What You See Is (Sometimes Not) What You Get
Montag, Oktober 25, 2004
Suatu hari, seorang teman, sebut saja X, bercerita pada saya, "Saya dekat sekali, lho, dengan si Y. Dia itu sahabat saya!" Saya mangut-mangut saja. Padahal, di suatu hari lain, saya secara tak sengaja mendengar pembicaraan Y dengan teman yang lain, sebut saja Z. "Aduh, itu dia... makanya gue sebel sama si X. Kadang dia enggak dewasa banget kalau soal cowok!"
Sampai hari ini, saya masih sering tersenyum dalam hati jikalau melihat mereka berdua bertemu. X selalu menyambut Y dengan segenap hatinya, karena menganggap Y adalah sahabat yang paling memahaminya. Tapi Y selalu menyambutnya dengan sikap yang biasa saja. Tak aneh, saya tahu itu bagi Y, X bukanlah sahabat karib, hanya teman biasa. Sahabat karibnya sendiri ada di tempat lain, bukan di tempat X berada.
Saya jadi merenung. Ternyata tak cuma cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan. Persahabatan pun bisa. Ironis, ya? Dan seperti apa rasanya ketika kita suatu hari mengetahui, seseorang yang kita anggap seorang sahabat ternyata tak beranggapan sama? Malu, mungkin. Tapi yang jelas, rasanya seperti ditampar. Sama seperti ketika saya menyadari kalau X yang saya pikir sahabat saya ternyata hanya bermaksud memanfaatkan saya demi kepentingan pekerjaannya. Kalau sudah begini, siapa yang paling malang di antara kami semua? Jangan-jangan saya... ***
Sampai hari ini, saya masih sering tersenyum dalam hati jikalau melihat mereka berdua bertemu. X selalu menyambut Y dengan segenap hatinya, karena menganggap Y adalah sahabat yang paling memahaminya. Tapi Y selalu menyambutnya dengan sikap yang biasa saja. Tak aneh, saya tahu itu bagi Y, X bukanlah sahabat karib, hanya teman biasa. Sahabat karibnya sendiri ada di tempat lain, bukan di tempat X berada.
Saya jadi merenung. Ternyata tak cuma cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan. Persahabatan pun bisa. Ironis, ya? Dan seperti apa rasanya ketika kita suatu hari mengetahui, seseorang yang kita anggap seorang sahabat ternyata tak beranggapan sama? Malu, mungkin. Tapi yang jelas, rasanya seperti ditampar. Sama seperti ketika saya menyadari kalau X yang saya pikir sahabat saya ternyata hanya bermaksud memanfaatkan saya demi kepentingan pekerjaannya. Kalau sudah begini, siapa yang paling malang di antara kami semua? Jangan-jangan saya... ***
