<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Kenapa Kita Tak Kunjung Pintar?

Mittwoch, September 17, 2008
Sebenarnya, bosan sekali saya harus berapa kali mengulang mengupas kebusukan orang kita dalam hal mengantri. Tapi belakangan ini, semua tampak begitu nyata. Kita memang payah kalau untuk urusan kedisiplinan. Tragedi di Pasuruan yang baru terjadi sudah bisa menjadi contoh yang perlu kita renungkan. Secara pribadi, saya sendiri tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Si pemberi zakat punya niat baik. Para korban pun tidak bisa disalahkan karena datang ke sana. Yang perlu disesalkan, kenapa tidak ada antisipasi untuk membuat acara mulia itu menjadi lebih tertib. Bukankah sudah ada siaran di radio sehari sebelumnya yang mengabarkan akan adanya acara ini? Bukankan sudah banyak orang yang mengetahui tentang acara ini? Lalu, kenapa tidak ada bantuan untuk menjadikan segalanya lebih baik? Yang mestinya membantu memperlancar jalannya zakat sekarang malah menjadikan si pemberi zakat sebagai tersangka. Sungguh menakjubkan. Where were you then? Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi bila pihak yang memang dari dulu bertugas untuk menjaga ketenteraman dan ketertiban ikut ambil bagian--bahkan tanpa perlu berharap dapat imbalan.

Itu masalah besarnya. Sekarang masalah "printilan" yang sering terjadi di depan mata kita. Ini menyangkut diri kita sendiri.

Kemarin, saya terpaksa menghabiskan waktu percuma selama 20 menit di depan pintu tol Karang Tengah, dalam antrean yang melibatkan tiga baris mobil yang memperebutkan satu loket pembayaran tol. Menjelang berbuka puasa, ternyata orang tak cuma habis energi, tapi juga habis sabar. Klakson berbunyi tak henti-henti. Gas mobil diinjak-injak hingga menggeram. Untung, tidak pakai tonjok-tonjokan (eh, ternyata saya keliru. Selepas pintu tol, saya lihat ada dua mobil berhenti di pinggir jalan, kedua pengemudinya bertengkar sambil mengacungkan kepalan tangan, siap baku hantam). Kalau mengungkit soal prinsip kepuasan pelanggan, saya lebih suka tidak perlu membayar tol. Buat apa? Toh saya memang kecewa akan pelayanannya. Seratus meter ditempuh dalam waktu 20 menit. Sementara para petugasnya tak ada berpikir, betapa lebih baiknya jika mereka memasang pembatas sejak beberapa ratus meter sebelum pintu loket tol. Ini baru pertengahan bulan puasa. Saya kebetulan saja hari itu terdampar di sana. Tapi saya percaya betul, fenomena seperti ini sudah terjadi sejak awal bulan puasa. Semua orang yang sering bergelut di jalan juga tahu, menjelang waktunya buka puasa lalu lintas pasti akan padat, antrean tidak akan terhindarkan. Tapi tetap, kenapa tidak ada niatan untuk memastikan antrean bisa lancar, sehingga semua sama-sama senang. I wonder.

Sekarang, kembali ke sekitar awal Agustus lalu. Saya berada di tengah antrean super padat di Hypermart Puri Indah. Kala itu, ada promo yang sangat spektakular: Belanja dengan kartu kredit xx mendapat diskon sebanyak 50%!! Siapa yang tidak ngiler? Dan berkunjunglah sebagian besar warga Jakarta beramai-ramai ke sana (jangan kira hanya warga sekitar situ saja, karena saya sempat melihat ada tetangga saya yang di Kelapa Gading ikut bergabung di keramaian). Akhir cerita, semua berdesakan di daerah kasir, satu kasir diperebutkan dua barisan. Belum lagi, tumpukan barang-barang yang tak jadi dibeli, yang berhamburan di berbagai pojokan. Ternyata, ada satu aturan main yang tidak begitu diperhatikan para pembeli. Total transaksi yang diperbolehkan mendapat diskon sebesar 50% HANYA sebesar satu juta rupiah (yang kalau didiskon akakn menjadi 500ribu rupiah). Sisanya? Bayar penuh seratus persen. Saya cuma menatap jengkel para ibu-ibu dan bapak-bapak yang kemudian menyortir belanjaannya sambil mengantre. Dan terus terang, sempat mau tertawa juga ketika saya iseng menginspeksi isi belanjaannya. Dasar kalap atau kurang kerjaan, entah kenapa yang diborong ternyata kebanyakan barang tak perlu. Pembalut, permen, biskuit, kain pel--barang-barang yang sebenarnya tak perlu pakai diskon pun, sering masuk dalam promo yang menarik di tempat itu (mulai dari Beli 2 Gratis 1 hingga diskon tambahan 15%). Saya mencoba memahami jalan pikiran para pembeli emosional ini. At the end of the day, barang-barang yang dibeli itu cuma akan disesali. Buat apa menyimpan pembalut sampai duabelas lusin? Mau sampai kapan permen dan biskuit itu habis--yang pasti setelah yang makan sakit gigi.

Tak cuma itu. Di lorong sebelah sana, tempat kakak saya mengantre membayar, konon terjadi pertengkaran saling tuduh-tuduhan siapa yang menyelak dan siapa yang diselak (yang jelas, tidak ada yang bisa dibenarkan, karena antrean sudah begitu semrawut). Dan yang menarik, pertengkaran antara orang-orang yang berpendidikan dan beruang ini (ya jelas, bayarnya saja pakai kartu kredit!) ini diramaikan dengan sambit menyambit barang. Hebat! Acara sambit-menyambit barang yang pastinya masih milik toko karena belum dibayarkan secara resmi di meja kasir ini bersambung dengan (hampir) jotos-jotosan. Sayang, tidak ada penonton yang tepuk tangan. Sebab ini bukan pertandingan karate, aikido, atau wushu di ajang Olimpiade.

Di akhir kata, saya sudah malas untuk berkomentar lebih panjang. Silakan kita ulang-ulang lagi rekaman peristiwa yang saya sampaikan dalam bentuk tulisan ini ke dalam kilasan visual. Mau sedikit dibumbui, juga tak masalah. Karena, apa pun yang kita bayangkan, saya tahu pasti. Film imajiner di otak kita ini akan ditutup dengan satu kata pamungkas, "MEMALUKAN". ***

Akhirnya,… Berpikir Lagi

Freitag, September 12, 2008
Entah sudah berapa banyak teman saya yang bertanya, kenapa saya berhenti menulis blog ini. Tak terasa, memang sudah hampir dua tahun. Banyak alasan, tapi tak perlu disebut. Karena belakangan ini saya belajar bahwa hidup ini memang penuh dengan alasan dan drama. Seputar inilah kiranya saya ingin memulai kontemplasi di babak baru blog ini—keren-kerennya, sih, saya beri nama Berpikir (Lagi).

Beberapa bulan lalu, sehubungan dengan pekerjaan di tempat yang baru—setelah beberapa lamanya menganggur dan mencoba menjadi full time mother di rumah—saya bertemu dengan seorang dokter. Berprinsip teguh dan tahu apa yang dia mau, dan bekerja keras untuk mencapainya tanpa kenal lelah. Mungkin itu yang bisa saya gambarkan tentang orang tersebut. Dalam menangani pasiennya, dia melakukan metode yang mungkin tak pernah saya temukan sebelumnya pada dokter mana pun. Terlepas dari anjuran sehatnya yang cukup ekstrem, saya menemukan beberapa sisi pemikiran yang cukup menarik untuk jadi pemikiran yang bisa mengubah hidup saya. Suatu ketika, dia berkata kalau hidup ini penuh dengan drama. Kita selalu berusaha mencari alasan untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Bahkan, benda mati seperti meja pun akan kita persalahkan, ketika tanpa sengaja kita menabrak sudut meja dalam perjalanan dari ruang makan menuju kamar. Dasar meja brengsek! Dalam segi kehidupan lainnya, kita juga berpindah dari satu alasan ke alasan lainnya, mengarang cerita yang satu hingga yang lainnya—semua untuk menutupi kekurangan dan kesalahan yang tidak mau atau malu kita akui. Padahal, bagi saya sendiri, apa sulitnya berkata, “Maaf, saya memang salah, seharusnya tidak begitu.”? Ini lebih hemat daripada mengarang sejuta versi cerita sinetron.

Drama, drama, drama. Setiap orang punya dramanya sendiri. Saat kita dikritik karena tidak bisa bekerja dengan penuh konsentrasi, alasannya “Aduh, maaf, sedang banyak masalah.” Padahal tidak cuma kita yang punya masalah di dunia ini. Ketika kita ditegur karena suka datang terlambat ke kantor, alasan klasiknya “Macet nih, ada demo. Bis mogok.” Padahal di kota ini kemacetan sudah jadi bagian dari hidup. Kalau mau lebih seru lagi, kita bisa memaparkan serentetan kisah sedih lainnya sebagai bumbu, agar lebih meyakinkan betapa malangnya hidup kita.Tapi memangnya menyenangkan jadi orang yang dikasihani? Betapa banyak orang di luar sana yang menopangkan hidupnya pada belas kasihan orang lain, sampai-sampai kehilangan dayanya untuk berjuang mengubah nasibnya. Padahal, kendali hidup ini tidak terletak pada rasa iba orang lain, melainkan di tangan kita sendiri.

Entah terpengaruh akan kekukuhan prinsip si dokter yang menolak semua bentuk drama, belakangan saya juga jadi ikutan lelah. Rasanya capai sekali harus mendengar beragam alasan dan kata-kata mutiara dari orang-orang di sekitar saya. Plus, saya pun jadi tergerak untuk selalu mengomentari diri di saat saya sudah mulai berkilah cari alasan. Gila. Ternyata hidup ini memang terbentuk dari beragam alasan, seperti halnya sebuah rayuan manis yang sering dilemparkan seorang pacar kepada kekasihnya tercinta, “You are the reason I live.” Bah. Gombal. Padahal, sih, itu hanya alasan sementara supaya bisa balik pacaran lagi, karena tidak sementara ini tidak ada perempuan yang tertarik dengannya.

… dan alasannya lagi, saya berusaha mencari beragam alasan untuk menandingi alasan yang dikarang oleh si pemberi alasan. Alasan selalu dilawan dengan alasan, dan alasan yang melawannya akan dihadapi dengan berbagai alasan lainnya. Ah, lama-lama saya jadi berpikir, jangan-jangan hidup ini memang isinya cuma alasan. Mari kita mulai: kenapa kita dilahirkan? Alasannya…. ***

Le coeur a ses raisons, que la raison ne connaît point. (The heart has its reasons, which reason does not know) - Blaise Pascal