Sebuah Konsep Tentang Surga
Freitag, April 29, 2005
Seperti apa bayangan Anda tentang surga? Setiap orang pasti punya konsep sendiri. Saya sendiri terkadang membayangkan surga sebagai sebuah labirin putih yang hangat. Terkadang juga bagaikan sebuah lorong panjang. Terkadang lagi saya tak dapat membayangkan. Atau mungkin tak mau terlalu berharap. Karena saya juga sering berpikir, apa orang seperti saya layak masuk surga.
Pagi ini saya baru selesai membaca sebuah buku (sebenarnya ebook) berjudul The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom. Sudah cukup lama saya mulai membacanya. Ceritanya amat menyentuh sekaligus merangsang pikiran untuk merenung. Di buku ini, Albom memaparkan sebuah konsep tentang surga versi dirinya, melalui seorang tokoh bernama Eddie (nama ini diambil dari nama pamannya yang tersayang). Eddie, seorang petugas bagian maintenance di sebuah taman hiburan, adalah seorang veteran perang dunia kedua. Sepanjang hidupnya sampai meninggal secara tragis di usia 83 tahun akibat insiden, dia selalu merasa bahwa dirinya bukan apa-apa. Dalam perjalanannya di surga, ia bertemu dengan lima orang, yang secara langsung ataupun tak langsung berhubungan dengannya sepanjang hidup. Dari situ ia pun jadi lebih memahami apa arti hidup, tepatnya hidupnya di masa lalu. Salah satu kutipan yang sempat saya catat kemarin berbunyi demikian:
"So why am I here?" he said. "I mean, your story, the fire, it all happened before I was born."
"Things that happen before you are born still affect you," she said. "And people who come before your time affect you as well.
"We move through places every day that would never have been if not for those who came before us. Our workplaces, where we spend so much time—we often think they began with our arrival. That's not true."
Kala itu, Eddie bertemu dengan seorang wanita tua, yang tak pernah ia kenal. Wanita tua itu ternyata adalah istri dari bekas pemilik taman hiburan tempat Eddie bekerja. Eddie bertanya, mengapa wanita itu datang dan menceritakan kisah yang terjadi jauh sebelum ia lahir. Apa hubungannya dengan dia? Jawaban wanita tua itu, namanya Ruby, membuat saya juga jadi lebih paham tentang makna hidup saya sendiri. Seperti juga rangkaian bab lainnya yang terdapat dalam buku itu.
Usai membaca, saya lalu membayangkan tentang 5 orang yang akan saya temui di saat meninggal nanti, jika saja saya masuk surga dan surga seperti layaknya yang Mitch Albom ketengahkan. Pastinya saya tak bisa menaksir dengan tepat siapa, tapi ada beberapa orang yang ingin saya temui:
Wah, baru empat. Satu lagi saya tidak tahu siapa. Merampungkan sebuah daftar ternyata memang susah. Karena satu pilihan yang tertinggal membuat saya merasa harus mengisinya dengan orang yang tepat. Pilihan-pilihan konyol yang sempat terlintas: Bung Karno, Anne Frank (Gadis Yahudi yang jadi korban Nazi. Kalau tidak baca bukunya, saya tak akan jadi kutu buku), Agatha Christie (dengan alasan yang sama seperti Anne Frank), George Bizet (Komponis Prancis, yang bikin saya tergila-gila dengan musik klasik, terutama the Torreador). Terakhir: Seorang ibu guru di kelas II SD (jika saya ternyata meninggal di usia sangat tua dan ibu guru ini juga telah meninggal: saya mau menamparnya dan bilang betapa tindakannya di masa lalu telah menghambat perkembangan diri saya). ***
Pagi ini saya baru selesai membaca sebuah buku (sebenarnya ebook) berjudul The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom. Sudah cukup lama saya mulai membacanya. Ceritanya amat menyentuh sekaligus merangsang pikiran untuk merenung. Di buku ini, Albom memaparkan sebuah konsep tentang surga versi dirinya, melalui seorang tokoh bernama Eddie (nama ini diambil dari nama pamannya yang tersayang). Eddie, seorang petugas bagian maintenance di sebuah taman hiburan, adalah seorang veteran perang dunia kedua. Sepanjang hidupnya sampai meninggal secara tragis di usia 83 tahun akibat insiden, dia selalu merasa bahwa dirinya bukan apa-apa. Dalam perjalanannya di surga, ia bertemu dengan lima orang, yang secara langsung ataupun tak langsung berhubungan dengannya sepanjang hidup. Dari situ ia pun jadi lebih memahami apa arti hidup, tepatnya hidupnya di masa lalu. Salah satu kutipan yang sempat saya catat kemarin berbunyi demikian:
"So why am I here?" he said. "I mean, your story, the fire, it all happened before I was born."
"Things that happen before you are born still affect you," she said. "And people who come before your time affect you as well.
"We move through places every day that would never have been if not for those who came before us. Our workplaces, where we spend so much time—we often think they began with our arrival. That's not true."
Kala itu, Eddie bertemu dengan seorang wanita tua, yang tak pernah ia kenal. Wanita tua itu ternyata adalah istri dari bekas pemilik taman hiburan tempat Eddie bekerja. Eddie bertanya, mengapa wanita itu datang dan menceritakan kisah yang terjadi jauh sebelum ia lahir. Apa hubungannya dengan dia? Jawaban wanita tua itu, namanya Ruby, membuat saya juga jadi lebih paham tentang makna hidup saya sendiri. Seperti juga rangkaian bab lainnya yang terdapat dalam buku itu.
Usai membaca, saya lalu membayangkan tentang 5 orang yang akan saya temui di saat meninggal nanti, jika saja saya masuk surga dan surga seperti layaknya yang Mitch Albom ketengahkan. Pastinya saya tak bisa menaksir dengan tepat siapa, tapi ada beberapa orang yang ingin saya temui:
- Nenek saya. Entah kenapa wajahnya langsung terbayang di benak saya. Saya hanya ingin bertemu dengannya untuk bilang, kalau saya sayang padanya. Sebuah kalimat yang sepertinya hampir tak pernah saya ucapkan untuknya semasa hidup. Dan untuk menyesali sikap acuh saya terhadapnya, bahkan di saat dia sedang sakit. Mungkin karena saat itu saya menganggap dia masih akan hidup berapa puluh tahun lagi (kala meninggal usianya 63 tahun), dan saya juga masih berusia 11 tahun kala itu.
- Seorang tetangga bernama Ella. Dia tetangga di dekat rumah saya. Meninggal karena kanker otak, kalau tidak salah. Saat itu sepertinya saya masih amat kecil, mungkin belum genap 10 tahun. Sebelum akhirnya ia sakit parah dan tak pernah keluar rumah lagi, saya sempat marahan dengannya (maklum, anak kecil). Saya ingat samar-samar pernah menjenguknya di rumahnya, tapi ketika itu kami tak berbicara. Tak lama, teman saya berkata kalau Ella meninggal dunia. Setelah itu, keluarganya pindah ke Bandung. Saat bertemu nanti, saya ingin bilang kalau saya tak marah lagi padanya. Dan saya juga minta maaf kalau pernah menyakiti hatinya. Dia tetap jadi teman masa kecil saya, dan segala permusuhan yang pernah terjadi telah saya lupakan.
- Kakek saya, Yushitaka Yammamoto. Saya tak pernah mengenalnya, karena jauh sebelum saya lahir dia sudah tinggal di Tokyo dan tak pernah kembali ke Indonesia. Alasan saya ingin bertemunya hanyalah untuk berkenalan dengannya. Menghapus rasa penasaran saya tentang sesosok kakek yang tak pernah hadir di depan saya. Dan untuk bertukar kisah banyak dengannya, tentang keluarga saya. Tentang betapa cintanya Ibu saya padanya. Tentang kematian nenek saya. Pokoknya semuanya.
- Anjing saya, Uble. Dia mati setahun yang lalu. Dari dialah saya belajar tentang arti kematian yang sesungguhnya. Aneh memang, belajar dari seekor anjing. Tapi banyak yang bilang kalau kehadiran anjing di rumah kita membuat kita jadi banyak belajar. Kala bertemunya nanti, saya ingin mengelusnya sekali lagi. Seperti yang saya lakukan saat meninggalkan rumah di pagi hari ia mati. Seandainya minta izin pulang dari kantor untuk membawa anjing yang sekarat itu tindakan yang masuk akal, saya pasti akan melakukannya.
Wah, baru empat. Satu lagi saya tidak tahu siapa. Merampungkan sebuah daftar ternyata memang susah. Karena satu pilihan yang tertinggal membuat saya merasa harus mengisinya dengan orang yang tepat. Pilihan-pilihan konyol yang sempat terlintas: Bung Karno, Anne Frank (Gadis Yahudi yang jadi korban Nazi. Kalau tidak baca bukunya, saya tak akan jadi kutu buku), Agatha Christie (dengan alasan yang sama seperti Anne Frank), George Bizet (Komponis Prancis, yang bikin saya tergila-gila dengan musik klasik, terutama the Torreador). Terakhir: Seorang ibu guru di kelas II SD (jika saya ternyata meninggal di usia sangat tua dan ibu guru ini juga telah meninggal: saya mau menamparnya dan bilang betapa tindakannya di masa lalu telah menghambat perkembangan diri saya). ***
