Mengenang Klaten
Mittwoch, Mai 31, 2006Malam yang mulai gelap membuat saya tak lagi dapat menilik suasana alam dan kota yang saya lalui. Bahkan kota Jogja yang sudah sering saya kunjungi berkali-kali pun tak bisa saya tangkap nuansanya. Akhirnya, kami sampai di Klaten. Hati saya berdegup. Ini kali pertama saya akan bersua dengan kampung halaman (calon) suami saya, lengkap dengan semua kerabatnya. Bayangan seperti apa desa kelahirannya begitu kabur di benak saya. Karena saya sendiri dilahirkan dan dibesarkan di kota besar, saya cenderung berprasangka bahwa desa adalah tempat yang terpencil, dengan rumah kecil bersinarkan petromaks. Yang harus ditempuh dengan jalan yang berliku sampai pelosok, sampai-sampai kita akan tersesat bila tak ingat arahnya. Tapi, ternyata semua itu benar-benar murni "racun" yang yang saya teguk akibat terlalu sering menonton televisi ataupun membaca cerita klasik berlatar belakang pedesaan serta bertokohkan seorang anak miskin. Sebuah rumah besar berstruktur bangunan huruf L yang dikelilingi tembok pagar itu sama saja seperti rumah-rumah lainnya di kota. Tak beratap gedek, bertembok kayu. Ya, rumah seutuhnya. Lampu menyala terang, televisi sedang diputar. Suasana ndeso sama sekali tak meliputi diri saya. Malah, justru saya merasa begitu homy (dan menyadari, ah, inilah sebabnya mertua saya gemar sekali pulang kampung. Siapa yang tak kangen pulang bila punya rumah begini nyaman untuk ditinggali?). Jadi inilah kampung halaman suami saya. Desa Prajenan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah.
Gambaran rumah keluarga suami saya itu sekarang mungkin sudah hanya jadi bagian dari kenangan saya kini. Begitu juga bayangan anak saya yang berlari-lari kegirangan di pekarangan depan setiap kali bangun pagi di masa liburan akhir tahun yang lalu. Atau, rasa segar akibat terpaan angin semilir saat duduk di teras rumah, hanya untuk melamun sebentar di sore hari. Atau, saat-saat menikmati turunnya hujan dari jendela ruang tamu depan. Atau, momen terbahak bersama melihat ulah anak saya saat bermain bersama para sepupunya. Setiap sudut ruangan rumah itu tidak lagi bisa saya jumpai. Sejak 27 Mei 2006 yang silam. Seiring dengan lemasnya badan saya begitu mendengar kabar dari Ibu Mertua, bahwa bencana gempa bumi telah meluluhlantakkan daerah Jogja, Klaten, dan sekitarnya. Suami saya hanya bisa bilang, "Ya, ini memang bencana. Kita tak bisa mencegahnya.", menimpali suara ibunya yang tergetar, akan menangis. Habislah sudah kenangan kami akan rumah itu. Habislah juga semua hasil kerja keras orangtua suami saya selama puluhan tahun untuk memperbaiki rumah itu. Dari hanya bangunan kecil hingga cukup besar untuk ditempati anak-cucu. Dari (memang) dulunya harus beraktivitas diterangi lampu templok hingga kini memiliki listrik. Pohon kelapa di halaman depan, apakah masih ada? Kebon mangga dan rambutan di halaman belakang, apakah masih akan berbuah nanti? Saudara-saudara di sana, yang tinggal tak jauh dari rumah kami, apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka selamat? Selain seorang Pakde yang dikabarkan meninggal akibat kena reruntuhan rumahnya sendiri, apakah ada lagi yang mengalami hal yang sama atau hanya sekadar luka-luka? Saya masih menanti kabar dari mertua saya yang pulang ke sana hari Minggu, sehari setelah bencana itu terjadi. Komunikasi yang terputus membuat kabar itu pun tak sampai.
Klaten, Juni 2006 (seharusnya). Saya telah berencana sejak kali terakhir berlibur ke sana, Desember 2005 lalu, untuk kembali lagi. Tidak menunggu hingga akhir tahun, karena di bulan Juni akan ada acara keluarga besar suami saya. Program liburan kali ini: Berpetualang dari candi ke candi. Berusaha menangkap segala sisi dari lensa kamera (yang sedang saya timbang-timbang untuk beli). Ibu saya sendiri pun sudah menyusun liburan ke sana. Ia ingin berkunjung ke Gereja Ganjuran, Bantul. Saya sempat mengatur janji dengannya, nanti kita bertemu di Jogja, lalu Ibu tak perlu ikut tur lagi dan bergabung tinggal dengan kami di Klaten. Saya ingin menunjukkan rumah mertua saya yang begitu saya sayangi. Membuatnya paham mengapa akhirnya anak saya jadi lancar berjalan setelah liburan akhir tahun 2004, ketika usianya baru menginjak satu tahun. Juga mengapa kami semua begitu betah berlibur dan ingin selalu kembali ke sana, walau harus menempuh perjalanan belasan jam plus menonton Ibu Mertua yang mabuk darat (namun akhirnya saya dapat solusi untuk pulang naik pesawat di kali terakhir, sehingga liburan benar-benar berakhir cukup indah). Rencana yang mendetil, yang sudah sering saya sampaikan ke beberapa teman saya, kini sudah mengepul jadi asap dan menghilang. Klaten di hari ini mungkin kembali gelap gulita di malam hari, karena listrik yang terputus. Orang-orang kedinginan saat hujan datang, karena mereka tak lagi memiliki tempat untuk bernaung. Saya teringat pada para keponakan di sana, juga para sepupu, dan para sepuh. Ah, rasanya pilu. Bila bisa meminta, tak usahlah saya mewujudkan rencana saya itu, asalkan gempa bumi ini bisa terhindari... Tapi, apa mau dikata. Sembari saya menunggu kabar dari kampung halaman dan segera ke sana membawa bantuan, lebih baik saya putar terus film kenangan tentang Klaten. Satu film yang tak pernah membosankan, yang sayangnya tak dapat saya alami kembali. Tidak lagi. ***
