<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


What You See Is (Sometimes Not) What You Get

Montag, Oktober 25, 2004
Suatu hari, seorang teman, sebut saja X, bercerita pada saya, "Saya dekat sekali, lho, dengan si Y. Dia itu sahabat saya!" Saya mangut-mangut saja. Padahal, di suatu hari lain, saya secara tak sengaja mendengar pembicaraan Y dengan teman yang lain, sebut saja Z. "Aduh, itu dia... makanya gue sebel sama si X. Kadang dia enggak dewasa banget kalau soal cowok!"

Sampai hari ini, saya masih sering tersenyum dalam hati jikalau melihat mereka berdua bertemu. X selalu menyambut Y dengan segenap hatinya, karena menganggap Y adalah sahabat yang paling memahaminya. Tapi Y selalu menyambutnya dengan sikap yang biasa saja. Tak aneh, saya tahu itu bagi Y, X bukanlah sahabat karib, hanya teman biasa. Sahabat karibnya sendiri ada di tempat lain, bukan di tempat X berada.

Saya jadi merenung. Ternyata tak cuma cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan. Persahabatan pun bisa. Ironis, ya? Dan seperti apa rasanya ketika kita suatu hari mengetahui, seseorang yang kita anggap seorang sahabat ternyata tak beranggapan sama? Malu, mungkin. Tapi yang jelas, rasanya seperti ditampar. Sama seperti ketika saya menyadari kalau X yang saya pikir sahabat saya ternyata hanya bermaksud memanfaatkan saya demi kepentingan pekerjaannya. Kalau sudah begini, siapa yang paling malang di antara kami semua? Jangan-jangan saya... ***

Does Age Really Matter?

Mittwoch, Oktober 13, 2004

Pertanyaan ini pernah terlintas di kepala saya, tapi kemudian saya tak pusingkan. Tapi setelah melalui beberapa sesi diskusi dengan suami, pertanyaan ini akhirnya benar-benar berhasil menghantui kepala saya.

Awalnya sederhana: Beberapa kali bekerja, saya selalu punya atasan yang usianya masih muda. Tiga puluhan. Paling tua empat puluhan. Pernah juga usianya di bawah saya. Saya lalu bertanya-tanya dalam hati, apakah ada perbedaan antara perusahaan yang dipimpin oleh bos yang berusia matang dengan yang masih muda.

"Jelas ada, lah. Dari segi pengalaman sudah berbeda. Selain itu, bos yang masih muda cenderung kurang dapat dihormati bawahannya," kata suami saya. Lebih dalam lagi, dia merujuk ke persoalan yang dialami di kantor saya. "Lihat bosmu. Awalnya dia kan teman kamu. Begitu dia naik ke posisi atas, bisa jadi ada beberapa orang yang kurang respek padanya. Mind setnya masih berpikir, 'dia kan teman saya. Jadi apa saja bisa diatur'," lanjutnya. Singkat kata, bos muda lebih gampang goyah dan dimanfaatkan anak buahnya daripada bos tua. Soalnya awalnya dia sama-sama teman. Dia juga tak bisa jaga wibawa, karena boroknya sudah kelihatan.

Saya pernah dengar di satu kesempatan, kalau menjadi pemimpin itu memang secara langsung menjauhkan kita dari kerumunan. Suka tidak suka, seorang pemimpin memang harus seorang diri. Tak punya teman lagi. Mungkin ini bisa jadi salah satu solusi buat seorang bos muda. Putuskan jalinan keakraban dengan bekas teman dulu. Tarik jarak. Dengan begitu dia akan lebih dihormati, tidak lagi dianggap enteng. Dan tak ada orang yang diam-diam menempel bak parasit, juga orang-orang yang sok nge-bos. Betul? ***

Karma?

Dienstag, Oktober 12, 2004
Di kantor saya, ada seorang teman yang dulunya adalah teman satu SMP saya. Kalau sedang pergi bersama, terkadang kami sering membicarakan masa bersekolah dulu. Dan lewat beberapa sesi nostalgia kami, saya tersadar kalau ternyata beberapa hal yang bisa dibilang jadi beban saya di masa lalu tak hanya saya alami sendiri.

Hari ini, saya pergi lagi bersama rekan saya itu. Kala sedang bercakap tentang beberapa teman semasa SMP, tiba-tiba rekan saya menyinggung soal satu teman yang cukup punya banyak musuh selama SMP. Teman itu, sebut saja I, memang beruntung dilahirkan dengan sosok fisik yang cantik. Dia juga cukup pintar dan datang dari keluarga yang berada (Dia pernah bilang pada saya, kalau marganya -dia Batak-adalah marga yang terpandang). Tapi semasa sekolah, dia sering sekali menghina teman-teman lain yang tidak seberuntung dia, baik fisik, materi, maupun intelegensia. Kalau istilah sekarangnya, mungkin bisa dibilang pelecehan verbal. Di mata saya, hatinya penuh dengan kedengkian yang terpelihara. Dia tak pernah bisa melihat orang lain lebih baik daripadanya. Well, sorry to say, iri adalah salah satu dosa besar manusia, terlepas dari apakah zodiak yang menaunginya (kalau sedikit menyentil soal astrologi).

Menurut teman saya, si I baru saja mengalami kejadian buruk. Dia baru saja batal menikah dengan calon suaminya. Padahal undangan sudah tersebar, dan rencananya perhelatan akan terselenggara di Jakarta Convention Center (Wow!). Tapi dua hari sebelum resepsi, teman saya menerima SMS dari I, yang isinya menyatakan bahwa pernikahan dibatalkan karena satu dan lain hal. Selidik punya selidik, penyebab kegagalan ini hanyalah soal kecil. Apa pun lanjutannya, yang jelas si I ini telah mengalami hal yang memalukan dalam hidupnya. Dan dia pun akhirnya merasakan seperti apa rasanya dihina oleh orang lain. Tak kurang, teman-temannya yang batal diundang pun jadi berkasak-kusuk tentang dia. Dan gosip yang beredar pun tak jauh dari keburukan tindakannya semasa sekolah. Sebagian besar komentar berkata, "Biar tahu rasa, dulu sering menghina orang, sekarang dia kena batunya." Tak pelak, banyak juga yang tertawa di atas kesedihan si I.

Sore hari, saya merenung. Mengingat kalau dulu saya juga pernah tertekan sekelas dengan I. Karena dia, saya sempat dimusuhi seisi kelas. Sebabnya hanya karena saya berteman dengan orang yang dibenci oleh I. Dan orang itu dibenci karena pandai. Beberapa tahun kemudian, ada kejadian lucu. I masuk Fakultas Psikologi. Seorang teman saya sempat berkomentar begini, "Baguslah dia kuliah Psikologi, biar dia bisa memperbaiki diri." Kebetulan, teman saya dari sekolah lain (pria), jadi teman kuliahnya. I sempat kaget begitu melihat saya sedang mengobrol akrab dengan teman saya, yang juga teman kuliahnya. Keesokan harinya, teman saya bilang, kalau I sempat bertanya padanya, apakah saya menceritakan tentang I pada teman saya. Teman saya menjawab tidak, padahal saya sudah langsung menyebarkan cerita lengkap soal I padanya. Saya tidak salah, dong. Wong teman saya itu teman akrab saya kok! Beberapa hari kemudian, saya bertemu I lagi. Aneh bin ajaib, dia bersikap amat sangat ramah pada saya.

Di akhir perenungan, saya menarik dua pelajaran berarti. Pertama, apa pun yang kita lakukan pada akhirnya akan kita petik hasilnya. Jika itu perbuatan baik, buahnya juga akan baik. Begitu juga sebaliknya. Kedua, ajari anak maupun orang terdekatmu, juga dirimu sendiri tentang pentingnya budi baik. Yah, supaya tak jadi seperti si I itu. Kalau sudah kejadian, penyesalan tak lagi berguna, bukan? ***

Ketika Para Eksekutif Berkumpul...

Mittwoch, Oktober 06, 2004
Hari ini saya banyak dapat pengalaman berarti. Awalnya, saya berangkat ke Mid Plaza untuk janji wawancara dengan seorang narasumber. Sampai di sana, saya menelepon narasumber. Ternyata dia masih di kantornya di daerah Benhil, belum berangkat. Saya pun harus menunggu cukup lama di lobby. Untung kantor narasumber dekat. Kalau tidak, entah berapa jam saya harus menunggu.

Lesson 1#: Biasakan menelepon sebelum berangkat, hitung-hitung untuk konfirmasi.

Tunggu punya tunggu, kok si narasumber tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Setelah setengah jam, ponsel saya berbunyi. "Mbak, sedang di mana?"tanya narasumber saya. Saya bilang, saya ada di lobby Mid Plaza. Ternyata kami beda persepsi. Mid Plaza buat saya adalah gedung yang di tepi Jalan Sudirman. Perkantoran itu, lho. Sementara buat si narasumber, Mid Plaza yang dimaksud adalah Hotel Intercontinental Mid Plaza. Ups!

Lesson 2#: Pastikan lagi tempat pertemuan. Jangan ragu bertanya!

Akhirnya saya pun menyusul ke tempat sebenarnya. Setelah bertemu dengan narasumber, kami sepakat mau makan siang. Saya dibawa ke restoran. Di sana saya berkenalan dengan beberapa orang. Sebenarnya hari itu perusahaan narasumber saya mengadakan acara kecil untuk para membernya, yang terdiri dari para eksekutif. Akhirnya saya pun berkenalan dengan mereka. Aduh, aduh, mereka sudah seusia orang tua saya! Kedudukannya pun jauh sekali di atas saya. Mereka adalah para CEO perusahaan yang cukup terdepan, contohnya Astra. Wah, wah, sepertinya saya tak ada artinya. Sungguh sangat kecil! Tapi mereka tak memandang rendah saya. Mereka mengajak saya berbincang seputar tema-tema yang umum sekali. Saya pun tak rendah diri.

Lesson 3#: Tak perlu cemas bertemu dengan CEO, termasuk CEO di kantor Anda. Mereka juga manusia biasa!

Makan siang selesai, saya sempat mengadakan wawancara sedikit, lalu berlanjut di lain tempat. Selesai wawancara, saya diajak untuk ikut acara para CEO itu. Sebenarnya saya enggan. Saya pikir, yang akan dibahas pasti masalah yang tidak saya mengerti. Tapi karena sudah berjanji akan memberikan kartu nama pada salah seorang CEO, akhirnya saya ikut juga. Sampai di dalam, benar saja. Saya "blank"! Sama sekali tak tahu apa yang sedang dibahas. Salah seorang dari perusahaan narasumber saya lalu dengan sabar menjelaskan. Saya akhirnya malah berpartisipasi dalam exercise yang diadakan. Senang juga, soalnya dapat pengetahuan baru.

Lesson 4#: Don't be afraid of changes (and new challenges)

Acara yang saya ikuti itu ternyata amat menarik. Para peserta belajar banyak tentang teori manajemen organisasi, sekaligus membagikan pengalaman di dunia nyatanya. Seorang peserta berbagi kisah: Dia dulu bekerja di Citibank. Beberapa tahun lalu, Citibank pernah mengalami krisis, karena cabang mereka di South America terlibat hutang dan tak bisa melunasinya. Apa yang terjadi? Para VP dari semua cabang Citibank di dunia berkomitmen untuk berkorban. Tak ada karyawan yang dipecat. Sebaliknya, para CEO itu bersedia tidak menerima gaji mereka selama enam bulan, hanya mendapatkan fasilitas saja. Perusahaan pun berhemat sangat. Semua petinggi tak lagi mendapat fasilitas mobil limo, hanya taksi. Semua pernak-pernik penyegar hidup di kantor dibatasi. Tak ada akuarium, tak ada tanaman hias. Pokoknya, penghematan total. Hasilnya, dalam waktu singkat perusahaan mendapat revenue yang cukup tinggi, yang bisa menutupi hutang. Setelahnya semua mendapatkan bonus yang jumlahnya lebih besar daripada gaji mereka.

Lesson 5#: Untuk memperbaiki perusahaan, perlu effort secara menyeluruh. Juga pengorbanan. Tapi masalahnya, apakah para bos bisa seperti bos di Citibank? Termasuk bos di perusahaan saya, lho. Ha ha ha ha...

Lesson 6#: Dengan sharing, kita jadi diperkaya. Tak perlu takut ilmu akan hilang!

Dan terakhir, ada satu pelajaran yang berhasil saya ingat dari event ini.

Lesson 7#: Never try to model the system. On the contrary, try to model your problem to get the solution.

O iya, satu lagi. Pada waktu saya dan narasumber turun ke lobby untuk sesi interview, kami sempat bertemu dengan seorang bapak. Dia ternyata sedang berada di sana untuk ikut seminar tentang bisnis jaringan. Kami bertukar kartu nama, lalu berpisah. Ternyata dia langsung mengirim SMS ke saya. Tak sampai 3 jam setelah perpisahan kami. Belum sempat saya jawab SMS-nya, bapak itu sudah menelepon. Meminta saya ikut bisnis itu. Ya ampun... gerak cepat sekali ya... tapi dari segi marketing, movementnya dia bagus sekali. Karenanya saya mau menambahkan ke pelajaran berikutnya buat saya hari ini:

Lesson 8#: Take a quick action.

Wah, harus saya terapkan saat menjalankan bisnis bersama suami, nih... he he he...***