<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Marriage is...

Montag, Juni 27, 2005
Menjelang akhir bulan Mei, saya menghadiri pernikahan seorang rekan kantor, yang juga merupakan teman sekolah saya kala di sekolah menengah pertama. Karena takut tak bisa datang ke acara resepsi, saya lalu datang ke gereja dan mengikuti misa pemberkatan pernikahannya.

Memasuki gereja dengan nuansa dekor pernikahan, seperti mengulang adegan pernikahan saya sendiri yang terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Suasana yang begitu indah, meski pada praktiknya kehidupan pernikahan tak selalu seindah itu. Selama hampir tiga tahun menikah, saya dan pasangan sendiri telah mengalami berbagai cobaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Intinya, kami masih harus banyak belajar untuk menjadi sepasang suami-istri. Tak hanya kami yang hitungannya masih keluarga muda, mungkin mereka yang telah menikah puluhan tahun juga begitu.

Semakin maraknya perceraian di kalangan masyarakat, diwakili oleh kaum selebriti, sedikit banyak membuat saya berpikir. Apakah sudah sedemikian sulitnya mempertahankan pernikahan di zaman modern nan edan ini? Apa sebenarnya modal utama untuk membina rumah tangga? Di pernikahan teman saya ini, saya mendapat sekelumit pencerahan, tepatnya lewat kotbah sang pastur. Selain komitmen, pernikahan memang harus dilandasi oleh rasa cinta. Hal ini pasti dibenarkan oleh setiap orang. Tapi apakah arti mencintai sebenarnya? "Mencintai, menurut Sri Paus Benediktus ke-XVI, adalah menderita," kata sang pastur. Karena dengan mencintai, kita bersedia berkorban demi orang yang kita cintai. Dan berkorban ini mencakup segala-galanya. "Seperti halnya Tuhan Yesus yang rela disalib demi menebus dosa umat manusia," lanjut pastur itu. Apakah pengorbanannya itu bisa dibilang penderitaan? Jelas. Dan dengan cara itulah kita harus mencintai pasangan kita. "Karena dengan menikah, kita sering kali harus mengorbankan sesuatu dalam hidup Anda. Waktu untuk diri sendiri, beberapa kebiasaan Anda, beberapa hobi Anda, semua harus rela Anda kurangi demi kebersamaan dengan pasangan," tutur pastur itu lagi.

Saya sempat tertegun mendengar paparan pastur itu. Mencintai adalah menderita. Sejauh mana kita mau menderita demi pasangan? Apakah di kala pasangan sedang mengalami masa buruk kita mau menderita bersamanya? Apakah pernah kita mengalah demi kebahagiaan pasangan? Saya lalu teringat akan ayah saya. Dia amat mencintai anak-anaknya, sampai-sampai dia suka berbohong, bilang sudah makan, agar makanan yang ada di meja makan itu dimakan habis oleh anak-anaknya. Di kala makan bersama, dia selalu mengusahakan agar anak-istrinya makan kenyang dan jika dia sampai tak makan, tak apalah. Sampai sekarang dia masih begitu. Dia rela saja begadang di kala anak saya, cucunya, sedang sakit. Dan di pagi hari dia akan bangun dan pergi ke kantor seperti biasa. Mungkin itulah arti cinta yang sebenarnya.

Kini, menjelang ulang tahun pernikahan saya yang ketiga, saya sepertinya harus belajar lebih banyak lagi untuk mencintai suami saya. Juga anak saya. Seperti ungkapan yang dilontarkan sahabat saya, "Saya masih harus banyak belajar mencintai dia (kekasihnya) beserta semua beban yang ditanggungnya.". So, my dearest husband, let me learn more how to love you...***

Almamater Saya

Masa sekolah menengah saya selama enam tahun (SMP dan SMA - sekarang disebut SMU) dilalui di sebuah sekolah khusus perempuan. Sekolah saya yang sudah berdiri selama lebih dari seratus tahun itu sejak dulu dikenal dengan mutu pendidikannya dan sistem pendidikannya yang keras dan penuh disiplin. Tiada kesalahan yang tak diganjar hukuman. Konon, masuk ke sekolah saya itu luar biasa sulitnya. Sudah begitu, sekolah saya paling anti KKN dan suap. Jadi, hanya mereka yang berkualitaslah yang bisa mengenyam pendidikan di sana.

Dulu, saat masih bersekolah di sana, saya merasa adanya campuran perasaan antara tertekan dan bahagia. Bahagia, karena saya bisa merasakan suasana bersekolah yang menyenangkan bersama teman-teman yang juga menyenangkan. Tak pernah satu pun dari teman-teman saya yang terpikir untuk menjatuhkan temannya di mata teman lain ataupun guru. Kami pun belajar tentang makna solidaritas yang tinggi, terutama saat berhadapan dengan kepala sekolah yang galaknya setengah mati. Teman-teman di sana sudah layaknya saudara bagi saya. Namun, bersamaan dengan itu saya juga cukup tertekan karena ketatnya peraturan yang dijalankan. Jangan harap bisa mengenakan sepatu tak disemir di lingkungan sekolah. Begitu juga dengan seragam yang berantakan. Anda bisa segera kena razia dan akan menikmati hukumannya. Sistem pendidikan seperti ini membuat saya lebih banyak menderita sewaktu bersekolah ketimbang bersyukur. Bayangkan, sementara teman-teman di sekolah lain bisa gampang membolos mata pelajaran yang tak mereka sukai, saya tetap harus duduk manis di dalam kelas, suka atau tak suka pada pelajaran yang berlangsung. Sementara teman-teman di sekolah lain boleh datang sembarang waktu, saya setiap hari harus berburu waktu agar bisa masuk kelas sebelum jam 6.55 pagi. Mau masuk jam tujuh lewat? Boleh saja, tapi silakan setelahnya menggosok kamar mandi! Belum lagi ancaman tidak naik kelas yang sempat menghantui saya beberapa kali. Sungguh, masa sekolah saya dulu amat menegangkan!

Namun, jika sekarang saya melihat ke belakang dan menyadari makna dari semua itu, saya pun merasa amat bersyukur bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Kesempatan menimba ilmu di sekolah itu menjadikan saya dan teman-teman alumni sekolah itu sebagai pribadi yang kritis. Tempaan pendidikan tambahan seperti Pra-Kaderisasi (semacam latihan kepemimpinan), program Live-in (tinggal di desa-desa dan membaur dengan penduduk sekitar selama dua minggu), dan membuat acara ibadat dengan gaya kontemporer untuk remaja membuat kami jadi bisa berpikir secara konseptual serta penuh empati pada bidang-bidang kemanusiaan. Sementara teman-teman sekolah lain menikmati masa setelah ujian dengan berpiknik ke sana ke mari, kami harus bergelut dengan program "Problem Solving", yang membuat kami tahu bagaimana cara mengatasi problem pelik dalam kehidupan. Program jurnalistiknya membuat saya bisa menghasilkan sebuah buku kumpulan artikel bersama teman-teman dalam usia 16 tahun. Kami juga telah belajar memahami diri sendiri dan mengetahui arah tujuan serta cita-cita yang ingin kami wujudkan. Dan hal itu telah kami peroleh semasa sekolah menengah atas, sementara anak-anak sebaya kami tahunya hanya ke pesta dan menghabiskan uang orang tua mereka.

Saya bangga bisa bersekolah di sana, karena di sanalah saya berkesempatan menikmati pendidikan untuk calon orang berkualitas. Entah sudah berapa banyak alumni sekolah saya, sebagian juga teman-teman saya, yang berprestasi di masa dewasanya. Dan hebatnya, prestasi ini tak membuat mereka lupa akan akarnya: almamater. Seorang kakak kelas saya pernah bercerita, betapa sulitnya ia mencoba untuk mendapatkan kontak seorang presenter terkenal yang notabene adalah alumni sekolah saya. "Setelah saya gagal mencari kontak itu lewat jalur umum, saya coba lewat jalur almamater. Saya kirim e-mail ke milis alumni sekolah kita dan dalam waktu singkat nomor telepon itu sudah berada dalam genggaman tangan saya," tuturnya. Apakah fenomena seperti ini bisa didapat di sekolah lainnya? Menurut Anda? ***

Tentang Menjalin Persahabatan


Amigos para siempre
Means you'll always be my friend
Amics per sempre
Means a love that cannot end
Friends for life
Not just a summer or a spring
Amigos para siempre

~Amigos Para Siempre, Sarah Brightman & José Carreras


Bagi mereka yang baru mengenal saya, saya selalu dianggap sosok yang pendiam, dingin, tak jarang judes. Tapi jika telah dekat dengan saya, mereka selalu bilang,"Dasar jaim (jaga image)!". Sebenarnya bukan saya ingin menjaga sikap. Tapi saya memang kurang bisa langsung dekat dengan orang baru. Kecuali kalau dari awal orang tersebut sudah bersikap amat hangat terhadap saya. Akibatnya: Pertemanan saya dengan teman baru bisa terjadi secara tak terduga. Terkadang saya bisa langsung berteman dengan seseorang hanya dalam beberapa pertemuan. Tapi tak jarang saya harus menjalani proses interaksi yang cukup lama untuk mendapatkan seorang teman. Dari semua teman itu, tak semuanya bisa menjadi sahabat saya. Tentang mengapa alasannya, saya kira Anda sendiri mengetahuinya. Yaitu karena setiap orang punya standar sendiri untuk menjadikan seorang teman sebagai seorang sahabat. Jika percintaan butuh semacam chemistry, bagi saya persahabatan pun begitu. Dan menurut saya, chemistry itu akan terjadi jika antara saya dan sahabat terjalin semacam hubungan intens nan mendalam, baik dari sisi fisik (banyaknya pertemuan yang terlaksana) maupun jiwa.

Ada beberapa sahabat yang penting dalam hidup saya. Dari mereka, saya belajar tentang kehidupan dan bagaimana cara menjalaninya. Salah seorang sahabat terbaik saya, seorang pria, mengajarkan saya bagaimana untuk bekerja secara fokus. I owed him a lot for that lesson. Dari seorang sahabat perempuan yang telah bersama saya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, saya mendapat ketenangan batin. Di kala sedang mengalami masalah, dalam hal apa pun juga, saya selalu berkirim e-mail dan menelepon dia. Kami juga sering berbagi tentang nilai-nilai hidup yang baru saja kami dapatkan, juga rahasia-rahasia terbesar dalam hidup kami.

Sahabat saya yang lain telah saya kenal sejak masih belajar di sekolah menengah pertama. Komunikasi kami sempat terputus di kala ia menuntut ilmu di negeri luar, lalu terjalin kembali di saat kami sama-sama telah bekerja. Jalinan dialog jarak jauh yang terjalin di antara kami membuat saya belajar sangat banyak padanya. Tentang bagaimana menjadi orang yang berprinsip, menjadi wanita yang tegar, dan menjadi wanita yang fearless. Meski ia selalu menolak bahwa dia telah membimbing saya selama ini, saya tetap menganggap dia sebagai sesosok sahabat yang mengagumkan.

Beberapa teman dekat saya temui ketika terjun ke dunia olahraga. Dari mereka, ada seorang sahabat yang telah membantu saya untuk menjadi pribadi yang matang dan dewasa. Ia juga yang mengajarkan saya untuk tetap berharap dan menganggap sebuah mimpi adalah hal yang bukannya tak mungkin diraih. Meski sahabat itu sekarang telah berganti peran menjadi suami saya, saya tetap memandangnya sebagai seorang sahabat dalam setiap kesempatan. Karena berkat dia, dan juga sahabat-sahabat saya lainnya, saya jadi memahami bahwa persahabatan itu bagaikan mempertahankan keseimbangan dalam permainan ungkat-ungkit. Saya dan sahabat duduk di masing-masing tepinya, bersama dengan seluruh kebahagiaan maupun beban hidup kami. Dan yang bisa dilakukan agar ungkat-ungkit itu tetap seimbang adalah dengan saling membagi beban maupun kebahagiaan yang ada dalam diri kita. Dengan begitu, persahabatan pun akan menghasilkan satu "bobot" baru: yaitu kebahagiaan yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Dan ungkat-ungkit itu akan tetap seimbang. ***

Mungkinkah Kita Tertib?

Freitag, Juni 24, 2005
Di suatu media, mantan gubernur Jakarta, Ali Sadikin, pernah berkata bahwa masyarakat kita memang sulit untuk tertib. Hal ini bisa kita lihat sendiri kenyataannya di jalan-jalan raya. Bus-bus sering mengambil penumpang dari sembarang tempat. Kadang juga berhenti di tengah jalan, di lajur kedua, untuk menurunkan penumpangnya. Kalau mencari siapa biang gara-gara dari fenomena ini, sebenarnya kedua belah pihaklah yang harus dipersalahkan. Bus tak akan mengambil penumpang dari sembarang tempat, jika penumpang selalu tertib menunggu di halte bus. Sebaliknya, penumpang juga tak akan menunggu sembarang tempat, kalau bus dengan tertibnya hanya mengambil penumpang di halte.

Mencari dasar mengapa masyarakat kita sulit untuk tertib memang agak rumit. Kadang saya berpikir, tidak tertibnya masyarakat seperti merupakan sebuah bentuk pembangkangan terhadap kekuasaan atau aturan. Dengan bertolak dari kenyataan bahwa masyarakat kita dulunya berasal dari sistem budaya feodal, bagi saya pemikiran itu beralasan. Feodalisme di negeri kita di masa silam, yang diterjemahkan melalui hubungan antara seorang raja dan rakyatnya, hubungan tuan tanah dan penyewa tanah, dan beberapa bentuk hubungan vertikal lainnya, membuat mereka yang di bawah merasa tertekan. Datangnya hawa demokrasi di negeri ini membuat rakyat pun salah kaprah. Mereka selalu mengasosiasikan demokrasi dengan kebebasan, tapi dalam bentuk amat harafiah. Salah satunya adalah dengan menolak aturan yang dianggap mengekang. Kenapa kita harus menunggu di halte? Di pinggir jalan boleh juga, 'kan? Bagi mereka, ini adalah demokrasi, kebebasan. Tapi apa benar begitu?

Hal kedua yang juga membuat masyarakat kita sulit untuk tertib menurut saya adalah tak adanya role model, suri tauladan. Bagaimana seorang supir bus akan tertib, kalau polisi sebagai penegak hukum tak bisa menegakkan disiplin secara konsisten? Berapa kali kita menilai polisi yang sedang berdiri di tepi jalan sebagai fenomena "sedang cari mangsa karena sudah tanggal tua dan harus setoran" dan bukannya untuk menegakkan aturan? Tak sedikit dari kita juga yang menganggap bahwa supir ugal-ugalan tak akan pernah bisa dibasmi, karena setiap kali ditilang mereka tak pernah lupa menyelipkan "uang damai" ke kantong polisi. Belum lagi dengan para polisi yang dengan santainya melanggar lampu merah, tidak pernah pakai sabuk pengaman, dan memasuki jalan bertanda dilarang masuk. Kalau si pembuat aturan saja tak bisa mematuhi peraturan yang ia buat, bagaimana dengan mereka yang harus mematuhi peraturan itu?

Kesimpulannya, harus ada hubungan yang timbal balik. Jika bus kota tertib, penumpang pun akan tertib. Jika penumpang tertib, bus kota juga akan tertib. Kalau mau bus kota dan penumpang tertib, penegak hukum juga harus tertib (plus konsisten). Kalau mau polisi tertib, menegakkan hukum dan tak terima suap, semua yang berada dalam lingkup kerjanya juga harus tertib. Menurut saya, pelaksanaan ketertiban itu berputar seperti sebuah lingkaran. Satu tak tertib, semua bisa berantakan. Jadi, mungkinkah kita tertib? Anda bisa menjawabnya sendiri! ***

Perlukah Sebuah Kebanggaan?

Donnerstag, Juni 23, 2005
Suami saya dulu sempat jadi atlet. Dalam timnya sendiri, dia dipandang sebagai sosok yang penuh kharisma, terutama saat berada di lapangan. Meski sudah jarang berlatih, setiap kali ada kompetisi penting ia tak pernah tidak di-SMS. "Kalau tak ada suamimu, permainan tim bisa berantakan," kata sahabat saya, yang merupakan anggota tim suami, pada saya suatu ketika. Sahabat saya ini bahkan tak segan menjuluki suami saya sebagai "Sang Jenderal". Harus saya akui, julukan ini memang tak salah. Saya sendiri sebagai orang yang selalu berinteraksi dengannya setiap hari, melihatnya sebagai sosok yang taktis dan penuh strategi. Dan saat bertanding di lapangan, cara pikirnya ini juga terbawa. Karenanya, pujian terhadap suami saya ini selalu saya tanggapi dengan, "Tak usah kamu, saya pun selalu terpesona saat melihatnya bermain.". Saat suami sedang berlaga di sebuah kompetisi, terus terang saya selalu menontonnya dengan rasa bangga. Ketika seorang pemain junior berkata, "Wah, hebat sekali teknik permainannya!", rasa bangga itu makin membuncah. Selain suami saya yang punya saya sebagai pemuja fanatik, sahabat saya tadi ternyata juga punya pengagum, yang tak lain adalah pacarnya sendiri. "Si dia selalu berkata bahwa dia menikmati permainan saya," katanya suatu waktu pada saya. Dan sahabat saya itu bangga memiliki kekasih yang mengaguminya, terlepas dari seperti apa sebenarnya kualitas permainannya.

Perenungan tentang siapa mengagumi siapa ini akhirnya menghasilkan suatu pertanyaan sendiri bagi benak saya. Apakah setiap orang perlu memiliki sebuah kebanggaan dalam hidupnya? Menurut saya, iya. Suatu kebanggaan dalam hidup ini membuat seseorang jadi lebih semangat dalam menjalani hari-harinya. Kebanggaan karena memiliki posisi strategis di kantor membuat seseorang semakin rajin bekerja. Kebanggaan memiliki suami yang ganteng membuat seorang wanita mungkin gemar memamerkan fotonya di hadapan teman-temannya. Kebanggaan baru punya mobil baru bisa membuat seorang mengendarainya ke mana-mana. Mungkin juga ia akan mengajak semua tetangganya untuk ikut merasakan kenyamanan mobil itu (jadi ingat satu iklan jadi pemenang hadiah dari satu bank).

Namun masalahnya sekarang adalah: bagaimana menyikapi suatu kebanggaan. Apakah perlu sebuah kebanggaan kemudian membuat Anda jadi terlalu memandang tinggi hidup Anda, sampai-sampai Anda lupa apa arti kata "rendah hati"? Mengajak beberapa sahabat mencoba mobil baru Anda, itu sah-sah saja. Tapi menjadikan topik "Tahukah kamu berapa harga mobil saya itu? Dua ratus juta!" sebagai bahan pembicaraan di segala kesempatan, itu bukan hal yang menandakan adanya unsur kebanggaan dalam hidup Anda, melainkan pameran kekayaan. Membanggakan seorang kekasih yang berhasil jadi orang terkenal di negeri ini karena prestasinya yang cemerlang, boleh-boleh saja. Tapi tetap berjalan dengan gambaran hebat yang bertengger di benak Anda tanpa peduli sang kekasih sedang mengalami masa-masa buruknya dan butuh uluran tangan Anda (dan Anda bukannya memberikan tapi malah pasif dan hidup dalam khayalan hebat itu), itu bukanlah sebuah kebanggaan lagi namanya. Itu namanya melarikan diri dari kenyataan. Definisi sebuah kebanggaan ternyata memang beda-beda tipis dengan rasa tinggi hati dan eskapisme. Menurut saya, cara terbaik menyikap suatu kebanggaan adalah dengan melontarkannya di saat yang tepat. Tidak di setiap saat dan setiap waktu, sehingga orang lain mulai lelah mendengarnya dan pada akhirnya menganggap Anda begitu pamer dan tinggi hati.

Punya kebanggaan memang amat penting. Belajar menyikapi suatu kebanggaan adalah masalah yang lebih penting. Dan yang paling penting lagi menurut saya, adalah berusaha agar tak terjebak dalam kebanggaan semu. Seperti seorang yang saya tahu, berjalan ke sana-ke mari untuk membanggakan "jabatan" barunya sebagai penanggung jawab situs perusahaan, tanpa menyadari bahwa penunjukkannya di posisi itu tak lain adalah sebuah skenario untuk menyingkirkannya dari jajaran penulis. Atau, seorang yang menuturkan dengan bangga pada semua orang tentang informasi terbaru yang ia miliki, seakan-akan dialah orang pertama yang tahu, padahal ternyata semua orang telah mengetahui berita tersebut. Jangan sampai Anda terjebak dalam kebanggaan semu seperti ini... ***

My Books-to-Read List

Dienstag, Juni 21, 2005
Setelah punya anak, membaca menjadi satu kegiatan yang cukup mahal buat saya. Di tahun pertama usia anak saya, saya sempat sangat kewalahan membagi waktu antara bekerja, mengurus anak, menjalani aktivitas pribadi seperti membaca dan menulis. Jika dulu saya bisa punya waktu membaca tak terbatas, setelah punya anak saya sudah bersyukur jika bisa melewatkan setengah jam saja untuk membaca buku.

Sementara itu, saya tetap bisa rutin membeli buku di setiap bulannya. Terkadang, beberapa teman yang baik hati juga memberikan hadiah buku untuk saya, yang jelas saya terima dengan perasaan sukacita. Alhasil, buku-buku yang belum sempat terbaca dan masih dalam bungkusnya itu bertumpuk di kamar. Dan setiap kali melihatnya, saya sedih sekali. Coba Anda bayangkan, saya mendapat hadiah buku berjudul Vita Brevis sekitar bulan April lalu. Ketika itu, buku karangan Jostein Gaarder ini, pengarang favorit saya, sedang booming. Saya sempat membaca beberapa paragraf awal di buku tersebut. Tapi sampai sekarang, saya masih belum menikmati isinya. Begitu juga yang terjadi pada buku-buku lainnya.

Ada beberapa strategi yang akhirnya saya lancarkan, agar saya masih bisa membaca. Mencuri waktu di kala anak saya tidur siang, misalnya. Atau menunggu setelah dia tidur di malam hari. Terkadang saya membaca buku sambil makan siang, ketika teman makan siang saya di kantor sedang tak bisa menemani. Atau, meluangkan waktu selepas jam kantor, sambil menunggu waktu pulang. Tak jarang saya membaca di mobil, di saat sedang menunggu lampu merah. Lebih senang lagi kalau bisa berangkat ke kantor bareng suami, karena dia yang menyetir dan saya bisa membaca sepanjang perjalanan.

Hal terakhir yang saya lakukan adalah membuat daftar buku yang harus saya baca sebagai pemacu motivasi. Jadi, di saat saya akhirnya berhasil menyelesaikan satu buku, saya akan mencoret judul buku tersebut dari daftar saya. Efeknya secara psikologis cukup ampuh. Sebab, semakin banyak buku yang bisa saya coret, saya pun jadi semakin termotivasi untuk membaca. Jumlah buku itu memang terus bertambah, tapi yang penting ada perkembangan.

Berikut ini adalah daftar buku saya saat ini. Pastinya secara rutin saya akan meng-update-nya! Apakah Anda tertarik juga membaca buku yang saya baca? Atau punya rekomendasi buku bagus? Klik bagian komentar atau kirim e-mail ke saya! ***

My Books-to-Read List
(yang sudah berhasil saya baca saya coret)

  • Agatha Christie: Death in the Clouds

  • Agatha Christie: Man in the Brown Suit

  • Agatha Christie: Lord Edgware Dies

  • Agatha Christie: The Clocks

  • Agatha Christie:Caribbean Mystery

  • Agatha Christie:The Mysterious Mr. Quinn

  • Agatha Christie: At Bertram's Hotel

  • Agatha Christie: By the Pricking of My Thumb

  • Jostein Gaarder:Vita Brevis

  • Nadine Gordimer:Writing and Being

  • Yann Mattel: Life of Pi

  • Jostein Gaarder:The Orange Girl

  • Lulu Wang:The Lily Theater

  • Torey Hayden: Mereka Bukan Anakku

  • Torey Hayden: Venus

  • Torey Hayden: Sheila

  • Etty Indriati: Cokelat Postmortem

  • Herman Hesse: Siddharta

  • Kolaborasi: Puing, Novel Kolaborasi

  • Kenzaburo Oe: Jeritan Lirih

  • Kristine Carlson: Don't Sweat the Small Stuff for Women

  • Sigmund Freud: Interpretation of Dream

  • Allan & Barbara Pease: The Definitive Book of Body Language

  • Tony Buzan: The Power of Verbal Intelligence

  • T.A. Tatag Utomo: Renungan Sikap Mental Karyawan Perusahaan I

  • T.A. Tatag Utomo: Renungan Sikap Mental Karyawan Perusahaan II

  • Thomas Armstrong: Setiap Anak Cerdas!

  • John Gottman, Ph.D, Joan de Claire: Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional

  • Alfons Sebatu: Psikologi Jung: Aspek Wanita Dalam Kepribadian Manusia

  • Zaenal Arifin, Mustakim: Bahasa Indonesia Bagi Sekretaris

  • Romo Sandyawan: Melawan Stigma Melalui Pendidikan Alternatif

  • Dale Carnegie: How to Win Friends and Influence People

  • Steven Covey: The 8th Habit

Wieder Gefunden! (alias: Ketemu Lagi!)

Montag, Juni 20, 2005

Hari ini saya kembali "bertemu" dengan masa lalu. Secara tak sengaja, di saat saya sedang berkirim SMS dengan seorang sahabat, saya teringat bahwa saya dulu pernah punya satu situs bersamanya. Di situs itu, kami bisa mengirim posting tentang apa yang kami pikirkan. Yah, seperti berdialog begitu. Di masa kini, situs itu dikenal dengan nama weblog. Di masa lalu, kami tak paham dengan istilah tersebut, dan hanya menyebutkan nama situsnya sebagai sebuah pengganti istilah blog tersebut. Dengan deg-degan, saya mencoba mengetik URL situs, eh maksudnya weblog, tersebut. Dan sungguh mengharukan, ternyata weblog saya dan sahabat saya itu masih ada. Buru-burulah saya berkirim SMS lagi padanya, berkata "Hei, ternyata Xanga (itulah nama sebutan kami sebelum zaman weblog) kita masih hidup! Ayo, kita isi lagi!". Di akhir pertukaran SMS, kami pun sepakat untuk kembali berkomunikasi dengan cara dulu (tapi dengan nama baru). Apalagi mengingat kami tak bisa terlalu sering bertemu akibat kesibukan masing-masing.



Kejutan kedua yang membuat saya kembali berseru "Wieder gefunden!" adalah saat saya dengan harap-harap cemas mencoba membuka situs lain yang dulu menyediakan semacam diary online untuk saya, yang saya set dengan mode privat agar tak bisa dibaca orang lain selain saya sendiri. Ternyata diary saya itu, yang diawali di tahun 2002 dan posting terakhirnya adalah tahun 2003, masih ada juga. Saya lalu membaca entry-nya satu demi satu, seakan kembali ke masa lalu. Ternyata catatan hidup saya tidak hilang di kurun waktu itu. Dan satu hal yang saya sadari saat membaca diary itu, ternyata saya (dulu lho!) bisa menulis dengan bahasa Inggris yang cukup lumayan (kalau boleh dibilang demikian). Saya lalu tertarik untuk kembali melanjutkannya. Padahal, saat ini saya sudah berhasil merekam catatan hidup saya dalam sebuah buku jurnal, dengan cara manual. Tak apalah, pikir saya. Jika sekarang ini teman-teman saya sering mengatakan orang yang gemar tampil di depan umum sebagai "banci tampil", lalu membuat julukan untuk teman saya yang gemar ikut lomba dengan "banci lomba", saya ini bisa dibilang "banci nulis" --kerjanya menulis terus, di mana saja dan kapan saja.



Di akhir kegembiraan saya ini, saya merenung. Apa makna yang bisa saya tarik dari dua kejadian yang membahagiakan ini? Yang bisa saya simpulkan: Pertemuan dengan masa lalu, apa pun bentuknya, sering kali memang menggembirakan. Meski misalnya yang kita jumpai itu adalah kenangan akan peristiwa yang buruk (seperti entry di diary saya yang menceritakan rasa sedih saya di masa lalu), tetap saja kita akan merasa senang. Senang karena kita telah berhasil melewatinya (apa pun hasilnya), senang karena kita telah berada di hari kini dan bisa memandang masa lalu lewat perspektif yang berbeda. Melihat masa lalu tidak selamanya buruk, menurut saya. Menurut Anda sendiri bagaimana? ***









Updated To-Do-List:

  • Membereskan ruang kerja.

  • Beli rak buku.

  • Cari kardus bekas

  • Beli komputer plus printer (lagi).

  • Beli memory stick, flash memory, or whatsoever.

  • Langganan Majalah TIME

  • Langganan National Geographic




Book Wish List

  • Change! Rheinald Kasali

  • Sejarah Tuhan Karen Armstrong

  • He's Just Not That Into You Greg Behrendt

  • Marketing in Venus Hermawan Kertajaya



Menata Ulang Hidup

Mittwoch, Juni 15, 2005
Suatu hari di beberapa minggu yang lalu saya awali dengan penuh semangat. Pasalnya, di benak saya sudah berkembang sebuah ide gemilang. Saya pun spontan mengatur strategi sehubungan dengan ide tersebut. Saya akan begini dan begitu. Lalu, siangnya saya chatting dengan seorang sahabat. Mencurahkan semua ide saya padanya, lalu meminta pendapatnya. Sahabat saya cuma bilang begini, "Boleh-boleh saja. Tapi yang penting elo harus fokus.".

Saya lalu terhenyak sejenak. Fokus. Persis! Itulah hal yang selama ini menjadi kekurangan utama saya. Dan jelas, jika saya mau hidup dengan lebih berkualitas, saya harus memperbaiki kekurangan yang satu ini. Dan yang saya lakukan pertama kali adalah menempelkan sebuah kata mutiara di dinding kubikel di depan meja kerja saya, supaya saya bisa melihatnya setiap hari dan meresapi maknanya. Kutipan yang saya tempelkan berbunyi demikian:


"Energy is the essence of life. Every day you decide how you're going to use it by knowing what you want and what it takes to reach that goal, and by maintaining focus." - Oprah Winfrey


Setelah itu, saya mencoba membuat jadwal rutin dalam keseharian. Dan di dalamnya saya masukkan satu item penting yang tak boleh saya lupakan: Doa pagi. Terus terang, saya malu juga, karena tak punya kebiasaan ini. Dulu sebelum punya anak saya terbiasa berdoa malam, tapi dengan adanya si kecil yang super aktif tak tentu jam tidurnya, otomatis saya pun lebih sering tertidur kelelahan ketimbang melewatkan beberapa menit untuk bercakap dengan Tuhan. Selain itu, saya membuat semacam to-do-list, yang akan membantu hidup saya jadi lebih fokus. Dan inilah to-do-list saya:

  • Membereskan ruang kerja selama kuliah dulu yang sempat dialihfungsikan oleh ibu saya menjadi ruang serba guna (baca: gudang).

  • Beli rak buku baru untuk menampung buku-buku saya yang selama ini hanya ditumpuk di atas meja karena tak kebagian tempat. Ini termasuk juga menata ulang perpustakaan pribadi.

  • Cari kardus bekas untuk menyimpan semua majalah yang sudah lama dan tak digunakan lagi. Yang jelas bukan majalah tempat saya bekerja dan beberapa majalah yang memang sengaja saya kumpulkan. Saya berniat menyumbangkannya jika ada yang berminat. Kebanyakan adalah majalah wanita edisi tahun 1990-an. Jika ada yang tertarik, hubungi saya. Tapi yang jelas, yang tertarik harus mengambilnya sendiri ke rumah saya atau bisa saja janjian dengan saya mau bertemu di mana.

  • Beli komputer plus printer (lagi). Komputer saya yang lama sudah jadi bangkai, kalau mengutip istilah ayah saya. Sisanya hanya sebuah monitor dan keyboard dalam kondisi yang masih bagus. Selama ini saya menggunakan laptop untuk mengetik, tapi laptop itu juga sudah dalam keadaan sekarat. Jadi, saya perlu beli CPU baru untuk menunjang aktivitas di rumah. Sekalian buat mengajari anak komputerlah!

  • Beli memory stick, flash memory, or whatsoever. Gila juga, saya mengaku bekerja di media dan punya aktivitas menulis, tapi selama ini tidak melengkapi diri dengan aksesori yang satu ini. Keterlaluan!

  • Berlangganan majalah. Apa hubungannya? Hubungannya adalah investasi untuk otak. Bagaimana saya bisa fokus kalau isi otak juga kosong. Masuk dalam daftar: National Geographic (padahal sudah dua bulan lalu saya mau langganan, mein Gott!), TIME. Sedang berpikir mau langganan Businessweek. Apa saja yang menarik perhatian saya pokoknya.

  • Tetap menimbun buku demi investasi. Hal yang satu ini tidak bisa tidak saya lakukan. Membaca sudah merupakan bagian hidup saya soalnya.



Beres-beres... beres-beres... repot juga melakukan hal ini kalau sudah punya anak dan harus bekerja di kantor pula. Entah kapan ya acara beres-beres ini selesai? Yang jelas, program menata ulang hidup harus berjalan terus. Dan itu sudah terwujud kok! (Gott sei dank!). Terima kasih untuk sahabat saya untuk pencerahannya! ***

Panduan Kosa Kata:
Mein Gott! = Ya Tuhan!
Gott sei dank! = Thank God!, puji Tuhan!

How Much Do We Care?

Freitag, Juni 10, 2005
Awal bulan Juni ini masyarakat diramaikan dengan sebuah berita mengejutkan. Seorang pemulung yang terpaksa menggendong anak perempuannya yang sudah meninggal tertangkap basah di saat menumpang kereta api. Ia dan satu anaknya lagi yang masih hidup hendak mencari tempat untuk menguburkan anak perempuannya yang meninggal karena serangan muntaber. Setelah ditangkap, pemulung ini dibawa ke polisi. Karena takut anaknya itu meninggal karena sebab-sebab tak wajar, mereka dibawa lagi ke rumah sakit. Setelah otopsi, sudahlah. Pemulung beserta dua anaknya, yang hidup dan yang meninggal, dilepas begitu saja.

Berita ini sungguh menyayat hati saya. Membayangkan sang bapak menggendong anaknya sepanjang perjalanan naik kereta api saja sudah membuat saya amat bersedih. Tapi yang membuat saya lebih sedih lagi adalah saat bapak itu dibawa ke kantor polisi, lalu dibawa ke rumah sakit, lalu setelahnya dibiarkan begitu saja. Pak Polisi, Anda punya mobil 'kan? Kenapa tidak Anda bantu bapak itu menguburkan anaknya? Pihak rumah sakit, Anda punya ambulans bukan? Kenapa tidak Anda bantu bapak itu menguburkan anaknya? Cerita bahwa pedagang di sekitar rumah sakit yang kasihan dan memberikan bantuan sekadarnya memang bisa melipur lara saya, memberitahu saya bahwa masih ada yang peduli akan orang yang dalam bencana. Tapi saya ingin tahu, apa yang dilakukan orang-orang lainnya yang berada di sana? Menonton sajakah? Tak bisakah mereka yang ada di sana merogoh kocek dan memberikan bantuan sekadarnya agar si bapak bisa menguburkan anaknya? Jangan cuma melihat dan berbisik-bisik saja! Itu tiada gunanya!

Membicarakan kepedulian terhadap rakyat kecil di negara ini memang bisa dibilang amat kompleks. Sedari dulu kala, saya pernah diajarkan bahwa kelebihan kita sebagai bangsa Indonesia adalah karena kita memiliki rasa kekeluargaan. Tapi ternyata untuk urusan kepedulian sosial, kita masih harus banyak belajar. Sering kali kita baru tergerak jika bencana yang terjadi di negara kita dalam skala besar. Tapi untuk masalah-masalah kemanusiaan yang kecil, yang notabene bertebaran di mana-mana, kita malah tak ambil pusing, kadang malah segera kabur sebelum dimintai bantuan. Entah karena apa. Apa karena jika kita menyumbang untuk Tsunami nama kita akan dipampang di televisi, sementara kalau kita menyumbang untuk orang-orang jalanan tak akan ada yang menanyakan nama kita?

Kemarin saya berdiskusi dengan suami. Saya bilang padanya, bahwa sebenarnya di undang-undang dasar pun tercantum bahwa orang-orang miskin dan terlantar adalah tanggung jawab negara. Ya termasuk pemulung yang anaknya meninggal itu. Tapi masalahnya, mungkin konsep negara yang ada dalam benak masyarakat kita adalah presiden beserta anak buah dan aparatnya. Sementara sebenarnya yang dimaksudkan dengan negara itu lebih tepatnya adalah seluruh masyarakat. Itu sebabnya saat mendengar kejadian yang dialami bapak pemulung tadi, kebanyakan orang lebih suka menggerutu, "Bagaimana, sih, Bapak Presiden, kenapa program pemberantasan kemiskinannya tak berjalan, jadi hal begini bisa kejadian?" ketimbang berpikir bahwa kemalangan itu merupakan tanggung jawabnya juga. Kita bisa saja menyalahkan pemerintah sebagai penentu kebijakan, tapi apalah artinya sebuah kebijakan bila orang-orang yang berkaitan dengannya -antara lain adalah masyarakat sendiri- tak mau berbuat apa-apa. Kita ini manusia, bukan robot. Kenapa kita harus menunggu aba-aba sebelum bergerak? Sejauh mana rasa kemanusiaan kita sebenarnya?

Kabar terakhir dari kisah tragis ini: si anak malang akhirnya berhasil dikuburkan setelah sang bapak kembali pulang ke daerah tempat ia pernah tinggal beberapa tahun lalu. Atas swadaya masyarakat sekitar sana, semua proses penghantaran jenazah ke penciptanya itu bisa terwujud. Syukurlah. Selain itu, beberapa hari kemudian saya sempat membaca e-mail, yang isinya meminta informasi alamat bapak pemulung itu. Pengirimnya berkata bahwa ia diminta atasannya untuk mencari keberadaan bapak pemulung itu, karena atasannya akan memberinya pekerjaan. Untuk kedua kalinya, syukurlah. Ternyata masih ada orang yang punya rasa kemanusiaan. Meskipun hanya segelintir dari masyarakat keseluruhan. Semoga saja di suatu hari nanti negeri kita yang besar ini akan lebih banyak dicurahi hawa kemanusiaan, sehingga kejadian yang dialami si pemulung tak perlu berulang. ***

Oh, Putri Indonesia!

Montag, Juni 06, 2005
Akhir bulan Mei kemarin, masyarakat sempat diterpa oleh polemik seputar keikutsertaan Putri Indonesia 2004, Artika Sari Dewi, ke kancah pemilihan Miss Universe 2005. Kehadiran seorang gadis yang di ajang bergengsi itu otomatis kehilangan nama dirinya dan lebih sering dipanggil "si Indonesia" ternyata tak lepas dari perdebatan.

Kontra terhadap partisipasi Putri Indonesia lagi-lagi tak lepas dari alasan tidak sesuai dengan adat istiadat timur dan beberapa pihak juga menilainya sebagai tindakan yang merendahkan martabat bangsa. Sebenarnya saya sudah lama mempertanyakan tentang alasan itu sendiri. Kenapa dianggap merendahkan martabat bangsa, jika kehadiran wakil negara kita justru akan membuat bangsa lain jadi mengakui potensi negara kita. Dan jika bicara soal kaidah agama, sang Putri Indonesia sendiri mengatakan bahwa selain dirinya, ada tiga negara muslim yang juga ikut, termasuk Turki.

Mari kita lepaskan semua pikiran yang terkungkung pola budaya ataupun lainnya. Mari kita bicara tentang nasionalisme, suatu hal yang selalu kita bangga-banggakan. Sebagai orang Indonesia, saya amat bangga melihat Artika melenggang di panggung Miss Universe bersama pesaingnya yang lain. Saya juga gembira melihat Artika begitu anggun di dalam balutan kebaya, dan dengan demikian seluruh dunia pun tahu itulah pakaian nasional Indonesia. Saya lebih terharu lagi kala Putri Indonesia diumumkan masuk ke dalam jajaran Top 15, menjadi satu-satunya orang Asia yang diakui sebagai 15 wanita tercantik sedunia. Di manakah wakil dari negara lain, seperti Jepang, yang secara ekonomi lebih mapan daripada negara kita? Di belakang sana. Tidak terpilih.

Meski tak terpilih dalam sepuluh besar, saya percaya keberadaan Putri Indonesia di kancah internasional itu telah memberi nuansa baru bagi alam pikir semua orang. Saya sebagai wanita Indonesia ikut berbangga diri. Entah bagaimana dengan mereka yang sebelumnya menentang kepergian Putri Indonesia itu. Saya juga tak terlalu mengikuti. Di akhir pemikiran, saya sempat berandai: Bila ternyata Putri Indonesia terpilih jadi Miss Universe, apakah mereka yang kontra masih akan menganggap gelarnya sebagai gelar yang merendahkan martabat? ***

Kualitas Sumber Daya Manusia Kita

Donnerstag, Juni 02, 2005
Sore kemarin, saat sedang asyik membaca e-mail, mata saya tertumbuk pada satu e-mail yang masuk ke milis bertajuk konsultasi karier. Sekelumit isinya adalah demikian:

"... Saya sekarang semakin heran dengan kualitas SDM yang ada di Jakarta, khususnya. (...) Saya dapat info dari teman saya yang bekerja di HRD (Human Resource Department, ed.) salah satu perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia, bahwa dia sudah berkali-kali mewawancarai kandidat untuk filled in posisi sebagai sekretaris, dan semua kandidatnya tidak ada yang bisa berbahasa Inggris dengan baik, bahkan so-so (biasa-biasa saja, ed.)pun tidak. Lalu beberapa hari lalu saya juga kebagian untuk mewawancarai kandidat dengan kualitas seperti itu. Bahkan saya kira lebih parah lagi, karena dia hanya berdiri ketawa-ketawa sementara saya berusaha men-translate omongan manager saya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pada akhirnya setelah manajer saya pergi dia kembali tertawa dan berkata "Saya ditolak, ya, Mbak?" Ih... beneran bikin kesel banget deh kandidat itu. (...) Dia itu adalah lulusan salah satu universitas negeri terbaik (...)."

E-mail ini segera dikomentari oleh para praktisi SDM yang menjadi anggota di milis itu. Rata-rata e-mail yang masuk berkesan sama seperti salah satu yang saya kutip berikut ini:

"...Saya sering kok ketemu sekretaris bahkan guru les bahasa Inggris yang... aduh... ga usah dibilangin ya. Kalau orang Indonesia menilai sih mungkin udah bagus. Tapi bahasa Inggris kan bukan bahasa kita, ya, jadi yang sebetulnya bisa menilai adalah si penutur asli. Pernah saya kerja di suatu perusahaan di mana salah satu manajernya adalah orang Norwegia (...). Sekretarisnya adalah lulusan S1 Sastra Inggris dari sebuah PTN. Menurut teman-teman si sekretaris, bahasa Inggrisnya dia udah OK banget. Tapi manajernya bilang ke saya "Saya ga berani kirim dia keluar negeri kecuali dia mau belajar bahasa Inggris lagi selama dua tahun." Hehe..."

Baru saja saya selesai membaca rentetan e-mail tersebut, seorang rekan di kantor berbicara dengan cukup kencang, "Dia (kala itu sedang membicarakan tentang sosok Robbie William, ed.) sih bukan cuma bad, tapi the baddest. He's the baddest boy!". Saya tersentak. Sepertinya saya tak pernah dengar kata " the baddest". Setahu saya, cuma ada kata bad dengan bentuk komparatif worse dan the worst. Agar lebih yakin, saya cek ke kamus dan bertanya lewat chatting ke seorang yang punya kemampuan bahasa Inggris jempolan. Hasilnya: Saya memang benar. Kata the baddest tak pernah ada dalam kamus bahasa Inggris versi negara mana pun juga. Saya jadi tambah geleng-geleng. Memang, betapa nelangsanya nasib SDM di Indonesia ini. Setidaknya, saya dapat contoh nyatanya di kantor ini.

Bicara kualitas SDM dalam hal berbahasa Inggris di Indonesia menurut saya tak bisa lepas dari membicarakan soal sistem pendidikan kita sendiri. Sejauh yang saya alami, mereka yang beruntung bisa mengenyam pendidikan di institusi pendidikan unggulan, seperti sekolah swasta ternama atau sekolah negeri papan atas, adalah mereka yang setidaknya bisa cas-cis-cus dengan lebih baik. Tapi tak bisa dipukul rata bahwa semua orang yang pernah bersekolah di institusi berkategori yang telah saya sebut tadi pastinya akan punya kemampuan bahasa Inggris yang baik. Tergantung gurunya juga. Apakah dia bisa memberikan pelajaran bahasa Inggris dengan pondasi yang mantap. Banyak sekali guru-guru Bahasa yang tak cukup kompeten untuk mengajarkan bahasa dan hanya berpanduan pada buku teks pegangan saja. Semisal sang murid bertanya "Kenapa di kalimat ini kita harus memakai past tense?", sang guru bisa saja menjawab, "Pokoknya memang harus pakai itu.", tanpa menjelaskan secara logis apa alasannya.

Yang juga sungguh menyedihkan, negara kita ini rupa-rupanya seperti agak lupa betapa pentingnya pengajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dan perguruan tinggi, karena lebih mengedepankan materi pelajaran eksakta dan sains. Bahasa Inggris kurang mendapat tempat dibandingkan Matematika, Fisika, dan Biologi. Bisa dipahami, karena menurut saya itu memang gejala pola pikir sebuah negara yang sedang berkembang. Keinginan untuk mengejar ketinggalan di bidang-bidang sains dan teknologi membuat bobot pelajaran yang berkaitan dengan bidang itu menjadi lebih tinggi daripada pelajaran bahasa Inggris (padahal, jelas-jelas kita sudah ketinggalan jauh. Jadi, mau sampai kapan dikejar pun tak akan sampai). Otomatis, besarnya sarana yang diberikan oleh berbagai instansi, seperti misalnya pemerintah, akan lebih besar untuk ilmu sains dan teknologi daripada memberikan bantuan demi pengembangan pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah maupun di tingkat perguruan tinggi.

Dampak lebih jauhnya bagi para orang tua, jelas lebih membanggakan bila anak mereka lulus dengan nilai Fisika sembilan di rapor, ketimbang nilai yang sama untuk Bahasa Inggris. Lebih gengsi untuk memberitahu orang-orang yang mereka kenal bahwa anaknya kuliah di fakultas teknik ketimbang berkata anaknya tengah menuntut ilmu sastra Inggris. Hal ini juga bisa jadi sebab kenapa lulusan Sastra Inggris tak punya kualifikasi yang memuaskan dalam bahasa Inggris. Karena, pertama, bisa jadi mereka terpaksa kuliah di sana karena kemampuannya tak cukup untuk kuliah di bidang sains dan teknologi, tapi mereka tetap berusaha mencari jalan agar bisa mengantongi ijazah sarjana. Kedua, bisa jadi mereka berminat akan Sastra Inggris, tapi kembali lagi sarana pendidikannya begitu minim.

Hal selanjutnya yang menurut saya membuat kualitas bahasa Inggris SDM kita cukup lemah adalah karena bahasa Inggris itu sendiri bukan bahasa yang mudah untuk dipelajari. Mempelajari sebuah bahasa asing itu sulit, terlebih jika rumpun bahasanya begitu jauh. Terlepas dari bagaimana metode pengajaran bahasa asing di negara-negara barat, seorang Jerman lebih mudah mempelajari bahasa Inggris, karena rumpun bahasa Jerman dan Inggris masih dalam keluarga yang sama, yaitu Germania (tolong koreksi saya jika keliru). Begitu juga dengan orang Norwegia --merujuk kembali ke e-mail yang saya kutip di atas-- karena rumpun bahasa Skandinavia sebenarnya tak begitu jauh berbeda dengan rumpun bahasa Germania. Kesamaan akar rumpun membuat komposisi struktur kalimat antara bahasa Inggris dan Jerman (ambil contoh) jadi hampir sama. Juga dalam hal konsep Kala atau Tenses dalam bahasa Inggrisnya. Dengan akar rumpun bahasa yang begitu jauh berbeda dan tak adanya konsep Kala dalam bahasa Indonesia, sudah jelaslah masyarakat kita akan lebih sulit untuk lihai berbahasa Inggris.

Orang- orang yang fasih berbahasa Inggris dengan baik dan benar sejauh pengamatan saya adalah mereka yang pernah tinggal dalam jangka waktu cukup lama di negara berbahasa Inggris. Penyebabnya tak lain karena mereka sehari-hari memang terus memakai bahasa tersebut. Tak cuma itu, mereka juga punya konsep berpikir dalam bahasa Inggris. Jika Anda mengaku bisa berbahasa Inggris dengan fasih tapi tetap berpikir dalam bahasa Indonesia, apalagi sebelum berbicara selalu menerjemahkan buah pikiran bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris untuk kemudian dituturkan, Anda belum fasih berbahasa Inggris. Di lapisan kedua, orang-orang yang bisa dibilang fasih berbahasa Inggris adalah orang yang memang sering mempraktikkannya pada (mohon catat!) orang yang tepat. Melatih bahasa Inggris sesama orang Indonesia atau orang Singapura yang sering dibilang berbahasa Sing-lish (Singaporean English) menurut saya sama saja tak akan memperbaiki kualitas bahasa Inggris kita.

Perbaikan kualitas SDM tak bisa dicapai dalam waktu satu-dua tahun, melainkan harus melalui beberapa dekade yang panjang. Kalau boleh berpikir positif, seharusnya kita di masa kini sedikit bangga karena setidaknya kita lebih "melek" bahasa Inggris daripada generasi orang tua kita sebelumnya. Dan jika melihat bahwa di generasi anak-anak kita sekarang pengajaran bahasa Inggris mulai lebih baik (antara lain dengan adanya sekolah-sekolah yang mengharuskan muridnya berbicara bahasa Inggris kala menuntut ilmu), saya kira beberapa dekade mendatang kita boleh sedikit berpuas hati akan kualitas bahasa Inggris SDM kita. Tapi sekali lagi, perubahan itu butuh waktu yang panjang. Maka bersabarlah menunggunya. ***