<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Saya Berevolusi, Maka Saya Ada

Donnerstag, Februar 12, 2009
Dunia tidak akan pernah lupa pada sosok bernama Charles Darwin. Telah begitu banyak karya yang dituliskan seputar ilmuwan Inggris ini. Tentang bagaimana ia berhasil mengubah pandangan manusia seputar jati dirinya yang paling hakiki. Beragam tulisan itu bervariasi—ada yang mencela, ada yang memuji. Sampai hari ini, teori evolusinya menjadi pilar dasar sains modern, berdampingan dengan teori relativitas dan mekanika kuantum. Seperti yang dikatakan oleh Francisco J. Ayala, pakar biologi evolusioner University of California, Irvine, pada tahun 2007, “Darwin melengkapi Revolusi Copernicus dengan memperkenalkan pemahaman alam sebagai sistem materi yang bergerak mengikuti kaidah hukum, yang bisa dijelaskan oleh nalar manusia tanpa berpaling ke lembaga supernatural.”

Hari ini, tanggal 12 Februari, merupakan peringatan 200 tahun kelahiran Darwin, sekaligus 150 tahun teori evolusinya. Perjalanannya dengan kapal HMS Beagle ke Amerika Selatan pada tahun 1831 mengantarnya pada suatu pengalaman yang begitu luarbiasa. Yang membuatnya bertanya, bagaimana sebenarnya spesies berevolusi. Selama duapuluh tahun selanjutnya, ia berusaha merangkum buah-buah pemikirannya menjadi sebuah teori evolusi, yang dihubungkannya dengan proses seleksi alam.

Pemikiran evolusi Darwin yang kemudian sering disebut sebagai “Darwinisme” ini sebenarnya tidak bisa dibilang hal yang baru. Jurnal sains Cosmos (Desember 2008/Januari 2009) mencatat, pandangan seputar asal-usul manusia sebenarnya sudah ada sebelumnya. Pada tahun 1801, seorang naturalis Perancis, Jean-Baptiste Lamarck, mengajukan teori bahwa spesies-spesies bisa berubah, sesuai dengan kondisi lingkungan. Jauh beratus-ratus tahun sebelum itu, tepatnya pada 1699, muncul hasil pengamatan yang serupa dari Edward Tyson. Dokter asal London ini membedah simpanse dan mendapati anatomi makhluk ini amat mirip dengan manusia.

Namun, teori Darwin ini tetap saja mengundang kontroversi. Sebab, salah satu hasil studinya menyimpulkan bahwa jutaan spesies yang hidup dewasa ini berasal dari satu bentuk kehidupan asli tunggal, yang melalui proses pencabangan. Proses ini dikenal juga dengan nama spesiasi (speciation). Dengan demikian, sebagai kelanjutan teori ini, bisa disimpulkan bahwa keberadaan manusia selama ini tak lain berasal dari hewan. Sementara, pada saat itu orang masih teguh percaya, bahwa manusia diciptakan sempurna sejak awal. Sebagaimana paham asal-usul penciptaan manusia yang selalu diajarkan oleh agama. Tak ayal, keberadaan Darwin dan teori evolusinya dianggap sebagai ancaman terhadap konsep eksistensi, yang telah lama diamini oleh hampir seluruh kalangan.

Ciptaan yang Menciptakan
Apa yang dikemukakan oleh Darwin pada akhirnya berhasil bertahan dari berbagai kajian kritis, dari kritikus ilmiah dan religius. Dengan perlahan-lahan namun pasti, sama seperti cara Darwin mengamati jagat alam ini. Namun, seiring dengan semakin melekatnya teori evolusi Darwin di benak setiap orang, sebuah perubahan besar lainnya telah menanti.

Perubahan itu diawali oleh penemuan struktur DNA (deoxyribonucleic acid) oleh Francis Crick dan James Watson di tahun 1953. Struktur ini berbentuk mirip dua pita melintir (double helix) yang dapat membuka untuk mengopi diri mereka sendiri. Temuan ini menjadi titik tolak kemajuan bioteknologi, yang kini tak lagi berusaha untuk menemukan vaksin dan antibiotik untuk mengobati penyakit, tetapi juga memperbaiki sel yang rusak. Teknologi kloning memungkinkan kita “membuat” organ baru dari sel punca, atau memudakan kembali sel-sel tubuh dengan mengatur ulang kode-kode genetik yang terkandung pada DNA.

Lompatan besar ini digenapi oleh “kelahiran” Dolly, seekor domba yang dikloning dari sel dewasa. Domba ini kemudian bisa melahirkan domba kembar yang identik dengan induknya. Secara beruntun, berbagai “kelahiran” berikutnya menyusul. Mulai dari kucing, anjing, babi, tikus, lembu, hingga kelinci. Sampai sekarang, perkembangan teknologi ini masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan.

Argumentasi seputar kloning ini seperti mengajak kita kembali mengenang kekacauan yang terjadi ketika teori Darwin baru diungkapkan. Tanpa sadar, kita telah beranjak dari teori evolusi yang satu ke teori “evolusi” yang lain. Ketika berbagai spesies mengalami proses spesiasi dan berkembang menjadi spesies yang baru. Hanya saja, kali ini proses itu tidak berlangsung dalam suatu seleksi alam. Ada campur tangan manusia, yang mengambil alih posisi Tuhan sebagai sang Pencipta.

Pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang tak bisa tidak dilontarkan. Apakah sudah waktunya bagi kita untuk mulai merangkai suatu pemahaman baru seputar eksistensi manusia. Bahwa manusia tidak lagi diciptakan melainkan disalin dari kopi yang telah tersedia. Bahwa perkembangan spesies tidak lagi semata-mata terjadi di alam, melainkan bisa di laboratorium. Terlepas dari perdebatan seputar moral dan agama, apakah kita siap menerima jati diri yang baru ini?

* tulisan ini sebenarnya merupakan salah satu tugas pada pelatihan yang saya ikuti kemarin. Tapi mengingat momen yang begitu pas, saya posting sekalian di sini.