<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Bebek Saja Ngantri!

Montag, Februar 28, 2005
Tahun lalu, saat sedang mengantri membeli tiket kereta api di Hannover, Jerman, saya mengalami satu peristiwa menarik. Ketika itu antrian membeli tiket sangat panjang. Untung saja tak begitu lelet seperti yang selalu terjadi di Indonesia. Sedang saya mengantri bersama yang lain, dari belakang ada dua orang pemuda, kira-kira seusia anak SMA, mendatangi setiap orang di lajur antrian satu persatu. Dengan bahasa yang amat sopan, mereka meminta izin untuk diperbolehkan menyelak. Pasalnya, mereka harus kembali ke kota asal mereka, sementara kereta terakhir datang beberapa menit lagi. Kepada saya yang jelas-jelas orang asing, mereka tetap berusaha menjelaskan dengan sopan dan dalam bahasa Inggris yang baik. Hal ini jelas-jelas menimbulkan kekaguman pada saya. Mereka anak usia belasan. Gaya berpakaiannya kalau di Indonesia bisa dikategorikan sebagai anak gaul. Tapi mereka masih bisa santun berbahasa.

Bagaimana dengan kota Jakarta ini? Saya ceritakan saja pengalaman saya akhir minggu lalu sebagai bahan pemikiran. Hari itu, menjelang makan siang, saya mengantri di depan ATM sebuah bank. Jumlah mesin ATM yang terdapat di tempat itu banyak, setidaknya ada 5. Sedang saya menunggu orang di depan saya, seorang laki-laki usia tigapuluhan berjalan mendekati orang di depan saya, lalu berbisik-bisik. Orang di depan saya pun minggir ke kiri. Lalu, pria itu memasukkan kartu ATM-nya dan bertransaksi. Saya pikir, dia akan mentransfer uang ke temannya yang di sebelah kiri. Ternyata setelah transaksi selesai, dia melenggang pergi, meninggalkan temannya sendiri. Dan temannya pun melanjutkan transaksi. Pria itu lalu mengantri di ATM sebelah saya, tanpa rasa bersalah sekali pun. Bahkan tak meminta maaf atau izin karena ingin duluan. Hari itu saya sedang berpantang, menahan emosi. Tapi melihat kejadian seperti ini saya jelas jengkel. Ingin rasanya saya hampiri pria itu dan berkata, "Hei, Mas. Situ enggak pernah sekolah ya? Enggak pernah diajarkan sopan santun di rumah? Bebek saja antri, tahu!" Tapi hari itu saya sedang berpantang.

Saya jadi berpikir-pikir. Selama ini saya mungkin terlalu permisif. Terlalu membiarkan orang-orang kurang ajar seperti itu. Padahal sisi lain dalam diri saya ingin langsung menampar orang-orang tak tahu diri seperti itu, tanpa pakai ba-bi-bu dulu. Jadi, saya pikir besok-besok lebih baik saya langsung menegur dengan keras, ketimbang melototi orang bermuka badak macam mas-mas kemarin itu. Meski mata saya bakal copot, orang itu toh tak akan merasa bersalah dan akan terus mengulangi tingkahnya yang mengesalkan itu. Iya tidak? ***

"Turun Mesin"

Montag, Februar 21, 2005
Hampir tiga minggu sudah saya mogok melanjutkan proyek besar saya. Dan selama tiga minggu itu saya lebih sering menyalahkan diri sendiri ataupun berniat untuk menyerah kalah, ketimbang mencoba berpikir dari perspektif yang berbeda. Sudah beberapa sahabat juga ketiban pulung saya jadikan sebagai tempat curhat. Meski mereka telah berusaha keras membesarkan hati saya dan saya menerima penghiburan mereka, jari-jari saya tak kunjung mau mengerjakan proyek itu.

Sebagai pengisi waktu luang, saya membaca. Setelah beberapa minggu membaca, saya baru menyadari bahwa dalam kurun waktu itu saya cukup produktif membaca. Biasanya satu buku baru bisa saya habiskan dalam satu bulan (karena sibuk bekerja, urus anak, urus suami, urus proyek sialan itu). Kini saya bahkan bisa baca 2 novel dalam seminggu. Memang, yang saya baca novel-novel remeh. Tapi saya menikmatinya.

Terakhir saya sempat kembali "nostalgia", menikmati buku tentang pandangan Kierkegaard. Sampai hari ini buku itu belum selesai saya baca. Namun, kehadiran buku itu ternyata berhasil membuat pikiran saya segar kembali. Entah kenapa. Saya sendiri belum terpikir untuk mengusutnya. Apa jangan-jangan filsafat ekstensialisme benar-benar sejalan dengan pandangan hidup saya? Ataukah aliran filsafat ini yang menjiwai proyek saya? Don't know lah....Yang jelas, setelah kegiatan membaca ini berjalan cukup lama, saya jadi teringat judul blog yang pernah saya tulis sebelumnya. Judulnya adalah "Isi Bensin" (lihat arsip Mei 2004). Kalau dipikir-pikir, sepertinya hal yang sekarang ini saya lakukan bukanlah isi bensin. Tapi lebih tepat disebut "turun mesin". Karena sebagaimana sebuah mobil mesinnya dikeluarkan untuk dibersihkan, kali ini saya membersihkan isi otak saya.

Kierkegaard berkata (setidaknya itulah yang saya pahami) bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang gelisah dan harus bergulat dengan dirinya sendiri. Bagi Kierkegaard, obyektivitas hanyalah omong kosong. Tak ada yang bersifat obyektif di dunia ini, sepanjang semua hal itu dipandang dari sudut pandang kita sendiri sebagai seorang subyek. Kebenaran pun pada akhirnya menjadi begitu relatif, karena semua itu juga dipandang secara subyektif.

Pandangan ini memberi inspirasi pada saya. Sebenarnya, tak ada orang yang bisa bilang kita salah atau benar. In my case, tak ada satu pun orang yang bisa bilang saya salah dalam mengerjakan proyek saya. Karena penilaian mereka pada akhirnya bertumpu pada subyektivitas diri. Karenanya, saya berkata pada diri sendiri, "Jangan dengar lagi apa kata orang, dengarkan kata hati.". Beberapa hari ke depan saya akan mulai mengerjakan proyek saya lagi. Untuk terakhir kalinya, tak mau revisi lagi. Diterima atau tidak, terserah. Lihat saja nanti. Doakan saya, ya!***

My Fearless Bestfriend

Dienstag, Februar 15, 2005
[Réquerdos de la Alhambra - Fráncisco Tarrega (1852-1909)]

Sepanjang sore ini saya merenung tentang seorang sahabat lama. Pertemuan saya terakhir dengannya terjadi sepuluh tahun yang lalu, kala kami lulus SMA. Surat terakhir darinya (ketika itu belum ada e-mail) saya terima sekitar sembilan tahun silam. Kira-kira setahun yang lalu kami mulai intens berkirim-kiriman e-mail lagi.

Pagi ini, sebuah e-mailnya menyebut tentang makna fearless. Dia bilang, alumni sekolah kami pastilah seorang fearless. Saya bilang, kamu mungkin iya, tapi saya tidak. Karena saat SMA dulu saya lebih tepat disebut anak manis daripada si pemberontak. Yah, macam dialah! Kemudian pembicaraan bergulir ke seorang pria yang kini mengisi hari-harinya. Cinta jarak jauh, katanya. Biasa saja. Tapi yang tak biasa adalah prianya. Sebelum makan siang, saya sempat membalas e-mailnya, bertanya siapa prianya, yang menurutnya adalah seorang figur publik. Sambil makan siang, saya mencoba mereka-reka. Kira-kira siapa, ya. Saat kembali ke kantor, saya membuka e-mailnya lagi dan membaca nama pria yang ia maksud. Saya terpana. Terperanjat. Kaget. Sepertinya nama itu tak asing bagi saya. Dan saya pun membalas e-mailnya. "Bukan yang itu 'kan?" tanya saya padanya. Jawabannya datang lewat telepon interlokal. Lalu kami pun berbincang selama hampir satu jam. "Yup, that's him!" katanya. Saya cuma bisa geleng-geleng. Kalau dibilang heran, sepertinya tidak. "It's so typical you!" ujar saya padanya. Justru saya tak bisa bayangkan jika dia pacaran dengan pria yang lebih "biasa". Karena dia sendiri bukan perempuan biasa. Dia luar biasa.

Dia menuturkan tindakan-tindakan nekad sang pacar. Saya bilang, "Benar kata papamu. Dia memang pria bernyali." Dan menurut saya pria itu serius. Hanya saja, keseriusan pria ini ujung-ujungnya bisa menghantarkan kedua pihak - teman saya dan si pria itu - pada masalah yang juga serius. Ironis, memang. But that's the truth. "Hati=hati sajalah," kata saya padanya. Dia cemas, saya tahu. Karena keputusannya untuk menjalin hubungan sama saja seperti bertaruh. Sambil mengharapkan yang terbaik untuknya, saya membayangkan ekspresi ayahnya saat mendapat kejutan dari si pacar. Hmm... pria itu memang bernyali... dan serius! (Dan sepertinya yang diperlukan sahabat saya memanglah orang seperti itu!)

[Adagio in G minor for Organ and Strings - Tomasso Albinoni (1671-1750)]***

Valentine is...

Montag, Februar 14, 2005
Bullshit.

Bertahun-tahun silam, kira-kira saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas empat atau lima, saya pernah membuat puisi tentang Valentine. Jangan minta saya menuliskan puisi itu di sini, karena buku puisi masa kanak-kanak itu sudah saya buang (dan sekarang saya menyesal setengah mati!). Yang saya ingat hanyalah intinya: saat hari Valentine tiba, semua orang bersukaria dan berpesta pora. Keesokan harinya, mereka tetap harus kembali ke rutinitasnya. Sekolah lagi! Puisi ini saya tulis karena saat itu merayakan Valentine sedang jadi tren baru di antara kaum muda.

Bukannya saya benci Valentine. Bukannya saya tak suka berpesta. Bukan juga saya iri atau sirik, atau dengki. Tapi sampai sekarang saya masih tak paham makna dari merayakan Valentine. Jujur saja, dulu saya rutin menghadiri pesta Valentine, baik yang diadakan oleh seorang murid sekolah yang kaya raya maupun atas prakarsa teman sekelas. Bahkan sempat dapat "jodoh" di pesta Valentine, seorang pria yang sampai sekarang saya masih tak pernah tahu mukanya seperti apa. Soalnya, perjodohan ini terjadi tiba-tiba saat MC menarik saya dan memasangkan dengan si pria itu, dan kala itu suasana pesta sedang temaram. Jelaslah, mana mungkin suasana Valentine yang romantis itu diiringi terang benderang lampu bak di stadion sepak bola? Karenanya, saya hanya punya kenangan sebatas nama si pria. Jauh dari itu, maaf saja.

Karena penasaran, saya pun iseng browsing, mencari berbagai informasi seputar hari yang satu ini. Beberapa di antaranya saya bagi di bawah ini.

  • Santo Valentine (di Indonesia dikenal juga dengan nama Valentinus) adalah seorang rohaniwan yang dihukum mati oleh Raja Claudius II, raja Roma. Sebabnya: Kala itu Claudius II melarang para pria muda menikah, karena menurutnya pria lajang lebih potensial untuk jadi prajurit. Valentine menentang hal ini, lalu nekat menikahkan secara diam-diam beberapa pasangan. Hal ini akhirnya terungkap oleh Claudius dan Valentine pun dihukum mati.

  • Versi lainnya menyebutkan, Valentine terbunuh karena menolong para orang Kristen yang ditangkap oleh Romawi untuk keluar dari penjara penyiksaan.

  • Menurut legenda lain, Valentine adalah seorang pria yang pertama kali mengirimkan surat penuh cinta pada seorang wanita. Di surat yang ditulis sebelum kematiannya (karena ia mendekam di penjara), Valentine menandatanganinya dengan tulisan "From your Valentine". Ungkapan ini masih sering dipakai di berbagai kartu Valetine zaman sekarang.

  • Versi berikutnya menyebutkan hari Valentine dirayakan sebagai awal musim semi. Valentine secara implisit dijadikan alat untuk "mengkristenisasikan" perayaan Lupercalia Festival, yang lazim dirayakan oleh kaum Pagan.



Masih banyak interpretasi yang berkaitan dengan hari Valentine. Semua tetap tak bisa membuat saya ingin merayakannya. Pertama, saya tak merasakan dampak langsung dari eksistensi St. Valentine. Kecuali kalau nama baptis saya Valentina, itu lain masalah. Kedua, di negeri ini tak ada musim semi. Ketiga, bukankah cinta selayaknya dirayakan setiap hari, bukan hanya di tanggal 14 Februari? Most of all, saya benci ritual. Cukup ritual agama saja yang harus saya jalani. Yang lain: no-no-no! Jadi, kalau Anda ingin merayakan Valentine, saya ucapkan "Happy Valentine". Sementara saya sendiri lebih memilih pulang ke rumah, main bersama anak, beres-beres kamar sesuai dengan anjuran seseorang, dan menutup hari ini dengan membaca buku tentang Kierkegaard dan pandangan eksistensialisnya. Schoener Feierabend!***

Men Are Condemned to be Free

Manusia dikutuk untuk bebas. Saya lupa kutipan ini berasal dari mana. Atau mungkin ini hanyalah hasil rekaan perenungan filosofis saya selama ini. Kutipan ini tiba-tiba melintas di benak saya, setelah selesai membaca buku "Dead Poets Society". Buku ini adalah sebuah novel yang ditulis berdasarkan film layar lebar berjudul sama. Filmnya sendiri sudah bertahun-tahun lalu saya nikmati. Di situs imdb.com film ini dimarka tahun 1989. Berarti saat saya masih seorang ABG yang belum bisa mendalami makna yang ingin disampaikan film ini, karena yang saya ingat saat itu hanyalah para pemeran pria yang begitu tampan (salah satunya Ethan Hawke). Juga hukuman dari kepala sekolah (di novel disebut Dean alias Dekan) yang bikin saya bergidik ngeri.

Lima belas tahun lewat setelah menonton film ini, saya menemukan bukunya di rak toko buku. Well, sebenarnya film ini cukup meninggalkan dampak mendalam di hati saya. Namun karena saat itu saya belum cukup umur, saya sendiri sering mempertanyakan kenapa film itu amat berkesan buat saya. Bak amnesia begitu! Tapi begitu saya membaca bukunya, saya pun kembali mengenang beberapa adegan-adegan yang begitu dramatis di film itu. Na ja, bisa jadi adegan itu hanyalah hasil rekaan saya belaka. Yang pasti, novel tersebut membantu saya mendapatkan ide utama film tersebut.

Film ini berkisah tentang kehidupan di sekolah berasrama, yang konon merupakan sekolah nomor satu di negeri itu. Semua murid wajib ikut aturan, yang dijabarkan sebagai empat pilar. Semua lulusan sekolah itu akan menjadi orang-orang unggulan di masyarakat. Orang paling pintar. Orang paling disegani. Karenanya, semua orang tua berharap anaknya bisa masuk sekolah itu dan belajar sebaik-baiknya, agar bisa jadi warga masyarakat pilihan di kemudian hari. Semua murid menuruti kehendak orang tua mereka dan menganggap kehendak itu sebagai kehendak mereka juga.

Kehidupan tanpa riak-riak itu berlangsung sampai hadirnya seorang guru bahasa Inggris bernama John Keating. Dengan caranya yang radikal, sang guru mengajak para muridnya untuk melihat makna hidup mereka sesungguhnya. Carpe Diem! Seize the day! adalah slogan yang acap dilontarkan oleh Keating. Pada beberapa orang, kata-kata ini bisa berbeda maknanya. Mulai dari yang terdangkal, yaitu mendapatkan wanita yang disenangi meski telah jadi milik pria lain, sampai ke yang lebih berarti, yaitu meraih cita-cita yang selama ini diidamkan. Dari yang terkonyol -mengganti nama jadi seorang Indian- sampai yang paling berat: melawan diri sendiri.

Yang saya suka dari film ini adalah endingnya. Tak seperti film Hollywood sekarang yang patuh pada permintaan penonton untuk menghadirkan akhiran yang membahagiakan, film ini berakhiran tragis. Pria yang paling tampan di film itu mati bunuh diri. Ethan Hawke yang berperan sebagai Todd Anderson, seorang anak yang hidupnya diatur oleh orang tuanya untuk menjadi seperti kakaknya, berani membangkang untuk membela sang guru tercinta yang telah memberi pencerahan pada dalam dirinya. Pembangkangan ini tak membawa hasil. Sang guru tetap harus angkat kaki dari sekolah itu. Bak sebuah kebenaran yang sering kali memang benar namun terlalu pahit untuk dicecap dan akhirnya ditolak mentah-mentah. Pada akhirnya ketaatan yang telah mendarahdaging di sekolah itu tak tergoyahkan, dan semua gelombang yang ditarikan oleh para anggota Dead Poets Society hanyalah riak-riak kecil di tengah samudra yang dalam.

Men are condemned to be free. Namun ternyata kutukan ini bagaikan singa tanpa gigi jika harus berhadapan dengan makhluk bernama Norma. Bukan Norma Yunita maksud saya. Tapi norma aturan kukuh yang telah digariskan secara turun-temurun oleh mereka yang kuat dan berkuasa. Dan mereka yang lemah tak lain adalah pion-pion malang yang dimainkan di papan catur kehidupan. Sewaktu-waktu mereka bisa dikorbankan, jika beruntung mereka bisa jadi penyelamat dunia. Sungguh tragis nasib kita. ***

Percakapan Dengan Diri Sendiri

Samstag, Februar 12, 2005
Tema: Apakah saya obsesif kompulsif?

+ Hi there...
- Hi juga. How's your day?
+ So la la. Sedikit frustrasi.
- Wie so? (=kenapa?)
+ Project gue enggak selesai-selesai juga. Setiap kali hampir selesai, pasti Dans dateng terus ngasih gue feedback yang bikin gue harus nge-review ulang semuanya lagi. Terus revisi lagi. Udah berapa kali polanya berulang.
- Bagus, 'kan, dapat masukan?
+ Bagus juga sih. Tapi lama-lama gue merasa seperti jadi orang yang obsesif kompulsif. Enggak pernah puas dengan apa yang gue kerjakan. Mengulang-ulang dalam pola yang sama. Padahal,...
- Padahal?
+ Padahal terus terang gue udah sangat muak. Gue udah capek. Tahu enggak, suatu hari gue sempet mau menamatkan semua perjuangan gue. Udah. Berhenti bekerja. Stop. Lupakan semua. Jalani aja rutinitas gue seperti biasa. Berhenti meraih mimpi. Mungkin emang gue enggak mampu untuk itu. Mungkin target gue terlalu tinggi...
- Nyerah? Begitu aja? Inget enggak, elo mau mengalahkan diri sendiri?
+ Inget. Tapi gue udah mau muntah. Setiap kali gue ngeliat kerjaan gue, berusaha untuk memulai lagi, gue langsung il-fil. Maybe I just need a break. Was meinst Du?
- Mungkin. Tapi bukankah dalam hati elo juga ada rasa khawatir kalau...
+ ... kalau seseorang akan mendahului gue. Iya. Makanya gue kok lama-lama jadi depresi. Udah enggak bisa mikir jernih. Kadang gue mau tutup kuping, enggak mau dengar komentar orang-orang lain lagi. Apa pun hasil kerja gue, terserah. Langsung gue kirim. Kalau enggak berhasil, ya udah. Kubur saja project itu dalam-dalam. Lalu coba lagi dengan yang lain. Bukannya terus-menerus mengulang pekerjaan yang sama, kayak orang gila. Do you think I'm an obsessive compulsive?
- You're not. But you're not a loser either.
+ Gue bukan pecundang. Dan gue bukan orang gila yang terus-terusan terperangkap di pola yang sama. Project itu udah ada di kepala gue sejak 1998, mein Gott!
- Kasih kesempatan terakhir. Revisi semua. Setelahnya tutup telinga. Terserah Dans mau bilang apa lagi.
+ Tul! Lagi pula, meski semua udah perfect di mata gue dan Dans, toh masih ada satu hakim lagi yang paling berkuasa, ya? Dan sebenarnya gue juga baru sepertiga jalan. Dus, sekarang gue mau ngerjain. Terakhir kali. Bener-bener terakhir kali.
- Zeer goed. Sudah siap?
+ Siap.
- Satu kata terakhir?
+ Scheisse!@#$%
- Lho?
+ Biar lega aja gitu.... ***

There are no strangers here...

Freitag, Februar 11, 2005
... only friends we haven't met.

Jika Anda pernah disebut sebagai anggota KUKSA UI (maaf, saya lupa kepanjangan persisnya apa) dan pernah berkunjung ke wisma SJ (maaf, bukan kepanjangan dari Sakit Jiwa), kalimat di atas pastilah tak asing. Sebenarnya sampai sekarang saya masih belum sepenuhnya memahami kalimat indah ini. Tapi tiba-tiba kalimat ini menghampiri benak saya ketika saya sedang memikirkan seputar pertemanan dengan rekan sekantor.

"Sebenarnya, saya tak punya sahabat di sini," tutur seorang teman kantor. Yah, saya pun begitu. Tepatnya hanya di sini, di kantor sekarang ini. Bukannya saya pilih-pilih teman, tapi sepertinya memang itulah yang terjadi. Di dunia kerja, semua orang yang sebelumnya kita anggap teman, bisa berbalik jadi musuh. Baik yang terang-terangan mendiamkan kita atau yang jadi duri dalam daging. Akhirnya saya hanya berpegang pada profesionalisme, memilih menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tak peduli dengan yang lain. Mungkin pengalaman saat bekerja di kantor sebelum yang sekarang yang bikin saya jadi tak percaya bisa ada persahabatan di dunia kerja. Tapi sejujurnya, ditikam dari belakang rasanya memang menyakitkan.

Namun, kalimat ini sempat amat nyata dalam hidup saya, ketika saya bekerja di biro iklan. Kala itu, saya hanya seorang perempuan dikeliling banyak lelaki. Seorang diri. Tapi saya senang sekali bekerja bersama mereka. Benar-benar merasakan susah senang bersama. Kala menjelang akhir bulan gaji menipis, kami sering berbagi remah-remah tempe goreng untuk teman makan nasi. Maklum, gaji kala bekerja di kantor itu tidak besar. Bagi sebagian teman, hanya cukup untuk makan seadanya dan transportasi. Kala klien sedang reseh, kami begadang bersama di kantor sampai tengah malam. Lalu pasang muka memelas saat bos lewat, supaya dibelikan nasi goreng kambing dekat kantor yang uenak buanget itu (dan biasanya taktik ini berhasil). Saat syuting program TV di Pondok Gede pun, kami pergi dan pulang bersama. Dan ketika perusahaan itu mulai menampakkan tanda-tanda bakal pailit, kami "cabut" bareng, pindah ke perusahaan lain bak "bedol desa". Dan akhirnya kami pun sama-sama jadi korban penipuan janji palsu dari seorang yang sakit jiwa. Kami berunding, menentukan langkah. Akhirnya kami sepakat memisahkan diri, masing-masing mencari pekerjaan lain. Tapi persahabatan kami masih terjalin sampai kini.

Akhir-akhir ini saya kangen berat dengan masa-masa persahabatan itu. Entah kenapa. Rasanya ingin kembali bersama mereka. Tentu saja tempatnya bukan seperti yang dulu. Dan kami kembali saling usil seperti dulu. Membohongi teman yang art director tapi rada gaptek, sengaja menjadikan teman yang lain sebagai kambing hitam karena dia terlalu pasrah, mengarang nama-nama panggilan yang terkadang entah dari mana asalnya. Si Butuk, si Mamiek, si Hari pakai E, Si Meong, si I-ro, si Boncel, si Sincan, Emaknya si Iler, Dek Kiki, dan saya... si Irex. I miss you all, guys! Hiks!***

What Planet Are You From?

Montag, Februar 07, 2005




You Are From Mercury



You are talkative, clever, and knowledgeable - and it shows.
You probably never leave home without your cell phone!
You're witty, expressive, and aware of everything going on around you.
You love learning, playing, and taking in all of what life has to offer.
Be careful not to talk your friends' ears off, and temper your need to know everything.



What Planet Are You From?

Identity Theft

Jika dapat pertanyaan "Acara TV mana yang Anda suka?", saya harus berpikir cukup lama untuk menjawabnya. Pertama, saya tak begitu suka nonton TV. Entah kenapa, hasrat menonton TV saya semakin lama semakin pupus. Menonton DVD di rumah bisa bikin saya tertidur. Kalau di bioskop, terpaksa menonton, soalnya sudah bayar (enggak mau rugi!). Kedua, saya lebih suka membaca, karena visualisasinya bisa tak terbatas. Sering sekali saya kecewa saat menonton film sesudah membaca bukunya, atau sebaliknya. Misalnya: Forrest Gump. Bukunya jauh lebih berbobot daripada filmnya, karena di film Gump lebih terkesan seorang idiot. Ketiga, acara TV sekarang ini begitu menyebalkan. Indonesia sudah punya begitu banyak stasiun TV, tapi acara yang ditayangkan tak lebih dari yang berbau mistik, reality show yang meniru-niru barat dan gagal total eksekusinya, sinetron remaja yang bagi saya terkesan begitu tolol karena mimik pemainnya begitu dibuat-buat. Perlukah kita memonyongkan bibir yang sudah ditipis-tipiskan, lalu menundukkan muka sambil melirik-lirik ke samping saat kita membenci seseorang yang di sebelah kita? Sepertinya tidak. That's why saya bilang sinetron sekarang ini norak sekali. Maaf, para pemain maupun pekerja (seni - menurut mereka) sinetron. Cuma satu sinetron yang saya puji: Bajaj Bajuri. Ya ampun... kamu nonton itu? Mungkin itu penghinaan teman-teman kantor saya yang dunianya hanya dipenuhi realitas nun jauh di sana dari serial Sex and the City. Tapi sinetron itu masih lebih bernyawa daripada lainnya, 'kan?

Well, terserah Anda mau bilang apa. Sebenarnya yang mau saya utarakan bukan pembelaan untuk Bajaj Bajuri, tapi saya mau membahas hal lain (dan seperti biasa, saya berputar-putar dulu biar Anda bingung). Kemarin saya nonton satu acara di Trans TV, judulnya "Tru Calling". Tentang seorang perempuan bernama Tru Davies yang selalu mengulang hari sampai masalahnya selesai. Cerita hari lalu berkisah tentang pencurian identitas. Mungkin di sini masih belum begitu nge-tren, tapi saya cukup bergidik juga membayangkan jika hal itu sampai terjadi pada saya. Seseorang -entah siapa- berjalan-jalan dengan gembira memakai nama saya, berkenalan dengan orang lain dengan nama saya, berbelanja pakai kartu kredit atas nama saya, sementara saya tiba-tiba dikirimi tagihan kartu kredit berjuta-juta rupiah yang harus dilunasi. Debt collector yang bergaya preman kerap mendatangi rumah dan kantor saya, menelepon saya dan memaki-maki saya dengan kata-kata tak pantas (Well, menurut teman-teman seperti itulah Debt Collector di negeri kita ini). Saya bangkrut total, sementara "Diri" saya yang lain (catat, bukan alter ego!) berhura-hura sebagai saya. Gila! Sudahkah ada orang Indonesia yang terinspirasi akan tindak kejahatan seperti ini? Mungkin sudah ada. Yang jelas, mulai hari ini saya akan menjaga identitas sebaik mungkin. Terutama pemakaian kartu kredit. Kalau boleh mengutip tips dari ahli keuangan, "Jangan punya kartu kredit banyak-banyak". Betul juga. Tapi yang terutama, jika melakukan transaksi di pusat perbelanjaan, pastikan kartu kredit Anda terawasi. Saat sedang digesek, saat sedang dipegang kasir, pastikan kartu kredit Anda tidak digunakan untuk transaksi ganda, atau seseorang memotret kartu kredit Anda dengan kamera ponsel, or whatsoever. Kok jadi paranoid, ya? Kalau mau aman, memang kembali ke zaman dahulu. Apa-apa bayar tunai!

Anyway, pencurian identitas bisa dengan berbagai cara lainnya. Coba klik link berikut untuk menambah wawasan:


Are You Liable to Have Your Identity Stolen? ***

Tragedi Bukan Komoditi

Mittwoch, Februar 02, 2005
Beberapa hari lalu saya sedang duduk di kursi saya yang empuk (berkat bantal baru) di kantor. Dan datanglah seorang selebriti -kalau boleh saya sebut begitu, mengingat namanya sudah lumayan kondang di negeri ini- memasuki ruang kantor kami dengan senyum sumringahnya. Dia memberikan CD berisi foto ke atasan saya, sambil berkata, "Ini dia foto-foto di Aceh." Kontan saja beberapa orang yang sedang berada di dekatnya tertarik untuk memandangnya, termasuk saya. Seingat saya, majalah kami memang akan menulis tentang tragedi di Aceh, dengan si selebriti sebagai penulisnya. Seperti belum cukup berceloteh, sang selebriti menambahkan kira-kira seperti ini, "Aduh, saya jadi pusing karena harus menulis tentang Aceh di mana-mana. Di majalah A, B, C, banyak deh!" Saya cuma bergumam dalam hati, "Oh, lagi banjir order nih?" Tapi apa sebenarnya hal ini bisa dibanggakan? Menurut saya tidak, tuh!

Apa yang terjadi di Aceh akhir tahun 2004 lalu adalah tragedi maha menyedihkan. Tapi sepertinya selebriti yang satu ini menganggap kunjungannya ke Aceh sebagai tur yang menyenangkan. Mungkin bertemu korban Tsunami baginya seperti melihat obyek pariwisata terkini. Begitu juga dengan melihat daerah-daerah yang telah rata dengan tanah. Barangkali baginya kesempatan berkunjung ke Aceh tidaklah kesempatan untuk membantu sesama, menguatkan mereka yang tengah dilanda badai hidup yang amat berat. Baginya, kesempatan untuk berkunjung ke Aceh adalah kesempatan untuk menaikkan oplah majalah yang dipimpinnya, yang baru saja terbit. Mungkin fotonya bersama korban di Aceh sama saja seperti saat dia berfoto dengan penduduk lokal di suatu daerah tujuan wisata, Hawaii misalnya. Yang bisa dipamerkannya di Editor's Letter pada pembaca sebagai bukti, hei, saya ke Aceh, lho! I've been there! Semua anggapan saya itu tertangkap dari pancaran wajahnya saat berada di kantor saya. Dan terus terang, semua ini meruntuhkan sisa-sisa penilaian positif tentang dia yang masih saya miliki. Dengan sangat terpaksa, saya bergabung dengan teman-teman yang tidak menyukainya karena berbagai alasan. Mulai dari gayanya yang sok, kepribadiannya yang agak narsis, sampai kebiasaannya berpakaian yang norak sekali. Terus terang lagi, saya tak kepengin lagi membaca buku ataupun tulisannya.

Tragedi bukan komoditi. Bukan hal yang bisa dipakai untuk mencari keuntungan pribadi. Sayangnya, tak cuma selebriti itu yang bersikap begini. ***

Which ... Are You?

Dienstag, Februar 01, 2005
Which ... Are You?

You are Palm OS. Punctual, straightforward and very useful.  Your mother wants you to do more with your life like your cousin Wince, but you're happy with who you are.
Which OS are You?



You are .doc You change from year to year, just to make things tough on your competition.  Only your creator really has a handle on you.
Which File Extension are You?

Menentukan Harga Seseorang

Sebenarnya harga seorang manusia tak bisa ditentukan begitu saja. Tapi terkadang beberapa orang memang sudah terpatri nilai dirinya, karena beberapa tindakannya yang .... yah, kurang bijaksana, kalau boleh disebut begitu.

Belakangan ini, topik pembicaraan saya dan suami hampir selalu sama, yaitu tentang seorang rekan kantor suami, yang terkadang ikut pulang bersama kami. Supaya gampang, sebut saja namanya si S. "Bagaimana enggak nyebelin, kita sudah baik sama dia, tapi dia dengan enaknya menjelek-jelekkan kita di depan orang lain. Pakai bilang aku tukang nebeng, lah. Tukang ngambil jatah makan orang, lah. Tapi dia sendiri juga seperti itu," kata suami. S juga suka omong besar, seolah-olah dunia ini bisa ia kuasai dengan mudah. "Tapi kalau pinjam uang, tidak pernah mau bayar kembali. Kalau ditagih dia bilang, 'ah, itu kan sudah tahun lalu. Sudah lewat lah!' Enggak cuma ke aku, tapi ke semua orang!" kata suami. Saya cuma geleng-geleng. Ini dia penyakit kronis orang yang selalu ingin dimengerti. Hei lintah darat, Anda boleh saja bilang sedang ribet dengan uang karena kini Anda harus menanggung perekonomian keluarga. Tapi bukan berarti Anda boleh minjam ke orang lain terus tidak dikembalikan. Itu namanya 'kan menyusahkan orang lain. Kalau yang dipinjami saudara sih boleh-boleh saja. Anda 'kan berhutang pada teman. TE-MAN. Kenal juga baru berapa tahun. Kenapa teman-teman Anda tiba-tiba harus menanggung hidup Anda, perekonomian Anda? Kami juga punya keluarga yang harus dihidupi!

Masih ada lagi hal yang bikin darah bisa mendidih. Soalnya ini menyangkut keadilan. Kata suami saya, si S ini konon sering dengan seenak jidatnya mendatangi atasan lalu bilang "Pak, penilaian tahunan kali ini saya dikasih A, ya!" Ini jelas tidak adil, mengingat di kantor suami saya itu nilai A hanya diberikan pada satu orang saja. Alasannya, sekali lagi, keluarganya sedang susah (tapi anehnya dia masih bisa ngajak teman fitnes bareng). Alasan kedua - bukan bermaksud jadi rasis -: "Bukankah kita sama-sama orang Batak?" begitu katanya. Tolong ya, ini Indonesia. Bukan negara Batak. Kalau kerja ya jangan bawa-bawa suku bangsa. Kalau aturannya begitu, orang Jawa bisa minta nilai A pada bos Jawa, orang Sunda pada bos Sunda, orang Flores pada bos Flores. Kalau orang gila? Memangnya ada bos orang gila?

Lika-liku tingkah laku si S ini selalu saya tutup dengan pernyataan ini: Tidak punya harga diri. Lebih dari sekadar umpatan "Tak tahu malu" yang dilontarkan suami. Di mata saya, dia tak lebih dari "seorang pria yang menodong bosnya untuk minta nilai A", bukan "seorang pria yang punya work performance sangat baik sehingga mendapat nilai A." Maaf-maaf saja. Tindakannya bagi saya sama saja seperti melacur. Kalau saja si S sampai membaca blog ini, Anda tak punya hak untuk marah. Sebab, Anda telah mencoreng noda di jidat Anda sendiri. Bukan tak mungkin, semua orang di kantor Anda yang telah mendengar bualan besar tentang kisah saat Anda minta nilai A itu selalu melihat Anda dengan embel-embel itu. Life is full of many choices. Sungguh sayang, Anda ternyata mengambil pilihan seperti itu! ***.