Life's Like That
Mittwoch, Oktober 11, 2006
Siang kala hari saya menulis blog ini, saya dapat e-mail yang mengejutkan. Seorang sahabat baik saya mengabarkan pengunduran dirinya dari sebuah lembaga yang selama ini di mata saya adalah institusi yang sangat kredibel dan terhormat di mata masyarakat banyak. Penasaran, saya menghubunginya di sela jeda meeting yang satu dengan meeting yang lainnya. Saya sempat paranoid, takut dia lantas kembali ingin meninggalkan negeri ini dan kembali ke negara tempat dulu ia pernah bekerja. Terus terang saja, saya akan merasa kehilangan, karena setelah berpisah selama 10 tahun kami baru saja menikmati kebersamaan lagi selama setahun. Ternyata tidak. She's not going to leave this country. But yes, she really left the company.
Why? Pertanyaan itulah yang langsung saya lontarkan. Lewat percakapan via telepon--karena kami juga amat jarang punya kesempatan bertemu karena sama-sama punya jadwal yang padat--terjelaskanlah segalanya. Saya pun dihadapkan pada satu isu yang sebenarnya tak asing bagi saya: Office Politics. Tema ini pernah sekali ingin saya paparkan di blog ini, tapi entah kenapa --maklumilah saya yang belakangan ini sering amnesia karena terlalu banyak hal yang saya pikirkan--hal itu tak jadi saya angkat sebagai tulisan. Dan hari ini, saya pun terpaksa harus menyeret ingatan saya kembali ke masa dua tahun yang lalu, di saat saya mengalami hal yang serupa seperti sahabat kental saya ini: menjadi korban politik kantor.
Suatu ketika, setelah saya telah usai dan "puas" dengan pengalaman buruk sehubungan dengan politik kantor itu, dan di saat saya punya keinginan untuk menuliskan pengalaman itu sebagai suatu esai singkat di blog ini (oh ya, saya ingat kenapa saya membatalkan niat menulis: karena takut terasa terlalu emosional dan subjektif), sempat terlintas suatu analogi di kepala saya. Bekerja di suatu perusahaan membuat kita pada akhirnya harus jago berpolitik, selayaknya seorang politisi di kancah politik sebuah negeri. Aturan-aturannya pun hampir sama. Pertama: ketahui siapa kawan siapa lawan. Kedua, saat akan menapaki jenjang karier selanjutnya, bersiaplah akan hal yang tak terduga: seperti Anda tiba-tiba bisa terangkat terlalu tinggi atau terdepak tanpa rasa iba dari kancah persaingan. Bahasa kerennya: expect the unexpected (wow, ini seperti lirik lagu soundtrack pembuka serial kartun Tinytoon). Ketiga: ada beberapa hal yang memang tidak bisa kita ubah, karena satu dan lain hal. Ini sungguh ironis karena sebenarnya suatu kemajuan karier akan amat terlihat apabila kita berani melakukan perubahan. So the bottom line is, kalau Anda ingin melakukan perubahan demi kemajuan profesional, pastikan Anda memilih "korban" yang tepat. Keempat, pada akhirnya kita hanyalah bagian dari sistem. Dan, sistem pun bisa menjadi bagian dari satu sistem lainnya yang lebih besar, dan ini terjadi berlapis. Melawan sistem ini bagaikan sedang membuka kotak hadiah yang di dalamnya terdapat kotak lagi, dan di dalamnya terdapat kotak lagi yang lebih kecil. Salah satu cara yang memungkinkan untuk Anda "selamat" adalah menjadi bagian dari kotak yang terbesar. Dan, kalau dalam konteks politik kantor ini yang terbaik adalah mereka yang berada di lapisan atas "pemerintahan". Atau, sebagai analogi lainnya, kalau kita ibaratkan semua ini adalah sebuah permainan, usahakan kita bukan pion, melainkan raja, setidaknya penasihat. Kelima, sesungguhnya idealisme dan profesionalisme adalah dua hal yang saling bertolakbelakang. Dan benar, konsep profesionalisme itu sendiri sebenarnya adalah suatu ide yang idealis sifatnya. Tapi, mengutip judul di atas: Life's like that. Hasil perenungan sementara berbunyi demikian: Di etape awal setiap "rute" perjalanan yang Anda tempuh, bersikaplah idealis. Tentukan langkah yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik juga. Tapi, begitu semua telah berjalan, bersikaplah profesional, yang berarti Anda pun perlu berkompromi untuk berbagai hal dan menurunkan standar Anda demi mencapai tujuan yang diinginkan.
Saya sengaja tidak membeberkan secara terperinci lima aturan hasil "pertapaan" saya, karena toh Anda pasti juga punya pengalaman yang hampir serupa. Dan, sengaja juga karena saya ingin mendengar pendapat Anda sendiri. Siapa tahu, apa yang saya ketengahkan di atas terlalu general sifatnya. Atau, bisa juga terlalu subjektif (dan nyatalah saya masih belum bisa mengambil jarak dengan pengalaman yang menguras emosi yang terjadi dua tahun lalu itu). Terutama untuk point terakhir, yang sepertinya bisa mengundang kontroversi pendapat yang seru. Mari kita mulai diskusi ini sehingga pikiran kita bisa terasah. ***
Why? Pertanyaan itulah yang langsung saya lontarkan. Lewat percakapan via telepon--karena kami juga amat jarang punya kesempatan bertemu karena sama-sama punya jadwal yang padat--terjelaskanlah segalanya. Saya pun dihadapkan pada satu isu yang sebenarnya tak asing bagi saya: Office Politics. Tema ini pernah sekali ingin saya paparkan di blog ini, tapi entah kenapa --maklumilah saya yang belakangan ini sering amnesia karena terlalu banyak hal yang saya pikirkan--hal itu tak jadi saya angkat sebagai tulisan. Dan hari ini, saya pun terpaksa harus menyeret ingatan saya kembali ke masa dua tahun yang lalu, di saat saya mengalami hal yang serupa seperti sahabat kental saya ini: menjadi korban politik kantor.
Suatu ketika, setelah saya telah usai dan "puas" dengan pengalaman buruk sehubungan dengan politik kantor itu, dan di saat saya punya keinginan untuk menuliskan pengalaman itu sebagai suatu esai singkat di blog ini (oh ya, saya ingat kenapa saya membatalkan niat menulis: karena takut terasa terlalu emosional dan subjektif), sempat terlintas suatu analogi di kepala saya. Bekerja di suatu perusahaan membuat kita pada akhirnya harus jago berpolitik, selayaknya seorang politisi di kancah politik sebuah negeri. Aturan-aturannya pun hampir sama. Pertama: ketahui siapa kawan siapa lawan. Kedua, saat akan menapaki jenjang karier selanjutnya, bersiaplah akan hal yang tak terduga: seperti Anda tiba-tiba bisa terangkat terlalu tinggi atau terdepak tanpa rasa iba dari kancah persaingan. Bahasa kerennya: expect the unexpected (wow, ini seperti lirik lagu soundtrack pembuka serial kartun Tinytoon). Ketiga: ada beberapa hal yang memang tidak bisa kita ubah, karena satu dan lain hal. Ini sungguh ironis karena sebenarnya suatu kemajuan karier akan amat terlihat apabila kita berani melakukan perubahan. So the bottom line is, kalau Anda ingin melakukan perubahan demi kemajuan profesional, pastikan Anda memilih "korban" yang tepat. Keempat, pada akhirnya kita hanyalah bagian dari sistem. Dan, sistem pun bisa menjadi bagian dari satu sistem lainnya yang lebih besar, dan ini terjadi berlapis. Melawan sistem ini bagaikan sedang membuka kotak hadiah yang di dalamnya terdapat kotak lagi, dan di dalamnya terdapat kotak lagi yang lebih kecil. Salah satu cara yang memungkinkan untuk Anda "selamat" adalah menjadi bagian dari kotak yang terbesar. Dan, kalau dalam konteks politik kantor ini yang terbaik adalah mereka yang berada di lapisan atas "pemerintahan". Atau, sebagai analogi lainnya, kalau kita ibaratkan semua ini adalah sebuah permainan, usahakan kita bukan pion, melainkan raja, setidaknya penasihat. Kelima, sesungguhnya idealisme dan profesionalisme adalah dua hal yang saling bertolakbelakang. Dan benar, konsep profesionalisme itu sendiri sebenarnya adalah suatu ide yang idealis sifatnya. Tapi, mengutip judul di atas: Life's like that. Hasil perenungan sementara berbunyi demikian: Di etape awal setiap "rute" perjalanan yang Anda tempuh, bersikaplah idealis. Tentukan langkah yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik juga. Tapi, begitu semua telah berjalan, bersikaplah profesional, yang berarti Anda pun perlu berkompromi untuk berbagai hal dan menurunkan standar Anda demi mencapai tujuan yang diinginkan.
Saya sengaja tidak membeberkan secara terperinci lima aturan hasil "pertapaan" saya, karena toh Anda pasti juga punya pengalaman yang hampir serupa. Dan, sengaja juga karena saya ingin mendengar pendapat Anda sendiri. Siapa tahu, apa yang saya ketengahkan di atas terlalu general sifatnya. Atau, bisa juga terlalu subjektif (dan nyatalah saya masih belum bisa mengambil jarak dengan pengalaman yang menguras emosi yang terjadi dua tahun lalu itu). Terutama untuk point terakhir, yang sepertinya bisa mengundang kontroversi pendapat yang seru. Mari kita mulai diskusi ini sehingga pikiran kita bisa terasah. ***
