<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Maaf, eh maaf!

Mittwoch, April 28, 2004
Di sinetron "Bajaj Bajuri", salah seorang pemerannya jadi tenar gara-gara sering mengucapkan kata "Maaf". Ibu itu pun dipanggil "Bu Maaf".

Suatu hari, saya setengah memarahi suami saya karena terlalu banyak mengucapkan kata "Maaf". Saya bilang padanya, "Kamu tidak salah, kenapa minta maaf?"

Saat membaca satu e-mail dari milis yang membahas tentang kesehatan selama kehamilan, saya terganggu karena melihat kata "Maaf" dan "Maaf" dan "Maaf" yang menyertai penyebutan organ reproduksi wanita atau istilah kesehatan lainnya. "... Sudah tiga hari ini saya tidak bisa (maaf) buang air besar."

Saya jadi geram dengan kata "Maaf". Entah kenapa kata-kata ini begitu sering digunakan tidak pada tempatnya. Karena kejengkelan ini, saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, untuk mencari tahu arti kata "Maaf" yang sebenarnya:

maaf n 1. pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan; ampun: minta --- 2 ungkapan permintaan ampun atau penyesalan: --, saya datang terlambat; 3 ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu: --, bolehkah saya bertanya

Saya lalu jadi terbayang, kalau seandainya saja orang-orang masih gemar memakai kata "Maaf" untuk menyertai penyebutan organ tubuh atau tindak kesehatan yang dilakukan. Apa yang terjadi jika mereka bicara di depan umum untuk mempresentasikan sejenis karya ilmiah kesehatan, seperti yang sering saya hadiri:

"Jadi, pada saat sedang hamil, kebanyakan ibu mengalami kesulitan untuk (maaf) buang air kecil dan terkadang juga (maaf) buang air besar, karena pada saat itu (maaf) kandung kemih mengalami penekanan oleh (maaf) rahim..."

"... Akan dilakukan pemeriksaan (maaf) transvaginal, dengan alat yang dimasukkan ke (maaf) vagina, untuk melihat kehamilan secara lebih akurat. Biasanya sebelum pemeriksaan (maaf) transvaginal, pasien diminta untuk (maaf) buang air kecil dulu, karena pemeriksaan (maaf) transvaginal bisa merangsang produksi (maaf) urin..."

Yang bikin saya geram lagi, begitu mudahnya seseorang menghambur-hamburkan kata "Maaf" dalam perkataannya, tapi giliran mereka harus menggunakan kata itu pada posisinya, mereka malah gengsi. Saat mereka berada pada kondisi seperti yang dijelaskan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sekarang, tak sepatah kata "Maaf" pun yang meluncur dari bibir mereka. Malah alasan dan alibi yang dihamburkan. Atau menuduh balik, agar si lawan bicara yang akhirnya minta maaf.

Saya jadi berpikir, mungkin lebih baik kata "Maaf" dihilangkan saja dari muka bumi ini. Mungkin dengan begitu orang akan berhenti menyalahgunakannya dan mengekspresikan permintaan maafnya dengan tindakan yang lebih berguna. Tak usah pakai kata.***

Bye-Bye...

Dienstag, April 27, 2004
Dia memang cuma seekor anjing. Dibanding dengan dua anjing saya lainnya, dia memang tak menarik. Tapi dari dia saya belajar arti kesetiaan.

Usianya cukup panjang: 12 tahun. Dan kemarin, 26 April 2004, anjing yang awalnya kami beri nama si Bubble akhirnya mati. Dalam kesendirian, karena saya dan anak saya sedang di ruang tamu dan ayah saya sedang menggali tanah, seakan punya feeling kalau si Putih Manis ini sebentar lagi meregang nyawa. Dia tidak mengeluarkan suara apapun. Juga pada waktu masih sakit, tak sekalipun dia terdengar mengeluh.

Malam-malam, hujan turun. Saya terbangun dari tidur, ingat kalau setiap kali hujan begini si Uble (begitu akhirnya namanya dipanggil) suka ketakutan dan naik ke lantai atas, lalu mengorek-korek pintu kamar saya. Tapi malam ini, tak ada lagi. Untuk selamanya. Tapi entah kenapa, pintu kamar saya tiba-tiba terbuka sedikit. Seandainya saja si Uble masih hidup, pasti setelah pintu itu terkuak, kepalanya akan muncul dengan ekspresi memelas, memohon supaya dia bisa tidur bersama kami. Mungkin malam itu Uble memang sedang ingin mengunjungi saya dan anak saya, yang dia sayangi. Dia mau mengucapkan selamat tinggal, karena sekarang dia sudah damai di Atas sana. Dia tidak sakit perut lagi, tidak diomeli lagi. Dia dapat makanan yang berlimpah, tidak dijatah seperti semasa hidupnya, karena kalau terlalu banyak majikannya bisa bangkrut. Dia tidak diusir-usir lagi saat anak-anak kecil sedang berkunjung di rumah kami di waktu natal. Dia tidak dikurung di kamar lagi. Pokoknya, sekarang dia sudah dibebaskan dari kukungan tubuhnya sendiri.

Seandainya dia dan saya bisa bercakap sejenak, saya ingin bilang padanya kalau saya akan selalu ingat apa saja yang telah dia lakukan dalam hidup saya. Bagaimana dia telah mewarnai hidup saya dan seisi keluarga. Dari saya masih duduk di bangku SMA, sampai sekarang saya sudah punya anak. Saya ingat bagaimana dia mendengking panik saat ibu saya sakit parah. Saya ingat betapa dia begitu suka dengan boneka pluto yang saya dapat sebagai hadiah ulang tahun, sampai-sampai dia marah sekali begitu anjing lain mendekati bonekanya. (Entah di mana boneka itu sekarang...) Fotonya masih ada di meja saya. Dan saya juga jadi teringat akan satu fotonya lagi yang sedang menatap ibu saya dengan penuh sayang. Juga foto-foto lainnya. Foto dia masa kecil, foto dia bermain dengan temannya.

Dia cuma seekor Uble. Bukan manusia. Tapi karena memiliki dia, saya pernah terpikir bahwa ternyata seekor anjing kadang masih lebih mulia daripada sesosok manusia. Bye-bye Uble, saya dan ninoy pasti akan selalu kangen sama kamu...

Rasa Kesetiakawanan Itu

Montag, April 26, 2004
Kalau melihat tingkah polah para awak kendaraan umum, akhiranya saya sampai pada pemikiran kalau mereka sesungguhnya punya rasa kesetiakawanan yang cukup tinggi.

Suatu ketika saya naik taksi, dalam keadaan tergesa, mau pulang ke rumah segera. Kala sedang meluncur mulus di jalan raya, tiba-tiba supir taksi saya berhenti berkendara. Seketika saya terperanjat, ingin tahu apa yang terjadi. Belum sempat bertanya, si supir sudah berkata, "Maaf, Mbak. Saya boleh berhenti sebentar saja? Ada teman saya di sana sedang ketiban masalah." Ternyata temannya itu, supir taksi juga, mobilnya tertabrak pengendara mobil lain. Supir taksi saya datang dengan gagah, siap menbantu apa saja, termasuk adu jotos. Tapi ternyata masalah sudah jelas. Jadi supir taksi saya bisa dibilang kembali dengan tangan hampa.

Belum sempat saya tanya (lagi), supir taksi saya sudah cerita. Semua dilaporkan, tandas tak bersisa. Di akhir kisah, supir "pahlawan" ini menambahkan, kalau mereka -sesama supir armada taksi itu, memang selalu bahu-membahu dalam bertugas. Kalau salah satu dari mereka dapat masalah, yang lain akan membantu.

Rasa solider ini juga berlaku bagi awak kendaraan umum lainnya, sebut saja bajaj. Meski bajaj adalah kendaraan super lambat plus berisik di ibukota, para supirnya sering kali bermurah hati memberi jalan bagi sesama bajaj untuk menyalip jalan. Begitu pula dengan ojek, yang dengan baik hati memberi kesempatan bagi rekannya jika ada penumpang yang mau naik.

Cuma yang saya heran, sepertinya rasa setia kawan ini tak berlaku bagi pengemudi bis kota, metromini, dan mikrolet, yang kerap kebut-kebutan dan saling sikut di jalan. Saya jadi pikir-pikir lagi, jangan-jangan saya terlanjur mengkotakkan mereka ya?***

Wartawan, Pers, dan Sebutan Lainnya

Freitag, April 23, 2004
Saya bekerja di media, meski agak malu untuk menyebut diri sebagai wartawan. Soalnya, dalam konsep saya wartawan itu adalah profesi yang menjunjung tinggi kebenaran, bersedia kerja 24 jam, mau di tempat menyenangkan ataupun di negeri yang sedang perang. Wartawan adalah orang yang paling netral sedunia. Dia selalu menyajikan berita tanpa berpihak pada siapa-siapa. Juga tak dikejar-kejar dengan hal-hal berbau komersial serta tak bisa dibayar.

Tapi kalau saya pikir-pikir, para wartawan sekarang sudah tidak seperti yang ada di benak saya. Saat saya menulis blog ini, semua media sedang meributkan dua hal. Pertama: seorang selebritis yang sedang terbaring koma di rumah sakit. Kedua, sebuah acara adu bakat di sebuah televisi swasta, lengkap dengan berbagai kisah seputar pendukung acaranya. Saya tak habis pikir, betapa gigihnya para wartawan infotainment meliput dua topik utama ini. Saya sendiri tak tega kalau harus mengganggu keluarga si selebritis yang sedang sakit. Orang sedang kesusahan kok dirubungi. Apa tidak tambah tertekan?

Untuk urusan yang kedua, saya serasa ingin teriak saja. Aduh, tolong, ya. Kenapa sih kalian, para wartawan, begitu rajin mereka-reka cerita di antara para calon bintang itu, sementara di kenyataannya mungkin tak pernah terjadi apa-apa? Si A ada "main" dengan si B, sehingga pacar si B yang nun jauh di kampung sana sampai cemburu berat. Kalau memang si A mau pacaran sama si B, lalu kenapa diributkan? Apakah mereka tidak boleh menjalin kasih seperti manusia lainnya?

Ini juga berlaku untuk pemberitaan selebritis lainnya. Saya baru tahu kalau sebentuk cincin di jari manis saja bisa jadi bahan berita tak habis-habisnya. Apakah berita itu lantas benar adanya, saya tak pernah tahu. Tapi yang jelas, oplah tabloid atau rating acara yang bersangkutan jadi melesat naik. Untung pun teraih dengan begitu mudah. Urusan perasaan yang bersangkutan, itu terserah saja.

Akhirnya saya sampai pada proses pemikiran begini: Jangan-jangan apa yang selama ini saya baca dan lihat di media itu hanyalah kisah rekaan belaka. Ada irrealitas yang diciptakan jadi realitas. Lalu saya teringat akan film "The Truman Show". Mungkin dunia ini hanyalah pertemuan antara obyek-obyek dan peristiwa irrealis. Jadi, semua yang ada di dunia tidaklah nyata. Termasuk saya. Wah! ***

Dari Sisi Mana Anda Memandang?

Setiap hari saya selalu melewati Jalan Pramuka Raya dalam perjalanan menuju kantor. Waktunya sekitar jam 8.00-09.00. Setelah pertigaan Rawasari (yang sekarang sudah ditutup tapi lampu merahnya masih ada), saya selalu melihat pemandangan berikut: Seorang bapak, profesinya penyapu jalan, sedang duduk di trotoar bersama anaknya yang masih kecil. Usia anak itu sekitar 5 tahunan, berpeci hitam dan pakai rompi oranye - sama seperti baju kerja bapaknya. Kadang-kadang, anak itu sedang duduk diam saja. Tapi di lain waktu, dia sedang tertidur di pangkuan bapaknya.

Di hati saya berkecamuk berbagai jenis rasa. Jengkel, karena ayah itu tega mengajak anaknya "bermandi" debu dan polusi. Kasihan, karena anak itu pasti tak bisa leluasa bermain. Bingung, kenapa si bapak tidak meninggalkan anak itu di rumah saja?

Saya lalu berpikir. Mungkin tak ada jalan lain bagi si bapak selain membawa serta anak itu bekerja dengannya. Siapa tahu ibunya telah tiada, sehingga mau tak mau si bapak harus mengambil alih tanggung jawab mengasuh anaknya. Dan... siapa tahu-siapa tahu lainnya... Yang jelas, saya sempat trenyuh melihat bapak dan anak ini. Sampai suatu hari saya dihadapkan pada perspektif di lain sisi.

Ketika itu saya berkisah pada suami tentang mereka. Lalu suami menimpali dengan apa yang ia pernah dengar. Disinyalir, bapak itu memang dulunya terpaksa membawa anaknya, karena tak ada orang yang mengasuh anak itu di rumah. Lalu karena dia dan anaknya sering "mejeng" di pinggir jalan, banyak pengendara yang lewat jatuh kasihan, lalu memberi sumbangan. Mulai dari uang sampai makanan. Tahun demi tahun, anak itu jadi makin besar dan bisa ditinggal di rumah. Tapi karena aksi "mejeng" mereka berbuah penghasilan, si bapak pun mengambil anak lain untuk dijadikan "partner kerja"-nya. Singkat kata, anak kecil yang biasa saya lihat itu bukanlah anak bapak itu.

Kebenaran dari kisah itu tidak diketahui. Tapi satu yang saya ambil sebagai pelajaran, ternyata sebuah fenomena bisa memberi dampak berbeda jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Cuma yang ingin saya pikirkan lagi, apakah kita perlu memikirkan berbagai sudut pandang itu dulu sebelum bertindak? Jangan-jangan, setelah melihat dari perspektif yang negatif, saya jadi kehilangan empati pada mereka. Kalau sudah begitu, apakah saya masih ingin membantu mereka?***



Pada Suatu Malam

Mittwoch, April 21, 2004
Banyak fenomena yang ternyata bisa kita temukan di malam hari, di pinggir jalan, di perhentian lampu merah. Tahun lalu, saya bertemu dengan seorang waria yang sedang mengamen. Dengan sepenuh hati, dia membunyikan kerincingan sambil menyanyikan sebuah lagu (dengan suara yang -maaf saja- kurang merdu). Tak sampai beberapa hari kemudian, saya melihatnya sekali lagi. Kali ini saya melihatnya dengan mata yang agak berkaca-kaca. Apa itu hanya ilusi saya, entahlah.

Sudah beberapa minggu ini, setiap malam saya selalu bertemu dengan seorang bapak tua di perhentian lampu merah Kayu Putih - Kelapa Gading. Usianya mungkin sepantar dengan bapak mertua saya. Atau lebih. Dengan tertatih-tatih, ia membersihkan kaca mobil-mobil yang didatanginya. Saat melihatnya, saya selalu bersyukur karena ayah dan bapak mertua saya masih bisa hidup dengan berkecukupan, sehingga tak perlu bekerja seperti itu di usia senja. Dan catat, si Bapak ini selalu membersihkan kaca sampai benar-benar bersih, dari depan sampai belakang, jika kita memberinya uang. Coba bedakan dengan para pembersih kaca lain yang terkadang cuma berformalitas saja, yang penting dapat "sumbangan".

Di suatu tempat lain, masih di suatu malam, saya bertemu dengan seorang ibu yang menjual vitamin C di perhentian lampu merah. Dia menggendong bayi, yang tertidur kelelahan. Terlepas itu bayinya atau bukan, yang jelas si ibu perlu tenaga ekstra untuk menjajakan dagangannya. Ini baru saya ketahui sejak punya anak. Terlepas juga dari rasa marah saya, "Kenapa sih anak kecil harus dibawa-bawa segala?" timbul rasa iba akan mereka.

Juga si bapak tua.

Juga si waria.

Inilah potret masyarakat kita.

Saya jadi teringat akan kata-kata seorang pemuka agama, "Anak-anak berkeliaran di jalanan, mencari uang. Mungkin Anda akan marah pada orang tua mereka yang tak becus mengurus anak. Tapi inti dari semua ini adalah, kemiskinan memang ada di sekitar kita." ***

Dress Code Baru Atau...?

Dienstag, April 06, 2004
Suatu malam, di pembukaan pameran lukisan.

Dress code yang selama ini saya tahu kalau mau datang ke pembukaan pameran lukisan adalah pakaian yang rapi (kalau tak punya gaun malam), dan mostly adalah warna hitam (atau warna-warna gelap).

Tapi sepertinya saya perlu belajar lagi soal undang-undang terbaru tentang dress code datang ke pameran lukisan. Juga sebagian besar tamu yang datang malam itu, mungkin. Karena mereka dan saya sebenarnya datang dengan berpakaian hitam. Para wanita bergaun panjang, tak lupa berhias selendang. Sang pria berjas rapi dan tampil kelimis.

Tapi di suatu sudut saya melihat sekumpulan wanita (kira-kira 3 orang). Mereka tampil meriah dengan rok mini dan tank top berbahan sutra, berwarna-warni merah, kuning, biru. Tak lupa, slayer panjang diikatkan di kepala, dengan tulisan "DIOR" yang sengaja dipampang besar-besar.

Untungnya kelompok ini tidak muncul lagi, saat saya datang kembali beberapa minggu kemudian ke tempat yang sama, untuk acara pembukaan pameran lukisan dengan tajuk yang berbeda.

Cuma saya jadi pikir-pikir, saya jadi perlu meng-update dress code saya atau tidak ya? Jangan-jangan mereka itu cuma kelompok salah kostum yang punya rasa percaya diri yang tinggi... ***

Those "Sophisticated" Ladies...

Suatu hari, saya menghadiri sebuah seminar kesehatan di sebuah klub yang cukup ternama. Tentu saja, dalam kapasitas sebagai wartawan. Karena sudah agak penuh, saya ambil tempat di belakang. Ternyata dari tempat itu saya dapat bahan pengamatan yang lumayan berkesan.

Seminar yang diadakan sebuah rumah sakit itu sebagian besar dihadiri oleh orang-orang berusia 40 tahun ke atas. Maklum, temanya memang berkaitan dengan kesehatan orang seusia mereka. Siapa sangka, seminar ini bisa juga jadi sekaligus gathering para ibu-ibu "sasak tinggi" (menurut istilah saya dan teman-teman). Di saat seorang dokter ahli penyakit jantung bicara dengan begitu berapi-api di podium, sepasang ibu-ibu berpeluk cium dengan penuh rindu. "Aduh... apa kabar... makin langsing aja nih..." Yang ditanya langsung sumringah dan lupa dia ada di mana "Ah... bisa aja... masa sih...?" Setelah sukses mengganggu konsentrasi beberapa orang di dekat mereka, akhirnya dua orang ibu itu duduk berdampingan.

Saya sudah membayangkan, pasti mereka akan ribut bergosip selama acara. Ternyata tidak! Mereka mendengarkan dengan tekun sambil membuat catatan. Dan tebak, mereka mencatat di mana...? Di sebuah Nokia 9210 Communicator ! Wow!

Wow!(lagi, karena saya masih terkesima sampai sekarang).

Wow!(Kali ketiga, karena saya masih saja menggelengkan kepala kalau ingat kejadian itu)

Wow!(Ini yang terakhir, karena saya juga tidak tahu kenapa saya ber-"wow"-ria lagi)

Saya menatap kagum sang ibu yang sibuk mengetik-ketik di papan keyboard sambil sesekali membandingkan catatan dengan temannya (yang juga ibu-ibu - "sasak tinggi"). Man, saya yakin sekali mereka bukan wanita karier yang bekerja di kantor. They are definetely house wives!

Saya jadi berpikir-pikir, apakah saya terlalu meremehkan profesi yang satu ini, karena saya sendiri bukan termasuk golongan mereka? Atau zaman sudah bertambah maju tanpa saya sadari? (Sementara saya sendiri masih mengandalkan tape recorder busuk dan block note untuk mencatat)

Saya jadi berpikir-pikir, jangan-jangan mereka memang juga butuh barang canggih seperti itu. Semisal, untuk mencatat appointment dengan dokter anaknya, untuk jadwal imunisasi anak, untuk jadwal ke salon, untuk simpan foto anak, untuk main internet kala sedang di perjalanan mau jemput suami di bandara, untuk mencatat daftar belanja...

Saya jadi berpikir-pikir, jangan-jangan selama ini saya kurang membuka diri terhadap perubahan di sekitar saya. Kalau memang iya, wah!

Wah! (kali ini karena bingung, kenapa bisa tidak up-date banget )

Wah! (ketiga kali, karena ini berarti saya harus banyak buka mata dan telinga lagi)

Wah!(ini yang terakhir, sekalian menutup posting ini!)***

Einstein, You're Right!

Selama ini teori relativitas buat saya hanyalah sebarisan kalimat yang susah dicerna maknanya. Setelah baca "Mimpi-Mimpi Einstein", pikiran saya terkuak sedikit. Tapi tetap saja, konsep relativitas waktu bagi saya adalah hal yang agak out of reach.

Konsep ini baru saya mengerti saat harus mengarungi perjalanan lintas benua beberapa waktu yang lalu. Ternyata di angkasa waktu benar-benar kehilangan eksistensinya. Saya boleh bilang, perjalanan Jakarta-Singapura memakan waktu sekitar 1 jam. Tapi begitu tiba di Changi dan melihat jam, ternyata saya butuh waktu 2 jam untuk sampai di sana. Begitu juga dari penerbangan Frankfurt-Singapura. Berpatokan pada jam badan, semestinya saat mendarat di Changi, masih pagi. Tapi voila, ternyata di sana semua orang sudah segar bugar, karena hari sudah sore!

Saya lalu kembali terkenang sekelumit kalimat pembuka sebuah bagian cerita dalam buku "Mimpi-Mimpi Einstein". Kira-kira bunyinya begini: "Seandainya waktu tidak berjalan..." Ini seakan terjadi kalau Anda terbang dari Singapura ke Indonesia. Pesawat Anda lepas landas Pk. 17.00, misalnya (tentu saja itu waktu Singapura). Perjalanan Singapura-Jakarta makan waktu 1 jam. Jadi, menurut waktu Singapura Anda akan tiba di Jakarta Pk. 18.00. Tapi waktu Singapura lebih cepat 1 jam daripada waktu Jakarta. Begitu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Anda melihat jarum jam di sana menunjukkan Pk. 17.00. Jadi, kemana gerangan waktu 1 jam yang sudah dihabiskan dalam pesawat?

Saya jadi berpikir-pikir. Seandainya waktu (bisa) tidak berputar, adakah kemungkinan orang tak akan bertambah tua, karena ia terus menerus naik pesawat ke daerah yang waktunya lebih lambat daripada tempat ia lepas landas? ***

Berpikirlah, Maka Kau "Ada".

Donnerstag, April 01, 2004
Kalimat ini pertama kali saya dengar di sebuah kuliah filsafat, yang waktu itu saya ikuti dengan sedikit terpaksa karena mata kuliah itu wajib diikuti. Tapi begitu berkenalan dengan dunia filsafat, saya jadi ketagihan berat. Apalagi setelah membaca "Dunia Sophie". Buku membuka cakrawala pikiran saya: Ternyata filsafat tidak serumit yang selalu kita bayangkan bersama.

Saya bukan penggila filsafat yang selalu menghubungkan segalanya dengan tokoh tertentu. Atau yang sangat tenggelam dalam dunianya sendiri, sehingga kalau menurut istilah teman saya bisa disebut "autis". Atau yang sering punya kelakuan yang tak lazim. Saya tetaplah saya. Dunia saya juga merupakan dunia teman-teman saya. Apa yang saya suka, juga disukai teman-teman saya.

Hanya saja, saya jadi lebih suka berpikir.

Dan juga mengamati sesuatu.

Lalu mencoba mematerialisasikannya ke dalam suatu tulisan. Dari beberapa sudut pandang yang berbeda.

Dan di sini, saya mau membagi hasil pengamatan saya pada semua yang membaca.

Tapi pesan saya: Anda juga turut berpikir.