<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6707292?origin\x3dhttp://pikir.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Berpikir (Lagi)

Je pense, donc, je suis (I think, therefore I am)

- René Descartes (1596 - 1650)


Sebuah Konsep Tentang Surga

Freitag, April 29, 2005
Seperti apa bayangan Anda tentang surga? Setiap orang pasti punya konsep sendiri. Saya sendiri terkadang membayangkan surga sebagai sebuah labirin putih yang hangat. Terkadang juga bagaikan sebuah lorong panjang. Terkadang lagi saya tak dapat membayangkan. Atau mungkin tak mau terlalu berharap. Karena saya juga sering berpikir, apa orang seperti saya layak masuk surga.

Pagi ini saya baru selesai membaca sebuah buku (sebenarnya ebook) berjudul The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom. Sudah cukup lama saya mulai membacanya. Ceritanya amat menyentuh sekaligus merangsang pikiran untuk merenung. Di buku ini, Albom memaparkan sebuah konsep tentang surga versi dirinya, melalui seorang tokoh bernama Eddie (nama ini diambil dari nama pamannya yang tersayang). Eddie, seorang petugas bagian maintenance di sebuah taman hiburan, adalah seorang veteran perang dunia kedua. Sepanjang hidupnya sampai meninggal secara tragis di usia 83 tahun akibat insiden, dia selalu merasa bahwa dirinya bukan apa-apa. Dalam perjalanannya di surga, ia bertemu dengan lima orang, yang secara langsung ataupun tak langsung berhubungan dengannya sepanjang hidup. Dari situ ia pun jadi lebih memahami apa arti hidup, tepatnya hidupnya di masa lalu. Salah satu kutipan yang sempat saya catat kemarin berbunyi demikian:

"So why am I here?" he said. "I mean, your story, the fire, it all happened before I was born."

"Things that happen before you are born still affect you," she said. "And people who come before your time affect you as well.

"We move through places every day that would never have been if not for those who came before us. Our workplaces, where we spend so much time—we often think they began with our arrival. That's not true."


Kala itu, Eddie bertemu dengan seorang wanita tua, yang tak pernah ia kenal. Wanita tua itu ternyata adalah istri dari bekas pemilik taman hiburan tempat Eddie bekerja. Eddie bertanya, mengapa wanita itu datang dan menceritakan kisah yang terjadi jauh sebelum ia lahir. Apa hubungannya dengan dia? Jawaban wanita tua itu, namanya Ruby, membuat saya juga jadi lebih paham tentang makna hidup saya sendiri. Seperti juga rangkaian bab lainnya yang terdapat dalam buku itu.

Usai membaca, saya lalu membayangkan tentang 5 orang yang akan saya temui di saat meninggal nanti, jika saja saya masuk surga dan surga seperti layaknya yang Mitch Albom ketengahkan. Pastinya saya tak bisa menaksir dengan tepat siapa, tapi ada beberapa orang yang ingin saya temui:


  1. Nenek saya. Entah kenapa wajahnya langsung terbayang di benak saya. Saya hanya ingin bertemu dengannya untuk bilang, kalau saya sayang padanya. Sebuah kalimat yang sepertinya hampir tak pernah saya ucapkan untuknya semasa hidup. Dan untuk menyesali sikap acuh saya terhadapnya, bahkan di saat dia sedang sakit. Mungkin karena saat itu saya menganggap dia masih akan hidup berapa puluh tahun lagi (kala meninggal usianya 63 tahun), dan saya juga masih berusia 11 tahun kala itu.

  2. Seorang tetangga bernama Ella. Dia tetangga di dekat rumah saya. Meninggal karena kanker otak, kalau tidak salah. Saat itu sepertinya saya masih amat kecil, mungkin belum genap 10 tahun. Sebelum akhirnya ia sakit parah dan tak pernah keluar rumah lagi, saya sempat marahan dengannya (maklum, anak kecil). Saya ingat samar-samar pernah menjenguknya di rumahnya, tapi ketika itu kami tak berbicara. Tak lama, teman saya berkata kalau Ella meninggal dunia. Setelah itu, keluarganya pindah ke Bandung. Saat bertemu nanti, saya ingin bilang kalau saya tak marah lagi padanya. Dan saya juga minta maaf kalau pernah menyakiti hatinya. Dia tetap jadi teman masa kecil saya, dan segala permusuhan yang pernah terjadi telah saya lupakan.

  3. Kakek saya, Yushitaka Yammamoto. Saya tak pernah mengenalnya, karena jauh sebelum saya lahir dia sudah tinggal di Tokyo dan tak pernah kembali ke Indonesia. Alasan saya ingin bertemunya hanyalah untuk berkenalan dengannya. Menghapus rasa penasaran saya tentang sesosok kakek yang tak pernah hadir di depan saya. Dan untuk bertukar kisah banyak dengannya, tentang keluarga saya. Tentang betapa cintanya Ibu saya padanya. Tentang kematian nenek saya. Pokoknya semuanya.

  4. Anjing saya, Uble. Dia mati setahun yang lalu. Dari dialah saya belajar tentang arti kematian yang sesungguhnya. Aneh memang, belajar dari seekor anjing. Tapi banyak yang bilang kalau kehadiran anjing di rumah kita membuat kita jadi banyak belajar. Kala bertemunya nanti, saya ingin mengelusnya sekali lagi. Seperti yang saya lakukan saat meninggalkan rumah di pagi hari ia mati. Seandainya minta izin pulang dari kantor untuk membawa anjing yang sekarat itu tindakan yang masuk akal, saya pasti akan melakukannya.



Wah, baru empat. Satu lagi saya tidak tahu siapa. Merampungkan sebuah daftar ternyata memang susah. Karena satu pilihan yang tertinggal membuat saya merasa harus mengisinya dengan orang yang tepat. Pilihan-pilihan konyol yang sempat terlintas: Bung Karno, Anne Frank (Gadis Yahudi yang jadi korban Nazi. Kalau tidak baca bukunya, saya tak akan jadi kutu buku), Agatha Christie (dengan alasan yang sama seperti Anne Frank), George Bizet (Komponis Prancis, yang bikin saya tergila-gila dengan musik klasik, terutama the Torreador). Terakhir: Seorang ibu guru di kelas II SD (jika saya ternyata meninggal di usia sangat tua dan ibu guru ini juga telah meninggal: saya mau menamparnya dan bilang betapa tindakannya di masa lalu telah menghambat perkembangan diri saya). ***

Aku, Dia, dan Waktu

Donnerstag, April 28, 2005
Waktu ikut kuliah Filsafat Sejarah dulu (yang saya ambil dengan alasan suka sejarah, tapi setelahnya saya malah jatuh cinta pada filsafat), dosen saya menuturkan beberapa teori tentang terjadinya sejarah. Setidaknya, ada dua pola yang saya ingat. Pertama adalah pola lingkaran, yang artinya sejarah selalu berulang secara persis. Kedua, pola spiral, yang berarti sejarah memang berulang, tapi setiap kali perulangan selalu ada perbaikan.

Ingatan tentang pola sejarah ini terlintas ketika saya merenungkan pengalaman saya di pagi ini. Saat sedang mengendara mobil, HP saya berbunyi. Nomornya tak tercatat di buku telepon, berawalan 0411-sekian. Saya pikir, jangan-jangan kerabat suami saya menelepon dari kampung. Tapi begitu saya ucapkan "halo", yang di sana menyapa, "Sedang di mana?". Setelah sekejap bingung, saya pun tersadar. Teman baik saya yang bekerja di Makassar sejak beberapa tahun lalulah yang menelepon. Pas di saat saya sedang teringat akan dia, karena sehari sebelumnya saya membaca ramalan bintang saya yang kira-kira berkata, "Seorang teman lama akan kembali berhubungan dengan Anda.".

Dalam pembicaraan singkat kami, saya merasa waktu berulang kembali. "Carikan saya pekerjaan, dong," kata sang sahabat. Dan kalimat itu telah berapa kali ia ucapkan di beberapa masa silam. Saat saya tanya apa alasannya ingin pindah, dia kembali memberi penyataan yang juga membuat saya kembali ke kala lampau. Haah,... desah saya. Sepertinya pola waktu yang terjadi antara saya dan dia selalu berputar bak lingkaran. Seperti kata suami saya, "Temanmu itu sepertinya tak pernah berubah, dalam artian negatif." Karena dia selalu berkutat di masalah yang sama, dan akhirannya pun selalu sama. Dan pada akhirnya dia akan kembali ke masalah yang sama lagi, dengan penyelesaian yang sama pula. Padahal, tadinya saya sempat bersyukur begitu tahu kalau dia sudah bekerja kantoran, jenis pekerjaan yang memang tak pernah ditekuninya. Maybe it's time for her to settle down, pikir saya waktu itu. Tapi ternyata itu hanyalah intermezzo dalam kehidupannya yang rumit, tapi rumit karena dibuatnya sendiri.

Di akhir perenungan, saya teringat akan dua baris puisi yang sempat terngiang di kepala beberapa hari lalu, namun tak pernah terselesaikan (yang lalu bikin saya ingin tahu, apakah para pujangga sering kali seperti saya, menemukan satu-dua bait, tapi setelahnya tak bisa merampungkannya?). Dua baris itu berbunyi:

Hari ini kita berpisah, teman.
Dan tiba-tiba aku kembali ke saat kita pertama bersua.


Apa benar kehidupan selalu berputar bagaikan lingkaran? Saya dulu pikir, kehidupan ini berlangsung dalam pola spiral...***

Tentang Sebuah Kesempatan

Montag, April 25, 2005
Apa yang bisa membuat seseorang betah bekerja di suatu tempat? Pertanyaan ini sering kali berkumandang di benak saya. Pasalnya, saya bukanlah orang yang tahan bekerja dalam waktu lama di satu tempat. Di kantor yang terakhir, saya telah bekerja selama hampir tiga tahun (tepatnya Agustus mendatang). Dan terus terang, saya semakin gelisah. Sepertinya saya sedang merangkak di gang buntu. Sudah beberapa kali saya minta atasan memberikan tanggung jawab lebih, secara implisit atau eksplisit. Tapi dia selalu menjawab secara basa-basi. Setelahnya, berbagai tindakannya hanya membuat saya merasa I'm nothing more than her bumper.

Saya gelisah. Amat gelisah. Dan juga amat kecewa. Tak adakah tempat bekerja yang lebih baik untuk saya geluti? Yang lingkungannya lebih dewasa dan bebas dari para karyawan yang gemar ber-"baby-talk" ria, meski itu mereka anggap sebagai gaya bicara paling gaul saat itu (Well, mereka tak bisa bicara dengan gaya seperti itu di acara-acara resmi, bukan?). Dengan manajemen yang peduli pada karyawannya dan tak hanya mementingkan profit semata (dan alpa memberikan hak karyawannya: santunan kelahiran dan uang lembur sepanjang tahun 2002-2003- he-he).

I'm not belong in here anymore. Begitu pikir saya. Dan penemuan secara iseng yang saya dapatkan di koran KOMPAS kemarin seakan menjawab kegelisahan saya. Pindah kerja. Dan ibu saya berkata, "Jika tawaran gajinya lebih bagus, kenapa takut pindah?" Suami saya ikut mendukung. Saya hanya menimpali, "Iya, daripada makan hati terus di kantor." Malam harinya, saya timbang menimbang. Apa modal saya. Di mana harga jual saya. Apakah pindah kerja bisa jadi solusi terbaik bagi saya (Kalau pindahnya ke majalah TIME atau Die Zeit, jelas solusi terbaik, pikir saya sambil tersenyum sendiri).

Tadi pagi, saat bersosialisasi dengan sesama wartawan di sebuah acara media workshop, saya berjumpa dengan seorang teman dari majalah lain. Dia bilang, di kantornya ada banyak lowongan. Saya pikir, ini kesempatan kedua. Mungkin memang sudah saatnya. Dan tempat ini kebetulan pernah jadi incaran saya beberapa waktu yang lalu. Dunianya lebih pas dengan saya, dunia orang tua dan anak. Mungkin saja lingkungannya lebih parents-friendly.

I'm thinking... I'm considering... ***

Sebuah Perenungan Tentang Uang

Mittwoch, April 20, 2005
Does money really matter to you, old lady?

Kilas-Kilas Imajiner


Kemarin saya sangat marah. Pada akhirnya saya simpulkan kalau saya amat kecewa dengan perusahaan tempat saya bekerja. Pasalnya, seharusnya satu setengah tahun lalu saya berhak menerima santunan sebesar dua juta rupiah setelah melahirkan anak pertama saya. Dan saya tak mendapatkannya. Seorang teman berkata pada saya, "Di kantor ini, kalau Anda tidak meminta, Anda tak akan mendapat apa-apa." Bahkan bos saya sendiri tak mengingatkan atau berkata satu pun. Begitu juga dengan bagian HRD yang semestinya berurusan dengan hal ini. "Apakah selama ini pihak HRD pada umumnya tak mau memberikan edukasi pada karyawan tentang santunan apa saja yang bisa didapat dan memilih untuk diam saja. Jadi, hanya orang yang sadar dan tahu adanya santunan ini saja yang diberikan santunan, sementara yang tak tahu dibiarkan saja?" begitu pertanyaan saya pada sebuah milis yang banyak dibaca oleh karyawan di bidang HRD.

Sebenarnya saya enggan mempermasalahkan uang. Toh, uang tak akan saya bawa mati. Tapi harus diakui kalau uang dua juta rupiah itu sangat tidak sedikit. Dan terlebih lagi, itu hak saya. Sementara saya selama ini sudah bekerja keras untuk perusahaan. "Kurang loyal apa saya selama ini?" adu saya pada suami. Dan di lain pihak perusahaan selalu keras dalam meminta uang yang menjadi milikinya. "Bahkan sepuluh sen saja akan diingat," ujar teman saya beberapa bulan lalu. Sungguh kontras.

Saat di rumah, sehabis makan malam, saya menonton berita di TV. Ada berita yang mengejutkan kami sekeluarga. Pertama, Gunung Soputan, yang letaknya di Sulawesi Utara, tanah kelahiran ibu saya, menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Atau mungkin sudah meletus. Berita kedua: Daerah Seram, Maluku, dilanda kelaparan. Kelaparan. Saya seketika mau menangis melihat tayangan keadaan di sana. "Lihat, di negeri kita, di ujung sana, masih ada yang kelaparan. Sementara di sini para koruptor bangsat itu menghabiskan uang rakyat," kata suami saya berang. Ya, juga orang yang sembarang mengambil hak orang lain, menghalangi hak orang lain, dan bersyukur ketika orang lain tak mengambil haknya. Negeri ini memang negeri bajingan. Seandainya dua juta rupiah hak saya bisa diberikan pada orang-orang di Seram sana... ***

Periode Tenang

Freitag, April 15, 2005
Begitu saya menyebut masa-masa yang sedang saya lalu sejak awal bulan ini. Pertama, karena saya sudah selesai dengan project besar pertama (akhirnya, ya...) dan sekarang tinggal menunggu keputusan saja. Selain itu, saya juga baru memulai riset project kedua, slowly but sure,. Dalam keseharian, tak ada riak-riak yang terlalu keras menerpa hidup saya. Everything's just fine. Wah, sudah lama juga saya tidak mengalami hari-hari damai seperti ini, setelah setahunan ini selalu diburu kata "Selesaikan!" di mana pun saya berada.

Agenda yang sedang saya jalankan saat ini:

  • Menimbun buku. Kebiasaan yang pernah saya miliki sejak kuliah. Membeli "persediaan" buku, lalu menumpuknya di meja kamar. Puas. Lalu, perlahan-lahan menghabiskannya satu persatu. Membaca dengan sistem melompat (mengingat saya sepertinya memang mengidap Attention Deficit Disorder taraf ringan), dari satu buku ke buku lain (tapi dijamin saya masih ingat jalan ceritanya!). Now Reading: Agatha Christie "Mrs. McGinty Sudah Mati - buku bekas kondisi bagus, dibeli lewat milis, Dan Brown "Angels and Demons", Stephen R. Covey "The 8th Habit".

  • Menulis Jurnal. Alias: Diary. Terinspirasi dari seorang teman, saya menulis sebuah jurnal yang cukup seru. Karena isinya tak hanya tulisan tangan saya, tapi juga beberapa tempelan e-mail teman-teman (dan jawaban saya) beserta beberapa printilan lainnya yang juga ditempelkan. Bukunya saya dapat dari teman kantor yang sangat baik hati (Thanks, Tiche!). Meski tidak tiap hari, saya cukup senang. Setidaknya, kebiasaan menulis diary yang saya mulai sejak umur 10 tahun tidak hilang!

  • Bikin blog baru! Ada dua hal yang bikin saya jadi gemas mau bikin blog lagi. Pertama, percakapan singkat dengan Dans . Dia bilang, dia sedang mengabaikan blog "Percik Pemikiran"-nya, karena sedang mempersiapkan satu blog lagi yang lebih... mungkin lebih tepat dibilang terfokus. Inspirasi kedua datang ketika tadi pagi saya membuka blog "All Cupcakes, All the Time". Wow... seru banget tuh! Sebenarnya, saya berniat untuk membuat satu blog yang berisi tentang pertemuan saya dengan orang-orang. Tapi setelah melihat blog yang terakhir, saya terpikir untuk lebih spesifik. Kira-kira apa yang bisa saya bahas, ya.... hmm.... Ada satu ide di kepala. Tapi masih harus digodok lagi!

  • Ikut Lomba Nulis. Gara-gara suatu hari di minggu lalu saya dapat e-mail tentang lomba penulisan untuk orang muda dari KWI. Sempat semangat memulai menulis. Tapi begitu mengintip temanya lagi, saya pikir, lho, kok jadi tak ada hubungannya? Solusinya ya... mulai nulis lagi...



Agenda selanjutnya masih saya pikirkan. Ada yang mau menyumbang ide untuk saya? ***

The Carrot, the Egg, and the Coffee Bean

Donnerstag, April 07, 2005
Perenungan berikut saya dapat dari seorang anggota milis konsultasi karier. Dia mengemasnya dalam format .pdf yang mengesankan.
Saya ingin membaginya di blog ini dengan format tulisannya saja.


THE CARROT, THE EGG AND THE COFFEE BEAN

Put three pots of water over the fire.
In the first pot, put some carrots.
In the second pot, put some eggs.
In the third pot, put some coffee beans that have been grounded into coffee powder.
Boil all three pots for 15 minutes. Take out what you put in.

The carrots went in hard. They are now soft.
The eggs went in soft inside. Now they are hard inside.
The coffee powder has disappeared.
But the water has the colour and the wonderful smell of coffee.

Now think about life.
Life is not always easy.
Life is not always comfortable.
Sometimes life is very hard.

Things don t happen like we wish.
People don t treat us like we hope.
We work very hard but get few results.
What happens when we face difficulties?

Now think about the pots.
The boiling water is like the problems of life.

We can be like the carrots.
We come out soft and weak.
We go in tough and strong.

We get very tired.
We lose hope.
We give up.
There is no more fighting spirit.
Don t be like the carrots! Don t be like the carrots!

We can be like the eggs.
We start with a soft and sensitive heart.
We end up very hard and unfeeling inside.

We hate others.
We don t like ourselves.
We become hard-hearted.
There is no warm feeling, only bitterness.
Don t be like the Don t be like the eggs!

We can be like the coffee beans.
The water does not change the coffee powder.
The coffee powder changes the water!
The water has become different because of the coffee powder.

See it.
Smell it.
Drink it.
The hotter hotter the water, the better better the taste.

We can be like the coffee beans.
We make something good from the difficulties we face.
We learn new things.
We have new knowledge, new skills, new abilities.
We grow in experience.

We make the world around us better.

To succeed, we must try and try again.
We must believe in what we are doing.
We must not give up.
We must be patient.
We must keep pushing.

Problems and difficulties give us the chance
to become stronger
and better
and tougher.

What are we like when things do not go well?
Are we like the carrot
or the egg
or the coffee bean?

Be like the coffee bean!
***

Selamat Jalan, Bapa Paus...

Montag, April 04, 2005

Questo e il momento dell'addio
(This is the moment of goodbye)

(Charlotte Church, Just Wave Hello)



Hari Minggu pagi, suami saya dapat SMS dari seorang teman. "Turut berduka cita atas meninggalnya Paus Yohanes Paulus II," begitu isinya. Kalau ditilik, memang agak lucu. Dan teman yang mengirimkan memang berasal dari agama yang berbeda. Namun, simpatinya terhadap kematian seorang pemuka agama kami yang tertinggi memang menandakan betapa lekatnya figur Paus di benak masyarakat banyak.

Sudah sejak hari Jumat saya mendengar kabar tentang Paus. Sempat diberitakan meninggal, tapi ternyata belum. Dalam hitungan jam, berita yang saya dengar dan baca terus berubah. Yang jelas, kondisi Paus terus menurun. Hari Minggu subuh waktu Indonesia, Bapa Paus meninggal dunia. Konon, kata terakhir yang ia ucapkan adalah "Amin".

Ingatan saya tentang Paus berkaitan dengan kunjungannya ke Indonesia tahun 1989 lalu. Kala itu, saya masih kecil. Belum memahami betapa berharganya momen untuk bertemu dengannya. Karenanya, saya menolak ketika diajak ibu saya ke Senayan untuk mengikuti misa raya dengannya (kalau tak salah, itu acaranya). Alasan saya: pengap, panas, sumpek. Soalnya, ada jutaan umat yang ingin bertemu dengannya. Ketika pulang, ibu saya sendiri mengakui kalau jumlah umat yang memenuhi Gelora Senayan memang luar biasa. Menurut penuturan ibu saya, Bapa Paus sendiri tak begitu terlihat dari tempatnya. Yah, hanya sosok kecil yang jauh di ujung sana! Tapi kalau saya pikir sekarang, betapa menyesalnya saya tak menemani ibu ke sana. Karena ternyata pertemuan dengan Bapa Paus yang mengunjungi Indonesia itu hanya terjadi sekali saja. Saya pikir, kunjungannya bak kunjungan presiden Amerika, yang bisa berkali-kali dalam waktu berkala. Maklum, anak kecil!

Kehilangan Bapa Paus dalam kehidupan beragama seperti kehilangan dayung di kala bersampan di lautan luas. "He showed us how to live and he showed us how to die," kata salah seorang jemaat. "He reached out to people of all faiths, not just Catholics and Christians." (klik di sini untuk berita lebih dalam). Dunia akan merindukan gaya kepemimpinannya yang begitu unik dan kedekatannya dengan umatnya. Addio, Il mio padre. Selamat jalan, Bapaku. ***


Sekadar Bahan Perenungan:
Doa Terakhir Bapa Paus Yohanes Paulus II
Pax vobiscum, John Paul II
John Paul II: His Life and Papacy
"Do not be Afraid..." Joannes Paulus II
The Catholic Church and Sex