<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Totum Pro Parte (Bagian 2)

Donnerstag, Juli 28, 2005
Di entry sebelumnya, saya bicara tentang kultur masyarakat kita yang bisa dibilang merupakan pengejawantahan dari ungkapan linguistik berbunyi "totum pro parte", atau menyebut keseluruhan untuk sebagian.

Selain mendahulukan kepentingan diri sendiri dengan mengatasnamakan masyarakat banyak, saya juga berpendapat ungkapan yang satu ini juga terdapat dalam tindakan mengemukakan pandangan tentang satu hal tanpa melihat atau mengadakan riset yang bersifat keseluruhan. Artinya, seseorang yang tanpa adanya pengamatan yang komprehensif kemudian membuat sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Ada satu hal yang jadi pengamatan saya, dan kali ini ingin saya bagikan pada Anda.

Beberapa minggu lalu, saya membaca sebuah kolom opini di sebuah surat kabar. Isinya membahas tentang fenomena jurnalisme pada berbagai media yang terbit di negeri ini. Si penulis, mengaku sebagai seorang direktur lembaga pemerhati media massa (setidaknya itulah arti dari nama lembaga yang saya baca), memaparkan kritiknya terhadap berbagai jenis media. Di bagian pertengahan, ia secara sinis mengategorikan para wartawan yang bekerja untuk media massa yang bergelut di bidang properti (sebagai contoh) sebagai jurnalis brosur. Setelahnya, di bagian akhir, ia menyatakan penolakannya untuk menyebut mereka yang bekerja di majalah franchise sebagai wartawan. Mereka lebih pantas disebut penerjemah, begitu kira-kira ungkapan si penulis.

Perdebatan ini masih berlanjut. Bukanlah tulisan di koran tersebut yang jadi pemicu, tapi sebuah silang pendapat mengenai jurnalisme infotainment yang menjadi awalnya (namun saya setengah yakin bahwa hasil tulisan yang dimuat di harian terkemuka itu pastinya menjadi modal bagi orang-orang yang beropini di sini untuk menjatuhkan penilaiannya). Seorang pengirim e-mail memaparkan pendapat sebagai berikut:

"(...) Maraknya media massa saduran (--nama disebutkan) di Indonesia membuktikan kalau media massa itu sama seperti barang dagangan lain. Penerbit hanya mau menjual/memproduksi yang sudah pasti laku. Bahkan dengan memproduksi media massa saduran, penerbit sangat untung. Penerbit tidak perlu lagi berpromosi karena nama media massanya sudah menginternasional. Bahkan penerbit juga tidak perlu repot-repot mempekerjakan wartawan. Cukup bayar penerjemah yang ijazahnya tidak perlu S1, S2, atau S3.(...)"
Sebelum mengemukakan hasil pemikiran saya sendiri, saya ingin menegaskan terlebih dahulu, bahwa semua pendapat saya ini tidak ada hubungannya dengan profesi saya (just in case masih ada orang [maaf saja] tolol yang masih mencampurkan isi blog ini dengan kepentingan dirinya). Saya, secara pribadi, sebagai bagian dari masyarakat, menilai bahwa pendapat dari dua orang di atas adalah suatu pengejawantahan dari ungkapan "totum pro parte". Sekali lagi, yang artinya menyebut seluruh untuk maksud sebagian. Sebuah e-mail tanggapan atas kutipan di atas saya cantumkan juga di sini:

"(...) Siapa bilang menjual majalah franchise itu pasti laku? Mana data akuratnya? Validkah argumen Anda ini? Setahu saya, ada juga beberapa majalah franchise yang empot-empotan membiayai cost produksinya. Bahkan kadang cost produksinya harus ditalangi oleh unit usaha lain dari grup usaha itu. Banyak juga konsep majalah yang meniru ataupun majalah franchise (bukan saduran atau terjemahan seperti kata Anda) yang ternyata tidak berhasil dengan baik. Mungkin Anda saja yang belum tahu nilai sales-nya. Jadi kalimat bahwa semua majalah franchise pasti laku dijual itu perlu diragukan keabsahannya.

Setahu saya... Di majalah XX , tidak ada pekerjaan yang cuma penerjemah saja. Di sini ada Editor (Redaktur) dan Reporter seperti di media-media lain pada umumnya. Pekerjaannya pun tidak hanya menerjemahkan. Bahkan beberapa artikel profil dan reportase yang dibuat oleh majalah XX, ternyata dibeli dan diterbitkan juga di beberapa majalah XX mancanegara termasuk majalah XX pusat di Amerika Serikat.

Seleksi wartawan pun sama beratnya dengan seleksi tenaga kreatif lainnya pada umumnya. Skill yang paling dasar dan diuji sebelum masuk ke perusahaan ini adalah seperti kemampuan tulis menulis, tata bahasa dan kondisi psikologis yang baik. Selain itu juga dituntut portfolio dan pengalaman kerja profesional yang baik.

Pemred majalah saya , Managing Editor(Deputy Chief Editor)nya dan Art Directornya semua memegang gelar S2 dari Universitas di luar negeri. Pemred dan Art Director dari 2 universitas terkemuka di Melbourne dan Sidney Australia (bukan universitas jangkrik lho) dan Deputy Chief Editor memiliki dua ijasah S2 di bidang ekonomi dan politik dari Arizona, US. Sebelum bergabung dengan majalah saya, mereka pun telah memiliki track record yang impressive di media-media massa lainnya.(...)"

Penulis e-mail ini adalah salah seorang yang bekerja di sebuah majalah franchise di Jakarta. Dan saya pun, sebelum membaca tanggapan penulis ini, sempat mempertanyakan apakah penilaian yang diutarakan secara terbuka, baik di sebuah mailing list maupun di surat kabar terkemuka (yang notabene dibaca oleh lebih banyak lapisan masyarakat), telah didasari oleh pengamatan yang menyeluruh dan didukung oleh data-data yang akurat? Saya kira, jika ternyata mereka sendiri tak memenuhi kriteria tersebut, ungkapan totum pro parte akan terasa benar kesahihannya. Karena mungkin saja hasil pendapat mereka itu didasari oleh pengamatan terhadap beberapa media saja, tanpa mau mencari --mengutip teori Hegel-- antitesisnya. Dan mengacu pada pandangan Hegel lagi, sebuah tesis menurut saya tak akan sempurna, jika tak mengalami proses konfirmasi dengan antitesis. Karena sebenarnya, yang lebih sempurna adalah sebuah sintesis. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh para penulis ini, kalau boleh saya terapkan teori Hegel, mereka sebaiknya terlebih dulu mencari antitesis sesudah mendapatkan tesis mereka. Jika diterjemahkan, setelah mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa media franchise hanya total merupakan terjemahan dari media asli yang ada di luar negeri, hendaknya para penulis juga mencari tahu apakah ada media franchise yang isinya ternyata benar-benar lokal, alias bersumber dari lingkungan sekitar di negeri ini -baik dari segi tema dan penggunaan narasumber. Dengan kata lain lagi, mencari argumen yang bisa menggugurkan tesis mereka. Setelahnya, barulah didapat kesimpulan yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Saya kemudian jadi bertanya-tanya motivasi para penulis tersebut dalam mengungkapkan pendapatnya. Apakah itu murni hasil pengamatannya (meski tidak bisa dibilang sahih) atas dasar obyektivitas atau semata-mata ungkapan emosional yang subyektif? Apakah mereka melontarkan kritiknya karena memang mencemasi perkembangan media franchise dan dampaknya bagi kepentingan seluruh masyarakat? Atau semua ini hanya dilakukan karena mereka tak lain merupakan kaum yang menikmati imbas negatif akibat munculnya media franchise? Murni memperjuangkan kepentingan banyak, atau hanya totum pro parte? Hanya si penulislah yang tahu jawabannya. ***

__________________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.

Totum Pro Parte

Montag, Juli 25, 2005
Dalam Ilmu Linguistik, ada suatu istilah yang dinamakan sinekdoce, yang didefinisikan sebagai "menyebutkan 'sebagian' untuk maksud keseluruhan atau menyebut 'keseluruhan' untuk maksud sebagian.". Berdaasrkan pengertian ini, sinekdoce terbagi menjadi dua. Penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan disebut pars pro toto, sedangkan penyebutan keseluruhan untuk sebagian disebut totum pro parte (ada juga yang menyebutnya totem pro parte). Istilah pars pro toto sering ditemui dalam bentuk penamaan, seperti Pepsoden untuk pasta gigi, Supermie untuk mi instan, dan Starko untuk penyeranta. Sementara itu, istilah totum pro parte misalnya saja terdapat dalam kalimat "RI menandatangani nota kesepakatan dengan Malaysia". RI di sini bukanlah menandakan seluruh rakyat Indonesia, tetapi presiden atau menteri yang bersangkutan.

Saya pernah membaca di sebuah papan reklame tulisan "Bahasa menunjukkan bangsa". Dalam studi yang saya jalani selama 5 tahun, saya pun belajar bahwa bahasa dapat mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Dan entah kenapa di suatu pagi, saya merasa bahwa ungkapan "totum pro parte" ini begitu pas dengan kultur masyarakat kita. Dan rasa-rasanya, tanpa perlu memberikan contohnya, Anda sepertinya telah menyadarinya. Dan mungkin juga, Anda telah terlibat dalam kultur yang satu ini, suka atau tidak suka, disadari ataupun disadari. Seberapa sering Anda bicara, mengemukakan pendapat, mengajukan usulan, dengan mengatasnamakan seluruh kelompok atau komunitas, tapi sebenarnya yang Anda ingin raih adalah keuntungan bagi diri sendiri? Tak perlu merasa bersalah. Saya pikir, hal ini wajar saja terjadi. Mengingat juga Bobbi de Porter, penulis buku Quantum Learning pernah bilang kalau pada dasarnya seseorang menilai sesuatu berdasarkan besar manfaat yang bisa ia dapatkan untuk dirinya. Namun, menurut saya kultur totum pro parte ini jadi tidak bisa dibenarkan, jika Anda mengatasnamakan kelompok atau komunitas demi mewujudkan kepentingan pribadi, dan Anda memang mendapatkan keuntungan pribadi itu, tapi tak memberikan manfaat bagi lapisan yang lebih luas. Singkat kata, alih-alih memikirkan prinsip sama-sama untung, Anda malah membonceng kepentingan orang banyak demi kepentingan pribadi.

Lebih menyakitkan lagi adalah jika kultur totum pro parte ini sudah diberi sentuhan kekuasaan. Siapa pun yang berada dalam posisi ordinat punya peluang untuk mendompleng kepentingan khalayak umum yang lebih luas demi ambisi pribadi. Bagaimana bisa seorang oknum membuat air mancur sedemikian indahnya di Monumen Nasional sana, dengan menggunakan dana serta mengusung kepentingan umum? Kepentingan umum yang mana yang ingin ia kedepankan? Bukankah dana itu lebih diperlukan untuk menekan angka kemiskinan dan kelaparan? Dan setelah air mancur itu telah jadi, apakah semua masyarakat bisa menikmatinya? Mungkin pagar-pagar akan mengurung air mancur itu sehingga mereka yang lewat hanya bisa mengintipnya dari balik jeruji pagar. Atau mungkin juga di saat warna-warni indah itu menyemburat keluar dengan demikian indahnya, beberapa daerah terpaksa mengalami mati listrik, karena asupan listrik telah lebih banyak dipasok ke sana. Bagaimana, sih. Katanya harus hemat BBM dan listrik? Kenapa bisa membuat proyek spektakuler seperti itu? Jadi sekarang pertanyaannya: demi kepentingan siapa proyek itu dilaksanakan? Dana pemerintah yang sedianya diperuntukkan fasilitas yang lebih merakyat akhirnya hanya menjadi sebuah monumen yang secara tak langsung merupakan memorial statue bagi penguasa-penguasa tertentu --siapa tahu masa pemerintahan mendatang mereka tak lagi terpilih. Ironis sekali rasanya. *** (bersambung)

__________________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.

Apa Arti Membaca?

Mittwoch, Juli 20, 2005
Sebuah diskusi seru yang terjadi semalam saat sedang dalam perjalanan pulang bersama suami saya pada akhirnya memberikan semacam dorongan buat saya untuk menulis tentang arti membaca sebuah buku, terutama karya fiksi.

"Bagaimana caramu membaca?" pertanyaan ini dilontarkan suami saya semalam. Hal ini mengacu pada pendapatnya bahwa pada saat membaca sebuah buku, terutama yang berjenis fiksi, seseorang akan tenggelam di dalamnya dan pada akhirnya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam karya tersebut. Saya membenarkan pendapat ini, namun berkata bahwa hal itu tidaklah cukup. Kegiatan membaca mencakup sebuah kegiatan dengan substansi yang lebih dalam. Di saat masuk ke dalam sebuah karya, seseorang hendaknya tak hanya menikmati setiap dialog dan narasi yang ada, tetapi dia juga harus menciptakan narasi --dalam hal ini mengacu pada wacana pemahaman-- miliknya sendiri. Ketika membaca, seseorang tak boleh hanya pasif dan terhanyut dalam arus cerita yang dibuat oleh pengarang, tetapi dia juga harus aktif. Dia harus bisa melepaskan diri dari hanyutan alur cerita, mengambil sudut pandang, lalu membuat catatan atas karya yang ia baca. Catatan itu tak hanya sekadar berisi sinopsis cerita yang barusan ia baca. Tidak juga sekadar berisi penilaian apakah karya tersebut bermutu. Catatan tersebut juga hendaknya juga memuat sebuah interpretasi baru terhadap karya yang notabene merupakan hasil interpretasi pengarang terhadap sebuah konsep atau realitas. Apa sebenarnya yang ingin diungkapkan pengarang? Lalu, bagaimana menurut si pembaca sendiri; bagaimana ia sendiri memandang nilai yang ingin dibagikan oleh pengarang itu? Karena seperti halnya realitas kehidupan yang bisa dipandang lewat berbagai sisi, sebuah karya pun demikian adanya. Dan seperti halnya pula kita dalam hidup ini bisa memilih untuk tidak mengambil sudut pandang yang sama dengan orang lain dalam memandang sebuah realitas, dalam membaca sebuah karya pun kita harus berani mengambil sudut pandang yang berbeda dalam meninjau realitas dan nilai yang dipaparkan oleh sang pengarang. Dengan demikian, lahirlah sebuah pemahaman baru terhadap sebuah karya. Di sinilah konsep Hermeneutika bisa teruji. Bahwa setiap orang bisa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap teks, dan yang dimaksud dengan teks tak hanya sesuatu yang bersifat tertulis di atas kertas.

Suami saya lalu mengajukan sebuah pertanyaan lagi, "Lalu, bagaimana halnya dengan tujuan menulis? Apa tujuan seorang pengarang menulis sebuah karya?". Wah... pertanyaan bertambah sulit. Apalagi suami saya lantas menyangkutkannya ke diri saya sendiri, yang juga seorang penulis (walau hanya di sebuah media massa - dan sebutan ini saya pilih karena saya pikir saya tak pantas menyandang gelar wartawan). Pertanyaan itu belum sempat terjawabkan, karenanya saya lanjutkan di sini. Menulis bagi saya hampir sama seperti berdialog. Bagaimana orang nantinya memahami tuturan saya, itu tergantung dari sudut pandang mereka masing-masing. Tugas saya sebagai seorang penulis adalah memaparkan buah-buah pemikiran, yang dalam karya fiksi lantas diejawantahkan melalui karakterisasi tokoh-tokoh, seting cerita, maupun elemen-elemen pendukung lainnya. Tugas seorang pengarang hanyalah sampai di situ. Karena setelahnya tugas untuk meraih pemahaman dan interpretasi terletak pada masing-masing pembacanya. Seorang pengarang boleh jadi menuliskan karyanya untuk memberikan pengaruh-pengaruh tertentu bagi masyarakat. Tapi perkara pengaruh itu memang akan menancap dalam benak sebagian orang atau justru malah tidak dipedulikan dan hanya dianggap celoteh orang kurang waras, itu tergantung dari pembacanya sendiri, beserta hasil pemahamannya. Keberhasilan seorang pengarang menurut saya bukanlah dilihat dari sejauh mana ia bisa menyebarkan pengaruhnya terhadap masyarakat. Tapi lebih dalam lagi, keberhasilan itu dilihat dari sejauh mana karya tersebut bisa memberikan suatu nilai dan pemahaman baru bagi pembacanya. Terlepas dari apakah nilai dan pemahaman tersebut sejalan dengan nilai dan pemahaman yang dimiliki oleh si penulis.

Bagaimana menurut Anda sendiri? ***
__________________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.

Hemat Sana, Hemat Sini

Dienstag, Juli 19, 2005
Sejak pertengahan Juli lalu, pemerintah meminta rakyat untuk menghemat energi. Siaran televisi pun dibatasi, antara jam 1 pagi sampai jam 5 pagi Anda cuma melihat "film" berjudul Gerimis di Langit Gelap (alias berhenti siaran). Para eksekutif disarankan untuk tidak memakai blazer dan menggantinya dengan kemeja batik (masak sih? Ini saya cuma dengar-dengar saja). Pendingin ruangan dikurangi volumenya, tidak boleh lebih dingin daripada 25 derajat. Yang melanggar, akan ditindak. Dicabut izin usahanya, begitu kata Gubernur Jakarta.

Saat bercakap dengan seorang teman sambil menunggu berhentinya hujan di hari Jumat kelabu minggu lalu (yang bikin saya sampai rumah jam 10 malam dalam kondisi kaki gempor), saya bertanya-tanya. Apa sebenarnya hubungan antara menghilangkan tayangan televisi dan menanggalkan blazer dengan hemat energi. Tadinya saya sempat berpikir begini: Jam siaran di televisi sengaja dibatasi, agar dengan demikian di jam 1 pagi itu karyawan-karyawan di stasiun televisi itu sudah harus pulang dan kantor ditutup. Praktis listrik tidak lagi dipakai, berhenti total. Ini sekadar pemikiran awam saya. Tapi setelahnya saya dengar penjelasan bahwa pemerintah membatasi jam siaran televisi agar para penonton yang suka menonton di dini hari itu jadi tak punya alasan untuk menikmati televisi dan mematikannya. Alhasil, hemat listrik. Sungguh naif. Bukankah kalau di televisi tak ada acara yang bagus, orang sering kali memutar VCD atau DVD? Kalau tidak nonton film di VCD atau DVD, mereka bisa main game. Jadi apa hubungannya?

Begitu juga dengan anjuran agar tidak memakai jas. Ada yang bilang, kalau memakai jas, orang-orang jadi kegerahan. Akibatnya, mereka pun menyalakan pendingin ruangan dengan suhu paling minimum. Saya jadi teringat kondisi tempat kerja saya. Pendingin ruangan di kantor saya begitu dingin, sehingga sering kali kami harus mengenakan mantel, jaket, syal, dan jenis busana penghangat lainnya. Sering kali kami tanpa sadar keluar kantor dengan berpakaian seperti itu, lalu baru "ngeh" di kala melihat matahari bersinar begitu teriknya. Suhu pendingin ruanganlah yang membuat kami berpakaian seperti itu, bukannya kami berpakaian seperti itu lantas pendingin ruangan dinyalakan dengan suhu terendah. Di tempat lain, sering kali pendingin ruangan dinyalakan tanpa peduli apakah ada yang menggunakannya atau tidak. Fakta lain yang saya terima juga dari seorang teman, konon pendingin ruangan akan bekerja secara efisien jika dinyalakan pada suhu sekitar 23 derajat Celcius. Di atas suhu tersebut (25 derajat misalnya), kerja kompresor malah akan boros.

Pertanyaan kedua yang sempat terlintas di benak saya: energi apa sebenarnya yang mau dihemat? Listrik atau BBM? Ada iklan layanan masyarakat yang bilang kalau listrik juga perlu BBM. Tapi sumber lain dari situs pemerintah menyebutkan bahwa hal yang paling banyak menyedot BBM sebenarnya adalah sektor transportasi. Listrik sendiri hanya berpengaruh kecil. Kalau listrik dihemat, lalu semua orang membeli genset yang dijalankan solar, apa jadinya? BBM juga yang nantinya akan dipermasalahkan. Dan bagaimana BBM tak mau jadi masalah jika jumlah mobil baru yang diluncurkan di negeri ini semakin bertambah saja setiap tahun? Bagaikan sebuah tape recorder rusak saya pun berseru berulang-ulang, "mari kembali ke konteks, mari bicara konteks, mari pikirkan konteksnya...".

Terlepas dari semua itu, ajakan menghemat energi itu sebenarnya baik. Meski sekarang yang jadi krisis adalah BBM, tak ada salahnya juga memang kita berhemat untuk pemakaian listrik. Segala yang bersifat penghematan akan memberikan keuntungan. Tapi caranya juga harus tepat. Eksekusi, eksekusi. Apa yang akan terjadi jika sebuah perubahan dilakukan tanpa landasan konsep yang kuat, dan apa yang terjadi pada hasil perubahan jika eksekusinya melenceng dari tujuan? Lihat saja keadaan sekarang. ***
__________________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.

My Books-to-Read List (UPDATED)

Freitag, Juli 15, 2005

  • Agatha Christie: Death in the Clouds

  • Agatha Christie: Man in the Brown Suit

  • Agatha Christie: Lord Edgware Dies

  • Agatha Christie: The Clocks

  • Agatha Christie:Caribbean Mystery New!

  • Agatha Christie:The Mysterious Mr. Quinn

  • Agatha Christie: At Bertram's Hotel

  • Agatha Christie: By the Pricking of My Thumb

  • Jostein Gaarder:Vita Brevis

  • Nadine Gordimer:Writing and Being

  • Yann Mattel: Life of Pi

  • Jostein Gaarder:The Orange Girl

  • Lulu Wang:The Lily Theater

  • Torey Hayden: Mereka Bukan Anakku

  • Torey Hayden: Venus

  • Torey Hayden: Sheila

  • Etty Indriati: Cokelat Postmortem

  • Herman Hesse: Siddharta

  • Kolaborasi: Puing, Novel Kolaborasi

  • Kenzaburo Oe: Jeritan Lirih

  • Kristine Carlson: Don't Sweat the Small Stuff for Women New!

  • Sigmund Freud: Interpretation of Dream

  • Allan & Barbara Pease: The Definitive Book of Body Language

  • Tony Buzan: The Power of Verbal Intelligence New!

  • T.A. Tatag Utomo: Renungan Sikap Mental Karyawan Perusahaan I

  • T.A. Tatag Utomo: Renungan Sikap Mental Karyawan Perusahaan II

  • Thomas Armstrong: Setiap Anak Cerdas!

  • John Gottman, Ph.D, Joan de Claire: Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional

  • Alfons Sebatu: Psikologi Jung: Aspek Wanita Dalam Kepribadian Manusia

  • Zaenal Arifin, Mustakim: Bahasa Indonesia Bagi Sekretaris New!

  • Romo Sandyawan: Melawan Stigma Melalui Pendidikan Alternatif

  • Dale Carnegie: How to Win Friends and Influence People

  • Steven Covey: The 8th Habit



Daftar Buku Baru:

  • Mitch Albom: Tuesdays With Morrie

  • Lindsay Collier: Get Out of Your Thinking Box

  • Nukila Amal: Laluba

  • Irene B. Levitt: Brain Writing

  • Gilbert Brim: Ambisi

Lihatlah ke Dalam, Teman

Donnerstag, Juli 14, 2005
Suatu ketika terjadilah peristiwa demikian. Seorang teman menegur temannya lagi, berkata kalau temannya tersebut telah melakukan suatu kesalahan yang fatal. Teman yang ditegur pun berkata, "Apa kamu mau dengar cerita dari versi saya?". Lama setelah berselang, teman yang ditegur itu mengetahui bahwa temannya melayangkan protes setelah "digosok-gosok" oleh orang-orang tertentu. Terlepas apakah tujuannya, yang jelas pertemanan yang terjalin tak kembali sama. Niatan menegur atas nama kebaikan itu malah meleset menjadi sebuah tanda keberpihakan pada kelompok tertentu.

Di tempat lain, seorang pekerja merasa kewalahan dengan setumpuk pekerjaan yang dilimpahkan oleh sang atasan yang sedang tidak di tempat. Sambil mengerjakan tugasnya, ia mencaci-maki teman-temannya yang dinilai tak mau membantunya. Di kala bos sudah kembali, ia mengadukan teman-temannya. "Mereka tidak kooperatif, Pak. Tak mau membantu saya," keluhnya. Atasan bertanya, "Apakah Anda telah meminta bantuan mereka sebelumnya?". Karyawan itu terdiam, lalu menggeleng. "Kalau Anda tak pernah bertanya dan meminta, bagaimana orang lain bisa tahu Anda perlu bantuan?" kata sang bos.

Di suatu tempat lainnya, seorang wanita memutuskan untuk mengakhiri masa pendekatannya dengan seorang pria. "Pria itu sangat egois," kata wanita itu pada sahabatnya. "Dari mana kau tahu?" tanya sahabatnya. "Sewaktu kami berdua sedang makan ikan bakar besar berdua, pria itu tanpa ba-bi-bu langsung menuangkan kecap ke atas ikan kami. Padahal, saya 'kan tak suka kecap!" tukas wanita itu. "Oh, begitu ceritanya. Tapi omong-omong, apa pria itu telah tahu kalau kamu tidak suka kecap?" Ternyata wanita itu tak pernah bilang sebelumnya. Wong acara makan bersama saja baru beberapa kali. Bagaimana caranya pria itu bisa membaca apa yang disukai dan tidak disukai wanita itu, kecuali dia seorang paranormal atau dukun?

Seorang pakar bernama Gde Prama selalu bicara tentang konsep kejernihan. Saya sendiri ingin mengajak Anda melihat ke dalam. Di kala seseorang yang Anda kenal tak suka pada orang lain dan berusaha agar Anda berpikiran yang sama, lihatlah ke dalam. Apa urusan dan alasan Anda untuk ikut membenci orang itu? Jika selama ini orang itu tak pernah berlaku buruk terhadap Anda, kenapa Anda jadi berubah sikap hanya demi sebuah persahabatan? Itu bukanlah persahabatan sejati, itu solidaritas yang semu.

Jika Anda murka karena rekan kerja Anda asyik-masyuk membalas e-mail untuk teman-temannya dan menjelajahi internet sambil tertawa-tiwi, lihatlah ke dalam. Apakah Anda selama ini membebankan semua hal ke pundak Anda seorang dan tak ingin mengajak orang lain untuk berbagi pekerjaan? Apakah Anda selama ini lebih suka berjuang sendirian demi kesempurnaan dan tak mau campur tangan orang lain merusak kerja keras Anda? Atau Anda ingin mengerjakan semua itu sendiri untuk menunjukkan pada orang lain kalau Anda seorang Űbermensch alias manusia super? Jika memang demikian adanya, jangan mengeluh, teman. Itulah konsekuensi pilihan Anda. Dan jika Anda tak ingin begitu, bicaralah pada rekan Anda, jangan hanya diam saja. Karena permintaan pertolongan tak bisa dilontarkan hanya dengan memandang atau merasa.

Ketika Anda merasa marah akan sikap pasangan yang sepertinya tak memahami diri Anda, coba lihatlah ke dalam. Apakah selama ini Anda telah berusaha memahaminya terlebih dahulu. Sebab, pemahaman antara dua insan yang berbeda tak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh satu pihak. Dan jika hal ini sudah terlaksana, lihat lagi ke dalam. Apakah Anda sudah pernah menyatakan rasa keberatan Anda atau memberitahukan ketidaksukaan Anda terhadap satu dan lain hal pada pasangan tersebut? Jika Anda tak pernah menyatakannya, ia pun akan menyangka semua baik-baik saja. Dia menganggap Anda tidak keberatan jika dia tak apel di setiap malam minggu, Anda pun oke saja jika dia lebih suka pergi bersama temannya daripada bersama Anda. Dia pun menganggap Anda suka kecap, sambel, pete, jengkol, atau daun bawang.

Lihatlah ke dalam, berdialoglah dengan diri Anda, temukan jawabnya. ***
_______________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.

Membicarakan Gie

Mittwoch, Juli 13, 2005
Film tentang Soe Hok Gie sedang hangat-hangatnya di masyarakat. Entah apakah orang-orang akan tergerak untuk menontonnya atau hanya menganggapnya sebagai bumbu hiburan di kehidupan yang serba susah.

Nama Soe Hok Gie pertama kali saya dengar ketika masih kecil. Ayah saya yang bercerita tentangnya. Seperti ayah saya, Gie juga seorang keturunan Tionghoa yang hidup di Indonesia. Saya sempat mencoba membaca buku Catatan Seorang Demonstran yang diambil dari buku harian Gie. Namun apa daya, saat itu saya masih usia belasan. Mungkin belum limabelas. Mana mampu saya menangkap kekompleksan situasi negara dan aspek-aspek menonjol dari pemikiran Gie?

Ada banyak hal yang bisa dipetik dari kehidupan sesosok Soe Hok Gie. Dalam pandangan saya dan ayah, tokoh Gie menunjukkan pada orang banyak untuk tidak melihat seseorang hanya dari suku bangsa dan rasnya saja. Tidak semua orang keturunan Tionghoa berasal dari keluarga yang kaya raya dan hanya peduli pada uang dan kemakmuran keluarganya. Seperti yang ditulis di Intisari Juli 2005 tentang keluarga Gie, "(...) Kami dilahirkan dan dibesarkan di keluarga pas-pasan. Orangtua kami harus membesarkan lima orang anak. Ini bukanlah persoalan mudah (...)". Gie juga merupakan teladan yang menunjukkan bahwa seorang keturunan Tionghoa juga bisa jadi nasionalis. Rasa nasionalis itulah juga yang membuatnya tetap bertahan dengan nama aslinya "(...) Menurut dia, perbuatanlah yang menentukan apakah ia seorang Indonesia sejati. Bukan nama.(...)" (Intisari Juli 2005). Membaca kalimat ini, saya tiba-tiba teringat alasan mengapa ayah saya tak mau anak-anaknya belajar bahasa Mandarin, yang notabene menjadi bahasa percakapan keluarga besarnya. "Kita ini orang Indonesia, jadi kita berbahasa Indonesia," katanya dulu ketika saya tanya. Apakah ini salah satu bentuk nasionalisme ayah saya atau malah sebaliknya sebagai pengejawantahan dari rasa ketakutan bawah sadarnya akibat begitu represifnya pemerintah Orde Baru terhadap perkembangan masyarakat keturunan Tionghoa? Tergantung dari sisi mana hal ini dipandang.

Lebih dari tigapuluhlima tahun setelah kepergian aktivis angkatan 1966 ini, bagi saya dunia masih berputar di roda yang sama. Masih banyak orang-orang yang hidup kelaparan dan di bawah garis kemiskinan. Masih banyak petinggi di Senayan sana yang jadi kacang lupa kulit. Membujuk rakyat untuk mendorongnya ke tampuk kekuasaan yang tinggi dengan iming-iming hendak memperjuangkan kepentingan rakyat, tapi saat telah berada di sana mereka malah mementingkan perutnya sendiri. Mungkin memang sudah saatnya sosok Gie dikenal oleh lebih banyak orang, dan karenanya akan lebih banyak orang juga yang akan tertarik untuk membaca buah pemikirannya dalam buku Catatan Seorang Demonstran yang diterbitkan kembali (namun dengan gambar sampul yang berbeda --ah, sudahlah, membicarakan ini akan menimbulkan polemik yang lebih panjang lagi). Tapi saya jadi terpikir lagi, apakah jangan-jangan terbitnya kembali buku tentang Gie tersebut ternyata juga merupakan bagian dari suatu rangkaian sejarah yang terjadi secara berulang, dan bukannya menjadi sang pendobrak untuk mengukir sejarah di lembaran yang baru? Semoga memang sejarah berjalan dalam pola yang spiral, bukan berputar...***

_______________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.

Pernyataan Sikap

Freitag, Juli 01, 2005
Saya jadi seperti seorang aktivis atau partai politik saja, membuat entry blog dengan judul demikian. Tapi saya sangat serius.

Beberapa hari lalu, ada sebuah komplain datang pada saya secara tertulis. Isinya: tidak suka dengan apa yang saya utarakan dalam blog ini. Saya dituduh macam-macam, tapi itu terserah si penulis. Dengan berbagai pertimbangan, saya putuskan juga untuk tidak membalas e-mail tersebut. Sebagaimana halnya saya bebas beropini di sini, komplain itu pun saya terima sebagai sebuah kebebasan berekspresi.

Tapi bukan itu yang ingin saya sikapi.

Yang ingin saya nyatakan di sini adalah sebuah himbauan: Jikalau Anda, yang mengenal siapa saya, membaca blog saya ini, mohon bacalah dengan pikiran, bukan dengan perasaan. Daripada Anda mencari-cari tahu siapa orang yang saya bicarakan, cobalah untuk meresapi apa sebenarnya inti pesan yang ingin saya sampaikan. Saya menulis di blog ini bukan untuk membuat Anda menangis. Bukan juga untuk membuat Anda membenci orang lain (yang kebetulan yang saya jadikan ilustrasi dalam menggambarkan pesan yang ingin saya sampaikan). Saya tidak mengajarkan Anda untuk membenci orang lain atau memandang negatif terhadap orang lain. Saya bukan provokator atau tukang bergunjing. Sekali lagi, saya mengajak Anda berpikir.

Jika Anda sampai terpengaruh secara emosi dan tak lagi bisa berpikir murni, Anda gagal dalam membaca blog saya. Jika Anda ternyata tak sependapat dengan apa yang saya sampaikan, menganggap saya kelewatan, silakan klik tombol close dan jangan baca lagi blog saya. Jika Anda sampai berubah penilaian terhadap sesuatu atau seseorang hanya karena membaca blog ini dan tanpa berpikir sendiri, Anda tak punya pendirian.

Cogito ergosum. Saya berpikir maka saya ada.
Marilah kita berpikir, bukan merasakan. ***

P.S. Entry ini bukan dimaksudkan sebagai hak jawab saya terhadap komplain yang terlontar. Mohon dilihat hubungan konteksnya antara menanggapi komplain satu orang dengan memberi himbauan pada orang lain.