Sore kemarin, saat sedang asyik membaca e-mail, mata saya tertumbuk pada satu e-mail yang masuk ke milis bertajuk konsultasi karier. Sekelumit isinya adalah demikian:
"... Saya sekarang semakin heran dengan kualitas SDM yang ada di Jakarta, khususnya. (...) Saya dapat info dari teman saya yang bekerja di HRD (Human Resource Department, ed.
) salah satu perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia, bahwa dia sudah berkali-kali mewawancarai kandidat untuk filled in posisi sebagai sekretaris, dan semua kandidatnya tidak ada yang bisa berbahasa Inggris dengan baik, bahkan so-so (biasa-biasa saja, ed.
)pun tidak. Lalu beberapa hari lalu saya juga kebagian untuk mewawancarai kandidat dengan kualitas seperti itu. Bahkan saya kira lebih parah lagi, karena dia hanya berdiri ketawa-ketawa sementara saya berusaha men-translate
omongan manager saya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pada akhirnya setelah manajer saya pergi dia kembali tertawa dan berkata "Saya ditolak, ya, Mbak?" Ih... beneran bikin kesel banget deh kandidat itu. (...) Dia itu adalah lulusan salah satu universitas negeri terbaik (...)."E-mail ini segera dikomentari oleh para praktisi SDM yang menjadi anggota di milis itu. Rata-rata e-mail yang masuk berkesan sama seperti salah satu yang saya kutip berikut ini:
"...Saya sering kok ketemu sekretaris bahkan guru les bahasa Inggris yang... aduh... ga usah dibilangin ya. Kalau orang Indonesia menilai sih mungkin udah bagus. Tapi bahasa Inggris kan bukan bahasa kita, ya, jadi yang sebetulnya bisa menilai adalah si penutur asli. Pernah saya kerja di suatu perusahaan di mana salah satu manajernya adalah orang Norwegia (...). Sekretarisnya adalah lulusan S1 Sastra Inggris dari sebuah PTN. Menurut teman-teman si sekretaris, bahasa Inggrisnya dia udah OK banget. Tapi manajernya bilang ke saya "Saya ga berani kirim dia keluar negeri kecuali dia mau belajar bahasa Inggris lagi selama dua tahun." Hehe..."Baru saja saya selesai membaca rentetan e-mail tersebut, seorang rekan di kantor berbicara dengan cukup kencang, "Dia (
kala itu sedang membicarakan tentang sosok Robbie William, ed.) sih bukan cuma
bad, tapi
the baddest. He's the baddest boy!". Saya tersentak. Sepertinya saya tak pernah dengar kata "
the baddest". Setahu saya, cuma ada kata
bad dengan bentuk komparatif
worse dan
the worst. Agar lebih yakin, saya cek ke kamus dan bertanya lewat chatting ke seorang yang punya kemampuan bahasa Inggris jempolan. Hasilnya: Saya memang benar. Kata
the baddest tak pernah ada dalam kamus bahasa Inggris versi negara mana pun juga. Saya jadi tambah geleng-geleng. Memang, betapa nelangsanya nasib SDM di Indonesia ini. Setidaknya, saya dapat contoh nyatanya di kantor ini.
Bicara kualitas SDM dalam hal berbahasa Inggris di Indonesia menurut saya tak bisa lepas dari membicarakan soal sistem pendidikan kita sendiri. Sejauh yang saya alami, mereka yang beruntung bisa mengenyam pendidikan di institusi pendidikan unggulan, seperti sekolah swasta ternama atau sekolah negeri papan atas, adalah mereka yang setidaknya bisa cas-cis-cus dengan lebih baik. Tapi tak bisa dipukul rata bahwa semua orang yang pernah bersekolah di institusi berkategori yang telah saya sebut tadi pastinya akan punya kemampuan bahasa Inggris yang baik. Tergantung gurunya juga. Apakah dia bisa memberikan pelajaran bahasa Inggris dengan pondasi yang mantap. Banyak sekali guru-guru Bahasa yang tak cukup kompeten untuk mengajarkan bahasa dan hanya berpanduan pada buku teks pegangan saja. Semisal sang murid bertanya "Kenapa di kalimat ini kita harus memakai
past tense?", sang guru bisa saja menjawab, "Pokoknya memang harus pakai itu.", tanpa menjelaskan secara logis apa alasannya.
Yang juga sungguh menyedihkan, negara kita ini rupa-rupanya seperti agak lupa betapa pentingnya pengajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dan perguruan tinggi, karena lebih mengedepankan materi pelajaran eksakta dan sains. Bahasa Inggris kurang mendapat tempat dibandingkan Matematika, Fisika, dan Biologi. Bisa dipahami, karena menurut saya itu memang gejala pola pikir sebuah negara yang sedang berkembang. Keinginan untuk mengejar ketinggalan di bidang-bidang sains dan teknologi membuat bobot pelajaran yang berkaitan dengan bidang itu menjadi lebih tinggi daripada pelajaran bahasa Inggris (padahal, jelas-jelas kita sudah ketinggalan jauh. Jadi, mau sampai kapan dikejar pun tak akan sampai). Otomatis, besarnya sarana yang diberikan oleh berbagai instansi, seperti misalnya pemerintah, akan lebih besar untuk ilmu sains dan teknologi daripada memberikan bantuan demi pengembangan pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah maupun di tingkat perguruan tinggi.
Dampak lebih jauhnya bagi para orang tua, jelas lebih membanggakan bila anak mereka lulus dengan nilai Fisika sembilan di rapor, ketimbang nilai yang sama untuk Bahasa Inggris. Lebih gengsi untuk memberitahu orang-orang yang mereka kenal bahwa anaknya kuliah di fakultas teknik ketimbang berkata anaknya tengah menuntut ilmu sastra Inggris. Hal ini juga bisa jadi sebab kenapa lulusan Sastra Inggris tak punya kualifikasi yang memuaskan dalam bahasa Inggris. Karena, pertama, bisa jadi mereka terpaksa kuliah di sana karena kemampuannya tak cukup untuk kuliah di bidang sains dan teknologi, tapi mereka tetap berusaha mencari jalan agar bisa mengantongi ijazah sarjana. Kedua, bisa jadi mereka berminat akan Sastra Inggris, tapi kembali lagi sarana pendidikannya begitu minim.
Hal selanjutnya yang menurut saya membuat kualitas bahasa Inggris SDM kita cukup lemah adalah karena bahasa Inggris itu sendiri bukan bahasa yang mudah untuk dipelajari. Mempelajari sebuah bahasa asing itu sulit, terlebih jika rumpun bahasanya begitu jauh. Terlepas dari bagaimana metode pengajaran bahasa asing di negara-negara barat, seorang Jerman lebih mudah mempelajari bahasa Inggris, karena rumpun bahasa Jerman dan Inggris masih dalam keluarga yang sama, yaitu Germania (tolong koreksi saya jika keliru). Begitu juga dengan orang Norwegia --merujuk kembali ke e-mail yang saya kutip di atas-- karena rumpun bahasa Skandinavia sebenarnya tak begitu jauh berbeda dengan rumpun bahasa Germania. Kesamaan akar rumpun membuat komposisi struktur kalimat antara bahasa Inggris dan Jerman (ambil contoh) jadi hampir sama. Juga dalam hal konsep Kala atau
Tenses dalam bahasa Inggrisnya. Dengan akar rumpun bahasa yang begitu jauh berbeda dan tak adanya konsep Kala dalam bahasa Indonesia, sudah jelaslah masyarakat kita akan lebih sulit untuk lihai berbahasa Inggris.
Orang- orang yang fasih berbahasa Inggris dengan baik dan benar sejauh pengamatan saya adalah mereka yang pernah tinggal dalam jangka waktu cukup lama di negara berbahasa Inggris. Penyebabnya tak lain karena mereka sehari-hari memang terus memakai bahasa tersebut. Tak cuma itu, mereka juga punya konsep berpikir dalam bahasa Inggris. Jika Anda mengaku bisa berbahasa Inggris dengan fasih tapi tetap berpikir dalam bahasa Indonesia, apalagi sebelum berbicara selalu menerjemahkan buah pikiran bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris untuk kemudian dituturkan, Anda belum fasih berbahasa Inggris. Di lapisan kedua, orang-orang yang bisa dibilang fasih berbahasa Inggris adalah orang yang memang sering mempraktikkannya pada (mohon catat!) orang yang tepat. Melatih bahasa Inggris sesama orang Indonesia atau orang Singapura yang sering dibilang berbahasa
Sing-lish (Singaporean English) menurut saya sama saja tak akan memperbaiki kualitas bahasa Inggris kita.
Perbaikan kualitas SDM tak bisa dicapai dalam waktu satu-dua tahun, melainkan harus melalui beberapa dekade yang panjang. Kalau boleh berpikir positif, seharusnya kita di masa kini sedikit bangga karena setidaknya kita lebih "melek" bahasa Inggris daripada generasi orang tua kita sebelumnya. Dan jika melihat bahwa di generasi anak-anak kita sekarang pengajaran bahasa Inggris mulai lebih baik (antara lain dengan adanya sekolah-sekolah yang mengharuskan muridnya berbicara bahasa Inggris kala menuntut ilmu), saya kira beberapa dekade mendatang kita boleh sedikit berpuas hati akan kualitas bahasa Inggris SDM kita. Tapi sekali lagi, perubahan itu butuh waktu yang panjang. Maka bersabarlah menunggunya. ***