<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Walk With MY Shoes

Donnerstag, Dezember 02, 2010
Beberapa minggu lalu, saya nonton serial televisi, Ugly Betty. Ceritanya, Betty sedang mengerjakan satu project tulisan berjudul "Walk a Mile with Their Shoes". Inti project itu adalah membuat suatu profil dari berbagai profesi, bagaimana para responden menjalani pekerjaannya sehari-hari, yang mungkin bagi orang lain merupakan profesi yang tidak lazim. Misalnya, menjadi relawan di negara miskin. Sebagai pelengkap project ini, sepatu responden--yang mereka pakai untuk bekerja setiap hari--akan difoto.

Ini hanya permukaannya.

Yang menyentuh dari episode ini adalah ungkapan "Walk a Mile with Their Shoes". Bagaimana kita perlu menyelami pikiran orang lain dengan cara "mengenakan sepatunya". Atau, mengetahui profesinya, alias kehidupannya.

Dari situ, saya jadi kembali ke perenungan hidup saya sendiri. Yang baru saja saya pahami, begitu banyak orang lebih suka memaksa memakaikan sepatunya pada orang lain, ketimbang mengenakan sepatu orang lain. Karena ini lebih mudah dan juga menguntungkan.

Lebih sering lagi, orang memaksakan orang lain untuk mengenakan sepatunya, dan berjalan sesuai arah tujuannya. Tanpa pernah bertanya, apa orang lain mau memakai sepatunya. Dan, apa dia mau berjalan ke arah tujuan yang sama.

"Ini sepatu saya dan saya mau kamu pakai ini dan berjalanlah selama 2 km, tidak boleh kurang! Pakai dan mulailah melangkah!" kata Wilhelmina, atasan Betty pada episode itu.

Sounds familiar?

Semua Berawal Pada Sore Itu...

Mittwoch, Dezember 01, 2010
Waktu itu, saya masih SD. Orangtua saya datang ke sekolah, ada pertemuan orangtua murid. Lewat papan mading, saya minta mereka berhenti. Saya tunjukkan satu kertas berwarna merah yang ditempel di sana. Itu puisi buatanku, begitu kata saya pada mereka. Saya pikir, mereka hanya akan baca sekilas lalu segera bergegas ke aula. Ternyata tidak. Ibu saya tepekur sangat lama memandangi puisi yang menurut saya sepele itu, membacanya dengan sungguh-sungguh, lalu bilang pada saya, “Puisi kamu bagus sekali!” Saya melihat kebahagiaan dan kebanggaan di matanya.

Sejak hari itu, saya bercita-cita jadi penulis.

Di suatu masa lain, entah dalam rangka apa, saya sedang ngobrol ngalor-ngidul dengan Ibu saya (dan itu adalah bagian dari rutinitas harian kami). Tiba-tiba, dia berkata begini, “Kenapa kamu nggak nulis cerita? Mama lihat kamu punya bakat menulis.” Ketika itu, saya termenung sejenak. Bagaimana tidak, waktu itu saya sudah hampir lupa akan cita-cita masa kecil. Hidup saya tidak fokus, antara kuliah dan keranjingan main musik. Saya memang masih menulis, tapi karena itu sudah menjadi bagian hidup sehari-hari, seperti layaknya mandi dan makan, memberikan komitmen keseriusan untuknya jadi terasa ganjil. Saya sudah menulis, kok, lalu harus apa lagi?

Akhirnya, saya berusaha menulis novel.

Tak hanya itu, saya juga menjadikan tulisan sebagai pekerjaan. Setiap saat membuat konsep penulisan, wawancara, lalu menuliskannya menjadi satu tulisan untuk dibaca ribuan orang. Tahun demi tahun, pekerjaan menulis yang semula saya pahami sebagai sarana aktualisasi bakat, mulai bergeser menjadi sarana aktualisasi target bisnis. Lha, mau bagaimana, namanya juga kerja di media. Ada artikel, ada iklan. Ada tulisan, ada pendapatan. Deadline demi deadline menghantui hidup saya. Target menulis untuk memuaskan diri sendiri, tak lagi terpikirkan. Saya menulis untuk orang lain, yang perlu diketahui orang lain. Tidak lagi memikirkan diri sendiri.

Tanpa saya sadari, gairah menulis (untuk diri) saya (sendiri) semakin mati.

Dan dengan demikian saya sampaikan rasa duka cita yang mendalam untuk diri sendiri, atas kehilangan yang sangat besar ini. Semoga akhirnya “jiwa” yang hilang itu suatu hari nanti akan kembali lagi, yang terbukti dengan sebentuk novel berbalut plastik (alias baru dibeli).

Rest in peace (for a while), my soul...

Menonton Berita Pagi

...., sebelum pergi bekerja.
Topik hari ini: Kontroversi seputar RUU Keistimewaan Yogyakarta.

Protes berhamburan. Presiden klarifikasi.
Seandainya semua mau berhenti bicara dan menyimak, tidak berlomba untuk teriak (atas nama apa pun, termasuk rakyat dan keberagaman budaya).
Dengarkan dulu, pahami dulu.
Duduk bersama, berunding.

Lalu ubahlah yang memang harus diubah.
Bukannya yang sudah berjalan dengan damai selama berpuluh-puluh tahun.

Kenyataan bicara banyak: Semenjak di negeri ini diciptakan yang namanya Pilkada, yang konon singkatannya Pemilihan Kepala Daerah tapi berkesan Pilihan Mengada-ada, kerusuhan lebih sering terjadi di daerah sepanjang masa pemilihan. Politik uang lebih terlihat nyata, pengadilan semakin penuh dengan pengajuan protes dari kandidat tidak terpilih.

Lalu, apa salahnya ketika di suatu daerah rakyatnya menerima dengan tangan terbuka pemimpin yang ditunjuk, bukannya dipilih lewat voting suara?

Ubahlah yang seharusnya diubah, bukan yang sebenarnya tidak perlu diubah.