Kenapa Kita Tak Kunjung Pintar?
Mittwoch, September 17, 2008
Sebenarnya, bosan sekali saya harus berapa kali mengulang mengupas kebusukan orang kita dalam hal mengantri. Tapi belakangan ini, semua tampak begitu nyata. Kita memang payah kalau untuk urusan kedisiplinan. Tragedi di Pasuruan yang baru terjadi sudah bisa menjadi contoh yang perlu kita renungkan. Secara pribadi, saya sendiri tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Si pemberi zakat punya niat baik. Para korban pun tidak bisa disalahkan karena datang ke sana. Yang perlu disesalkan, kenapa tidak ada antisipasi untuk membuat acara mulia itu menjadi lebih tertib. Bukankah sudah ada siaran di radio sehari sebelumnya yang mengabarkan akan adanya acara ini? Bukankan sudah banyak orang yang mengetahui tentang acara ini? Lalu, kenapa tidak ada bantuan untuk menjadikan segalanya lebih baik? Yang mestinya membantu memperlancar jalannya zakat sekarang malah menjadikan si pemberi zakat sebagai tersangka. Sungguh menakjubkan. Where were you then? Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi bila pihak yang memang dari dulu bertugas untuk menjaga ketenteraman dan ketertiban ikut ambil bagian--bahkan tanpa perlu berharap dapat imbalan.
Itu masalah besarnya. Sekarang masalah "printilan" yang sering terjadi di depan mata kita. Ini menyangkut diri kita sendiri.
Kemarin, saya terpaksa menghabiskan waktu percuma selama 20 menit di depan pintu tol Karang Tengah, dalam antrean yang melibatkan tiga baris mobil yang memperebutkan satu loket pembayaran tol. Menjelang berbuka puasa, ternyata orang tak cuma habis energi, tapi juga habis sabar. Klakson berbunyi tak henti-henti. Gas mobil diinjak-injak hingga menggeram. Untung, tidak pakai tonjok-tonjokan (eh, ternyata saya keliru. Selepas pintu tol, saya lihat ada dua mobil berhenti di pinggir jalan, kedua pengemudinya bertengkar sambil mengacungkan kepalan tangan, siap baku hantam). Kalau mengungkit soal prinsip kepuasan pelanggan, saya lebih suka tidak perlu membayar tol. Buat apa? Toh saya memang kecewa akan pelayanannya. Seratus meter ditempuh dalam waktu 20 menit. Sementara para petugasnya tak ada berpikir, betapa lebih baiknya jika mereka memasang pembatas sejak beberapa ratus meter sebelum pintu loket tol. Ini baru pertengahan bulan puasa. Saya kebetulan saja hari itu terdampar di sana. Tapi saya percaya betul, fenomena seperti ini sudah terjadi sejak awal bulan puasa. Semua orang yang sering bergelut di jalan juga tahu, menjelang waktunya buka puasa lalu lintas pasti akan padat, antrean tidak akan terhindarkan. Tapi tetap, kenapa tidak ada niatan untuk memastikan antrean bisa lancar, sehingga semua sama-sama senang. I wonder.
Sekarang, kembali ke sekitar awal Agustus lalu. Saya berada di tengah antrean super padat di Hypermart Puri Indah. Kala itu, ada promo yang sangat spektakular: Belanja dengan kartu kredit xx mendapat diskon sebanyak 50%!! Siapa yang tidak ngiler? Dan berkunjunglah sebagian besar warga Jakarta beramai-ramai ke sana (jangan kira hanya warga sekitar situ saja, karena saya sempat melihat ada tetangga saya yang di Kelapa Gading ikut bergabung di keramaian). Akhir cerita, semua berdesakan di daerah kasir, satu kasir diperebutkan dua barisan. Belum lagi, tumpukan barang-barang yang tak jadi dibeli, yang berhamburan di berbagai pojokan. Ternyata, ada satu aturan main yang tidak begitu diperhatikan para pembeli. Total transaksi yang diperbolehkan mendapat diskon sebesar 50% HANYA sebesar satu juta rupiah (yang kalau didiskon akakn menjadi 500ribu rupiah). Sisanya? Bayar penuh seratus persen. Saya cuma menatap jengkel para ibu-ibu dan bapak-bapak yang kemudian menyortir belanjaannya sambil mengantre. Dan terus terang, sempat mau tertawa juga ketika saya iseng menginspeksi isi belanjaannya. Dasar kalap atau kurang kerjaan, entah kenapa yang diborong ternyata kebanyakan barang tak perlu. Pembalut, permen, biskuit, kain pel--barang-barang yang sebenarnya tak perlu pakai diskon pun, sering masuk dalam promo yang menarik di tempat itu (mulai dari Beli 2 Gratis 1 hingga diskon tambahan 15%). Saya mencoba memahami jalan pikiran para pembeli emosional ini. At the end of the day, barang-barang yang dibeli itu cuma akan disesali. Buat apa menyimpan pembalut sampai duabelas lusin? Mau sampai kapan permen dan biskuit itu habis--yang pasti setelah yang makan sakit gigi.
Tak cuma itu. Di lorong sebelah sana, tempat kakak saya mengantre membayar, konon terjadi pertengkaran saling tuduh-tuduhan siapa yang menyelak dan siapa yang diselak (yang jelas, tidak ada yang bisa dibenarkan, karena antrean sudah begitu semrawut). Dan yang menarik, pertengkaran antara orang-orang yang berpendidikan dan beruang ini (ya jelas, bayarnya saja pakai kartu kredit!) ini diramaikan dengan sambit menyambit barang. Hebat! Acara sambit-menyambit barang yang pastinya masih milik toko karena belum dibayarkan secara resmi di meja kasir ini bersambung dengan (hampir) jotos-jotosan. Sayang, tidak ada penonton yang tepuk tangan. Sebab ini bukan pertandingan karate, aikido, atau wushu di ajang Olimpiade.
Di akhir kata, saya sudah malas untuk berkomentar lebih panjang. Silakan kita ulang-ulang lagi rekaman peristiwa yang saya sampaikan dalam bentuk tulisan ini ke dalam kilasan visual. Mau sedikit dibumbui, juga tak masalah. Karena, apa pun yang kita bayangkan, saya tahu pasti. Film imajiner di otak kita ini akan ditutup dengan satu kata pamungkas, "MEMALUKAN". ***
Itu masalah besarnya. Sekarang masalah "printilan" yang sering terjadi di depan mata kita. Ini menyangkut diri kita sendiri.
Kemarin, saya terpaksa menghabiskan waktu percuma selama 20 menit di depan pintu tol Karang Tengah, dalam antrean yang melibatkan tiga baris mobil yang memperebutkan satu loket pembayaran tol. Menjelang berbuka puasa, ternyata orang tak cuma habis energi, tapi juga habis sabar. Klakson berbunyi tak henti-henti. Gas mobil diinjak-injak hingga menggeram. Untung, tidak pakai tonjok-tonjokan (eh, ternyata saya keliru. Selepas pintu tol, saya lihat ada dua mobil berhenti di pinggir jalan, kedua pengemudinya bertengkar sambil mengacungkan kepalan tangan, siap baku hantam). Kalau mengungkit soal prinsip kepuasan pelanggan, saya lebih suka tidak perlu membayar tol. Buat apa? Toh saya memang kecewa akan pelayanannya. Seratus meter ditempuh dalam waktu 20 menit. Sementara para petugasnya tak ada berpikir, betapa lebih baiknya jika mereka memasang pembatas sejak beberapa ratus meter sebelum pintu loket tol. Ini baru pertengahan bulan puasa. Saya kebetulan saja hari itu terdampar di sana. Tapi saya percaya betul, fenomena seperti ini sudah terjadi sejak awal bulan puasa. Semua orang yang sering bergelut di jalan juga tahu, menjelang waktunya buka puasa lalu lintas pasti akan padat, antrean tidak akan terhindarkan. Tapi tetap, kenapa tidak ada niatan untuk memastikan antrean bisa lancar, sehingga semua sama-sama senang. I wonder.
Sekarang, kembali ke sekitar awal Agustus lalu. Saya berada di tengah antrean super padat di Hypermart Puri Indah. Kala itu, ada promo yang sangat spektakular: Belanja dengan kartu kredit xx mendapat diskon sebanyak 50%!! Siapa yang tidak ngiler? Dan berkunjunglah sebagian besar warga Jakarta beramai-ramai ke sana (jangan kira hanya warga sekitar situ saja, karena saya sempat melihat ada tetangga saya yang di Kelapa Gading ikut bergabung di keramaian). Akhir cerita, semua berdesakan di daerah kasir, satu kasir diperebutkan dua barisan. Belum lagi, tumpukan barang-barang yang tak jadi dibeli, yang berhamburan di berbagai pojokan. Ternyata, ada satu aturan main yang tidak begitu diperhatikan para pembeli. Total transaksi yang diperbolehkan mendapat diskon sebesar 50% HANYA sebesar satu juta rupiah (yang kalau didiskon akakn menjadi 500ribu rupiah). Sisanya? Bayar penuh seratus persen. Saya cuma menatap jengkel para ibu-ibu dan bapak-bapak yang kemudian menyortir belanjaannya sambil mengantre. Dan terus terang, sempat mau tertawa juga ketika saya iseng menginspeksi isi belanjaannya. Dasar kalap atau kurang kerjaan, entah kenapa yang diborong ternyata kebanyakan barang tak perlu. Pembalut, permen, biskuit, kain pel--barang-barang yang sebenarnya tak perlu pakai diskon pun, sering masuk dalam promo yang menarik di tempat itu (mulai dari Beli 2 Gratis 1 hingga diskon tambahan 15%). Saya mencoba memahami jalan pikiran para pembeli emosional ini. At the end of the day, barang-barang yang dibeli itu cuma akan disesali. Buat apa menyimpan pembalut sampai duabelas lusin? Mau sampai kapan permen dan biskuit itu habis--yang pasti setelah yang makan sakit gigi.
Tak cuma itu. Di lorong sebelah sana, tempat kakak saya mengantre membayar, konon terjadi pertengkaran saling tuduh-tuduhan siapa yang menyelak dan siapa yang diselak (yang jelas, tidak ada yang bisa dibenarkan, karena antrean sudah begitu semrawut). Dan yang menarik, pertengkaran antara orang-orang yang berpendidikan dan beruang ini (ya jelas, bayarnya saja pakai kartu kredit!) ini diramaikan dengan sambit menyambit barang. Hebat! Acara sambit-menyambit barang yang pastinya masih milik toko karena belum dibayarkan secara resmi di meja kasir ini bersambung dengan (hampir) jotos-jotosan. Sayang, tidak ada penonton yang tepuk tangan. Sebab ini bukan pertandingan karate, aikido, atau wushu di ajang Olimpiade.
Di akhir kata, saya sudah malas untuk berkomentar lebih panjang. Silakan kita ulang-ulang lagi rekaman peristiwa yang saya sampaikan dalam bentuk tulisan ini ke dalam kilasan visual. Mau sedikit dibumbui, juga tak masalah. Karena, apa pun yang kita bayangkan, saya tahu pasti. Film imajiner di otak kita ini akan ditutup dengan satu kata pamungkas, "MEMALUKAN". ***
