Maaf, eh maaf!
Mittwoch, April 28, 2004Suatu hari, saya setengah memarahi suami saya karena terlalu banyak mengucapkan kata "Maaf". Saya bilang padanya, "Kamu tidak salah, kenapa minta maaf?"
Saat membaca satu e-mail dari milis yang membahas tentang kesehatan selama kehamilan, saya terganggu karena melihat kata "Maaf" dan "Maaf" dan "Maaf" yang menyertai penyebutan organ reproduksi wanita atau istilah kesehatan lainnya. "... Sudah tiga hari ini saya tidak bisa (maaf) buang air besar."
Saya jadi geram dengan kata "Maaf". Entah kenapa kata-kata ini begitu sering digunakan tidak pada tempatnya. Karena kejengkelan ini, saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, untuk mencari tahu arti kata "Maaf" yang sebenarnya:
maaf n 1. pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan; ampun: minta --- 2 ungkapan permintaan ampun atau penyesalan: --, saya datang terlambat; 3 ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu: --, bolehkah saya bertanya
Saya lalu jadi terbayang, kalau seandainya saja orang-orang masih gemar memakai kata "Maaf" untuk menyertai penyebutan organ tubuh atau tindak kesehatan yang dilakukan. Apa yang terjadi jika mereka bicara di depan umum untuk mempresentasikan sejenis karya ilmiah kesehatan, seperti yang sering saya hadiri:
"Jadi, pada saat sedang hamil, kebanyakan ibu mengalami kesulitan untuk (maaf) buang air kecil dan terkadang juga (maaf) buang air besar, karena pada saat itu (maaf) kandung kemih mengalami penekanan oleh (maaf) rahim..."
"... Akan dilakukan pemeriksaan (maaf) transvaginal, dengan alat yang dimasukkan ke (maaf) vagina, untuk melihat kehamilan secara lebih akurat. Biasanya sebelum pemeriksaan (maaf) transvaginal, pasien diminta untuk (maaf) buang air kecil dulu, karena pemeriksaan (maaf) transvaginal bisa merangsang produksi (maaf) urin..."
Yang bikin saya geram lagi, begitu mudahnya seseorang menghambur-hamburkan kata "Maaf" dalam perkataannya, tapi giliran mereka harus menggunakan kata itu pada posisinya, mereka malah gengsi. Saat mereka berada pada kondisi seperti yang dijelaskan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sekarang, tak sepatah kata "Maaf" pun yang meluncur dari bibir mereka. Malah alasan dan alibi yang dihamburkan. Atau menuduh balik, agar si lawan bicara yang akhirnya minta maaf.
Saya jadi berpikir, mungkin lebih baik kata "Maaf" dihilangkan saja dari muka bumi ini. Mungkin dengan begitu orang akan berhenti menyalahgunakannya dan mengekspresikan permintaan maafnya dengan tindakan yang lebih berguna. Tak usah pakai kata.***
