Rückblick (Alias: Looking Back)
Dua hal di hari ini mengingatkan saya pada seorang teman yang sudah amat lama tak terdengar kabarnya. Namanya sama dengan nama kakak saya. Saya sebenarnya agak lupa awal perkenalan kami. Tapi yang jelas, kami berkenalan lewat koneksi organisasi keagamaan di kampus saya dan dia (kami beda kampus). Tak genah dari mana asal muasalnya, pria yang satu ini nge-fans (kalau boleh mengganti kata tergila-gila, which is mengesankan saya wanita secantik Jennifer Lopez atau Nicole Kidman) pada saya. Padahal jelas-jelas sejak awal saya sudah menolaknya. Sebab, dia lebih muda daripada saya. Pun kelakuannya masih seperti anak-anak. Pokoknya tidak dewasalah! (Entah kalau sekarang, ya.)
Hal pertama yang mengingatkan saya padanya adalah lagu-lagu dari Neri Per Caso. Pasalnya, pria inilah yang memperkenalkan saya pada grup musik yang selalu bernyanyi secara acapella. Setelah kaset yang saya rekam dari kasetnya telah busuk, suatu hari saya membeli albumnya yang bertitel Uno Indonesia (karena di dalamnya ada kolaborasi dengan Bunglon). Dan setelah CD tersebut lama tak saya putar, hari ini saya mendengarkannya di kantor. Cukup seru untuk membuat saya segar sambil menulis. Selintas datang bayangan saat pria penggemar saya ini menyanyikan lirik-lirik bahasa Italia dari lagu-lagu Neri Per Caso dengan sedemikan fasihnya. Sambil terkadang memandang saya dengan pandangan yang,... ehm.. lebih tepat dibilang memohon daripada mengagumi atau mencinta. Soalnya hari itu adalah hari kesekian saya menolaknya untuk jadi pacar saya. Yaiks! Benar-benar pria tak kenal menyerah!
Hal kedua yang bikin saya ingat padanya adalah bunga. Mulanya, saya dan seorang teman sedang membereskan bunga kering yang sudah lama ditaruh di vas di meja printer. Sambil membuang, saya bilang, "Ini dia kenapa gue enggak suka bunga. Enggak lama juga kering dan jelek begini. Mending juga gue dapet buku daripada bunga." Saya memang sering mengandaikan menerima karangan bunga yang terbuat dari buku yang dilinting. Itu jauh romantis daripada bunga sesungguhnya. Karena pria atau wanita yang memberi berarti tahu kalau saya cinta mati pada buku. Atau kalau mau matre sedikit, saya pun bersedia terima uang yang dilinting menjadi kuntum bunga. He-he-he.
Masalah menerima bunga ini pun akhirnya menghubungkan saya pada kejadian masa lalu. Kala itu, saya "terpaksa" mengajak pria pengagum saya ini ke pesta pernikahan kakak teman baik saya (yang sebenarnya saya juga tak begitu kenal!), yang dilangsungkan di hari Valentine. Karena saat itu saya masih sendiri, saya mengajaknya untuk menemani. Hitung-hitung makan gratislah, kata saya padanya. Pria itu jelas mau. Kami lalu pergi ke pesta pernikahan itu dan seusainya pulang. Saat mau berpisah, dia memberi saya sekuntum bunga mawar merah. Dan dasar saya selalu blak-blakan, saya pun berterima kasih dan berkata padanya bahwa saya tak suka bunga. Oke, sebenarnya saya sendiri lupa apakah saya berterima kasih padanya. Tapi intinya, saya berkata padanya kalau saya lebih suka diberi buku ketimbang bunga. Juga bahwa hari Valentine tak bermakna apa-apa dalam hidup saya (Oh, teganya saya waktu itu!). Pria itu terdiam. Lalu dia bilang, terima atau tidak, suka atau tidak, dia akan memberikan bunga itu karena dia membelikannya khusus untuk saya. Dia sendiri tak pernah memberi bunga pada orang lain, baru pada saya seorang. Pesan terakhir: Kalau saya tak suka dan mau membuangnya, terserah saja.
Saya lalu hanya bisa bilang, oke. Kalau begitu, terima kasih (Oh, di sini rupanya saya berterima kasih padanya, He-he-he!). Saya menghargai pemberian kamu. Sesampai di rumah, saya mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air, lalu meletakkan bunga itu di dalamnya. Gelas itu sendiri saya letakkan di balkon loteng. Agar kalau hujan, bisa terciprat air sedikit dan usianya lebih awet. Dan menariknya, bunga itu konon baru layu setelah beberapa minggu!
Apakah hubungan saya dan pria itu berakhir setelah hari Valentine mengenaskan itu? Tidak. Kami masih berteman terus. Sekali lagi saya ulangi, berteman. Bahkan setelah saya punya beberapa pacar. Saya malah sempat khusus mengantarkan undangan pernikahan saya ke rumahnya. Dan saya agak lupa apakah dia datang ke pernikahan saya. Sepertinya tidak. Anyway, saya masih ingin mendengar kabarnya lagi. Semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu dengannya lagi.
Le ragazze si lanciano ad occhi chiusi nelle avventure,
qualche volta confondono la bugia e la verita
- Le Ragazze, Neri Per Caso ***
Hal pertama yang mengingatkan saya padanya adalah lagu-lagu dari Neri Per Caso. Pasalnya, pria inilah yang memperkenalkan saya pada grup musik yang selalu bernyanyi secara acapella. Setelah kaset yang saya rekam dari kasetnya telah busuk, suatu hari saya membeli albumnya yang bertitel Uno Indonesia (karena di dalamnya ada kolaborasi dengan Bunglon). Dan setelah CD tersebut lama tak saya putar, hari ini saya mendengarkannya di kantor. Cukup seru untuk membuat saya segar sambil menulis. Selintas datang bayangan saat pria penggemar saya ini menyanyikan lirik-lirik bahasa Italia dari lagu-lagu Neri Per Caso dengan sedemikan fasihnya. Sambil terkadang memandang saya dengan pandangan yang,... ehm.. lebih tepat dibilang memohon daripada mengagumi atau mencinta. Soalnya hari itu adalah hari kesekian saya menolaknya untuk jadi pacar saya. Yaiks! Benar-benar pria tak kenal menyerah!
Hal kedua yang bikin saya ingat padanya adalah bunga. Mulanya, saya dan seorang teman sedang membereskan bunga kering yang sudah lama ditaruh di vas di meja printer. Sambil membuang, saya bilang, "Ini dia kenapa gue enggak suka bunga. Enggak lama juga kering dan jelek begini. Mending juga gue dapet buku daripada bunga." Saya memang sering mengandaikan menerima karangan bunga yang terbuat dari buku yang dilinting. Itu jauh romantis daripada bunga sesungguhnya. Karena pria atau wanita yang memberi berarti tahu kalau saya cinta mati pada buku. Atau kalau mau matre sedikit, saya pun bersedia terima uang yang dilinting menjadi kuntum bunga. He-he-he.
Masalah menerima bunga ini pun akhirnya menghubungkan saya pada kejadian masa lalu. Kala itu, saya "terpaksa" mengajak pria pengagum saya ini ke pesta pernikahan kakak teman baik saya (yang sebenarnya saya juga tak begitu kenal!), yang dilangsungkan di hari Valentine. Karena saat itu saya masih sendiri, saya mengajaknya untuk menemani. Hitung-hitung makan gratislah, kata saya padanya. Pria itu jelas mau. Kami lalu pergi ke pesta pernikahan itu dan seusainya pulang. Saat mau berpisah, dia memberi saya sekuntum bunga mawar merah. Dan dasar saya selalu blak-blakan, saya pun berterima kasih dan berkata padanya bahwa saya tak suka bunga. Oke, sebenarnya saya sendiri lupa apakah saya berterima kasih padanya. Tapi intinya, saya berkata padanya kalau saya lebih suka diberi buku ketimbang bunga. Juga bahwa hari Valentine tak bermakna apa-apa dalam hidup saya (Oh, teganya saya waktu itu!). Pria itu terdiam. Lalu dia bilang, terima atau tidak, suka atau tidak, dia akan memberikan bunga itu karena dia membelikannya khusus untuk saya. Dia sendiri tak pernah memberi bunga pada orang lain, baru pada saya seorang. Pesan terakhir: Kalau saya tak suka dan mau membuangnya, terserah saja.
Saya lalu hanya bisa bilang, oke. Kalau begitu, terima kasih (Oh, di sini rupanya saya berterima kasih padanya, He-he-he!). Saya menghargai pemberian kamu. Sesampai di rumah, saya mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air, lalu meletakkan bunga itu di dalamnya. Gelas itu sendiri saya letakkan di balkon loteng. Agar kalau hujan, bisa terciprat air sedikit dan usianya lebih awet. Dan menariknya, bunga itu konon baru layu setelah beberapa minggu!
Apakah hubungan saya dan pria itu berakhir setelah hari Valentine mengenaskan itu? Tidak. Kami masih berteman terus. Sekali lagi saya ulangi, berteman. Bahkan setelah saya punya beberapa pacar. Saya malah sempat khusus mengantarkan undangan pernikahan saya ke rumahnya. Dan saya agak lupa apakah dia datang ke pernikahan saya. Sepertinya tidak. Anyway, saya masih ingin mendengar kabarnya lagi. Semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu dengannya lagi.
Le ragazze si lanciano ad occhi chiusi nelle avventure,
qualche volta confondono la bugia e la verita
- Le Ragazze, Neri Per Caso ***
» Kommentar veröffentlichen