Dari awal November jadi pertengahan November, sehabis lebaran. Sekarang sudah akhir November dan saya masih belum selesai juga. Ayo.. ayo... ayo... kata-kata itu selalu saya ucapkan dalam hati. Do you want to be a loser, because you can't beat yourself? Saya sih selalu menjerit "Tidak... enggak mau..." tapi alhasil sampai sekarang saya masih saja berkutat di bab tiga.
O iya, satu lagi hal yang ingin saya ubah: keskeptisan saya. Saya ingin lebih terbuka dalam arti benar-benar mau menerima dan berusaha memahami dulu segala perubahan dan kesempatan yang ditawarkan pada saya. Contohnya, di tahun ini suami saya mendapat peluang bisnis yang sebenarnya bisa dikerjakan bersama-sama. Tapi ternyata butuh waktu beberapa bulan sampai akhirnya saya baru mau menyingsingkan lengan baju dan bahu membahu dengannya. Saya pikir, semua ini karena saya sudah skeptis duluan. Menganggap kalau saya tak bisa. Menganggap kalau saya tak akan sukses. Menganggap kalau bisnis itu tak mungkin mendatangkan keuntungan. Menganggap kalau saya tak punya jiwa bisnis. Saya sudah menghakimi diri sendiri, dan itu salah. Itu yang ingin saya ubah dalam diri saya. "I think I can, I know I can, I can if I give a try."
Teman-teman yang membaca, tolong bantu saya, ya!***
Dulu, semasa saya masih bergabung di Marching Band, tepatnya saat saya masih SMA, ada satu pelatih saya yang selalu bilang begini kala kami mau bertanding, "It is easier to beat somebody else than to be the best you can." Saya kemudian lebih senang mengingatnya sebagai "It is easier to beat somebody else than to beat yourself". Iya, mengalahkan diri sendiri! Saya tahu saya tidak sabaran, karenanya saya akan berusaha mengalahkan diri sendiri dan belajar bersabar. Kalau menyentil sedikit sisi astrologi, zodiak saya menggariskan saya untuk menjadi orang yang amat semangat saat memulai suatu pekerjaan, tapi kemudian cepat bosan dan meninggalkan pekerjaan itu begitu saja. Hal ini yang jadi prioritas saya di tahun depan. Saya harus berusaha melawannya. Saya mulai sering memarahi diri sendiri karena terus mulur dari deadline penyelesaian novel. Dari pertengahan Oktober menjadi awal November. Dari awal November jadi pertengahan November, sehabis lebaran. Sekarang sudah akhir November dan saya masih belum selesai juga. Ayo.. ayo... ayo... kata-kata itu selalu saya ucapkan dalam hati. Do you want to be a loser, because you can't beat yourself? Saya sih selalu menjerit "Tidak... enggak mau..." tapi alhasil sampai sekarang saya masih saja berkutat di bab tiga.
O iya, satu lagi hal yang ingin saya ubah: keskeptisan saya. Saya ingin lebih terbuka dalam arti benar-benar mau menerima dan berusaha memahami dulu segala perubahan dan kesempatan yang ditawarkan pada saya. Contohnya, di tahun ini suami saya mendapat peluang bisnis yang sebenarnya bisa dikerjakan bersama-sama. Tapi ternyata butuh waktu beberapa bulan sampai akhirnya saya baru mau menyingsingkan lengan baju dan bahu membahu dengannya. Saya pikir, semua ini karena saya sudah skeptis duluan. Menganggap kalau saya tak bisa. Menganggap kalau saya tak akan sukses. Menganggap kalau bisnis itu tak mungkin mendatangkan keuntungan. Menganggap kalau saya tak punya jiwa bisnis. Saya sudah menghakimi diri sendiri, dan itu salah. Itu yang ingin saya ubah dalam diri saya. "I think I can, I know I can, I can if I give a try."
Teman-teman yang membaca, tolong bantu saya, ya!***
