Totum Pro Parte (Bagian 2)
Donnerstag, Juli 28, 2005
Di entry sebelumnya, saya bicara tentang kultur masyarakat kita yang bisa dibilang merupakan pengejawantahan dari ungkapan linguistik berbunyi "totum pro parte", atau menyebut keseluruhan untuk sebagian.
Selain mendahulukan kepentingan diri sendiri dengan mengatasnamakan masyarakat banyak, saya juga berpendapat ungkapan yang satu ini juga terdapat dalam tindakan mengemukakan pandangan tentang satu hal tanpa melihat atau mengadakan riset yang bersifat keseluruhan. Artinya, seseorang yang tanpa adanya pengamatan yang komprehensif kemudian membuat sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Ada satu hal yang jadi pengamatan saya, dan kali ini ingin saya bagikan pada Anda.
Beberapa minggu lalu, saya membaca sebuah kolom opini di sebuah surat kabar. Isinya membahas tentang fenomena jurnalisme pada berbagai media yang terbit di negeri ini. Si penulis, mengaku sebagai seorang direktur lembaga pemerhati media massa (setidaknya itulah arti dari nama lembaga yang saya baca), memaparkan kritiknya terhadap berbagai jenis media. Di bagian pertengahan, ia secara sinis mengategorikan para wartawan yang bekerja untuk media massa yang bergelut di bidang properti (sebagai contoh) sebagai jurnalis brosur. Setelahnya, di bagian akhir, ia menyatakan penolakannya untuk menyebut mereka yang bekerja di majalah franchise sebagai wartawan. Mereka lebih pantas disebut penerjemah, begitu kira-kira ungkapan si penulis.
Perdebatan ini masih berlanjut. Bukanlah tulisan di koran tersebut yang jadi pemicu, tapi sebuah silang pendapat mengenai jurnalisme infotainment yang menjadi awalnya (namun saya setengah yakin bahwa hasil tulisan yang dimuat di harian terkemuka itu pastinya menjadi modal bagi orang-orang yang beropini di sini untuk menjatuhkan penilaiannya). Seorang pengirim e-mail memaparkan pendapat sebagai berikut:
Penulis e-mail ini adalah salah seorang yang bekerja di sebuah majalah franchise di Jakarta. Dan saya pun, sebelum membaca tanggapan penulis ini, sempat mempertanyakan apakah penilaian yang diutarakan secara terbuka, baik di sebuah mailing list maupun di surat kabar terkemuka (yang notabene dibaca oleh lebih banyak lapisan masyarakat), telah didasari oleh pengamatan yang menyeluruh dan didukung oleh data-data yang akurat? Saya kira, jika ternyata mereka sendiri tak memenuhi kriteria tersebut, ungkapan totum pro parte akan terasa benar kesahihannya. Karena mungkin saja hasil pendapat mereka itu didasari oleh pengamatan terhadap beberapa media saja, tanpa mau mencari --mengutip teori Hegel-- antitesisnya. Dan mengacu pada pandangan Hegel lagi, sebuah tesis menurut saya tak akan sempurna, jika tak mengalami proses konfirmasi dengan antitesis. Karena sebenarnya, yang lebih sempurna adalah sebuah sintesis. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh para penulis ini, kalau boleh saya terapkan teori Hegel, mereka sebaiknya terlebih dulu mencari antitesis sesudah mendapatkan tesis mereka. Jika diterjemahkan, setelah mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa media franchise hanya total merupakan terjemahan dari media asli yang ada di luar negeri, hendaknya para penulis juga mencari tahu apakah ada media franchise yang isinya ternyata benar-benar lokal, alias bersumber dari lingkungan sekitar di negeri ini -baik dari segi tema dan penggunaan narasumber. Dengan kata lain lagi, mencari argumen yang bisa menggugurkan tesis mereka. Setelahnya, barulah didapat kesimpulan yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Saya kemudian jadi bertanya-tanya motivasi para penulis tersebut dalam mengungkapkan pendapatnya. Apakah itu murni hasil pengamatannya (meski tidak bisa dibilang sahih) atas dasar obyektivitas atau semata-mata ungkapan emosional yang subyektif? Apakah mereka melontarkan kritiknya karena memang mencemasi perkembangan media franchise dan dampaknya bagi kepentingan seluruh masyarakat? Atau semua ini hanya dilakukan karena mereka tak lain merupakan kaum yang menikmati imbas negatif akibat munculnya media franchise? Murni memperjuangkan kepentingan banyak, atau hanya totum pro parte? Hanya si penulislah yang tahu jawabannya. ***
__________________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.
Selain mendahulukan kepentingan diri sendiri dengan mengatasnamakan masyarakat banyak, saya juga berpendapat ungkapan yang satu ini juga terdapat dalam tindakan mengemukakan pandangan tentang satu hal tanpa melihat atau mengadakan riset yang bersifat keseluruhan. Artinya, seseorang yang tanpa adanya pengamatan yang komprehensif kemudian membuat sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Ada satu hal yang jadi pengamatan saya, dan kali ini ingin saya bagikan pada Anda.
Beberapa minggu lalu, saya membaca sebuah kolom opini di sebuah surat kabar. Isinya membahas tentang fenomena jurnalisme pada berbagai media yang terbit di negeri ini. Si penulis, mengaku sebagai seorang direktur lembaga pemerhati media massa (setidaknya itulah arti dari nama lembaga yang saya baca), memaparkan kritiknya terhadap berbagai jenis media. Di bagian pertengahan, ia secara sinis mengategorikan para wartawan yang bekerja untuk media massa yang bergelut di bidang properti (sebagai contoh) sebagai jurnalis brosur. Setelahnya, di bagian akhir, ia menyatakan penolakannya untuk menyebut mereka yang bekerja di majalah franchise sebagai wartawan. Mereka lebih pantas disebut penerjemah, begitu kira-kira ungkapan si penulis.
Perdebatan ini masih berlanjut. Bukanlah tulisan di koran tersebut yang jadi pemicu, tapi sebuah silang pendapat mengenai jurnalisme infotainment yang menjadi awalnya (namun saya setengah yakin bahwa hasil tulisan yang dimuat di harian terkemuka itu pastinya menjadi modal bagi orang-orang yang beropini di sini untuk menjatuhkan penilaiannya). Seorang pengirim e-mail memaparkan pendapat sebagai berikut:
"(...) Maraknya media massa saduran (--nama disebutkan) di Indonesia membuktikan kalau media massa itu sama seperti barang dagangan lain. Penerbit hanya mau menjual/memproduksi yang sudah pasti laku. Bahkan dengan memproduksi media massa saduran, penerbit sangat untung. Penerbit tidak perlu lagi berpromosi karena nama media massanya sudah menginternasional. Bahkan penerbit juga tidak perlu repot-repot mempekerjakan wartawan. Cukup bayar penerjemah yang ijazahnya tidak perlu S1, S2, atau S3.(...)"Sebelum mengemukakan hasil pemikiran saya sendiri, saya ingin menegaskan terlebih dahulu, bahwa semua pendapat saya ini tidak ada hubungannya dengan profesi saya (just in case masih ada orang [maaf saja] tolol yang masih mencampurkan isi blog ini dengan kepentingan dirinya). Saya, secara pribadi, sebagai bagian dari masyarakat, menilai bahwa pendapat dari dua orang di atas adalah suatu pengejawantahan dari ungkapan "totum pro parte". Sekali lagi, yang artinya menyebut seluruh untuk maksud sebagian. Sebuah e-mail tanggapan atas kutipan di atas saya cantumkan juga di sini:
"(...) Siapa bilang menjual majalah franchise itu pasti laku? Mana data akuratnya? Validkah argumen Anda ini? Setahu saya, ada juga beberapa majalah franchise yang empot-empotan membiayai cost produksinya. Bahkan kadang cost produksinya harus ditalangi oleh unit usaha lain dari grup usaha itu. Banyak juga konsep majalah yang meniru ataupun majalah franchise (bukan saduran atau terjemahan seperti kata Anda) yang ternyata tidak berhasil dengan baik. Mungkin Anda saja yang belum tahu nilai sales-nya. Jadi kalimat bahwa semua majalah franchise pasti laku dijual itu perlu diragukan keabsahannya.
Setahu saya... Di majalah XX , tidak ada pekerjaan yang cuma penerjemah saja. Di sini ada Editor (Redaktur) dan Reporter seperti di media-media lain pada umumnya. Pekerjaannya pun tidak hanya menerjemahkan. Bahkan beberapa artikel profil dan reportase yang dibuat oleh majalah XX, ternyata dibeli dan diterbitkan juga di beberapa majalah XX mancanegara termasuk majalah XX pusat di Amerika Serikat.
Seleksi wartawan pun sama beratnya dengan seleksi tenaga kreatif lainnya pada umumnya. Skill yang paling dasar dan diuji sebelum masuk ke perusahaan ini adalah seperti kemampuan tulis menulis, tata bahasa dan kondisi psikologis yang baik. Selain itu juga dituntut portfolio dan pengalaman kerja profesional yang baik.
Pemred majalah saya , Managing Editor(Deputy Chief Editor)nya dan Art Directornya semua memegang gelar S2 dari Universitas di luar negeri. Pemred dan Art Director dari 2 universitas terkemuka di Melbourne dan Sidney Australia (bukan universitas jangkrik lho) dan Deputy Chief Editor memiliki dua ijasah S2 di bidang ekonomi dan politik dari Arizona, US. Sebelum bergabung dengan majalah saya, mereka pun telah memiliki track record yang impressive di media-media massa lainnya.(...)"
Penulis e-mail ini adalah salah seorang yang bekerja di sebuah majalah franchise di Jakarta. Dan saya pun, sebelum membaca tanggapan penulis ini, sempat mempertanyakan apakah penilaian yang diutarakan secara terbuka, baik di sebuah mailing list maupun di surat kabar terkemuka (yang notabene dibaca oleh lebih banyak lapisan masyarakat), telah didasari oleh pengamatan yang menyeluruh dan didukung oleh data-data yang akurat? Saya kira, jika ternyata mereka sendiri tak memenuhi kriteria tersebut, ungkapan totum pro parte akan terasa benar kesahihannya. Karena mungkin saja hasil pendapat mereka itu didasari oleh pengamatan terhadap beberapa media saja, tanpa mau mencari --mengutip teori Hegel-- antitesisnya. Dan mengacu pada pandangan Hegel lagi, sebuah tesis menurut saya tak akan sempurna, jika tak mengalami proses konfirmasi dengan antitesis. Karena sebenarnya, yang lebih sempurna adalah sebuah sintesis. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh para penulis ini, kalau boleh saya terapkan teori Hegel, mereka sebaiknya terlebih dulu mencari antitesis sesudah mendapatkan tesis mereka. Jika diterjemahkan, setelah mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa media franchise hanya total merupakan terjemahan dari media asli yang ada di luar negeri, hendaknya para penulis juga mencari tahu apakah ada media franchise yang isinya ternyata benar-benar lokal, alias bersumber dari lingkungan sekitar di negeri ini -baik dari segi tema dan penggunaan narasumber. Dengan kata lain lagi, mencari argumen yang bisa menggugurkan tesis mereka. Setelahnya, barulah didapat kesimpulan yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Saya kemudian jadi bertanya-tanya motivasi para penulis tersebut dalam mengungkapkan pendapatnya. Apakah itu murni hasil pengamatannya (meski tidak bisa dibilang sahih) atas dasar obyektivitas atau semata-mata ungkapan emosional yang subyektif? Apakah mereka melontarkan kritiknya karena memang mencemasi perkembangan media franchise dan dampaknya bagi kepentingan seluruh masyarakat? Atau semua ini hanya dilakukan karena mereka tak lain merupakan kaum yang menikmati imbas negatif akibat munculnya media franchise? Murni memperjuangkan kepentingan banyak, atau hanya totum pro parte? Hanya si penulislah yang tahu jawabannya. ***
__________________________
Isi blog ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan ataupun memojokkan orang-orang tertentu. Itu sebabnya, semua yang bernama di sini saya ubah menjadi anonim adanya. Marilah ikut berpikir dengan saya, jangan hanya menerka siapa berperan sebagai siapa.
