<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Template Baru!

Montag, Juli 26, 2004
O iya, saya jadi lupa menulis.
Sejak Jumat kemarin, blog saya berganti rupa. Sekarang warnanya biru tua. Warna yang selalu saya bilang "Gue banget!". Desainnya juga "Gue banget!". Simple, tidak neko-neko. Cuma sayangnya, boks "Shout it out" terpaksa saya hapus sementara. Soalnya, saat saya paste di template, kok blog saya malah jadi berwarna putih.

Ada yang bisa bantu enggak? Kalau ada, sila e-mail saya ya! ***

Malas Banget!

Bulan ini bisa dibilang saya jadi orang yang termalas di kantor. Di saat semua orang sudah selesai dengan deadline, saya masih saja berkutat dalam beberapa artikel yang sudah lewat tenggat. Sudah begitu, masih sempat tulis-tulis buat blog lagi!

Apa sih, sebabnya? Terus terang, memikirkannya pun saya malas. Sepertinya lebih asyik kalau saya menjelajah dunia maya, mencari berbagai situs seru seputar tema yang sedang saya gandrungi, ketimbang mengerjakan artikel. Saya juga lebih senang jalan-jalan keluar, bertemu orang-orang, atau menikmati kesendirian, daripada harus melihat rekan sekantor yang saya hindari tatapan matanya. Soalnya, saat mereka menatap saya, yang terlintas di benak saya hanyalah satu kata "Deadline!" Saya pun jadi seperti kucing dikejar anjing.

Biasanya saya selalu tepat deadline. Biasanya saya selalu cepat bekerja. Tapi entah kenapa, otak saya agak ngadat begitu bertemu dengan tugas kantor. Apakah tema tulisan yang tak saya senangi, rasa jemu bekerja, atau benak yang sedang berfokus ke tempat lain? Gabungan dari itu tepatnya.
Lalu, apa penyebab utamanya? Rasa jemu, barangkali. Yang kemudian bikin saya mengalihkan konsentrasi ke tempat lain. Yang bikin saya lalu jadi setengah hati mengerjakan tulisan buat majalah. Akibatnya, tulisan tak kunjung kelar. Sudah hampir 2 tahun saya di sini, di kantor ini. Kira-kira 1 minggu lagi. Saya tak pernah sangka, 2 tahun bekerja sudah sampai di titik jenuh. Di hati kecil, tebersit niat untuk menulis hal yang lebih serius. Yang lebih humanis, yang lebih "kena" di hati orang banyak. Tak sekadar memberi tips, "Ini lho, cara praktis jadi wanita karier!" atau "Jangan tidur malam-malam, nanti sakit!" Saya ingin menulis, "Pangkal dari seluruh musibah penyakit yang menyerang negeri ini adalah minimnya pendidikan." Atau "Ingin negara lebih maju? Ubah perspektif berpikir Anda." Atau tentang gender. Atau tentang sejarah. Tentang yang lain. Tak cuma sekadar tips sepele yang remeh temeh. Bosan!

Tapi omong-omong, bisa saja rasa malas saya ini memang rasa malas betulan. Artinya, memang saya lagi malas sekali. Mau dikasih pekerjaan apa pun, pasti saya akan malas mengerjakan. Buktinya, novel saya sendiri sudah lewat 4 hari dari deadline-nya. Wah, harus diselesaikan juga sebelum keburu ditagih bos alias editor saya. Aduh, banyak sekali "Polisi" yang mengejar saya, ya?

Kerja.. kerja.. mari kita kerja.... ***

Maaf, ya, Dans!

Freitag, Juli 23, 2004
Mungkin Anda sudah bosan membaca rentetan kata "Maaf" di blog ini. Tapi kali ini saya tak ingin membahas masalah bermaaf-maafan. Justru saya mau minta maaf.

Di sebuah pertemuan yang berhasil saya ciptakan di sela-sela kebosanan di kantor, saya berjanji pada Dans untuk serius mengerjakan novel saya. Bahkan keesokan harinya, dia mengusulkan saya membuat deadline buat diri sendiri.

Tapi dasar saya tak pernah kuasa menahan godaan. Gara-gara bosan pula, saya menerima tawaran sebuah "tendangan samping", istilah saya untuk "side job". Akibatnya bisa ditebak, saya tak bisa penuhi deadline. Mestinya, hari Kamis kemarin saya sudah selesai dengan satu bab. Ternyata masih saja belum rampung. Meski Dans, si bos alias editor saya, masih belum inspeksi, saya sudah merasa bersalah duluan. Terbayang sudah di depan mata, jadwal penulisan selanjutnya pasti bakal acak-acakan.

Ya.. habis mau gimana... Tak ada orang yang tak suka uang. Dan tendangan samping yang satu ini ternyata hasilnya lebih dari sekadar uang capai (*tralala!). Setengah masuk ke tabungan anak, setengah lagi buat melunasi tagihan kartu kredit yang membludak. Asyik!

Namun, di tengah sorak sorai itu, saya tetap tak enak. "Maafin gue, ya, Dans..."***

Bye-Bye, Internet!

Jumat ini adalah hari terakhir bagi beberapa teman saya untuk menggunakan akses internet. Mulai awal minggu depan, hari-hari mereka pasti akan sangat menjemukan. Hiburan andalan di saat bosan di kantor itu sudah tak ada lagi.

Beberapa hari lalu, semua karyawan menerima e-mail dari Administrator. Singkatnya, pemakaian internet akan dibatasi. Hanya beberapa departemen yang bisa memakainya (termasuk departemen saya). Yang lainnya, terpaksa menggigit jari.

I've been there before. Dan saya tahu sekali seperti apa rasanya. Bosan. Jemu. Kalau boleh jujur, internet itu sama saja seperti permen, yang dinikmati di saat-saat senggang, juga di saat-saat hectic, sebagai pelepas stres. Saya sendiri kalau sudah stres tak akan bisa kerja. Buat menyegarkan pikiran, saya menjelajah di dunia maya. Atau chatting dengan teman-teman. Setelahnya, terasa lega. Jadi semangat kerja lagi. Makanya, saya jadi kasihan pada teman-teman saya itu. Pahitnya mereka yang dicabut haknya adalah mereka yang justru paling sering mengeluh pekerjaannya overloaded.

Prediksi saya, dengan dicabutnya fasilitas ini, mereka jadi tak akan betah di kantor. Mungkin, halaman depan kantor saya akan semakin ramai terisi teman-teman saya itu. Frekuensi "kabur" ke lantai bawah untuk berkumpul di halaman kantor akan makin meningkat. Jangan-jangan, setelah ini tempat nongkrong itu akan dipagari. Atau dipugar, dijadikan kantor? Moga-moga jangan, deh!***

Astrologi

Banyak orang menganggap hal yang satu ini sungguh tak penting dalam hidup. Namun, banyak juga yang amat gandrung dengan ilmu ini. Saya adalah salah satunya.

Sewaktu kecil, saya pernah bercita-cita mau jadi astronot. Atau belajar astronomi. Ya, selain punya cita-cita aneh lainnya, mulai dari jadi musisi sampai penulis. Saya juga amat senang membaca buku astrologi, terutama yang berkaitan dengan bintang saya sendiri.

Saat bertemu pertama kali dengan seorang pria yang menarik, saya selalu bertanya apa bintangnya. Kira-kira dia cocok tidak dengan saya. Kala seorang teman begitu peragu saya sering membatin, "Dasar Libra, timbang sana, timbang sini." Atau pada teman yang suka iri akan teman lain, saya bilang, "Taurus, sih. Tukang iri!" Pada teman yang mengaku dirinya seorang Scorpio, saya berkata, "Kamu orangnya misterius."

Suami saya termasuk orang yang menentang aturan bintang. "Itu cuma rekaan orang saja. Memangnya hidup kita sudah digariskan begitu saja?" katanya. Dia bilang, dia sudah pernah membaca semua sifat dasar bintangnya. Tapi ia berusaha untuk menyangkal semua itu. Saya cuma angkat bahu. Terserah. Kalau pepatah bahasa Jerman berkata, "Ueber Geschmack soll man nicht streiten." Artinya, semua orang punya selera masing-masing.

Pertemuan saya dengan seseorang membuat saya jadi teringat hasrat belajar astrologi dulu. Ternyata astrologi memang tak sekadar rekaan dan bualan kosong. Astrologi adalah ilmu. Dulunya digabungkan dengan Astronomi. Saya jadi ingat sang ilmuwan Copernicus dan teman-temannya. Manusia zaman dahulu itu bisa dibilang hampir satu profesi; seorang astronom. Astrologi adalah ilmu yang berdasarkan astronomi, pengamatan akan planet dan bintang, serta seluruh isi tata surya kita. Gambaran tentang zodiak yang sering kita dengar sebenarnya adalah semacam "ramalan" tentang sifat dasar manusia.

Masa sih semua orang berbintang Libra punya sifat yang sama? Itu tanya saya pada teman (sebut saja begitu) yang pernah belajar astrologi selama setahun di Belanda. Ternyata jawabannya tidak. Karena ada berbagai perhitungan yang mesti dijalani jika kita ingin tahu sifat keseluruhan kita. "Lebih bagus lagi, gabungkan dengan ilmu astrologi Cina. Pasti hasilnya super akurat!" kata teman saya.

Iseng-iseng, saya jadikan seorang teman sebagai kelinci percobaan. Saya mencoba mengungkap kepribadian dia dengan sebisanya. Wah! Ternyata kena banget, lho! Kayaknya saya cukup punya bakat menganalisis sifat orang. Saya jadi tambah semangat mempelajari ilmu ini. Siapa tahu, bisa jadi pegangan nantinya. Atau...? Hmm.. di benak saya berdesir jutaan ide baru! ***

P.S. Special Thanks to AHM, yang sudah memberi kursus singkat namun bermanfaatnya buat saya!

Oh, Ternyata!

Mittwoch, Juli 21, 2004
Pelajaran dari cerita saya: Lakukan penyelidikan sebelum terjebak.

Beberapa minggu lalu, saya chatting dengan seorang teman. Dia itu dulu pernah kerja di kantor yang sama dengan saya. Jabatannya pun sama, copywriter. Kami pisah jalan setelah dia "diambil" mantan bos saya untuk bekerja di kantor bos selanjutnya. Saya lalu juga keluar dari kantor itu. Teman saya ini menawarkan saya sebuah pekerjaan sambilan yang cukup menggiurkan. Pertama, pekerjaannya masih berkisar di dunia tulis-menulis. Kedua, honornya pun cukup besar.

Dengan berbinar-binar, saya bercerita pada suami. Minta pendapat, maksudnya. Namun, suami menanggapi dengan dingin. "Sudah, tak usah ambil pekerjaan itu. Paling-paling proyek thank you*!" Saya pun mangut-mangut menurut.

Esok harinya, teman saya itu muncul kembali di dunia cyber. Kami diskusi lagi tentang pekerjaan itu. Saya jadi goyah. Mau turuti suami atau membandel? Di satu pihak, saya tergoda oleh tawaran teman saya. Di lain pihak, saya pernah mengalami pengalaman proyek thank you, jadi sudah kapok mencicipi pahitnya. Akhirnya, saya tak memberi sinyal apa-apa.

Suatu waktu, kami kembali online. Kali ini, saya memancingnya terlebih dahulu, menanyakan kariernya sebagai seorang penulis lepas. Dari jawaban-jawabannya, entah kenapa saya menangkap begitu banyak ketidakpastian. Ujung-ujungnya, saya bertanya tentang perkembangan pekerjaan yang ia tawarkan kemarin itu. Ternyata pekerjaan itu memang masih belum ketuk palu. Lalu, tanya saya, sudah ada berapa pekerjaan sejenis, yang ia kerjakan, yang sudah gol? Jawabannya singkat: Belum ada. Saya juga menjerit singkat: Hah?

Hampir saja saya terjebak proyek thank you lagi. Untung saja saya tergoda untuk menyelidik. Kalau tidak... saya pasti menjerit singkat lagi: Wah! ***

* Proyek thank you: istilah untuk proyek yang sudah dikerjakan susah payah, tapi tak kunjung dibayar. Cuma dibilang "Thank you" saja.

Please Don't Make Me Mad!

Donnerstag, Juli 15, 2004
Pagi-pagi saya sudah marah. Seorang teman menuduh saya salah, padahal saya sudah ikut prosedur. Hanya saja, dia tak mau menyempatkan waktu membaca kepala artikel. Di situ tertulis jelas: Visual ada 6 items, menyusul. Bukannya berkata singkat kalau dia tak membaca kalimat itu, alih-alih teman saya malah berkata (dan diulang-ulang - padahal saya benci pengulangan!), "Lain kali jangan begitu lagi.." Lho? Kenapa lain kali? Bukankah saya sudah benar? Saya pun menegaskan kembali kalau saya sudah ikut aturan. Tapi tetap saja dia berkata, "Iya, lain kali..." Sebenarnya saya mau menjerit, "Tidak ada lain kali! Elo yang lain kali baca yang bener!" Karena saya masih tahu etika, saya diam saja. Balas dendamnya: Setiap artikel yang saya tulis atau saya edit akan disertai dengan keterangan visual secara terperinci dengan huruf sangat besar dan berwarna merah. Biar dia puas membacanya. Maaf-maaf saja, saya marah sekali kalau dipaksa mengakui kesalahan yang tak pernah saya buat. Kalau memang dia yang bersalah, tolong berbesar hati untuk mengakuinya. Saya toh tak akan berteriak memberi pengumuman tentang kesalahannya ke seisi penghuni gedung. Apalagi menertawakannya!

Hal kedua yang bikin saya juga marah adalah mendapat pertanyaan bodoh. Dan oleh orang yang sama (Baca: Ke Mana Aja Loe?). Kali ini pertanyaannya kembali mengesalkan hati. Tidak straight to the point.

"Artikel si IS elo yang ngedit?" - tanyanya.

"Iya."

"Ada kata Indonesian Idol?"

"Enggak."

"Bagus gak?"

Titik ini yang bikin hati saya memekik, "Bagus enggak? Apaan sih maksud lo? Buruan deh ngomong!" Tapi saya berbaik hati menjawab. "Maksudnya apa?"

"Ada berapa halaman?"

Tetap dengan pertanyaan yang tidak penting. Akhirnya atasan saya datang membawa sebuah tabloid. Di situ saya melihat artikel yang punya tema hampir sama dengan artikel yang saya edit. Oh, itu maksudnya. Kenapa harus bertele-tele? Dan jujur saja, pertanyaan "Bagus gak?" adalah pertanyaan tertolol yang pernah saya dengar selama minggu ini. Sama sekali tak ada hubungannya.

Terus terang saya sudah mulai pusing dengan kondisi teman-teman saya. Apakah mereka sedang stres berat? Apakah mereka kurang introspeksi diri? Kenapa mereka mulai bertingkah begitu bodoh? Kenapa mereka lebih suka berputar-putar saat bicara? Bukankah berdasarkan training kemarin sudah dirumuskan, gaya bicara media kami adalah lugas dan blak-blakan? Kenapa itu tak ada di jiwa mereka?

Jangan-jangan semua rasa kesal saya ini adalah ungkapan dari rasa tak kerasan lagi di kantor ini? Bisa juga.***

Clarification

Dienstag, Juli 13, 2004
It's not me who is crazy
It's not me who couldn't work
It's not me who is completely sick

IT'S HER

(A contemplation after a conversation with a person from the past. Special thanks to RD)

My Destiny?

Suatu sore saya bersama dua orang teman pergi ke sebuah mal tenar di Jakarta. Tujuannya: memenuhi tugas penulisan artikel tentang profil para peramal. Itu tujuan mereka. Tujuan saya: ya,.. sebenarnya mau memenuhi tugas penulisan juga. Namun, akhirnya saya pun lebih memilih untuk menemani dua teman saya ini.

Singkat cerita, kami sampai di sebuah kafe yang cukup ramai. Ternyata si peramal sudah cukup waktu menunggu. Kami pun berkenalan. Ah, ternyata peramalnya perempuan! Setelah mengorek-korek sisi pekerjaannya, si peramal ini menawarkan untuk memberikan konsultasi gratis. Saya pun jadi "pasien" pertama.

Bagaimana karier saya ke depan? Itu pertanyaan pertama saya. Jawabannya: Dalam beberapa waktu ke depan masih stagnan alias mandek. Di lubuk hati --jujur saja-- saya merasa lega. Soalnya, saya sepertinya tak kuat menantang hembusan api kecemburuan sekali lagi. Cukup awal bulan lalu saja. Meskipun saya bisa dibilang tahan banting dan "ndableg", batas ketahanan diri saya tetap ada!

Saya tergelitik untuk menanyakan masa depan mimpi saya selama ini. "Saya punya mimpi jadi penulis. Kira-kira kalau saya menekuni jalur karier ini bagaimana?" Jawaban si peramal benar-benar mengejutkan. Ternyata saya akan sukses besar jika serius menekuni profesi ini. Namun, saya harus hati-hati dan tak boleh sembarang percaya orang (terutama yang gemuk, pendek, hitam--hai, hai, siapa dia?). Tambahan lagi, keberhasilan saya ternyata bisa diraih dalam waktu dekat ini. Kata peramal itu juga, sebenarnya memang saya lebih cocok bekerja independen. Hanya saja, di awal masa alih profesi ini saya mungkin akan bertengkar terus dengan suami. Soalnya, saya benar-benar sibuk sampai melalaikan urusan keluarga. Namun, nantinya suami akan bisa mengerti.

Apakah sebaiknya saya keluar saja dari kantor sekarang, begitu pertanyaan saya selanjutnya. Jangan, kata si peramal. Setidaknya, tunggu sampai akhir tahun ini. Saya lalu teringat bahwa "deadline" novel saya memang jatuh di akhir tahun ini. Dan saya pun semakin semangat untuk merintis jalan masa depan. Semangat sekali bahkan! Semoga saja kata-kata peramal ini benar adanya! Soalnya, saya terus terang percaya sekali akan kata-katanya.

Satu lagi fakta mengejutkan: si peramal bilang, saya punya indera keenam. Saya lalu bercerita betapa saya sering kali punya firasat tentang suatu hal dan pada akhirnya jadi kenyataan. Dia lalu berkata, kalau saya mau, saya bisa mengembangkan kemampuan yang satu ini. Namun, saya bimbang. Lebih tepatnya, saya takut!

Dari keseluruhan pengalaman yang saya alami, hanya satu yang saya ingat benar-benar: Mimpi saya bisa jadi kenyataan. Bukan hanya idealisme semata. Dan sekali lagi... saya berharap semoga, semoga, semoga semua ini juga merupakan jalan dari Yang di Atas! ***

Bicara Soal Kerja

Suatu hari saya makan siang bersama sekumpulan teman yang berbeda divisi. Makan siang kali ini terasa lebih meriah. Soalnya, ajang ini dimanfaatkan untuk curhat soal pekerjaan.

Teman-teman saya mengeluh soal pekerjaan yang tak ada habisnya. Teman-teman saya berkesah karena di saat orang-orang lain sedang libur, mereka malah harus bekerja mengurus event di berbagai tempat publik. Teman-teman saya protes karena mereka tak pernah dihargai oleh atasannya. Singkat kata, mereka mengutuk pekerjaan mereka sendiri.

Saat mendengar semua curahan hati mereka, saya jadi berpikir, "Lho, kalau memang tak suka dengan pekerjaannya, kenapa kamu mau kerja di sini?" Semakin dalam terlibat dalam perbincangan mereka, sebagian dari diri saya berkata, "Kenapa mengeluh? Itu kan konsekuensimu bekerja? Bukankah setiap profesi ada konsekuensinya?" Namun, seperti biasa, saya tak pernah menyuarakan isi pikiran saya. Nanti malah bikin tambah kisruh suasana!

Di tengah percakapan, saya jadi terkenang saat bekerja dulu. Tak usah disebut di mana dan siapa pula atasan saya. Yang jelas, pengalaman mereka tak sebanding dengan situasi yang pernah saya alami. Saya teringat, suatu malam saya terpaksa masih berada daerah kantor pada jam 1.30 pagi. Saat itu terselenggara sebuah event yang saya juga tak pernah tahu apa tujuannya. Saya mondar-mandir tanpa tujuan, tapi juga tak diperbolehkan untuk pulang oleh atasan saya. Sebelumnya, saya sudah duduk terdiam di meja saya, di back office. Begitu ingin pulang ke rumah dan beristirahat. Tiba-tiba atasan saya datang dan membentak saya. Apa salahnya saya duduk terdiam? Tak bolehkah saya menunjukkan wajah lelah atau rasa tak senang, setidaknya pada layar monitor saya sendiri? Bahkan tak ada satu pun orang yang ada di sana! Bos saya lantas mengusir saya ke tempat event terlaksana, agar saya bisa menunjukkan wajah manis ke mana-mana. Perintah ini saya lakoni hingga lewat tengah malam. Ketika hampir jam 2 pagi, saya diam-diam mencari tempat bersembunyi, lalu menelepon suami, yang kala itu masih berstatus tunangan. "Saya sudah tak tahan lagi. Saya mau keluar saja!" Rangkaian kalimat ini saya bisikan sambil menempel di bawah tangga. Saya sudah tak bisa menangis lagi.

Di lain kejadian, hari itu saya dihujani begitu banyak pekerjaan. Di saat stres sudah mencapai puncaknya, tiba-tiba pandangan saya gelap sekejap. Selama beberapa tahun saya bekerja, selama puluhan tahun saya hidup, tak pernah saya mengalami hal seperti ini. Oke, saya pernah pingsan sekali ketika duduk di bangku SMP. Tapi ketika itu saya sedang sakit.

Semua pengalaman ini menguatkan niat saya untuk segera hengkang dari perusahaan itu. Dibandingkan saya, pengalaman 4 orang teman yang mengeluh ini masih belum apa-apa. Toh, mereka masih punya teman yang akan menghibur hati mereka, sementara saya saat itu hanya seorang diri. Di dunia kerja saya yang dulu itu, semua orang sibuk menyelamatkan diri sendiri dan tak ada waktu untuk menghibur rekannya yang kesusahan. Namun, dibandingkan keempat teman saya, saya lebih menang. Karena saya berani mengambil keputusan. Saya berani mempertaruhkan reputasi. Saya tak lagi pedulikan bahwa saya baru tiga bulan bekerja. Saya tak mau tunggu satu-dua bulan lagi, apalagi satu tahun lagi. Pengalaman kerja memang modal penting. Tapi amatlah tak pantas untuk membiarkan diri terpuruk dan terhina, juga tak dihargai selama dua tahun, hanya untuk mendapatkan rekomendasi. Semoga teman-teman saya ini pada nantinya sampai juga pada kesimpulan ini. Atau mungkin mereka perlu membaca novel ChickLit berjudul "The Devil Wears Prada"? Mungkin. ***



Dunia Lama yang Kembali Menggelitik

Mittwoch, Juli 07, 2004
Beberapa waktu belakangan ini saya selalu bertemu dengan masa lalu. Dimulai dari tugas peliputan di hotel tempat bekerja dulu, saya bertemu dengan teman-teman lama. Lalu, suatu hari saya baru tahu kalau teman sekantor saya pernah menangani klien yang sama dengan yang saya tangani selama masih bekerja di biro iklan.

Tak lama kemudian, saya sedang chatting di Yahoo Messenger. Seorang teman lama online kembali dan menyapa saya. Dia itu dulu teman bekerja saya saat masih di biro iklan. Dia menawarkan saya untuk menjadi penulis lepas program televisi. Masih saya pikir-pikir. Seminggu kemudian, seseorang kembali menyapa saya lewat Yahoo Messenger. Ternyata dia adalah teman bermain hockey waktu saya kuliah dulu. O iya, sebelumnya lagi saya baru sadar juga kalau teman sekantor (yang lain) adalah teman dari teman baik saya. Bahkan, dia pernah main hockey juga. Yang mengagetkan lagi, dia ternyata kenal suami saya.

Itu saja belum cukup. Tadi pagi saya menerima telepon yang awalnya berhubungan dengan urusan kantor. Setelah telepon dioper ke sana-sini, orang itu kembali ingin bicara dengan saya. Dan ternyata... dia adalah teman saya semasa kuliah dulu. Sekarang di bekerja di sebuah penerbit. Alamak... saya tak tahu ungkapan yang pas. Apakah dunia ini memang cuma selebar daun kelor, yang dalam bahasa kerennya sering disebut "What a small world!" ? Atau tanpa disangka-sangka saya punya networking yang cukup canggih? Sepertinya tidak juga, ya? ***

Ya Ampun..., Ke Mana Aja Loe?

Freitag, Juli 02, 2004
Kalimat ini kerap terucap di kantor saya (juga di pergaulan) ketika salah seorang (mungkin juga saya) tak mengetahui perkembangan dunia dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh.

Kalimat ini beberapa kali pernah saya lontarkan pada suami saya, tanpa bermaksud untuk merendahkannya. Atau kepada beberapa teman dekat, tanpa bermaksud untuk menertawakannya. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya sering kali mengucapkan kalimat ini dengan tajam. Untungnya, cuma dalam hati. Jadi, jumlah orang di dunia ini yang membenci saya tak bertambah banyak.

Kalimat ini pertama terucap dalam hati saat seorang teman dengan amat semangat memberi pengumuman hasil liputannya pada semua orang. "Ya ampun,... Itu alatnya keren banget. Namanya Bluetooth. Kalau pakai Bluetooth, kita bisa transfer foto ke printer dari ponsel yang punya fasilitas kamera digital. Keren banget, deh!" Saya pun membatin, "Ya ampun.. ke mana aja, lo? Ini sudah tahun 2003 [waktu itu]. Bluetooth itu 'kan sudah ada sejak awal tahun 2000-an!"

Kali kedua kalimat ini terucap, target sasaran saya masih saja orang yang sama. Rupanya dia memang bisa digolongkan orang yang gagap teknologi. Atau kurang pergaulan? Kala itu, ia berkata pada sahabatnya yang duduk tak jauh dari saya, "Eh, tahu tidak. Sekarang ada ponsel seperti pulpen. Jadi kalau kita mau telepon orang, tinggal tulis-tulis. Kirim SMS juga begitu! Keren banget, ya!" Saya kembali menjerit dalam hati. "Aduh.. ke mana aja, lo? Teknologi kayak begitu sih gue udah lihat waktu di Jerman bulan Maret kemarin. Elo sendiri waktu di Hong Kong meliput peluncuran ponsel ngapain aja?" Saya lalu teringat dengan ponsel Xelibri tipe 3 yang sudah dilengkapi fasilitas yang hampir sama. Di Indonesia, ponsel ini sudah diluncurkan tahun 2003 lalu.

Rasa kesal saya ini mungkin masih bisa termaklumi. Soalnya, tak semua orang penggemar kemajuan teknologi seperti saya. Tapi saya juga agak rikuh melihat euforia yang tak pada tempatnya. Tidak bisakah rasa gembira itu tak terlalu diumbar, agar dirinya tak menuai malu di depan orang banyak. Untung saya tak jahat menimpali kegembiraannya dengan kalimat "Oh God.. it's so last year!", seperti celaan pedas yang kerap terlontar dari mulut beberapa orang rekan.

Kalimat "Ke mana aja, lo?" akhirnya mencapai puncaknya beberapa hari yang lalu. Kala itu, seorang teman bertanya pada saya, "Kalau kata pasangan itu disertai satu atau sebuah?" Awalnya, saya bingung mendengar pertanyaan ini. "Kalimatnya seperti apa?" tanya saya balik. "Kalau suami istri? Satu pasang suami istri atau sebuah?" Sambil mengerutkan dahi ke lekukan terdalam, saya menjawab, "SEPASANG suami istri." Dalam hati saya benar-benar berteriak dengan suara berdesibel tertinggi. "Ya ampun.... sebuah pasang suami istri? Satu pasang suami istri? Yang bener aja.. Ke mana aja lo...?????"

Saat membaca ini, Anda mungkin akan tertawa. Tapi terus terang saya sama sekali tidak tertawa. Tolong, tolong,tolong. Suami saya yang bekerja di departemen teknologi informasi saja bisa otomatis berucap, "Sepasang suami istri." Tapi kenapa hal yang --maaf-maaf saja-- tolol seperti ini sampai keluar dari mulut teman saya yang bekerja di media? Untuk bahan perenungan, sebaiknya saya sebutkan saja jabatannya. Jabatannya adalah Managing Editor alias Redaktur Pelaksana. ***

My Color Is Green?

Donnerstag, Juli 01, 2004
Dari sebuah link yang ada di blog teman, saya iseng-iseng mencari tahu warna diri saya. Hasilnya adalah:


Green



You are a very calm and contemplative person. Others are drawn to your peaceful, nurturing nature.




Yaiks! Warna hijau terus terang saja tak pernah saya gemari. Baju saya yang berwarna hijau pun bisa dihitung dengan jari. Bagi saya, warna hijau itu warna mati. Susah dikombinasikan dengan warna lainnya, juga tidak cukup eye-catching buat diliat orang. Deskripsinya juga tak cocok dengan gambaran diri saya. Kalau Anda sendiri bagaimana? Coba ikutan tes ini juga, ya! Jangan lupa, kasih tahu saya hasilnya! ***

2nd Wedding Anniversary

Tanggal 30 Juni bisa dibilang tanggal keramat bagi saya. Tepat dua tahun yang lalu, saya telah mendedikasikan seluruh hidup saya pada seorang pria, yang kemudian jadi suami saya.

Sudah dua tahun saya hidup bersama dengan suami. Kalau boleh kilas balik, pernikahan bisa dikatakan telah mengubah hidup saya. Ungkapan "Tak sendiri lagi" sepertinya benar-benar saya alami. Dulu saya suka mengurung diri di kamar. Entah untuk membaca buku sampai selesai, menyanyikan lagu favorit (biasanya lagu-lagu dari "Phantom of the Opera") keras-keras, menulis, tak jarang bicara pada diri sendiri. Ketika sendirian, saya tak kesepian. Sebab, saya ditemani oleh pikiran dan khayalan saya. Hal yang imajiner ini membuat saya begitu hidup dan merasakan eksistensi diri saya. Saya jadi ada di tengah yang tiada. Sejak 2 tahun yang lalu itu, saya harus membagi dengan suami. Berbagi ranjang, berbagi pikiran, berbagi uang (sebenarnya lebih sering saya yang minta dibagi daripada membagi), juga berbagi raga. Sudah hampir 8 bulan ini saya harus berbagi juga dengan satu orang lagi, anak saya. Waktu untuk sendiri jadi berkurang, bisa dibilang langka. Mungkin saya baru benar-benar bisa menikmati kesendirian kala mengemudi mobil. Bisa menyanyi lantang, bisa menggerutu sendiri, tapi sayangnya tak bisa membaca buku.

Apakah saya menyesal telah menikah dan punya anak? Hmm... tidak juga. Lebih sering, saya menganggap diri sebagai orang paling bahagia di dunia ini. Usia saya belum mencapai 30, tapi saya sudah hampir punya segalanya. Rasa bahagia ini tak mungkin saya alami kalau masih sendiri. Selain itu, hidup saya juga jadi punya arti dan tujuan. Setiap kali saya merasa down, jatuh ke ujung jurang kerendahdirian, saya selalu ingat satu hal: seburuk-buruknya saya, sepayah-payahnya saya, saya masih punya suami dan anak yang sayang pada saya. Bahkan di saat saya tak lagi punya apa pun untuk dibanggakan dalam hidup ini, tak bisa menuangkan pikiran lewat tulisan atau tak bisa bekerja di mana pun juga, saya masih bisa merasakan kehangatan pandangan anak saya saat dia baru bangun pagi. Saya juga masih bisa mendapat rasa aman dan kasih sayang ketika sedang menumpahkan rasa sedih di pelukan suami.

Akhirnya, saya sampai pada suatu kesimpulan: dua tahun kebersamaan yang telah saya jalani telah membuat saya lebih menghargai hidup ini. Tapi saya sadar kalau dua tahun itu masihlah masa yang singkat. Masih banyak cobaan dan tantangan yang menunggu. Masih ada banyak prahara yang mungkin terjadi. Dan jika hal itu terjadi, saya akan ingat untuk kembali menengok tulisan ini.***