Bebek Saja Ngantri!
Montag, Februar 28, 2005Bagaimana dengan kota Jakarta ini? Saya ceritakan saja pengalaman saya akhir minggu lalu sebagai bahan pemikiran. Hari itu, menjelang makan siang, saya mengantri di depan ATM sebuah bank. Jumlah mesin ATM yang terdapat di tempat itu banyak, setidaknya ada 5. Sedang saya menunggu orang di depan saya, seorang laki-laki usia tigapuluhan berjalan mendekati orang di depan saya, lalu berbisik-bisik. Orang di depan saya pun minggir ke kiri. Lalu, pria itu memasukkan kartu ATM-nya dan bertransaksi. Saya pikir, dia akan mentransfer uang ke temannya yang di sebelah kiri. Ternyata setelah transaksi selesai, dia melenggang pergi, meninggalkan temannya sendiri. Dan temannya pun melanjutkan transaksi. Pria itu lalu mengantri di ATM sebelah saya, tanpa rasa bersalah sekali pun. Bahkan tak meminta maaf atau izin karena ingin duluan. Hari itu saya sedang berpantang, menahan emosi. Tapi melihat kejadian seperti ini saya jelas jengkel. Ingin rasanya saya hampiri pria itu dan berkata, "Hei, Mas. Situ enggak pernah sekolah ya? Enggak pernah diajarkan sopan santun di rumah? Bebek saja antri, tahu!" Tapi hari itu saya sedang berpantang.
Saya jadi berpikir-pikir. Selama ini saya mungkin terlalu permisif. Terlalu membiarkan orang-orang kurang ajar seperti itu. Padahal sisi lain dalam diri saya ingin langsung menampar orang-orang tak tahu diri seperti itu, tanpa pakai ba-bi-bu dulu. Jadi, saya pikir besok-besok lebih baik saya langsung menegur dengan keras, ketimbang melototi orang bermuka badak macam mas-mas kemarin itu. Meski mata saya bakal copot, orang itu toh tak akan merasa bersalah dan akan terus mengulangi tingkahnya yang mengesalkan itu. Iya tidak? ***



