<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Mengenang Klaten

Mittwoch, Mai 31, 2006
Cuaca membuat saya merasa serba salah di penghujung Desember 2001 itu. Selama hampir 14 jam perjalanan, saya duduk di bangku penumpang depan dan berusaha menggeluti gelisahnya alam di hari itu. Mulai dari subuh yang dingin, saat mulai berangkat dari Jakarta, siang yang makin terik, hingga angin agak menusuk saat mulai memasuki Jogja. Tapi, bukan ke sana saya akan pergi. Saya akan ke Klaten. Saat itu, saya sama sekali tak punya gambaran di manakah letaknya. Perbatasan antara Jogja dan Solo adalah konsep satu-satunya yang saya ketahui, meski itu sendiri tak cukup memberi jawab bagi dahaga ingin tahu saya. Berulang kali saya bertanya pada mertua saya (waktu itu masih calon mertua, karena saat itu saya baru saja resmi bertunangan dengan suami saya), masih berapa lamakah lagi perjalanan yang harus ditempuh. Pertanyaan yang sepertinya gamblang menjelaskan kelelahan saya itu selalu dijawab, "Tidak lama lagi."

Malam yang mulai gelap membuat saya tak lagi dapat menilik suasana alam dan kota yang saya lalui. Bahkan kota Jogja yang sudah sering saya kunjungi berkali-kali pun tak bisa saya tangkap nuansanya. Akhirnya, kami sampai di Klaten. Hati saya berdegup. Ini kali pertama saya akan bersua dengan kampung halaman (calon) suami saya, lengkap dengan semua kerabatnya. Bayangan seperti apa desa kelahirannya begitu kabur di benak saya. Karena saya sendiri dilahirkan dan dibesarkan di kota besar, saya cenderung berprasangka bahwa desa adalah tempat yang terpencil, dengan rumah kecil bersinarkan petromaks. Yang harus ditempuh dengan jalan yang berliku sampai pelosok, sampai-sampai kita akan tersesat bila tak ingat arahnya. Tapi, ternyata semua itu benar-benar murni "racun" yang yang saya teguk akibat terlalu sering menonton televisi ataupun membaca cerita klasik berlatar belakang pedesaan serta bertokohkan seorang anak miskin. Sebuah rumah besar berstruktur bangunan huruf L yang dikelilingi tembok pagar itu sama saja seperti rumah-rumah lainnya di kota. Tak beratap gedek, bertembok kayu. Ya, rumah seutuhnya. Lampu menyala terang, televisi sedang diputar. Suasana ndeso sama sekali tak meliputi diri saya. Malah, justru saya merasa begitu homy (dan menyadari, ah, inilah sebabnya mertua saya gemar sekali pulang kampung. Siapa yang tak kangen pulang bila punya rumah begini nyaman untuk ditinggali?). Jadi inilah kampung halaman suami saya. Desa Prajenan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah.

Gambaran rumah keluarga suami saya itu sekarang mungkin sudah hanya jadi bagian dari kenangan saya kini. Begitu juga bayangan anak saya yang berlari-lari kegirangan di pekarangan depan setiap kali bangun pagi di masa liburan akhir tahun yang lalu. Atau, rasa segar akibat terpaan angin semilir saat duduk di teras rumah, hanya untuk melamun sebentar di sore hari. Atau, saat-saat menikmati turunnya hujan dari jendela ruang tamu depan. Atau, momen terbahak bersama melihat ulah anak saya saat bermain bersama para sepupunya. Setiap sudut ruangan rumah itu tidak lagi bisa saya jumpai. Sejak 27 Mei 2006 yang silam. Seiring dengan lemasnya badan saya begitu mendengar kabar dari Ibu Mertua, bahwa bencana gempa bumi telah meluluhlantakkan daerah Jogja, Klaten, dan sekitarnya. Suami saya hanya bisa bilang, "Ya, ini memang bencana. Kita tak bisa mencegahnya.", menimpali suara ibunya yang tergetar, akan menangis. Habislah sudah kenangan kami akan rumah itu. Habislah juga semua hasil kerja keras orangtua suami saya selama puluhan tahun untuk memperbaiki rumah itu. Dari hanya bangunan kecil hingga cukup besar untuk ditempati anak-cucu. Dari (memang) dulunya harus beraktivitas diterangi lampu templok hingga kini memiliki listrik. Pohon kelapa di halaman depan, apakah masih ada? Kebon mangga dan rambutan di halaman belakang, apakah masih akan berbuah nanti? Saudara-saudara di sana, yang tinggal tak jauh dari rumah kami, apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka selamat? Selain seorang Pakde yang dikabarkan meninggal akibat kena reruntuhan rumahnya sendiri, apakah ada lagi yang mengalami hal yang sama atau hanya sekadar luka-luka? Saya masih menanti kabar dari mertua saya yang pulang ke sana hari Minggu, sehari setelah bencana itu terjadi. Komunikasi yang terputus membuat kabar itu pun tak sampai.

Klaten, Juni 2006 (seharusnya). Saya telah berencana sejak kali terakhir berlibur ke sana, Desember 2005 lalu, untuk kembali lagi. Tidak menunggu hingga akhir tahun, karena di bulan Juni akan ada acara keluarga besar suami saya. Program liburan kali ini: Berpetualang dari candi ke candi. Berusaha menangkap segala sisi dari lensa kamera (yang sedang saya timbang-timbang untuk beli). Ibu saya sendiri pun sudah menyusun liburan ke sana. Ia ingin berkunjung ke Gereja Ganjuran, Bantul. Saya sempat mengatur janji dengannya, nanti kita bertemu di Jogja, lalu Ibu tak perlu ikut tur lagi dan bergabung tinggal dengan kami di Klaten. Saya ingin menunjukkan rumah mertua saya yang begitu saya sayangi. Membuatnya paham mengapa akhirnya anak saya jadi lancar berjalan setelah liburan akhir tahun 2004, ketika usianya baru menginjak satu tahun. Juga mengapa kami semua begitu betah berlibur dan ingin selalu kembali ke sana, walau harus menempuh perjalanan belasan jam plus menonton Ibu Mertua yang mabuk darat (namun akhirnya saya dapat solusi untuk pulang naik pesawat di kali terakhir, sehingga liburan benar-benar berakhir cukup indah). Rencana yang mendetil, yang sudah sering saya sampaikan ke beberapa teman saya, kini sudah mengepul jadi asap dan menghilang. Klaten di hari ini mungkin kembali gelap gulita di malam hari, karena listrik yang terputus. Orang-orang kedinginan saat hujan datang, karena mereka tak lagi memiliki tempat untuk bernaung. Saya teringat pada para keponakan di sana, juga para sepupu, dan para sepuh. Ah, rasanya pilu. Bila bisa meminta, tak usahlah saya mewujudkan rencana saya itu, asalkan gempa bumi ini bisa terhindari... Tapi, apa mau dikata. Sembari saya menunggu kabar dari kampung halaman dan segera ke sana membawa bantuan, lebih baik saya putar terus film kenangan tentang Klaten. Satu film yang tak pernah membosankan, yang sayangnya tak dapat saya alami kembali. Tidak lagi. ***

Fantasia-Impromptu

Dienstag, Mai 23, 2006
Ada seberkas api sedang berdansa liar, ia menaik menukik, menghujam tajam ke bawah, melebar ke samping kiri dan kanan, berusaha menembus batas tak jelas di tepian yang semu.

Ada segelombang pasang sedang menghempas lautan, ia berdeburan di bebatuan karang yang terjal, menghantam pasir yang tak berdaya menunggu di bibir pantai, hingga hanyut terbawa ombak, -

Pasrah...

Ada segumpal salju melayang di udara, ia menari di tengah hamparan putih, membelai dedaunan, menyapa angin, mencium udara tak berbentuk yang mengapung terbang tanpa tujuan - hanya untuk mengisi ruang di muka bumi ini.

Ada hembusan napas yang lambat berirama, menghayati irama alam yang meredup di senja nan gelap itu. Ia bagian dari nyawa yang tak bertuan, yang menelusuri hutan yang penuh pepohonan.

Senyap.

Hingga tiba-tiba berkas api itu menandak lagi, melabrak kayu kering, melawan air bah yang mendesak keras ke dataran rendah, melumerkan salju yang sedang bercumbu dengan kolam yang kini beku, membuat hutan yang sunyi jadi memerah panas, seperti akan menghancurkan semua kehidupan yang ada di dalamnya.

Dasss!! Api itu menang... dan ia merayakannya dengan menggerakkan tubuhnya mengikuti irama alam yang kini marah, hingga perlahan pijarannya meresap hilang tanpa sempat mengepakkan sayap mautnya ke seluruh penjuru.

Ia mati.

Tanpa sebab.

~Interpretasi Komposisi Fantasie-Impromptu in C Sharp Minor, Frederic Chopin~

After the Quake

Montag, Mai 22, 2006
Kumpulan cerpen berjudul After the Quake dari Haruki Murakami ini sampai pada saya di suatu hari di bulan Oktober, tepatnya tahun lalu. Buku itu adalah pemberian dari seorang teman. Entah kenapa, ia ingin saya memilikinya - dan dengan kata lain juga membacanya. Sejak saat itu, berbagai teman yang memahami saya dan juga gaya menulis (pribadi) saya secara silih berganti merekomendasikan berbagai karya dari Haruki Murakami. Seorang teman lainnya membelikan saya Kafka on the Shore sebagai hadiah Natal tahun lalu (yang sampai hari ini belum berhasil saya baca. Ups!). Saya pun bertanya-tanya. Kenapa Murakami dan apa hubungannya dengan diri saya?

Sekitar awal bulan Mei, barulah saya punya waktu luang yang cukup untuk menjelajahi buku ini, setelah di suatu ketika saya mencoba membaca satu cerpen di buku ini dan kemudian terpaksa menangguhkan penyelesaian keseluruhan buku karena banyak hal. Di cerpen awal itu, saya masih belum menemukan alasan "Mengapa Murakami". Namun, setelah menggeluti kumpulan cerpen ini secara lebih intens, di akhir petualangan membaca saya pun menyadarinya.

Seperti judulnya, kumpulan cerpen After the Quake adalah karya yang ditulis oleh penulis beraliran kontemporer asal Jepang dengan latar belakang waktu sesaat sesudah gempa bumi besar yang melanda Kobe di tahun 1995. Tidak, Anda tidak akan berhadapan dengan situasi gempa itu ataupun akibatnya terhadap Kobe secara gamblang. Alih-alih, Anda akan berkenalan dengan kekayaan karakter manusia. Kerapuhan diri di balik ketegaran yang ditampakkan pada orang banyak bisa dibilang merupakan "sasaran tembak" Murakami dalam karyanya ini. Dan, ya, itu juga memang "sasaran tembak" saya sendiri dalam menulis karya (pribadi). Inilah alasan pertama mengapa semua teman sepakat "menjodohkan" saya dengan Murakami, sepertinya.

Cerita pendek yang paling memikat hati saya di buku ini adalah Super-frog Saves Tokyo. Setelah berjuang memahami dua cerpen awal, termangu saat menyimak cerpen ketiga, dan terenyuh selepas mencerna cerpen keempat (berjudul Thailand - bila Anda termasuk orang yang sensitif, tak mustahil Anda menitikkan air mata saat membacanya), cerpen Super-frog Saves Tokyo menjungkir-balikkan emosi saya, dari yang awalnya agak mellow menjadi ceria. Ada tanda tanya besar yang menghantui diri saya saat membaca petualangan Katagiri dan si Katak Raksasa. Jarak antara realitas dan mimpi yang begitu tipis membuat saya harus bisa menjaga diri agar tak terjebak untuk segera berasumsi dan menyusun prasangka terhadap karakter setiap tokoh dan juga kejadian yang selanjutnya bakal terjadi. Lompatan-lompatan antara dunia nyata dan tak nyata, yang menjadi kekuatan dari aliran surrealisme, adalah yang membuat cerpen ini begitu mendebarkan. Aliran ini pula yang -kalau tidak salah dengar-menjadi mainstream Murakami dalam menulis. Dan, berhubung mainstream ini pula yang sedang saya berusaha untuk tekuni dalam menulis, saya kira ini bisa menjadi alasan kedua kenapa teman-teman mendesak saya untuk membaca Murakami.

Teman saya yang menghadiahkan buku ini sampai saat ini masih dalam proses "hunting" mencari karya lain dari Murakami. Seperti halnya saya yang kecanduan Jostein Gaarder, ia mengidap ketagihan Haruki Murakami. Saya sendiri sebenarnya cukup terusik untuk segera membaca Kafka on the Shore, mengingat kecamuk tak menentu penuh rasa penasaran, tanda tanya, dan ingin tahu yang saya rasakan saat membaca After the Quake, yang membuat saya ingin mengulangi sensasi itu lagi. Saya benar-benar mendapat pelajaran yang amat berharga dari After the Quake, baik dalam merumuskan tulisan saya nantinya maupun apresiasi. Apakah Anda juga tertarik untuk mencoba membacanya juga? ***

Buku lainnya yang juga ditulis oleh Haruki Murakami:
1. The Wind-Up Bird Chronicle
2. Dance Dance Dance
3. Norwegian Wood (Sudah ada dalam edisi bahasa Indonesia)

Bila Anda pernah menikmati Murakami dan ingin berbagi pengalaman, silakan tinggalkan dalam bentuk komentar di bawah ini. Terima kasih banyak!

Setelah Kau Pergi

Hari Kamis malam (18/05), saya pulang ke rumah dengan suasana hati yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Membuka pintu pagar, melihat ke area sempit di pinggir garasi, yang menjadi taman kecil berhiaskan pohon dan kolam ikan, saya menghela napas. Berat. Saya tahu, di situ telah terkubur lagi satu bagian dari hidup saya. Anjing saya, pagi itu mati dalam usia 17 tahun. Peristirahatan terakhirnya adalah taman kecil itu, bergabung dengan temannya, anjing saya lainnya, yang dua tahun lalu juga mati dalam usia 12 tahun.

Ketika si Uble, si Anjing berusia 12 tahun itu, mati, saya sungguh sedih tak terperi. Ini semata-mata karena kejadian ini sungguh tak terduga. Berhari-hari ibu saya terdiam dengan mata yang sembab. Suasana rumah pun jadi hening, penuh duka. Kematian seekor anjing ternyata mampu mengubah segalanya. Namun, kala si Babon, anjing saya yang baru mati ini, berpulang pada penciptanya, entah kenapa kami semua diliputi rasa lega. Pasalnya, penderitaannya sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir begitu menyakitkan. Setelah melewati masa sekarat sekitar tiga minggu, ia pergi dengan damai dan badan yang sangat kurus. Menyaksikannya tak lagi sanggup bangkit dan berjalan, mendengarnya hanya bisa melolong dengan suara yang memilukan, dan menemukannya tak lagi bisa makan apa-apa dan hanya bergantung pada air dan beberapa sendok madu bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Dan, pada waktu saya ditelepon oleh ibu saya untuk mendapat kabar kepergiannya, saya tak lagi bisa menitikkan air mata. Rasanya, hati saya terlalu pilu untuk menangis. Sepertinya, tangisan saya bisa menghapus semua perjalanan yang pernah saya lalui bersama anjing itu. Karenanya, saya tak ingin menangis.

Anjing hitam berbadan kecil itu bisa dibilang merupakan saksi pertumbuhan saya, dari seorang anak berusia 13 tahun yang baru saja masuk sekolah menengah pertama, hingga menjadi seorang wanita beranak satu. Saya masih ingat ketika suatu malam kakak saya pulang dari rumah temannya membawa seekor anjing kecil yang bahkan belum bisa membuka matanya. Hari itu tanggal 19 Agustus 1989, dan kami (saya dan kakak) nobatkan sebagai hari ulang tahun anjing itu. Sempat ada berbagai nama yang kami perdebatkan. Dari nama Boni (yang disandang oleh anjing kami semasa kecil dulu), nama Babon pun muncul. Dan jadilah anjing keturunan Peking itu menyandang nama yang sebenarnya tak sesuai dengan bentuk badannya. Anjing ini sebenarnya bukan anjing yang ramah, karena entah sudah berapa kali saya kena gigitannya. Tapi, ia sangat manusiawi dan setia. Ia punya rasa benci dan juga rasa cinta, yang membuatnya bisa membedakan mana tamu yang pantas didekati ataupun yang mana orang yang sebaiknya dia gigit sehingga tak berani lagi datang ke rumah. Gigitannya pun tak sebegitu menyeramkan seperti yang saya terima, sehingga kami kerap geli di kala tamu itu bergulat untuk menjauh dari anjing saya.

Si Babon hitam adalah teman tidur saya selama bertahun-tahun. Kami sekeluarga kerap bergurau, menyatakan bahwa konon sifat anjing mirip dengan tuan yang paling ia sayangi. Anjing saya si Uble punya perilaku yang kalem dan penyayang seperti Ibu saya, sedangkan si Upi (anjing satu-satunya yang kini tertinggal di rumah) seperti ayah saya, karena sama-sama tidak bisa diam. Si Babon dianggap merupakan perwujudan dari saya yang cukup galak, keras kepala, dan (ehm) tabah. Di malam saat ia mati, saya tiba-tiba sadar betapa banyak hal yang telah saya lalui bersamanya. Lebih banyak daripada yang ternyata mengendap di dasar hati saya. Sebelum tidur, saya sempat menggali berbagai nostalgi bersamanya. Dan juga, menyadari betapa lamanya keluarga kami terpaksa bergerak dalam ruang yang amat terbatas setelah anjing hitam ini berkelahi dan saling mendendam dengan anjing lainnya, dan harus dipisahkan habitatnya di ruang tengah yang diberi sekat dua buah sofa. Ruang tengah itu otomatis menjadi kamar pribadi si Babon. Padahal, ruang yang semula adalah ruang keluarga itu lumayan luas. Kini, setelah ia pergi, ibu saya kembali mengatur tata ruang. Ruang tinggal si Babon pun kembali menjadi milik kami. Di Kamis malam itu, saya menonton televisi di ruangan itu bersama ayah dan anak saya. Di tengah menikmati keleluasaan yang kini kembali, ada satu rasa sepi yang menjalari. Saya melihat si Upi dan berkata, "Yah, sekarang tinggal kamu sendiri penguasa rumah ini."

Kepergian anjing kesayangan saya sekali lagi menyadarkan saya pada suatu perubahan. Waktu terus berjalan. Saya telah menyaksikan sebuah kehidupan selama 17 tahun lamanya dan kemudian menyadari juga betapa sepuhnya saya kini. Dan, mau tak mau saya juga jadi membayangkan tentang akhir kehidupan saya sendiri. Apakah saya akan mati mendadak seperti si Uble, atau mati perlahan dalam penderitaan seperti Babon? Saya tak bisa menentukannya. Tapi yang pasti, saya tahu bahwa dua anjing saya itu mati dalam lindungan kasih sayang dari "keluarga"-nya. Dan itulah yang saya harap bisa saya dapatkan di akhir hidup saya. Entah besok, entah lusa, entah beberapa tahun lagi. ***

Era Delapanpuluhan

Dienstag, Mai 16, 2006
Suatu sore, naik mobil, berjalan-jalan dengan keluarga kecil saya. Jenuh dengan program musik Rock di stasiun radio favorit saya dan suami, saya menekan channel stasiun radio lainnya. Lagu jazzy mengalun, saya merasa relaks (pasalnya, saya kurang suka musik rock). Suami pun tampak tak keberatan. Sambil mendengar musik, saya mengenang awal masa saya tertarik pada jenis musik ini. Pikiran saya pun kembali antara era delapan puluhan dan awal sembilanpuluhan. Saat itu, usia saya paling baru belasan. Baru duduk di bangku SMP. Menikmati musik blues yang diputar stasiun televisi swasta (waktu itu masih harus pakai dekoder) bersama ayah. Tak tahu apa judulnya dan siapa penyanyinya, tapi alunan musiknya begitu nikmat di telinga saya.

Saya lalu teringat lagi saat hunting CD musik klasik bersama ayah. Betapa kami gembira dengan penemuan hari itu: Komposisi lengkap Georg Friedrich Haendel - Messiah. CD itu sekarang sudah diwariskan pada saya, dan bersanding dengan koleksi saya lainnya yang dibeli tak lama setelah itu: Georges Bizet, Edvard Grieg, Peter Illych Tchaikovsky. Di era itu, sepertinya segalanya begitu sulit dicari. Tapi begitu ditemukan, tak bisa dilukiskan betapa gembiranya hati. Berbeda dengan saat ini; apa saja mudah didapat, tapi tingkat apresiasi tak lagi setinggi dahulu - dalam bidang apa pun. Kemajuan teknologi sepertinya telah membuat kita cenderung menggampangkan nilai dan usaha. Di saat musik telah mudah diperoleh di internet dan disimpan dalam iPod, tak banyak lagi orang yang bergetar hatinya saat mendapatkan koleksi CD musik dari penyanyi atau komposer favoritnya. "Hari begini masih cari CD Yoyo Ma (dia pemain cello favorit saya)? Cari saja MP3-nya di internet!" kata teman saya. Bukan masalah lagunya, sebenarnya. Tapi masalah apresiasinya. Lagi-lagi saya mendesah.

Beberapa minggu lalu, saya menemukan link ke satu situs, namanya Delapanpuluhan. Benar-benar blog yang disusun dengan riset dan pengalaman yang ekstensif. Saya sampai tertawa-tawa, tertegun, sampai agak terharu saat menyimak berbagai cerita yang terjadi di masa lalu. Dan, ehm, di beberapa posting saya terpaksa mengakui bahwa diri saya pun ikut terbawa arus "kenajongan dekade 80an" itu. Sebenarnya, era itu tak banyak yang berhubungan dengan saya. Mungkin suami saya yang lebih mengalaminya dengan lebih total, karena dia di akhir dekade itu dia sudah di bangku SMA. Tapi, kenangan yang saya peroleh pun rasanya sudah amat cukup menyenangkan untuk dikenang. Dan, ya, memang benar apa yang dikatakan blog itu. Era delapanpuluhan bisa dibilang memang era keemasan Indonesia. Saya beruntung sekali bisa mencicipinya. Mungkin teman-teman saya yang lahir di tahun 80an tak bisa mengalami betapa minimnya hiburan yang ada di masa itu, sehingga kita jadi cenderung menghargai apa yang kita miliki. Ketika pilihan begitu terbatas dan itu pun tidak maksimal, kita pun belajar untuk lebih mengapresiasi apa yang kita pilih. Ada seorang teman saya yang bilang bahwa anak-anak sekarang adalah produk zaman instan. Mereka cepat menangkap segalanya, tapi cepat pula melepaskannya tanpa menyerap intisarinya. Bila remaja delapanpuluhan berjuang keras memantapkan eksistensinya, remaja sekarang bagaikan sebongkah kapas yang terbang ke sana-sini tanpa eksistensi. Ia pergi ke mana ia diterbangkan, tinggal sejenak dan melekat, hingga akhirnya tren menerbangkannya lagi ke tempat lainnya. Ah, mungkin ini hanyalah sekadar ocehan tak penting dari orang yang akan menginjak usia 30 di tahun ini, yang sudah terlalu tua untuk memahami gejolak hati para remaja... ***

Mengenang Mei 1998

Montag, Mai 15, 2006
Hari itu, sepanjang ingatan saya, memang bukan hari yang nyaman untuk dilalui. Udaranya sangat panas. Entah kenapa. Saat saya menginjakkan kaki di kampus Depok, suasana sepi. Kesepian itu memang kadang terjadi, seperti misalnya selepas musim ujian akhir. Tapi, di hari itu, kesepian itu berkesan kosong. Di tengah kelengangan tempat belajar, saya bertanya pada beberapa teman. Ada apa? tanya saya. Hari ini tak ada kuliah, sahut beberapa orang yang lewat. Sebab kemarin terjadi tragedi. Mahasiswa Trisakti ditembak mati. Saya tercengang. Tebersit berbagai niatan di hati. Antara cepat pulang, ikut demonstrasi, atau tetap di kampus. Ingatan bahwa dosen asing yang hari itu akan memberikan kuliah akan datang, meski hujan dan badai melanda, membuat saya tetap berjalan ke ruang kelas. Suasana tetap sunyi. Selang beberapa lama, kuliah pun berjalan. Sampai tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang teman saya berkata dengan lantang menghentikan pelajaran. Ia mengajak kami semua ikut aksi, menunjukkan solidaritas pada rekan-rekan Trisakti. Dosen saya angkat tangan. Kelas dibubarkan.

Apakah saya akan ikut demonstrasi? Pikiran itu yang menghantui saya sepanjang pagi. Kebimbangan melanda. Pasalnya, saya tak tahu apa-apa. Jika ikut aksi, harus berkumpul di mana? Lalu, akan dikemanakan kendaraan saya? Akhirnya saya memutuskan untuk pulang bersama (mantan) pacar saat itu. Di jalan, udara sangat panas. Aneh, tidak biasa. Tiba-tiba penyeranta saya berbunyi. Pesan dan kakak saya, harus segera pulang. Sekarang juga. Rusuh di mana-mana. Saya panik. Tapi, entah kenapa, saya masih bisa pergi ke rumah mantan saya itu. Mungkin karena lokasinya yang dekat dengan posisi saya waktu itu. Saya sempat melewati Mal Yogya Klender. Melihatnya selintas, belum ada tanda apa pun. Sampai di rumah mantan, saya menelepon ke rumah. Tambah panik. Kakak saya bilang, ayah saya sudah di rumah. Ibu saya dalam perjalanan. Saya harus segera pulang, jangan tunda-tunda lagi. "Lewati jalan-jalan tikus, hindari jalan besar. Cepat, sebentar lagi kompleks akan ditutup," pesan kakak saya.

Segera saya pulang ke rumah, disertai mantan. Sekali lagi melewati Mal Yogya, dan entah firasat apa yang membuat saya menyempatkan diri untuk menatapnya sekali lagi. Hati saya sudah mulai tercekam takut. Saya tak tenang sebelum sampai rumah. Beberapa kali saya hampir menangis, entah kenapa. Batin saya berkata, beberapa hari ini bukanlah hari yang baik bagi semua orang. Entah sudah berapa puluh bait doa saya ucapkan dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Agar saya bisa selamat sampai rumah, agar ibu saya - yang katanya juga masih di jalan - bisa sampai juga dengan selamat. Dan, akhirnya saya sampai. Disusul ibu saya. Dan kami semua berkumpul, menyatukan rasa takut dan cemas. Terdiam dalam kekakuan, tak tahu harus berbuat apa.

Dan benarlah, selama tiga hari Jakarta bagaikan neraka. Kami tak bisa keluar rumah, termasuk mantan saya yang setelah mengantar saya sampai rumah dilarang orangtua saya untuk kembali pulang. Berbagai pemberitaan kami dengar, lewat televisi, lewat radio. Saya panik ketika mendengar daerah Kota diserang. Saya menelepon teman yang rumahnya di Pancoran. Dia baik-baik saja. Samar-samar saya ingat, tak lama kemudian jalur komunikasi terhenti. Apakah disertai juga dengan mati listrik, saya tak ingat lagi. Yang jelas, semua begitu gelap, begitu hening, begitu menakutkan. Dan yang bisa kami lakukan adalah berdoa, meminta keselamatan, semoga kegelapan ini akan berlalu.

Saya dan keluarga merasa sangat beruntung. Karena tinggal di kompleks perumahan yang multikultural. Karena selamat dari kerusuhan besar-besaran yang benar-benar tak pernah terpikirkan. Tapi, ada satu luka yang tak pelak menghinggapi saya. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa tiba-tiba negara ini begitu rasis? Kenapa saya harus terlahir setengah Cina, sehingga saya merasa terancam? Kenapa keturunan Cina yang diancam, apa salah mereka? Saya tahu, ada semacam pemikiran serupa yang membayangi ayah saya selama berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun. Ia sempat berucap, ingin pindah keluar negeri, karena sudah tak lagi merasa aman di negeri sendiri. Sejak saat itu pula, saya pun akhirnya mengakui bahwa saya keturunan Cina. Setelah selama duapuluhdua tahun saya merasa saya orang Indonesia. Terlahir dengan perpaduan darah Manado-Jepang-Belanda-Cina memang ternyata tak membuat saya lantas bisa menyangkal saya Cina. Ketidakmafhuman saya akan bahasa Mandarin dan malah lebih lancar bicara bahasa Belanda ternyata tidak membuat saya merasa aman dan bisa lepas dari stigma si Cina. Tapi, setelah delapan tahun tragedi ini berlalu, saya ingin bertanya lagi: Mengapa harus Cina?

Menjawab pertanyaan saya ini memang tidaklah mudah. Ada runtunan sejarah yang begitu panjang yang harus ditelusuri untuk mendapatkan suatu pemahaman yang menyeluruh. Dan, pada akhirnya, penelusuran sejarah ini pun berlaku juga untuk pertanyaan "Apakah Soeharto diampuni saja?". Sosok mantan presiden yang harus lengser delapan hari setelah kerusuhan itu terjadi memang tak bisa dilepaskan begitu saja kaitannya dari kerusuhan itu sendiri, kenapa keturunan Cina yang jadi sasaran amuk massa (yang konon ternyata terorganisir itu), terjadinya kasus penganiayaan seksual terhadap kaum keturunan Cina yang sampai sekarang tak pernah terungkap jelas dan tuntas, dan juga dari perannya dalam membesarkan negara ini. Sang Bapak Pembangunan, begitulah julukannya. Dan kini, ia sudah tua. Tidak lagi sesegar saat ia dihujat "Tujuh kali sampai mati" selepas terpilihnya kembali sebagai presiden untuk ketujuh kalinya. Tidak lagi se-powerful kala ia menunjuk anaknya sendiri jadi salah satu menteri dalam kabinetnya, yang nyata memperjelas politik nepotisme yang ia jalankan. Mengadili dan menghukumnya dengan ganjaran setimpal, mungkin juga menarik semua harta kekayaannya hingga membuatnya dan seluruh keturunannya menjadi kumpulan orang paling miskin senegeri ini bisa jadi merupakan ambisi begitu banyak orang (ataukah hanya sebagian saja? Bukankah begitu ia mulai jatuh sakit, banyak orang berdatangan untuk menjenguknya?). Tapi untuk apakah itu? Pikir saya lagi. Apakah karena Soeharto memang merupakan penjahat nomor satu di negeri ini yang harus menerima hukuman atas apa yang ia perbuat, atau untuk membungkamnya dari kemungkinan membeberkan dosa-dosanya sendiri, termasuk daftar nama orang-orang yang terlibat dalam kroninya? Tak ada yang bisa membuktikan bahwa ia merupakan dalang dari kerusuhan 1998, misalnya. Atau, yang paling sering dibicarakan, pemberontakan G30S PKI. Tak seperti sosok Slobodan Milošević yang jelas terlibat dalam genosida di Bosnia atau figur Adolf Hitler yang jelas berandil besar dalam Holocaust orang-orang Yahudi di Eropa. Soeharto is a special case. Dia adalah terjemahan sempurna dari ungkapan "between good and evil". Seorang aktor intelektual tercerdas sepanjang masa. Biarlah dia dikenang sedemikan rupa, dan biarkan urusan apakah ia akan dipanggil Yang Kuasa dalam waktu dekat ini atau masih sepuluh tahun lagi menjadi persoalan Ilahi.

Yang saya yakini, semua hal yang terjadi di negeri kita ini adalah suatu rangkaian perjalanan yang saling berkaitan. Bila satu telah terselesaikan, satu per satu tanda tanya yang melanda, termasuk tragedi 1998, akan terungkap. Masalahnya, kita hendak mulai dari mana? Menurut Anda? ***

Sushi for Beginners

Freitag, Mai 12, 2006
Change alone is eternal, perpetual, and immortal.
~ Arthur Schopenhauer (1788-1860)

Ada satu buku yang baru saja selesai saya baca (setelah melalui waktu satu bulan yang cukup merepotkan, antara menyelesaikan pekerjaan dan menuntaskan rasa penasaran akan buku tersebut). Buku ini sendiri, bila Anda melihatnya di toko buku, berada dalam kategori Chic Lit. Tapi ini semua, menurut saya, hanya semata-mata akibat setting cerita yang mengambil latar masyarakat urban Inggris dan kemasan karakter yang lebih berkesan hip, modern, dan ringan. Namun, ada satu nilai yang bisa diresapi lewat buku setebal lebih dari 400 halaman ini (yang cukup bikin saya berkeringat dalam menyelesaikannya - dari membawanya ke sana kemari di Jakarta, membacanya di perjalanan pesawat Jakarta-Hong Kong-Jakarta, hingga akhirnya selesai di rumah sendiri). Nilai itu, tak lain dan tak bukan, adalah perubahan.

Perkenalan dengan berbagai tokoh sentral novel ini secara silih berganti membawa kita pada suatu pemahaman akan karakter umum serta pola pandang masyarakat Inggris dan Irlandia. Dengan gaya bahasa yang lincah, pembaca diajak melompat masuk ke dalam kehidupan Lisa, seorang editor majalah ternama di London yang terpaksa terpuruk di Dublin untuk mendirikan satu majalah wanita baru, justru di saat ia berharap promosi ke Manhattan menjadi miliknya. Lalu, kita diajak menyelami ketidakpercayaan diri Ashling, yang berusaha keras untuk keluar dari kehidupannya sebagai pengangguran, menjomblo, dan tak menarik. Pusaran kehidupan dua orang ini juga berkait dengan monotonnya hidup Clodagh, sang Cinderella yang tak bahagia, meski memiliki suami yang sempurna dan dua orang anak, serta kemapanan finansial tanpa perlu bekerja - suatu cita-cita umum wanita di bagian dunia mana pun. Ternyata suatu keadaan ideal bisa juga menimbulkan kecemasan. Kemapanan pun bisa membuat gamang. Bukan karena orang itu tidak konsisten. Tapi karena memang perubahan adalah sesuatu yang harus terjadi.

Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Dan karena itulah, di saat waktu berjalan, air pun tak ingin bergeming. Sebesar apa pun keinginan seseorang untuk bertahan, perubahan akan memaksanya untuk bergerak lagi. Bagi Lisa, perubahan itu adalah untuk mempertahankan reputasinya. Agar kariernya yang ia anggap telah di-downgrade-kan tak lantas membuat dirinya makin tak berharga. Untuk Ashling, perubahan ini awalnya memberikan berbagai kebahagiaan bagi dirinya, namun pada akhirnya ia tersadar bahwa tujuan perubahan ini adalah untuk kembali menelusuri jejak masa lalunya, yang membawanya pada suatu pemahaman baru akan sosok ibu yang semula begitu ia jauhi. Dan, untuk Clodagh, perubahan justru mendamparkannya pada titik terbawah dalam hidupnya. Betapa pilihan yang ia ambil untuk berubah ternyata malah memutarbalikkan segala keindahan yang ia nikmati selama ini. Ia pun harus menerima konsekuensi tindakannya: kembali menjadi si Upik Abu dan melepaskan sepatu Cinderellanya untuk hanya tinggal dalam kenangan.

Perubahan sesungguhnya merupakan pilihan yang tak terelakkan. Karena perubahan hanyalah satu-satunya kemungkinan, yang bisa datang di saat kita tak menduganya. Rheinald Kasali, Ph.D., dalam bukunya Change! mengatakan bahwa tak semua orang bisa diajak melihat perubahan, karena ia begitu misterius. Ia bisa menimbulkan berbagai ekspektasi, mendatangkan adanya getaran emosi dan harapan, yang pada akhirnya tak mustahil bisa menyebabkan adanya kekecewaan. Tapi, sesungguhnya, perubahan itu sendiri adalah suatu kekuatan. Saya kerap mengibaratkan proses perubahan dalam diri saya sebagai proses metamorfosis (ah, saya sebenarnya lebih suka kata dengan ejaan tak baku - metamorfosa). Tiba-tiba saya jadi teringat satu puisi pendek dari Sapardi Djoko Damono berjudul serupa, yang saya suka sekali musikalisasinya (dan bertahun-tahun kemudian saya baru mengerti bahwa penyanyinya adalah mantan bos saya). Dan, menghadapi perubahan sendiri - seperti ilustrasi yang dipaparkan oleh Marian Keyes, Sang Penulis - sama seperti pertama kali kita mencicipi Sushi. Ada rasa ragu, ada rasa takut, dan ada rasa gentar ketika pertama kali mencoba memasukkan sepotong sushi ke dalam mulut. Dan saat kita mengunyahnya, awalnya ada rasa getir yang terasa. Mungkin itu berasal dari sushi, mungkin itu akibat enzim mulut yang ingin menolak sushi itu. Ada berjuta pikiran yang bercampur aduk di benak dalam waktu sangat singkat, lalu kita akan menyesapi sushi itu dengan sepenuh panca indera. Mungkin juga disertai sugesti bahwa sushi itu rasanya enak. Dan setelah berhasil menyantapnya, kita bisa jadi tersenyum - entah lebar, entah kecil saja. Lalu, kita akan mengambil potongan sushi lainnya dengan ringan dan memakannya tanpa lagi ada beban. Setelah puluhan potong sushi masuk ke dalam perut, kita telah bersahabat dengan sushi itu, bahkan ketagihan! Sushi itu adalah simbol perubahan. Keberanian kita untuk mengunyah sushi itu bak keberanian untuk melalui perubahan itu sendiri. Saya percaya betul akan hal itu, karena saya sendiri belum lama ini mengalami pengalaman pertama saya dengan sushi. Sushi yang semula menjadi momok bagi saya pada akhirnya menjadi suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Bukan saya ingin mengajak Anda makan sushi untuk bersimulasi menghadapi perubahan. Sebab saya sendiri terus terang, terlepas dari makna sushi itu sendiri, sepertinya tak ingin melanjutkan hobi makan sushi ini, karena ini secara tak langsung hanya mengingatkan saya pada satu perasaan yang menyedihkan. Ini hanyalah sekadar interpretasi dari ilustrasi dan judul yang diberikan si Penulis bagi novelnya yang bagi saya sangat inspiratif ini. Memang, novel ini kurang cocok bila ditenteng ke sana kemari oleh para pria. Tuturan bahasa yang sangat girlie ini pun mungkin saja tak akan menyentuh Anda, kaum Adam. Tapi bagi teman-teman perempuan, saya rekomendasikan sekali buku ini. Karena banyak hal yang pada akhirnya bisa ditarik dari novel ini. Mulai dari sepak terjang berkarier di dunia media, mengetahui gejala nervous breakdown, sampai akibat perselingkuhan. Ya, benar-benar santapan perempuan. Tapi, selayaknya sushi, santapan yang satu ini layak untuk dicoba! ***

Writer's Block

Mittwoch, Mai 10, 2006
Sepanjang masa bekerja yang saya lalui - kebetulan di bidang yang berhubungan dengan menulis - dan juga kegemaran utama yang saya tekuni (juga menulis), kata "writer's block" adalah ketakutan utama yang selalu menghantui saya. Setengah mati saya selalu berusaha menghindari penyakit yang satu ini. Tapi ajaibnya, saya memang kerap mengalaminya. Entah karena memang kepribadian saya yang cenderung moody dan kurang konsisten. Atau mungkin saat itu saya sedang mengalami titik kejenuhan. Tapi, bila boleh menjelaskan bagi Anda yang tak pernah mengalaminya (dan Anda harus bersyukur sekali untuk itu), menjalani masa-masa tak bisa menulis itu benar-benar bak neraka bagi siapa saja yang suka atau punya profesi yang berhubungan dengan menulis. Lebih baik saya dapat hukuman lainnya daripada tak bisa menuangkan gagasan yang ada di benak saya ke dalam bentuk tulisan. Atau, merasa deg-degan di saat tenggat waktu tulisan sudah lewat beberapa hari lamanya dan dokumen tulisan yang saya kerjakan tetap saja bertengger di alinea pembuka. Saya benar-benar bak mengalami degradasi mental. Sungguh.

Ada beberapa hal yang selama ini sukses jadi penyebab terhambatnya proses kreatif saya sebagai penulis. Yang paling total - berhasil membuat saya berbulan-bulan lamanya tak bisa menulis apa pun bagi diri sendiri dan memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas seadanya - adalah kehamilan. Saking hebatnya, setiap kali saya berusaha menulis, kepala saya jadi pusing dan tiba-tiba saja kosa kata di benak saya beralih bahasa menjadi bahasa planet yang tak bisa tertuliskan dalam huruf apa pun juga. Ini lebih berat daripada sekadar putus cinta. Justru saat putus cinta itulah saya amat produktif. Kalau kata Jessica, teman saya yang sudah sukses jadi penulis, justru di saat depresi (ya, untuk konteks ini kita anggap saja putus cinta sama seperti depresi) seorang penulis jadi lebih kreatif dan produktif. Bukannya tidak bersyukur atas kehamilan itu, tapi mengalami hari-hari ketika semua kata tertulis jelas hanya di kepala dan tak bisa diterjemahkan dalam bentuk sesungguhnya amat memedihkan. Untunglah sindrom jahanam itu hanya terjadi di bulan awal kehamilan. Sisanya? Ya, tak bisa dibilang sangat baik. Sungguh sayang, hiperaktivitas yang saya alami di masa menanti kehadiran si kecil tidak melibatkan proses pengolahan kata.

Hambatan menulis kecil-kecilan biasanya juga saya alami saat sedang jenuh akan irama hidup yang saya jalani. Atau, di saat tempat saya menulis mulai dipenuh dengan berbagai macam barang tak penting yang pada akhirnya hanya mengganggu keleluasaan gerak saya. Suami saya menjuluki saya si Seradak-Seruduk, Tukang Menjatuhkan Barang. Tak cuma dia sebenarnya, orangtua saya juga tahu hal itu jauh sebelum ia mengetahuinya. Sejak kecil, saya tak tenang bila berada di ruangan yang keleluasaannya terbatas. Makan di atas meja restoran yang terlalu penuh barang sementara saya harus menyuapi anak bisa membuat saya pada akhirnya menyenggol gelas, botol kecap, sendok, garpu, dan benda-benda lainnya. Keadaan ini membuat saya jadi tak nyaman. Dan berhubung kenyamanan adalah salah satu hal yang membentuk mood saya untuk menulis, Anda pun mengerti apa jadinya bila meja tulis saya di rumah penuh debu, berantakan, dan buku-buku berhamburan di mana-mana. Imajinasi saya buntu.

Baru-baru ini, Anda pasti juga tahu, saya berhenti menulis bagi diri sendiri karena satu kebuntuan lainnya. Ini tepatnya disebabkan oleh banyak pikiran. Jika pada akhirnya saya sempat menjadikan beberapa batang Sampoerna A Mild sebagai salah satu alat untuk meluruskan kekusutan benak saya, itu karena saya sudah habis akal bagaimana menenteramkan dan mencari titik temu bagi segala macam hal yang harus saya pikirkan. Teman saya bilang itu sugesti, tapi saya sudah menghabiskan bercangkir-cangkir kopi tanpa hasil yang cukup signifikan. Akhirnya, nikotin pun jadi pilihan (janji, ini tak akan jadi kebiasaan, cuma P3K, Pertolongan Pertama Pada Kebuntuan). Berangsur-angsur, saya sudah dapat menulis kembali beberapa tulisan pendek, tak cuma puisi tak bermutu yang mencerminkan isi emosi saya (itu bukan tulisan bagi saya, maaf saja). Ada satu tulisan yang saya dapat setelah membaca Filosofi Kopi dari Dee, saya suka sekali isinya. Salah satu teman saya yang saya tunjukkan setengah ceritanya juga menyukainya. Tulisan itu belum selesai, lagi-lagi karena harus mengalah pada deadline dan juga pada mood saya yang kurang terkontrol. Sumpah mati saya mengutuk diri, kenapa saya tak seperti seorang sahabat (yang marah kalau disebut sahabat, karena dia tak mau jadi sahabat saya, ha-ha!) yang bisa saja meninggalkan tulisannya beberapa lama kemudian kembali lagi mengerjakannya tanpa kehilangan emosi dan daya kekuatan menulis. Saya sendiri tak bisa melakukannya. Bila saya mengerjakan tulisan dan meninggalkannya selama seminggu saja, itu berarti tulisan itu harus dipetieskan karena tak akan bisa saya lanjutkan lagi. Saya harus memulai dan mengakhirinya tanpa jeda. Well, jeda yang singkat selama satu atau dua hari bolehlah. Tapi selepas satu minggu, saya sudah kehilangan jejak emosi dan jiwa dari tulisan itu sendiri. Entah sudah berapa tulisan yang saya buang sia-sia karena terlupakan atau tak bisa diteruskan. Kalaupun akhirnya berhasil saya teruskan, tulisan itu di mata saya jelas terlihat sekali tambal sulamnya. Seandainya saja saya bisa berubah.

Minggu lalu, saya sempat datang ke suatu acara diskusi buku di tempat bekerja teman saya. Seorang pakar - ah saya sebenarnya tak tahu bagaimana harus menyebutnya, yang jelas dia salah satu dosen mata kuliah penulisan di kampus saya dulu, jadi anggap saja dia seorang ahli - yang jadi pembicara itu sempat memberi tip, agar kita menyelesaikan apa yang ingin kita tulis dan jangan ditunda atau dijedai dengan berbagai hal. Itu sangat benar bagi saya (sambil berharap saya bisa punya waktu cukup panjang untuk menulis bagi diri sendiri...). Dia juga bilang, usahakan untuk menulis setiap hari, misalnya saja satu halaman. Saran seperti ini juga sering saya dengar dari berbagai penulis ternama. Entah kenapa, saya tetap tidak bisa melakukannya. Kecuali untuk pekerjaan dan menulis blog ini tentunya. Bagi saya, menulis bagi diri sendiri butuh tenaga ekstra, sedangkan saya sendiri setiap harinya sudah kehabisan energi setiap kali sampai rumah. Bisa membaca buku sepuluh halaman saja sudah prestasi bagi saya!

Satu hal yang berkesan yang saya dapatkan di acara itu adalah nasihat, bahwa tak ada gunanya kita memelajari bagaimana cara menulis yang baik dan mendalami ilmu menulis, jika kita tak mulai menulis. Saya jadi teringat satu pepatah bahasa Jerman yang sudah bak doktrin di telinga saat masih jadi mahasiswa, "Alle Anfang ist ja schwer. Aber wenn man nicht beginnt, wann beendet man?" (Semua awal itu berat. Tapi bila kita tak memulainya, kapan kita mengakhiri?). So, tulisan ini adalah awal kembalinya saya ke dunia blog ini. Belum ada perubahan signifikan, tapi saya percaya perubahan itu datang perlahan namun pasti. Semoga saya bisa seproduktif seperti yang diharapkan oleh Sang Guru Penulisan itu.... ***

Di Akhir Perenungan

Montag, Mai 08, 2006
Setelah satu bulan saya pamit mundur dulu, akhirnya saya kembali. Semasa saya "menyepi" dulu, banyak teman yang bertanya, kenapa saya memutuskan demikian. Berbagai komentar pun saya terima di halaman tulisan tersebut. Tapi, sebenarnya bisa dibilang kalau alasan yang membuat saya ingin mundur sementara itu lebih kompleks daripada yang saya jelaskan.

Masa "pertapaan" saya yang berkaitan dengan orang lain telah selesai sejak beberapa minggu yang lalu. Namun, yang membuat saya tak kunjung juga bisa mengetikkan jari di komputer untuk mengisi blog ini adalah kesibukan bertubi-tubi yang tak berkesudahan. Saya kewalahan berusaha mengatur ruang-ruang dalam benak saya, agar bisa memberikan kontribusi yang tepat untuk setiap hal yang ingin saya kerjakan. Banyak hal yang ingin saya kerjakan akhirnya harus ditunda dulu, termasuk satu proyek idealis yang sudah disusun sejak tahun lalu. Sayang sekali. Tapi selama satu hari masih terdiri dari 24 jam, saya jelas harus menangguhkannya (kecuali kalau saya kuat tetap terjaga selama 24 jam tanpa rasa kantuk).

Satu hal yang juga membuat saya enggan untuk "come back" segera ke blog ini adalah kebencian. Ada satu kebiasaan klasik yang saya idap sejak lama. Kebiasaan itu adalah membenci diri sendiri --dalam hal ini adalah membenci tulisan sendiri. Hal ini memang kerap saya lakukan, bukan karena saya punya kelainan kejiwaan, tapi semata-mata karena saya sudah tidak nyaman berada di titik yang telah saya jalani dengan mulus sekian lama. Saya menjadi tidak puas akan tulisan saya sendiri. Saya berusaha mencari pola baru, cara penulisan baru, acuan baru, pun mainstream baru untuk memasukin proses metamorfosis saya selanjutnya.

Jadi, sebentar lagi saya akan datang lagi dengan sesuatu yang baru. Dan, mohon jangan kaget bila ada beberapa perubahan juga yang terjadi pada blog ini. Berubah atau mati! ***