Kalimat ini kerap terucap di kantor saya (juga di pergaulan) ketika salah seorang (mungkin juga saya) tak mengetahui perkembangan dunia dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh.
Kalimat ini beberapa kali pernah saya lontarkan pada suami saya, tanpa bermaksud untuk merendahkannya. Atau kepada beberapa teman dekat, tanpa bermaksud untuk menertawakannya. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya sering kali mengucapkan kalimat ini dengan tajam. Untungnya, cuma dalam hati. Jadi, jumlah orang di dunia ini yang membenci saya tak bertambah banyak.
Kalimat ini pertama terucap dalam hati saat seorang teman dengan amat semangat memberi pengumuman hasil liputannya pada semua orang. "Ya ampun,... Itu alatnya keren banget. Namanya Bluetooth. Kalau pakai Bluetooth, kita bisa transfer foto ke printer dari ponsel yang punya fasilitas kamera digital. Keren banget, deh!" Saya pun membatin, "Ya ampun.. ke mana aja, lo? Ini sudah tahun 2003 [waktu itu]. Bluetooth itu 'kan sudah ada sejak awal tahun 2000-an!"
Kali kedua kalimat ini terucap, target sasaran saya masih saja orang yang sama. Rupanya dia memang bisa digolongkan orang yang gagap teknologi. Atau kurang pergaulan? Kala itu, ia berkata pada sahabatnya yang duduk tak jauh dari saya, "Eh, tahu tidak. Sekarang ada ponsel seperti pulpen. Jadi kalau kita mau telepon orang, tinggal tulis-tulis. Kirim SMS juga begitu! Keren banget, ya!" Saya kembali menjerit dalam hati. "Aduh.. ke mana aja, lo? Teknologi kayak begitu sih gue udah lihat waktu di Jerman bulan Maret kemarin. Elo sendiri waktu di Hong Kong meliput peluncuran ponsel ngapain aja?" Saya lalu teringat dengan ponsel
Xelibri tipe 3 yang sudah dilengkapi fasilitas yang hampir sama. Di Indonesia, ponsel ini sudah diluncurkan tahun 2003 lalu.
Rasa kesal saya ini mungkin masih bisa termaklumi. Soalnya, tak semua orang penggemar kemajuan teknologi seperti saya. Tapi saya juga agak rikuh melihat euforia yang tak pada tempatnya. Tidak bisakah rasa gembira itu tak terlalu diumbar, agar dirinya tak menuai malu di depan orang banyak. Untung saya tak jahat menimpali kegembiraannya dengan kalimat "Oh God.. it's so last year!", seperti celaan pedas yang kerap terlontar dari mulut beberapa orang rekan.
Kalimat "Ke mana aja, lo?" akhirnya mencapai puncaknya beberapa hari yang lalu. Kala itu, seorang teman bertanya pada saya, "Kalau kata pasangan itu disertai satu atau sebuah?" Awalnya, saya bingung mendengar pertanyaan ini. "Kalimatnya seperti apa?" tanya saya balik. "Kalau suami istri? Satu pasang suami istri atau sebuah?" Sambil mengerutkan dahi ke lekukan terdalam, saya menjawab, "SEPASANG suami istri." Dalam hati saya benar-benar berteriak dengan suara berdesibel tertinggi. "Ya ampun.... sebuah pasang suami istri? Satu pasang suami istri? Yang bener aja.. Ke mana aja lo...?????"
Saat membaca ini, Anda mungkin akan tertawa. Tapi terus terang saya sama sekali tidak tertawa. Tolong, tolong,tolong. Suami saya yang bekerja di departemen teknologi informasi saja bisa otomatis berucap, "Sepasang suami istri." Tapi kenapa hal yang --maaf-maaf saja-- tolol seperti ini sampai keluar dari mulut teman saya yang bekerja di media? Untuk bahan perenungan, sebaiknya saya sebutkan saja jabatannya. Jabatannya adalah Managing Editor alias Redaktur Pelaksana. ***