<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Penulis Wanita, Sastra Wangi

Donnerstag, August 24, 2006
Seorang teman baru mengungkapkan kekagumannya pada saya melalui SMS, "Wah, kamu penulis novel toh?" tulisnya. Dan tiba-tiba saja saya khawatir, jangan-jangan yang ada di benaknya adalah sosok perempuan penulis novel yang belakangan ini memenuhi dunia penulisan populer. Sekelompok wanita yang menulis berbagai kisah tentang wanita lainnya, dibumbui dengan percintaan yang indah ataupun tragis - bak film-film Holywood. Saya tak ingin dianggap demikian, karena saya bukan penulis semacam itu. Atau tepatnya, bukan calon penulis semacam itu --mengingat novel saya yang pertama itu hingga kini masih saja terhambat di pihak penerbit (and please don't ask me why this happens).

Wangi Dalam Beragam Interpretasi
Kemunculan banyak penulis wanita untuk meramaikan dunia sastra memang bisa dibilang memberi warna tersendiri bagi dunia buku. Tapi, saya setengah menyesali, kenapa gebrakan penuh kekuatan dari tulisan Ayu Utami yang disusul oleh Dee itu pada akhirnya memudar sejalan dengan waktu. Bahkan kehadiran Nukila Akmal dengan Cala Ibi dan La Luba pun dengan segera meredup (kurang menjualkah?). Daya yang mereka desakkan ke dunia sastra ujung-ujungnya hanya disusul (kalau saya tidak boleh mengatakannya "didompleng") oleh para penulis wanita yang "hanya" menulis seputar kehidupannya sendiri. Berbagai tokoh diciptakan, terlihat begitu indah, tapi kalau direnungkan kembali, semua tokoh itu pada akhirnya merupakan penerjemahan bebas dari diri penulisnya sendiri. Atau, pengejawantahan dari sosok diri ideal yang selama ini diinginkan oleh sang Penulis. Istilah "sastra wangi" yang dilekatkan sebagai citra para penulis wanita pun seakan punya makna berlapis. Kata "wangi" tak lagi mengacu pada gambaran stereotip seorang wanita, yang selalu tampil wangi--entah itu berparfum, berpakaian apik, maupun dandanan yang trendi, tapi juga bisa ditafsirkan sebagai suatu perujukan terhadap isi karyanya sendiri. Coba kita hitung, berapa banyak penulis yang menggambarkan tokoh utama maupun tokoh lainnya sebagai sosok yang cantik, pintar, seksi, dan segala kelimpahan anugerah Tuhan lainnya. Coba kita hitung, berapa banyak penulis yang membangun alurnya secara begitu klise: konflik yang diakhiri dengan kebahagiaan. Atau, konflik yang berakhir dengan suatu keputusan yang konon diambil dengan keberanian, yang biasanya memang berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh pembaca, tetapi setidaknya masih bisa diterima sebagai alternatif jalan keluar. Seperti, di antara pilihan dua orang pria, sang tokoh wanita memilih untuk tidak memilih keduanya. Semua ini telah menjadi pola yang begitu mudah dibaca dan dicerna oleh para pembaca, yang kebanyakan merupakan wanita. Pada akhirnya, dengan berat hati saya menyimpulkan bahwa para penulis wanita saat ini telah terjebak dalam suatu konteks wacana "menjual mimpi". Dan, apabila tokoh yang memegang peranan utama dalam ceritanya itu adalah perwujudan lain dari dirinya sendiri, dengan beragam pengalaman yang bersumber dari pengalaman si penulis itu sendiri, bisa dibilang bahwa para penulis wanita juga "menjual diri sendiri".

Wacana yang saya sodorkan ini bisa disangkal dengan ungkapan "menulis untuk ekspresi diri". Dan, menurut penelitian memang wanita cenderung lebih ekspresif daripada pria. Tapi makna ekspresi sendiri seharusnya bisa dilepaskan dari sifat egosentrik dan narsisistik. Semua seni adalah bentuk ekspresi, jadi sudahlah, buang jauh-jauh dalih ekspresi itu dan mulailah mencari misi lainnya. Beberapa penulis perempuan luar negeri yang selama ini saya nikmati karyanya mampu menulis sekaligus melepaskan diri dari subjektivitas dirinya. Saya percaya Amy Tan ataupun Jung Chang tidak menulis novel-novelnya hanya bertolak dari kisah hidupnya sendiri, tetapi juga melalui suatu riset yang panjang seputar sejarah yang berlangsung di masa hidupnya. Bagi mereka, karyanya adalah cerminan zaman yang mereka alami, suatu refleksi atas suatu pengalaman, yang tak hanya menjadi pengalaman seorang individu, melainkan juga pengalaman sebuah bangsa atau generasi. Menulis menjadi jalan perenungan, yang membuat mereka dan pembaca jadi lebih memahami makna hidup ini. Hal itu juga yang menjadi misi para penulis wanita lainnya, mulai dari Virginia Woolf, Nadine Goldimer, ataupun Toni Morrison. Dan mereka pun masih bisa disebut "wangi", karena telah membuat dunia menjadi makin semarak dengan berbagai pemikiran mereka.

Populer, Tapi di Permukaan?
Sastra Indonesia sekarang sepertinya lebih banyak didominasi oleh penulisan populer. Sebenarnya, di satu sisi hal ini perlu disyukuri. Setelah bertahun-tahun lamanya dunia sastra Indonesia hanya dipandang sebelah mata oleh umum dan buku-buku sastra hanya menjadi milik mereka yang punya hobi membaca (dan kaum kutu buku pun masih begitu kecil jumlahnya), akhirnya buku bisa menjadi bagian dari kehidupan orang banyak. Tapi, sepertinya untuk menjadi milik lebih banyak orang, yang harus "ditumbalkan" adalah esensi sastra itu sendiri. Ini tak hanya terjadi di negeri ini sebenarnya. Tapi entah kenapa, apakah karena saya terlalu berorientasi pada negeri sendiri dan kurang melihat keluar ataukah karena ini memang terjadi demikian (sepertinya pilihan kedua lebih benar), keberadaan novel-novel yang ditulis dengan lebih ringan, menghibur, sebut saja lebih populer, pada akhirnya menjadi bumerang bagi eksistensi sastra itu sendiri. Di satu pihak, makna positifnya adalah kita bisa melihat semakin banyak orang menenteng buku di kala sedang berada di mal, toko buku pun lebih dikunjungi oleh para penggemar buku yang tak ragu keluar uang untuk membeli buku-buku baru, acara pesta buku menjadi salah satu agenda to-do-list yang wajib didatangi. Tapi, pada akhirnya penulisan populer ini membuat makna sastra menjadi lebih dangkal. Dengan begitu cepat orang memberi julukan "sastra" pada novel-novel baru yang keluar, tanpa terlebih dulu merujuk pada pengertian sastra itu sebenarnya. Orientasi kuantitasi pada akhirnya lebih jadi tujuan utama bagi para penulis dibandingkan kualitas. Sebab, dengan animo pasar yang lebih suka mencari karya yang ringan-ringan saja serta gampang dicerna, penulis akan didesak untuk melahirkan karya yang banyak tanpa kontrol kualitas. Sebab, karena ringannya karya itu, pembaca akan melalap habis lalu melupakannya tiga bulan kemudian, sehingga yang membuat ingatan mereka melekat akan si penulis adalah seringnya penulis itu mendatangkan karyanya, bukan kesan ataupun impresi yang ditimbulkan satu karya terhadap benak si pembaca.

Sebenarnya, saya bukannya sirik pada para penulis yang bisa menghasilkan begitu banyak karya dengan begitu produktifnya, yang berhasil meraup banyak pengagum dalam waktu singkat dan bisa mencetak bestseller dalam waktu hanya beberapa bulan. Tapi, saya khawatir pada dunia sastra itu sendiri. Sebagai orang yang tumbuh di dunia sastra (sejak sekolah menengah pun "major" saya sudah sastra), saya cemas pada nantinya para penulis sastra sesungguhnya, yang menghasilkan karyanya setelah melalui proses perenungan yang begitu mendalam, yang berusaha menciptakan aliran-aliran serta teknik-teknik baru dalam sastra, hanya akan dianggap kaum marginal. Terpinggirkan karena mengetengahkan karya yang tak bisa dipahami oleh banyak orang (alih-alih orang-orang itu berusaha untuk memahami perkembangan serta arahan sastra ke depannya dengan mencoba menyelami beragam karya para penulis sastra itu). Mereka yang mengusung nilai sastra yang sebenarnya justru akhirnya tersingkirkan dari kancah dunia sastra itu sendiri.

Keputusan saya untuk "terjun" di dunia sastra sebagai penulis--satu cita-cita yang sudah saya miliki sejak masih usia belasan--adalah demi sastra itu sendiri. Karenanya, saya tak peduli berapa karya yang bisa saya hasilkan dalam setahun. Tak juga mau terjerat arus untuk menulis sesuatu yang mudah dimengerti oleh banyak orang tanpa perlu perenungan. Jika sampai nanti novel pertama saya itu keluar istilah "sastra wangi" itu masih dihubungkan pada para penulis populer yang tahu bagaimana menyenangkan hati pembacanya, biarlah saya dicap sebagai salah satu anggota dari "sastra bau". Menusuk dan menyengat otak pembaca (yang rela membacanya, berapa pun jumlahnya), serta meninggalkan jejak di memori mereka yang akan diingat dalam alam bawah sadar mereka. ***